Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 KETEMU HAIKAL DAN AMARA
SELAMAT MEMBACA !!!
Setelah acara pertunangan selesai Bryan langsung pulang ke rumahnya, ia belum tau kalau acara pertunangannya disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun Tv swasta.
Sesampainya rumah, ia langsung masuk menuju kamarnya mencari hapenya untuk menghubungi istrinya. Ternyata hapenya kehabisan baterai, saat hapenya sudah ada sedikit baterainya, ia menyalakan hape ada banyak panggilan masuk dari istrinya.
Ia benar-benar merasa bersalah pada istrinya. "Maafkan Mas, Sayang. Aku melakukan ini untuk memberikan ruang pada Mama, supaya Mas bisa cari alasan untuk membatalkan pertunangannya ini!" ucapnya lirih saat melihat banyak sekali panggilan dari istrinya.
Tiba-tiba matanya membelalak lebar, seketika matanya berubah jadi merah menahan emosinya, saat membuka chat dari Bagas.
BRAK...
Hapenya langsung hancur lebur berbenturan dengan dinding kamarnya.
"Brengsek...brengsek...aku akan kasih pelajaran sama kamu?!" teriaknya.
Bryan mengambil semua barang-barangnya memasukan ke dalam koper dan ingin pergi dari rumah masa kecilnya yang dianggapnya sudah tak nyaman lagi.
Saat sampai lantai bawah, Tuan Danendra dan Nyonya Dinda yang melihat Bryan membawa koper besar sangat terkejut.
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Tuan Danendra dengan lembut, melihat wajah berantakan putranya.
Bryan menatap sinis kepada wanita yang telah melahirkannya, sekaligus wanita yang telah menghancurkan hidupnya.
"Tanya dengan istrinya Papa itu, apa pantas dia disebut Ibu untukku. Apa aku bukan anak kandungnya, Pa. Sehingga ia menghancurkan hidupku begitu dalam," jawabnya lirih dingin menusuk ke jantungnya Nyonya Dinda.
"Jangan tak sopan dengan orang tuamu, Bryan?!" teriak Nyonya Dinda dengan keras.
Tuan Danendra langsung mengambil tindakan tengah-tengah. "Jelaskan, Nak. Ada apa sebenarnya?"
Bryan masih menatap Mamanya dengan tatapan dingin. "Nyalakan Tvnya, Pa. Papa akan tau jawabannya," ujar Bryan langsung menarik kopernya keluar.
Nyonya Dinda wajahnya sangat pucat, ia menyadari akan kesalahannya. Sementara Tuan Danendra yang penasaran langsung menyalakan Tv di depannya. Seketika emosinya memuncak, ia menoleh ke sebelahnya itu dan
PLAK!
"Kamu menamparku, Mas!" teriaknya sambil memegang pipinya yang kepas, panas kena tamparan suaminya.
"YA!! Kamu sangat keterlaluan sekali, Dinda. Sangat pantas mendapatkan tamparan dariku. Kenapa kamu sangat tega sekali dengan darah dagingmu sendiri Hah?! Katakan apa yang merasuki otakmu itu, Hah?!" tanya Tuan Danendra sangat marah.
Nyonya Dinda sangat ketakutan melihat suami yang begitu murka padanya. ini pertama kalinya ia melihat suaminya yang emosi tak tertahan itu.
Tuan Danendra melangkah menjauh dari hadapan istrinya yang egois dan keras kepala.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sementara Zhafira, Zafran dan kedua orang tuanya sudah sampai di Bandara Internasional Bandara Schiphol Amsterdam (AMS), Bandara terbesar di Belanda.
Mereka berjalan beriringan keluar dari Bandara. Sementara Haikal dan Amara menunggu mereka di depan pintu keluar.
Amara yang melihat keluarganya sudah mendekat segera melambaikan tangannya. “Dek Fira, sebelah sini!” teriak Amara dengan semangat, ia senang karena akan ada teman yang menemaninya di rumah di saat suaminya berangkat kerja.
Zhafira tersenyum mendengar teriakan dari Amara. “Assalamualaikum, Bang Haikal dan Kak Amara!” sapa Fira dengan ramah dan sopan sambil mencium tangan mereka dengan takzim.
Haikal dan Amara terharu melihat kesopanan Fira. “Waalaikumsalam, Dek Fira yang cantik! jawab Amara dengan heboh.
Haikal dan Amara bergantian memeluk tubuh orang tuanya, terakhir Zafran yang di salaminya.
Haikal mengajak mereka untuk segera meninggalkan Bandara, “Ayo kita bawa, Dek Fira ke rumah sakit dulu sebelum pulang ke rumah!”
Mereka berjalan keluar bandara menuju ke area parkir, dimana mobil Haikal berada. “Ayo masuk semua! Aku sudah membuat janji temu dengan Dokter di rumah sakit dekat rumah.,” ujar Haikal kepada mereka semua.
Zhafira sangat terharu dengan perhatian yang diberikan Haikal kepada dirinya. “Terima kasih Bang Haikal, Kak Amara, kalian sungguh baik, perhatian. Maaf merepotkan kalian berdua.”
Amara yang kebetulan duduk di sebelahnya Fira, ia mengusap tangannya Fira dengan lembut. “Kamu nggak merepotkan kami, Dek. Aku dan Mas Haikal justru senang kamu mau tinggal di sini. Semoga kamu betah di sini ya, Dek,” jawab Amara dengan lembut.
Nyonya Sintya dan Tuan Andika tersenyum bahagia, semoga anak-anaknya kelak saling menyayangi dan saling membantu satu dengan yang lain.
Haikal membelokkan mobilnya ke rumah sakit yang sangat besar di dekat rumahnya. "Ayo kita turun duluan, Mama dan kamu, Yang. Antarkan Dek Fira ketemu dengan Dokter Jihan ya!" perintah Haikal kepada Nyonya Sintya dan Amara.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah sakit, Amara langsung mengatakan mereka ingin bertemu dengan Dokter Jihan dan sudah membuat janji temu.
Tok..tok...tok
Pintu diketuk dari luar, masuklah seorang suster yang tugasnya membantu Dokter itu.
"Dok, diluar ada Nyonya Amara yang sudah membuat janji temu dengan Dokter. Beliau sudah sampai dan sedang menunggu di kursi tunggu!" seru suster itu memberitahukan Dokter itu.
Dokter Jihan menatap wajah suster itu. "Suruh beliau masuk ke sini, Sus, " jawab Dokter Jihan.
"Selamat pagi, Dokter Jihan. Saya Amara yang semalam membuat janji temu dengan Dokter. Saya ingin memeriksakan kandungan adik saya yang baru enam minggu dan kebetulan dia baru sampai dari Indonesia, Dok."
Dokter Jihan tersenyum ramah, menyambut kedatangannya mereka, lalu mengangguk mengerti.
"Selamat pagi, Nyonya Amara. Baik mari kita lihat calon dede bayinya. Apakah ada kontraksi atau aman. Nona Fira apa yang dirasakan?" tanya Dokter Jihan sambil menyalakan layar monitor USG.
Fira menoleh ke arah Nyonya Sintya dan Amara. "Sebelum saya mengetahui bahwa saya sedang hamil, pagi itu saya merasakan mual hebat, Dokter. Tapi semenjak saya mengetahui bahwa mereka benar-benar ada, sekarang sudah nggak mual lagi, Dok," jawab Fira.
Jawaban Fira justru membuat Amara membelalakan matanya lebar. Ia tak tau kalau bayi yang dikandung Fira itu lebih dari satu.
"Baik, Nona. Tolong dibuka bajunya untuk area perut saja. Saya akan mengoleskan gel dingin, jangan kaget ya!" seru Dokter Jihan.
Ia langsung menggerakan alat yang berada di atas perutnya Fira, "Wah benar, bayinya ada dua ya, Nona. Untuk keadaannya semua baik dan tak perlu dikhawatirkan. Apa Nona dikasih obat penguat kandungan?" tanya Dokter Jihan sambil membersihkan gel yang masih tertinggal di perutnya Fira.
"Masya Allah aku mau punya keponakan sekaligus dua ya, Dok!" seru Amara wajahnya berbinar senang, membayangkan rumahnya akan ramai sekali.
Nyonya Sintya, segera mengeluarkan obat yang diberikan Dokter kemarin. "Ini, Dok. Semua obat yang diberikan Dokter yang Indonesia, sebelum kami berangkat ke sini, Dok," jawab Nyonya Sintya sambil menyodorkan obat itu di atas meja depan Dokter Jihan.
Dokter itu mengecek obatnya, "Pantas saja begitu, Nyonya. Ini vitamin kualitas terbaik dan harganya sangat mahal Kandungan di dalamnya sangat lengkap dan kuat untuk menjaga kesehatan Ibu dan anak. Di lanjutkan minumnya ya, Nona Fira. Satu bulan lagi, saya jadwalkan untuk chek up rutin ya, Nona. Nanti kalau sudah mendekati HPL periksanya lebih rutin lagi. Apalagi bayinya kembar, rentan untuk keguguran. Hindari kecapekan dan stres yang berlebihan ya, Nona!" pesan Dokter Jihan kepada Fira.
Setelah selesai pemeriksaan, mereka keluar menuju ke mobilnya Haikal lagi. Amara tak lepas dari senyum dibibirkan, kadang tangannya mengusap perutnya Fira yang masih terlihat datar.
"Mas, kamu tau nggak kalau Fira akan mempunyai anak kembar, lho!" seru Amara memberitahukan kepada suaminya.
Haikal tersenyum sambil mengusap kepalanya Amara dengan lembut. Meskipun pernikahan mereka sudah tiga tahun belum dikaruniai anak tapi tak membuat mereka saling menjauh dan tak saling menyakiti.