Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08: Kertas yang Menjadi Bukti
____🌺
Nayara menghentikan gerakannya. Jari-jarinya meraba bagian luar saku itu. Pikirannya kembali dipenuhi rasa curiga, yang terus berusaha ia tepis sejak tadi siang.
Dengan tangan yang kembali bergetar pelan, Nayara merogoh ke dalam saku jas suaminya. Ia menarik keluar selembar kertas yang terlipat rapi menjadi dua bagian.
Kertas itu adalah sebuah kuitansi putih yang dicetak dari mesin kasir. Kop suratnya menampilkan logo huruf cetak tebal yang sangat rapi.
Nayara membalik lipatan kertas itu perlahan. Jantungnya berdetak makin cepat.
Matanya membaca tulisan yang tertera di bagian paling atas kertas tersebut.
HOTEL A - JAKARTA
Napas sang istri tertahan. Ia membelalakkan matanya, membaca baris demi baris rincian yang tercetak di sana dengan jemari yang kaku.
Tamu: Bpk. Adrian Mahendra
Nomor Kamar: 1808 (Executive Suite)
Tanggal Masuk: 08 Oktober
Tanggal Keluar: 09 Oktober
Total Pembayaran: Rp 8.500.000 (Lunas - Kartu Kredit)
Dada Nayara seketika terasa seperti ditimpa balok beton yang sangat berat. Tubuhnya membeku di tempat.
Tanggal delapan Oktober.
Itu adalah tanggal yang sama dengan hari peringatan pernikahan mereka dua hari yang lalu.
Malam di mana ia memasak makanan spesial, menyalakan lilin, menunggu berjam-jam di meja makan, dan berakhir dengan pertengkaran serta pesan mesra dari Selena jam satu pagi.
Malam di mana suaminya mengaku sedang menghadiri rapat darurat dengan klien dari luar kota hingga larut malam.
Malam di mana Adrian membentaknya karena Nayara dianggap tidak mengerti betapa lelahnya pria itu memeras otak demi perusahaan.
Mata Nayara menatap deretan angka dan nama hotel mewah itu tanpa berkedip sedikit pun. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan karena kesedihan yang melemahkan, melainkan karena rasa sakit dari sebuah kebohongan yang terpampang nyata.
Bukti itu kini ada di tangannya. Bukan pesan salah kirim. Bukan rasa curiga di kepalanya. Bukan pikiran berlebihan dari seorang istri yang hanya berdiam di rumah.
Adrian sama sekali tidak sedang rapat malam itu. Suaminya menghabiskan malam peringatan pernikahan mereka di sebuah kamar hotel mewah. Dan setelah melihat pertemuan tadi siang, Nayara tahu persis siapa perempuan yang menemani suaminya di kamar nomor 1808 itu.
Suara gemericik air dari kamar mandi tiba-tiba berhenti. Pintu kamar utama di depan sana terbuka dengan suara decit pelan.
Nayara berdiri mematung di samping sofa, masih menggenggam erat kuitansi kamar nomor 1808 di tangannya, sementara tatapan matanya mengarah lurus ke arah pintu kamar tempat suaminya berada.
Ceklek!
Suara engsel pintu kamar mandi membuat Nayara tersentak kaget dan panik.
Dengan gerakan secepat kilat, ia melipat kembali kuitansi putih itu dan menyelipkannya ke dalam saku celana piyamanya, tepat sedetik sebelum Adrian melangkah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Adrian menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Nayara yang masih berdiri kaku di samping sofa panjang. Pria itu mengernyitkan dahinya.
"Kamu sedang apa berdiri di situ, Nay? Belum tidur?" tanya Adrian dengan nada datar.
Suaranya terdengar seolah pertengkaran hebat mereka setengah jam yang lalu tidak pernah terjadi.
"Aku ... baru selesai merapikan jas kamu," jawab Nayara. Suaranya terdengar agak parau.
Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras menyembunyikan tangannya yang gemetar dingin di balik punggung.
Adrian sama sekali tidak peduli untuk memperhatikan wajah pucat istrinya.
"Taruh saja jasnya di kursi. Besok pagi biar Mbok Yem yang bereskan," ucap pria itu cuek, lalu berjalan melewati Nayara menuju meja rias untuk mengambil sisir.
Nayara memutar tubuhnya perlahan, memandang punggung suaminya. Pria yang baru saja memarahinya habis-habisan dan menuduhnya curiga berlebihan.
Pria yang dengan lantang menyatakan bahwa Selena hanyalah rekan bisnis biasa yang salah mengirim pesan.
Melihat sikap Adrian yang begitu tenang, keraguan sempat melintas di benaknya. Namun, lipatan kertas yang mengganjal di dalam saku celananya adalah bukti yang tidak bisa ia abaikan.
"Mas," panggil Nayara pelan, mencoba menguji kejujuran suaminya untuk terakhir kali.
"Apa lagi?" balas Adrian tanpa menoleh, sibuk merapikan rambutnya di depan cermin.
"Klien dari luar kota yang rapat sama kamu pas hari peringatan pernikahan kita kemarin ... mereka menginap di hotel mana?"
Gerakan tangan Adrian yang sedang menyisir rambut terhenti selama dua detik. Sangat singkat, tapi mata Nayara menangkap gestur kaku tersebut dari pantulan cermin.
Adrian melirik istrinya dari kaca, lalu kembali melanjutkan sisiran-nya dengan gerakan yang sengaja dibuat santai.
"Di Hotel B, daerah Thamrin. Kenapa tiba-tiba kamu tanya begitu?"
Nayara menahan napasnya. Hotel B.
Bukan Hotel A.
Adrian baru saja berbohong tepat di depan wajahnya, tanpa gagap sedikit pun.
Pria itu menatap matanya dari cermin dan mengatakan sebuah nama hotel yang sama sekali berbeda dengan nama yang tertera di kuitansi pembayaran kamar 1808.
"Tidak apa-apa," jawab Nayara pelan, menundukkan pandangannya ke arah lantai. "Cuma penasaran saja. Soalnya kamu pulangnya sangat larut malam itu."
"Namanya juga rapat dadakan, Nay. Klien meminta bahas detail kontrak proyek sampai malam, ya aku harus temani mereka sebagai perwakilan perusahaan," Adrian beralasan dengan sangat lancar dan meyakinkan. "Sudah, jangan bahas pekerjaan kantorku lagi. Aku benar-benar mau tidur sekarang."
Adrian naik ke atas kasur, menarik selimut sebatas pinggang, dan langsung memejamkan mata. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Tidak ada keraguan dalam nada bicaranya.
Ia berbohong dengan sangat rapi, seolah-olah berbohong kepada istrinya sudah menjadi kebiasaan.
Nayara ikut berbaring di sisi tempat tidur yang lain. Ia memiringkan tubuhnya, sengaja membelakangi Adrian. Tangannya merogoh saku celana, menyentuh lipatan kuitansi itu dalam diam.
Malam itu, Nayara tidak memejamkan mata sedetik pun.
____🌺
Keesokan harinya, setelah mobil Adrian melaju keluar dari garasi menuju kantor, rumah besar itu terasa sangat sepi dan dingin.
Nayara duduk sendirian di meja makan.
Secangkir teh hangat di depannya sama sekali tidak tersentuh hingga perlahan menjadi dingin. Di atas meja, kuitansi Hotel A itu kembali ia bentangkan lebar-lebar.
Nayara menatap deretan angka delapan juta lima ratus ribu rupiah di kertas tersebut. Jika ia langsung melabrak Adrian hanya dengan kuitansi ini, suaminya pasti akan mencari ribuan alasan baru.
Adrian bisa saja memutarbalikkan fakta dan mengatakan bahwa kamar itu ia pesankan untuk klien, atau untuk memfasilitasi rekan bisnisnya. Nayara butuh bukti kuat yang tidak bisa disangkal lagi.
Ia berdiri dan berjalan cepat menuju ruang kerja kecil di sudut rumah.
Nayara menyalakan komputer tablet yang biasa mereka pakai bersama untuk urusan rumah tangga dan pembayaran tagihan.
Adrian kadang lupa keluar dari akses email pribadinya di perangkat ini.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣