NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:109.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 29

Pagi harinya berjalan begitu hangat di penthouse. Khadafy bahkan sempat membuatkan teh hangat dan menyesap sarapan bersama sebelum mereka berangkat ke kantor dalam satu mobil. Hubungan keduanya juga perlahan lebih baik dan mengikis sedikit demi sedikit rasa canggung Zheana. Namun, atmosfer tenang itu hancur berkeping-keping saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang di divisi Marketing.

Ponsel Zheana yang tergeletak di samping papan ketik bergetar hebat. Nama Mama Irma terpampang jelas di layar. Dengan jemari bergetar, Zheana menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

'Zheana! Kamu di mana sekarang?!' suara melengking Irma menyapa tanpa jeda, penuh nada penekanan yang terbiasa menekan Zheana selama bertahun-tahun.

"Zhea lagi di kantor, Bu... Ada apa ya?" cicit Zheana pelan, refleks membungkukkan tubuhnya agar rekan kerja di sebelahnya tidak mendengar.

"Datang ke rumah sekarang juga! Detik ini juga! Mama nggak mau tahu, kamu harus izin keluar kantor!" perintah Irma menuntut.

"Tapi Ma, ini belum jam istirahat. Zhea masih ada berkas yang harus diselesaikan sama Pak Bambang..."

"Jangan banyak alasan!" potong Irma tajam.

"Kamu pikir setelah kamu menikah sama Khadafy dan bikin keluarga ini menanggung malu karena Niken kabur, kamu bisa lepas tanggung jawab gitu aja? Papa kamu dari tadi pagi kepikiran sampai tekanan daranya naik! Kalau kamu masih anggap Papamu ada, datang ke rumah sekarang!"

Tut... tut... tut...

Panggilan diputus sepihak. Zheana membeku di kursinya. Wajahnya seketika pucat pasi, matanya membelalak menatap layar ponsel yang perlahan meredup. Ketakutan lama yang tertanam sejak kecil, rasa takut dianggap anak pembawa masalah dan kekhawatiran atas kesehatan Papanya seketika memenuhi pikirannya.

Dengan tangan dingin, Zheana buru-buru menyambar tas tangannya, merapikan meja kerja seadanya, dan melangkah cepat menuju ruangan Pak Bambang untuk meminta izin keluar singkat sebelum jam makan siang.

Tiga puluh menit kemudian, sebuah taksi berhenti di depan pagar rumah bernuansa klasik milik keluarganya. Zheana melangkah masuk dengan tungkai yang terasa berat. Setiap tapak kakinya menyusuri teras rumah teringat kembali kenangan lama saat ia selalu ditempatkan di posisi paling belakang.

Begitu pintu utama didorong, sosok Irma sudah berdiri tegak di tengah ruang tamu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Raut wajah wanita paruh baya itu sangat tegang, matanya menatap Zheana penuh permusuhan.

"Bagus ya, sekarang sudah jadi istri CEO, dipanggil ke rumah sendiri saja harus pakai diancam dulu," sindir Irma pedas saat Zheana melangkah mendekat.

"Ma... Papa mana? Kata Mama, Papa sakit?" tanya Zheana panik, mengabaikan sindiran itu seraya mengedarkan pandangan ke arah kamar utama.

Irma terkeh sinis, melangkah mendekati Zheana hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.

"Papa kamu lagi tidur di kamar setelah makan obat! Tapi kamu... kamu benar-benar anak nggak tahu diri ya, Zheana!"

Zheana tersentak, dadanya berdenyut nyeri. "Zhea salah apa lagi, Ma? Masalah pernikahan Zhea dan mas Khadafy? Itu semuanya..."

"Hanya karena permintaan kedua orang tua Khadafy?!" potong Irma dengan nada tinggi, matanya melotot tajam.

"Kamu pikir Ibu nggak tahu akal-akalan kamu? Kamu sengaja kan memanfaatkan kesempatan ini buat mengambil Khadafy dari Niken?! Kamu sengaja memanfaatkan posisi Niken yang lagi stres buat menguasai Khadafy dan seluruh kekayaannya! Dan Niken juga pergi karena ada campur tangan kamu kan?"

"Demi Allah, Ma, enggak!" tegas Zheana, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sesak yang menghimpit dada.

"Zhea bahkan nggak pernah punya pikiran seperti itu! Mbak Niken yang pergi sendiri meninggalkan Mas Khadafy di hari pernikahan!"

"Tapi kamu menikmati hasilnya, kan?!" bentak Irma seraya menunjuk wajah Zheana dengan jari telunjuknya.

"Lihat gaya kamu sekarang! Baju bagus, tas mahal! Semantara aku... Aku wanita yang merawat kamu harus menahan rasa sakit kecea karena sikap egois kamu, Zheana!"

Zheana mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba bertahan agar air matanya tidak menetes di depan wanita yang tak pernah menganggapnya ada itu.

"Mbak Niken yang memilih pergi, Bu..." suara Zheana bergetar menahan tangis.

"Mas Khadafy bukan barang yang bisa dipindah-pindahkan. Mas Khadafy yang memutuskan untuk mempertahankan pernikahan ini..."

"Halah! Jangan sok polos kamu!" Irma melangkah makin maju, mendorong bahu Zheana kasar hingga gadis itu terhuyung mundur satu langkah.

"Kamu harus minta Khadafy ceraikan kamu! Suruh dia kembali sama Niken begitu Niken siap! Kamu itu cuma penambal malu, Zheana! Jangan merasa kamu benar-benar pantas bersanding sama CEO seperti Khadafy!"

Dorongan di bahunya tidak seberapa, namun kata-kata 'penambal malu' menghantam ulu hati Zheana begitu telak, mengusik kembali ketakutan terbesarnya yang baru saja berhasil ditenangkan oleh Khadafy tadi malam.

Irma melangkah makin mendekat, memangkas sisa jarak di antara mereka hingga aroma parfum menyengatnya memenuhi udara. Matanya memicing tajam, menatap Zheana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh intimidasi.

"Dengar baik-baik, Zheana!" bisik Irma, suaranya kini melandai namun penuh racun yang menusuk.

"Jangan pernah bermimpi kamu bisa merebut Khadafy sepenuhnya. Jangan coba-coba merayu dia atau berpura-pura jadi istri yang sempurna di depan dia dan merebut hati kedua orang tua Khafady, karena yang harus mereka sayangi dan manjakan hanya Niken! Bukan kamu!!"

Zheana menahan napas, berusaha tetap tegak meski seluruh persendiannya gemetar.

"Zhea nggak pernah merayu Mas Khadafy, Bu..."

"Halah, basi!" potong Irma sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Kamu pikir Ibu nggak tahu? Cewek polos kayak kamu pasti pinter main cantik di belakang. Tapi perlu kamu tahu ya, tadi pagi Niken sudah menelepon Ibu!"

Jantung Zheana seketika berdegup kencang. Matanya membelalak kaget.

"Mbak Niken... sudah telepon Ibu?"

"Iya!" Irma tersenyum miring, puas melihat kepanikan di wajah anak tirinya.

"Niken menyesal. Dia cuma emosi sesaat waktu itu karena stres sama pekerjaan dan tekanan pernikahan. Dan sekarang, Niken sudah sadar. Dia juga bilang... mungkin hari ini dia bakal hubungi Khadafy langsung buat minta maaf dan meluruskan semuanya!"

Kalimat itu menghantam dada Zheana bagai gada besi. Tenggorokannya mendadak tercekat. Bayangan Khadafy yang kembali berpaling pada Niken, wanita yang selama bertahun-tahun dicintai dan diinginkan pria itu membuat rasa percaya diri yang baru saja tumbuh semalam hancur seketika.

"Niken itu cinta pertamanya Khadafy," lanjut Irma tajam, melangkah melingkari Zheana bagai predator yang mengurung mangsanya.

"Selama ini Khadafy cuma mau sama Niken. Kamu itu cuma pelampiasan kekecewaan dia, Zheana. Kamu cuma batu loncatan sampai Niken kembali! Jadi kalau kamu masih punya harga diri, jangan coba-coba menahan Khadafy kalau Niken sudah balik nanti. Begitu Niken minta Khadafy kembali, kamu harus tahu diri dan langsung angkat kaki dari hidup mereka!"

"Ma..." suara Zheana tercekat, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya meluncur menetes di pipinya.

"Kenapa Mama jahat banget sama Zhea? Zhea juga anak Papa... Zhea juga punya perasaan..."

"Karena kamu bukan anak aku!" bentak Irma tanpa belas kasihan.

"Anak Aku cuma Niken! Dan posisi nyonya besar di keluarga Mumtaz itu cuma haknya Niken, bukan kamu!"

Irma lalu mencengkeram lengan atas Zheana cukup keras, memaksa gadis itu menatap matanya.

"Ingat pesan Mama. Kalau sampai Mama tahu kamu coba-coba goda Khadafy supaya dia nolak Niken, mama nggak akan tinggal diam. Mama bakal bikin Papa kamu menderita dan coret nama kamu dari keluarga ini! Sekarang keluar dari rumah Ibu!"

Irma menghempaskan lengan Zheana kasar hingga gadis itu terdorong ke arah pintu.

Dengan air mata yang menetes deras dan dada yang sesak luar biasa, Zheana merapikan kerudung dan mengambil tasnya, menunduk dalam-dalam tanpa sanggup mengucap sepatah kata pun lagi, lalu melangkah keluar meninggalkan rumah yang selama ini selalu menjadi tempat paling dingin dalam hidupnya.

1
sunaryati jarum
Tim.keamanan yang bisa diandalkan
Sri Angga
syukurlah ,org baik msh di lindungi,blm smpe makanan di kirim sdh terdeteksi.
nely_48
justru ak yg khawatir sm km zhea,,semoga km n baby baik² az ya zheana,, biarin niken lg menjalani takdir nya sendiri
nely_48
mampus kau niken,, jd org ko jahat banget sih km mh niken, jd we d pertemukan sm adam yg sma jahat n bejad nya spt diri mu niken,, selamat menikmati kehancuran hidup mu niken
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah kirain kena racun , udh parno duluan gara2 s niken jg s Adam 🤭
Fitria Syafei
kk cantik kereen 😍 kereen 🥰 terimakasih 😘
sunaryati jarum
Awalnya emak deg- degan ternyata firasat buruk dipikirkan Zheana, untuk Niken. Benar Zheana kebencian dan dendam nya padamu sekarang Niken mendapatkan karma tanpa perlu kamu dan Kadaffi mengotori tangan.Nak Kadaffi cuma mengawasi dan berjaga- jaga,tapi ada orang lain yang mungkin dendam pada Niken
sunaryati jarum
Benar kan dugaan emak jika Niken hanya dimanfaatkan Adam demi kepentingan sendiri.Mungkinkah Adam pernah dikecewakan Niken, hingga membalasnya dengan sadis.Sebenarnya sebagai sesama wanita emak kasihan Niken,dibalas begitu.Namun karena tabiatnya yg selalu merendahkan Zheana,emak ikut gregeten.Setelah ini semoga Irma ibunya sadar ,Niken dibawa berobat ke Pesykiater
ryuka
kesian kamu niken tapi emang orang jahat itu banyak sekali niken maka nya jangan bodoh
Oma Gavin
sungguh mengerikan pembalasan yg diterima niken mungkin adam sakit hati sama niken pernah ditolak atau dipermalukan
nely_48
silahkan niken sm adam merencanakan apapun,,, khadafy udh tau semua nya loh
nely_48
sok pak bagus msh nurut az sm s irma
nely_48
pantesan jd gila s niken, alih-alih jadi model d Paris malah hamil d gilir semua laki² ,,, bukan sukses mlah gila yg d dapat, boncos nasib mu niken
nining cahyaningrum
ceritanya enak alurnya jelas
david 123
adakah didunia nyata ibu kadung jahat seperti dg anak kandungx? Semoga tdk ya ....Amin ...miris...bila...ini kisah nyata...ya Thor
Fitria Syafei
syukurin senjata kena sendiri..makan ntuh TEMAN 😏 KK cantik mantaf 😍 kereen 🥰
Sri Angga
buah dr kejahatan mu terhadap zheana,,skg km di bls langsung oleh,,partner mu sndri .
ryuka
naahh kan malah udah hancur dluan kamu niken
Ambu Rinddiany Thea
halaaah sok pura pura niken ke ges benang mah beda cerita lain minta tolong tapi tuluuuy tuluy 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 kau tidak akan bisa menghancurkan Zheana dan bayinya,Niken.Kamu malah hancur sendiri.Sudah gila hamil kembali.
nely_48: kasian km niken,, jauh² k Paris jd jablay yg ujung-ujungnya hamil,, lah plg k indo malah d jual demi rencana yg blm tentu berhasil,,
emang badan niken lbh cocok jd prlacur jual diri az ath cari uang yg banyak buat gaya hidup glamor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!