NovelToon NovelToon
Dipaksa Menerima Wanita Itu

Dipaksa Menerima Wanita Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:141.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.

Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.

Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.

Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.

Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMWI : 12

Dahi Herlan mengernyit hingga pangkal alis hampir menyatu. “Kenapa tiba-tiba bahas itu, Janti?”

Arjanti mengaduk jus alpukat menggunakan sedotan, dan dia sudah memakai headset agar lebih mudah menikmati makanan seraya melakukan negosiasi dengan suaminya sendiri.

“Setelah aku kaji ulang tentang adil yang seadil-adilnya, sepertinya banyak kecacatan di dirimu dalam berperan sebagai seorang suami berpoligami, Mas.” Rasa segar, manis, melewati kerongkongan, menambah semangat menguliti Herlan.

“Dulu kita pun menikah secara sederhana, sama seperti Saila. Itu adil namanya. Terus berat emas kawin jauh berbeda, dia diberi kalung berlian, cincin kawin, sedangkan aku hanya sebuah cincin berat 3 gram, ini timpang banget namanya,” lanjutnya membeberkan.

“Gak gitu cara menghitungnya, Arjanti!” suaranya terdengar mulai panik.

“Terus gimana? Sebagai istri pertama, aku berhak protes kan? Boleh dong menuntut mengajukan keinginan kalau semua hal harus transparan mulai sekarang?” ujarnya tegas.

“Dulu dan sekarang tidak bisa disamakan. Nilai rupiah juga sudah berbeda. Mas berlaku adil sesuai karakter, kebutuhan kalian,” alibinya mulai egois. Sifat pelit dan perhitungannya mendominasi.

“Oh, seperti itu. Sekarang gini deh, Mas.” Janti menyeruput kuah ramen, matanya membulat merasai sensasi panas, segar, asam, pedas, dan gurih. “Nanti pas kalian pulang bulan madu, suruh Saila ikut juga merawat ibumu!”

“Mana bisa seperti itu, Janti!” Herlan memotong kalimat istrinya. “Ibu nyamannya cuma sama kamu, dan Saila belum paham bagaimana caranya mengurus orang lumpuh.”

“Gak bisa dijadikan alasan, Mas. Belum paham kan bisa belajar. Dengan senang hati aku ngajarin dia. Kalau dibilang nyaman, aku kurang tepat jadi kandidat tersebut, karena Ibu selalu mencari kesalahan sekecil apapun itu. Lain halnya dengan Saila, nampak banget disayang orang tuamu,” Janti menolak patuh.

Namun Herlan masih bersikeras pada pendiriannya. Tidak mengindahkan keinginan istri pertama. “Fisik Saila gak sekuat kamu, Janti. Bahkan dia memiliki riwayat alergi kalau pakai baju dari serat kain murah. Jadi, mengerti ya, Sayang?”

“Sebenarnya kamu itu nyari istri apa pajangan? Merawat ibu, gak bisa. Masak pun bodoh. Bebersih rumah tidak becus. Terus apa kelebihannya selain membuatmu merem melek di atas ranjang, Mas?” sarkasnya menohok.

‘Dia kenapa bawel banget sekarang? Perhitungan, sulit dikendalikan, enggan patuh. Ada apa sebenarnya?’ batinnya bertanya, dan otak sedang bekerja keras mencari jawaban pas.

“Ya tentu bukan cuma itu. Saila kan harus fokus sama program kehamilan, dan dia gak boleh kelelahan, apalagi sampai stres, Sayang,” rayunya dengan suara lembut.

Sebelum menjawab, Arjanti mengunyah lambat mie ramen, benar-benar menikmati hidangan lezat itu. “Terus posisiku apa dirumah keluarga Doko? Terlebih hatimu? Istri atau pembantu? Dia kalian sayang-sayang, gak boleh kerja berat, sedangkan aku harus mengurus Ibu, masak buat keluarga. Adil kah itu?”

“Itu namanya bakti, Janti!”

“Bukan bakti, tapi pemerasan tenaga!” sanggahnya secepat kilat. Rasa pedas pada lidah menambah semangat memberontak.

“Sayang, kamu kenapa berubah secepat ini? Sebelum Mas memutuskan menikah lagi, kita udah berulang kali membahas tentang semuanya, dan dirimu setuju. Sekarang kok gini?” ia mempermainkan suara demi memicu rasa bersalah Arjanti.

“Mas benar,” katanya bersambung.

Herlan sudah senang sekali, beranggapan semua telah selesai. Istri pertamanya memang pribadi tidak enakan jadi orang.

“Tapi setelah melihat betapa kalian royal ke Saila, tapi bisa dibilang pelit ke aku yang seharusnya juga berhak diperlakuan sama biar tercipta rasa adil itu, wajar kan bila diriku protes?” Janti pun mulai bermain kata.

“Kalau gak seperti itu, Saila enggan diajak menikah, Janti,” ucapnya terdengar meyakinkan.

“Ya sudah jangan dinikahi! Masih banyak janda lainnya yang lebih baik, kalau cuma mau mencari istri terbukti tidak mandul karena sudah pernah melahirkan. Kenapa mesti dia?” balas wanita masih sibuk makan ramen.

“Mama mau nya dia —”

“Mama apa kamu?”

“Mas jujur Janti, kamu sudah gak mempercayai suamimu lagi sekarang ya?” kali ini lebih sulit menahan emosi.

Diseberang sana, Saila sudah menghentakkan kaki lantaran menunggu Herlan belum juga menghampiri, sementara dia sudah selesai pijat.

“Bukan gak percaya, tapi mulai merasa semua tak lagi sama. Kamu berubah, dan rasanya aku ingin menyerah,” suaranya melirih, pelupuk mata membayang dikarenakan air mata.

Herlan pun panik. ‘Ini gak bisa dibiarkan! Jangan sampai rasa cinta Janti berkurang.’

“Kamu kangen ya sama, Mas? Makanya ngomongnya ngelantur gitu. Sayang, ini mas transfer 5 juta lagi, mumpung masih di mal, kan? Belilah apapun yang buat hatimu merasa lebih baik —” belum selesai dia berbicara, panggilan sudah dimatikan sepihak.

Herlan bergegas membuka aplikasi m-banking nya, mengirim nominal baru saja disebutkan.

“Awas kamu kalau aku sudah pulang, Janti. Tak buat gak bisa jalan!” dalam angan bisa menikmati honeymoon tanpa gangguan, namun hatinya gundah, pikiran tak tenang menerka-nerka ada apa dengan istri pertamanya itu.

“Mas!” Saila memanggil dengan nada cukup tinggi.

“Iya.” Herlan pun menyimpan ponsel ke dalam saku celana. Dia berjanji ke istri muda, mau menemani berbelanja di pasar seni.

***

Arjanti tersenyum, air matanya menetes tetapi hatinya tidak lagi terlalu sedih setelah menerima transferan tambahan sebesar 5 juta rupiah.

“Setidaknya aku menangis di restoran sembari menikmati makanan yang ku idam-idamkan, daripada meraung dalam kamar mandi sambil memeluk diri sendiri,” ia bergumam, menghibur hatinya agar berkurang rasa sedih.

Semangkuk mie ramen sudah habis santap, tersisa separuh gelas jus alpukat.

Berhubung restoran tidak terlalu ramai, Janti memutuskan menghubungi orang tuanya. Mau menyampaikan kabar baik.

“Asalamualaikum, Bu,” sapanya dengan suara riang, hati mengupayakan agar tidak merasakan kesedihan yang ditakutkan tersirat lewat lisan.

“Walaikumsalam, Janti. Kamu lagi apa, baik-baik saja kan, Nak?” bu Ratri senang sekali dihubungi putrinya.

“Satu-satu nanyanya, Bu. Alhamdulillah Janti baik, ini lagi shopping di mal,” jawabnya jujur.

“Walah, udah beneran jadi orang kota kamu, Nduk. Gaya banget shopping, mesti sudah gak mau lagi masuk ke sawah atau bantuin metik daun teh kalau pulang ke desa nanti,” sahut suara pria paruh baya seraya berseloroh.

“Ya masih mau, Pak. Kan Janti pinter menyesuaikan diri sesuai tempat dan kondisi,” balasnya menanggapi candaan cinta pertamanya.

“Kebiasaannya memang sudah persis orang kota, tapi logat bicara masih ndeso, medok banget,” ejek pemuda jangkung, kurus, adiknya Arjanti.

“Kalau itu tetap dipertahankan, biar gak lupa sama asal usulnya, jangan sampai disamakan dengan istilah; kacang lupa kulitnya,” Janti terkekeh, dia dan adiknya memang dekat sekali, meski terkadang sering berdebat namun selalu berakhir tertawa.

“Alesan,” balas Tyo. “Mbak, kamu kapan pulang ke desa? Masa sudah setahun lebih belum juga tilik (jenguk) Ibu sama Bapak, lagian jarak kita gak terlalu jauh. Apa mau aku jemput?” ada kerinduan dalam pancaran mata dan suaranya.

Perasaan Janti langsung melankolis, dia juga rindu ayah, ibu dan adiknya. “Mas Herlan lagi sibuk, Dek. Kasihan kalau ditinggal.”

“Itu terus yang dijadikan alasan. Sesibuk-sibuknya dia pasti ada waktu luang. Aku jemput Sabtu besok ya, Mbak?”

.

.

Bersambung

1
Abisatya
semangat jantiii,,semangat kak cublik💪😍
Marlina Prasasty
bab yg penuh air mata
Marlina Prasasty
ini baru Janti,jgn kasi cela
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti
iyan eliyanti
Lelah bestiii... janti nyerah😍, kenapa tidak dari duluuuu janti, kenapa sampe nunggu tersakiti hatimu, pria plin plan macam tuu janganlah dikasih kesempatan, cukup sudaaah, waktunya menjemput bahagia mu janti
UfyArie
laki2 bodoh ya harlan ini dulu sudah di buang sama sheila kok yo masih mau tu na balikan mana wes janda lagi ,boreng memang...menyia2 kan berlian dapatnya batu koral ...🤣🤣
Fitriyazahra
4 bab untuk hari ini...yeayy mksh kaka
Sri Rahayu
maju trus jnti gx usah tanya2 biar tak bantu dari sini..🤣🤣 emosi Uda diubun2.. hbis ne Thor buatt Janti ketemu orka dan jdi juragan kaya dikampung..law author na yg tak datangi 🤭🤭🤭
Andriani
👍👍👍👍
Lilik Lailiyah
mantep janti
🍤⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus janti, pilihan yang tepat, klo herlan g mau, kamu yg dluan maju ke PA. sdh cukup kamu bersabar dan jadi wanita bodoh yang cuma di manfaatin.
mamaqe
cakeeppp...tokoh utama pilihan otor sll luar biasaaahhh karakternya
Sri Wahyuni
hajar 🫵👊👊👊
Eli Rahma
alhamdulillah akhirnya janti sadar
Eli Rahma
jijik bgt denger ngomong sayang,tapi gda buktinya
Rahmawati
bagus janti bulatkan Tekadmu, jgn mau lagi diam drmh itu begelar istri tl tdk dihormati
yuyun Rahayu
ditunggu updatenya ny lagi kak cublik buat si Parlan itu mendem kecubung , kehilangan si njati,dn setelah itu hdp Parlan di peloroti sma jablay nya itu biar nyaho
Arin
Dirimu pun berhak bahagia Janti..... Tunjukkan pada Herlan nanti bahwa dirimu bukan lah mandul. Dirimu bisa mendapatkan keturunan. Tapi pasangan mu bukan Herlan. Biar mantan suamimu nanti berfikir jadi..... siapa yang sebenarnya mandul???? 😁😁😁
Engkar Sukarsih
dasar bahlul kamu herlan 🤬🤬🤬dulu kamu dah di buang seperti sampah sama tu kunti.eh...do...do..e malah di pungut lagi sampahnya😤😤😤
Nabila Nabil
aku... aku tak maju neng pengadilan... kesuwen... aku tak seng dadi Hakime... tak ketok palu gadangku neng sirahe herlan.... 😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
bagus Janti lepaskan lelaki brengsekmu itu 😤😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!