NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sementara itu di waktu yang bersamaan, rumah Deva kembali dipenuhi suara ribut. Tangisan Delisa terdengar keras dari ruang tamu.

“Aku enggak mau makan itu!”

BRAK!

Suara sendok kecil dibuang ke lantai membuat Deva yang sedang duduk di meja makan langsung memejamkan mata sebentar.

“Ih, Delisa!” bentak Iriana kesal. “Mama capek tahu!”

Anak kecil itu malah menangis semakin keras sambil menendang kursi makan. “Aku enggak mau sayur, maunya nugget!”

“Terus aja nugget! Kamu jadinya kurang zat besi karena enggak mau makan sayuran,” omel Iriana mulai emosi. “Jangan buat Mama pusing!”

Bu Hania yang sedang melipat baju dan duduk di dekat cucunya langsung ikut membela. “Udah jangan dimarahin terus. Namanya juga anak kecil.”

“Iya, tapi Delisa tuh gizinya tidak seimbang, Bu. Kata dokter di kurang makan sayuran!” balas Iriana sewot. “Disuruh makan malah drama terus!”

Suasana rumah selalu gaduh, baik itu oleh suara televisi yang menyala kencang atau tangisan Delisa bercampur suara Iriana dan Bu Hania yang saling menyahut.

Sedangkan Deva hanya duduk diam sendiri di meja makan. Wajahnya terlihat lelah sekali. Di depannya hanya ada nasi dingin dan lauk sisa siang tadi yang dipanaskan asal-asalan. Semua rasanya juga terasa hambar.

Pria itu mengambil sendok pelan lalu menyuap nasi ke mulutnya. Namun, baru beberapa kunyahan ia berhenti. Pikirannya langsung melayang pada Kartika.

Dulu wanita itu selalu sibuk di dapur setiap hari. Makanan hangat selalu tersedia. Deva menunduk pelan. Dia sadar Kartika menjaga rumah ini dengan sepenuh hati. Namun, dirinya justru terlalu sibuk menjadi “anak baik”. Terlalu sibuk memenuhi semua permintaan keluarga. Sampai lupa menjadi suami yang baik untuk istrinya sendiri.

BRAK!

Sendok di tangan Deva jatuh ke meja cukup keras. Ia mendadak kehilangan selera makan. Kepalanya kembali terasa nyut-nyutan.

Belum sempat ia menenangkan diri, ketika akan ke kamar melewati ruang tengah, suara Iriana terdengar.

“Kakak!” Nada suara Iriana terdengar santai sekali.

Deva menjawab tanpa semangat. “Apa?”

Iriana yang sedang memainkan ponsel sambil selonjoran langsung berkata ringan,

“Besok lusa di sekolah Delisa mau ada kegiatan outbound. Aku minta uang buat bekal, ya.”

Deva perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap adiknya lama sekali. Tatapan itu kosong dan perlahan berubah menjadi muak.

“Aku enggak punya uang,” jawaban Deva singkat dan dingin.

Namun Iriana malah mengerucutkan bibir kesal. “Huuuh, dasar peliiiit!”

Kalimat itu langsung menghancurkan sisa kesabaran Deva. Pria itu menendang lemari bufet, sampai kakinya bergeser keras ke samping.

“CUKUP!”

Suara Deva menggelegar memenuhi rumah. Napasnya memburu. Dadanya naik turun menahan amarah yang selama ini dipendam sendiri.

“Kalau mau uang, sana kerja! Bukannya malah duduk ongkang-ongkang kaki di rumah sambil main hp. Syukur-syukur main hp kamu bisa dapat uang banyak."

Delisa langsung diam ketakutan. Iriana dan Bu Hania pun kaget melihat wajah Deva yang memerah karena emosi dan bicara dengan nada tinggi.

“Aku kerja tiap hari buat bantu kalian! Aku bayar cicilan rumah! Aku bantu biaya hidup kalian! Aku bantu ini itu demi kebaikan kalian!”

Tangan Deva mengepal kuat di sisi tubuhnya. Matanya mulai memerah.

“Tapi enggak pernah ada yang mikir aku capek atau enggak!”

Ruangan langsung sunyi. Tidak ada yang berani menyela. Deva jarang sekali marah sebesar itu. Biasanya pria itu selalu diam, mengalah, dan menuruti keinginan semua keluarganya.

Namun malam ini berbeda. Semua emosinya seperti meledak sekaligus.

Bu Hania langsung memasang wajah tidak suka. “Kamu ngomong apa sih sama keluarga sendiri?!”

Deva tertawa miris dan pahit. Lalu, ia menunjuk dirinya sendiri. “Keluarga?”

Matanya menatap ibunya penuh luka. “Kalau memang kalian anggap aku keluarga ....” Suara Deva mulai serak. “Harusnya kalian juga mikir aku manusia.”

Deva menggeleng pelan sambil tertawa hambar. “Bukan mesin ATM yang seenaknya saja kalian tarik uangnya.”

Kalimat terakhir itu terdengar begitu tajam. Begitu menyakitkan. Sampai membuat suasana rumah mendadak mencekam. Iriana langsung memalingkan wajah. Sedangkan Bu Hania terlihat tersinggung.

“Kamu berubah sejak sama Kartika!”

Nama itu langsung menghantam dada Deva keras sekali. Ia langsung diam. Tatapannya kosong beberapa detik. Lalu, perlahan pria itu menatap ibunya lagi. Ada rasa lelah yang sangat dalam di wajahnya.

“Bukan aku yang berubah, Bu. Aku cuma baru sadar selama ini aku terlalu bodoh.”

Tidak ada yang berani membalas ucapan itu. Untuk pertama kalinya Deva akhirnya mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.

***

Hari Sabtu pagi, Rangga dan Rianti datang. Begitu masuk, Rianti langsung membuka tangan lebar. “Mana keponakan tante yang ganteng-ganteng?”

Kalingga langsung berlari kecil memeluk Rianti. Sedangkan Kaivan hanya menoleh sekilas sebelum kembali murung di pelukan Kartika.

Rangga mendekat sambil mengusap kepala bocah itu. “Jagoan Om kenapa?”

Kaivan langsung menjawab lirih. “Mau Papa.”

Rangga dan Rianti saling pandang sebentar. Ekspresi mereka langsung berubah lembut.

Rianti jongkok di depan Kaivan. “Kalau Tante ajak jalan-jalan gimana, mau?”

Kaivan menggeleng kecil. “Mau Papa.”

Rianti tersenyum sabar. “Nanti kita beli es krim. Main ke playground. Naik kereta kecil juga.”

Biasanya Kaivan akan langsung semangat. Namun, kali ini bocah itu tetap lesu.

Rangga akhirnya duduk di samping Kartika.

Pelan sekali ia berkata, “Dia makin sering nyari Deva?”

Kartika hanya mengangguk. Matanya kembali memerah.

Rangga menghela napas panjang. Lalu, ia menatap Kaivan.

“Kalau Kaivan sedih terus, Papa nanti ikut sedih.”

Kaivan langsung menoleh. “Papa sedih?”

“Iya.”

Bocah itu langsung diam. Tangisnya mulai reda sedikit.

Rianti cepat-cepat tersenyum. “Makanya kita jalan-jalan dulu, ya? Nanti foto Kaivan dikirim ke Papa.”

Kaivan tampak berpikir kecil. Lalu, akhirnya mengangguk pelan.

Kartika memperhatikan itu semua sambil diam. Hatinya sakit. Karena sejauh apa pun ia mencoba bertahan kenyataannya mereka semua masih sama-sama saling merindukan.

Dan bagian paling menyakitkan adalah cinta itu sebenarnya masih ada dan masih utuh. Hanya saja luka yang ditinggalkan keluarga Deva jauh terlalu dalam untuk diabaikan begitu saja.

***

Yuk, baca karya aku ini. Ceritanya komedi romantis, enggak bikin pening kepala.

1
Lina Ina
berubah lah dik demi delisa
Lina Ina
akal2 keluarga parasit nak duit aje
Lina Ina
ugut lah sama ibu kamu kalau adik kamu tak mahu kemas rumah kamu jangan bayar rumah gavin 🤣🤣
Lina Ina
keluarga suami kamu baru turun dari neraka tika
Lina Ina
suami nya sedar seminit saja tp depan keluarga sudah berubah kembali asal 🤣
мєσωzα
ceritanya keren sih ini..
intinya, tiap keluarga pasti ada masalah. tinggal bagaimana kita mau berusaha untuk menyelesaikan masalah itu & berusaha mempertahankan rumah tangga.
kalau ada bintang 10, pasti kukasih bintang 10 👍🏻
мєσωzα
gavin ngerasain gimana jadi deva dulu. bahkan mungkin lebih parah karna pendapatan dia lebih kecil daei deva & rosita pun bukan tipe yg mau bantu suami seperti kartika
мєσωzα
masalah besarnya itu berarti ada di ibu ya deva
sepertinya kalau iriana dipisahkan sama ibunya, dia masih bisa diselamatkan
мєσωzα
enak banget dulu ya hidupnya di iriana. dapet duit dari raka, masih minta deva juga. uang sebanyak itu dia habisin buat apaan? foya-foya beli barang bermerek?
bisa jadi rumahnya kebakaran itu karna banyak barang" yg dia dapet dari bohongin deva & ngefitnah raka
мєσωzα
hanya berharap deva gak berubah & tetep sayang & memprioritaskan kartika & anak"
мєσωzα
solusinya gampang dave. putus aliran dana ke mereka, trus kamu pergi ke kota sebelah. biar mereka tau gimana susahnya jadi kamu
мєσωzα
waduh, seganteng apa kamu ngga, sampai hari pertama udah dicium cewek?😅
tapi memang nyebelin sih kalau ada orang yg tiba" nyium gitu..
мєσωzα
semoga deva bisa sadar & bisa tegas sama keluarganya
karna aslinya dia udah baik, sayang sama kartika & anak-anak juga. minusnya karna punya keluarga toxic 🥺
мєσωzα
air mataku langsung netes waktu kalingga bilang "yang penting mama jangan sedih lagi" 😭
Night Watcher
dan pasti minta bayaran mahalll..
Eka
bagus banget karyamu Thor 😍
Pur Yono
bagus La jutkan kretifitasmu semangatdan kembangkan terus👍💪
Anre1201
Ada yg gantung, kok ga ada bab tentang Bu Hanin tahu kalau Kartika bukan sekedar anak yatim piatu miskin?? Ga ada cerita tentang saat Bu Hanin tahu kalau Kartika anak orang kaya, punya rumah tingkat 3 dan CEO dari perusahaan besar, ga ada cerita tentang reaksi Bu Hanin saat tahu Deva yang gantiin Kartika
мєσωzα: padahal udah nunggu reaksi keluarga deva saat tau siapa kartika sebenarnya ya?
total 1 replies
Anre1201
Bersyukur di sini Deva bisa jadi laki-laki waras, walaupun keluarga nya agak Stress tapi dia tidak ikutan Stress. Deva bisa melihat mana yg baik dan benar.
Anre1201
Dari cerita ini dapat pelajaran :

Jangan pernah bergantung sama pasangan / orang lain. Bikin repot!!
Kalau Pingin sesuatu ya Kerja!!!
Dari kecil, anak-anak jangan di manja tapi di ajarkan untuk berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, jangan dibiarkan cara instan!!!
Dari kecil anak-anak harus terbiasa bekerja di rumah, entah merapikan mainan, tempat tidur, kursi makan, sepatu, baju kotor, buku, dll biar ga kaget kalau saat besar nanti 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!