Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - MARKAS SEMENTARA
Truk pick-up rakitan berlapis baja itu melambat tatkala memasuki lorong pemukiman sepi di pinggiran Distrik Barat. Di sepanjang jalanan beraspal yang dipenuhi guguran daun kering dan serpihan kaca, deretan rumah toko tua berdiri membisu dalam cengkeraman keheningan. Asap pekat dan bau tanah busuk yang menyelimuti pusat kota kini perlahan menipis, tergantikan oleh hawa dingin khas pemukiman pinggiran yang belum banyak terambah oleh koloni Cordyceps.
Onad memutar lingkar setir kendaraan tempurnya ke kanan, mengarahkan moncong bajak besi truk menuju sebuah pelataran luas di balik pagar seng tinggi bercat hijau kusam. Di atas pintu gerbang utama yang terbuat dari plat baja tebal bertulang, tertera papan nama berbahan seng yang telah agak berkarat bertuliskan "BENGKEL MAJU JAYA MOTOR".
"Kita sudah sampai di markas rahasia Eke!" seru Onad riang seraya menekan pedal rem perlahan.
Sssssst!
Truk pick-up rakitan itu berhenti mulus di depan gerbang besi. Onad melangkah keluar dari kabin pengemudi dengan gerakan lenturnya yang khas, merogoh saku kargo longgarnya untuk mengeluarkan seuntai kunci kuningan tua. Pria eksentrik itu memutar gembok baja raksasa yang mengunci rantai gerbang, lalu menggeser daun pintu besi tempa yang tebal itu hingga terbuka cukup lebar.
Steve melompat turun dari bak belakang truk, disusul oleh Luna yang langsung memosisikan busur recurve-nya seraya menyapu pengamatan ke area sekitar pelataran.
"Sini, Abang Kekar! Bantu Eke dorong gerbangnya biar truk ganteng ini bisa masuk!" panggil Onad seraya melambaikan tangannya yang dilapisi sarung tangan kain merah.
"Siap, Onad!" balas Steve seraya melangkah maju, mencengkeram tepi gerbang baja dan mendorongnya hingga terkuak lebar tanpa menimbulkan suara berisik.
Onad kembali melompat ke kabin, memajukan truk berlapis bajanya ke dalam area bengkel, lalu Steve dan Luna dengan cepat menutup kembali gerbang besi tersebut. Rantai baja tebal dililitkan rapat di tengah poros, dan dua gembok baja dipasang terkunci dari bagian dalam.
Klik! KLANG!
"Pagar dan gerbangnya sangat kokoh," puji Luna seraya menepuk permukaan besi gerbang yang dingin.
"Tempat ini dirancang paman Eke buat menyimpan mobil-mobil pesanan orang berduit, Jeng Luna. Dinding sekelilingnya terbuat dari beton bertulang setinggi empat meter, jadi tidak bakal ada makhluk luar yang bisa panjat begitu saja," jelas Onad seraya menyunggingkan cengiran bangganya.
Kelompok penyintas itu melangkah menyusuri pelataran bengkel menuju ruang utama. Bangunan bengkel tua berukuran lima belas kali dua puluh meter itu tertutupi oleh atap seng gelombang tebal tanpa celah bocor. Aroma minyak rem, oli mesin tua, gergaji besi, dan karet ban yang khas menyeruak memenuhi indra penciuman mereka, menciptakan nuansa industri yang sangat terisolasi dari bahaya kiamat luar.
Di dalam bengkel, berderet rapi dua unit sasis mobil tua yang ditutupi kain terpal berdebu, beberapa rak besi sarat perkakas kunci pas, kompresor angin bertenaga diesel, serta satu set mesin las listrik lengkap di pojokan. Di sisi timur ruangan, berdiri sebuah bangunan semi-permanen berlantai dua yang berfungsi sebagai kantor bengkel dan ruang istirahat karyawan.
"Tempat ini sempurna," gumam Steve seraya menyapu pandangannya dengan takjub.
"Ada pasokan listrik cadangan dari generator solar sel tua di samping kantor. Kalau kita butuh charger buat tablet atau lampu, kita bisa nyalakan malam nanti," tambah Onad seraya menunjuk panel listrik di dinding.
Nancy dengan lincah menggeser layar tablet digitalnya, memeriksa peta Sistem Informasi Geografis wilayah Distrik Barat untuk memastikan posisi posisi taktis mereka.
"Bengkel ini berada di zona hijau sekunder. Populasi terinfeksi di radius satu kilometer dari sini tergolong sangat rendah karena jauh dari stasiun dan fasilitas umum," paparkan Nancy dengan vokal jernih yang menenangkan.
"Bagus. Kita jadikan tempat ini sebagai markas sementara kita untuk memulihkan stamina dan menyusun logistik," kata Luna tegas seraya menurunkan busur recurve dari bahunya.
Endru dan Rian menurunkan dua ransel medis merah berisi pasokan antibiotik dan kantung cairan steril dari bak truk, meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu tebal di dalam ruang kantor bengkel. Ruangan berukuran empat kali lima meter itu tampak rapi dan bersih, memiliki sofa kulit tua, meja kerja kayu, dan satu set kompor gas portabel kecil di atas bufet.
Endru segera menarik kotak instrumen medisnya, menatap Steve dengan raut wajah profesional yang penuh ketelitian.
"Duduk di sofa sebentar, Steve. Aku harus memeriksa balutan perban di bahumu," kata Endru seraya mengenakan sarung tangan medis latex sterilnya.
Steve tersenyum hangat, melangkah menyeberangi ruangan lalu mendaratkan tubuh tegapnya di atas sofa kulit. Pria kekar itu membiarkan Endru membuka ikatan perban elastis di bahu kirinya dengan gerakan yang sangat terlatih.
Nancy melangkah mendekati meja kerja, berdiri rapat di samping Endru seraya membukakan botol povidone iodine dan kapas steril untuk membantu proses perawatan.
"Bagaimana kondisi lukanya, Endru?" tanya Nancy lembut dengan pandangan cemas yang jujur.
Endru mengamati jaringan kulit di sepanjang goresan luka Steve yang kini telah surut kemerahannya. Busa peradangan yang tadinya mengancam jaringan otot Steve kini hilang sepenuhnya, menyisakan lapisan penutupan luka yang mengering dengan bersih.
"Luar biasa. Peradangan dan pembengkakannya sudah hilang total. Efek kerja antibiotik dosis tinggi yang kita ambil dari apotek benar-benar bekerja maksimal," jawab Endru dengan senyum lega yang sangat tulus.
"Jauh lebih mendingan, Endru. Rasa panas membakarnya sudah hilang sepenuhnya sejak kita di truk tadi," tambah Steve seraya terkekeh pelan.
Nancy menatap Endru dengan mata berbinar bangga, jemarinya yang dingin tersentuh pelan pada lengan jas laboratorium putih Endru. "Kamu benar-benar asisten apoteker dan tenaga medis yang hebat, Endru."
Endru seketika merona merah mendengarkan pujian tulus Nancy, menunduk malu seraya membetulkan kacamata tebalnya. "A-aku cuma menjalankan tugas medis biasa, Nancy. Tanpa keberanian Steve dan kepemimpinan Luna, kita tidak bakal bisa mengamankan ransel medis itu."
"Tapi keahlianmu yang menyempurnakan keselamatan kami, Endru," timpal Luna seraya menyunggingkan senyum tipis kepemimpinannya di ambang pintu kantor.
Di pojokan ruangan, Onad tampak sibuk mengulik kompor gas portabel kecil di atas bufet. Pria eksentrik itu menyalakan pemantik api, meletakkan teko seng tua berisi air bersih di atas tungku, lalu merogoh dua kemasan kaleng bubuk kopi hitam dan gula pasir dari dalam lemari gantung.
"Sesuai janji Eke di atas atap apotek tadi ya! Janji kopi hitam manis ala Onad tidak pernah ingkar!" seru Onad seraya memutar lehernya gemulai.
Bau wangi racikan kopi hitam yang diseduh dengan air mendidih seketika membumbung memenuhi udara ruang kantor bengkel, memberikan sensasi kenikmatan manusiawi yang amat langka di tengah kiamat yang melanda kota. Onad mendistribusikan lima cangkir seng berisi kopi hangat ke atas meja kerja kayu, lalu mendaratkan duduknya di atas kursi putar kantor seraya menyilangkan kakinya dengan gaya centil.
"Silakan dinikmati, Rombongan Kesayangan Eke!" ujar Onad seraya tersenyum lebar.
Steve meraih cangkir sengnya, menyesap cairan kopi hangat itu perlahan, lalu mengembuskan napas panjang yang sangat lega. "Ahhh... rasanya nikmat sekali. Sudah berhari-hari aku tidak merasakan kopi segelas ini."
"Kopi ini memberi pasokan kafein yang bagus buat mengembalikan fokus saraf kita," kata Nancy seraya tersenyum menikmati aroma kopi dari cangkirnya.
Endru duduk di samping Nancy, menggenggam cangkir sengnya dengan kedua telapak tangan yang rileks. Kehangatan cangkir kopi di jemarinya seolah menyapu sisa-sisa trauma ketakutan saat dikepung zombie di Apotek Sentral.
Rian yang duduk bersandar di pojok sofa menyeduh kopinya dengan wajah ceria, sementara Luna berdiri menyandarkan bahunya di kerangka jendela kantor, menatap empat rekannya dengan ketenangan jiwa yang mendalam.
Kelima penyintas utama yang tadinya asing dan terisolasi di sudut-sudut Kota Mati kini telah berkumpul utuh di bawah satu atap markas sementara ini. Keahlian taktis Luna, kekuatan fisik Steve, kecerdasan teknologi Nancy, dedikasi medis Endru, serta ketangguhan mekanik Onad membentuk sebuah pilar pertahanan baru yang saling menguatkan.
"Setelah stamina kita pulih, kita harus menyusun rencana logistik jangka panjang," kata Luna tegas seraya menatap seluruh anggota timnya.
"Aku punya peta wilayah gudang bahan pangan dan minimarket besar di sekitar distrik ini, Luna. Kita bisa memetakan rutenya lewat tablet," jawab Nancy siap seraya mengangkat perangkat komputernya.
"Dan mobil ganteng Eke siap meluncur kapan saja buat bawa kalian seberangi kota!" tambah Onad penuh semangat seraya mengedipkan sebelah matanya.
Di dalam bengkel tua yang aman dan tertutup rapat ini, kelima penyintas beristirahat menikmati kehangatan kopi dan kebersamaan murni yang terjalin, siap menyongsong strategi baru untuk bertahan hidup menembus dunia Cordyceps yang penuh marabahaya.