Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.Rahasia yang Terkuak
Satu tahun lalu, saat dia diserang dan dilarikan ke UGD dalam kondisi sekarat karena energinya bergejolak menghancurkan organ dalamnya, seorang anak koas perempuan menggenggam tangannya, dan malam itu, kejangnya berhenti seketika, dan Sean mengira itu hanya kebetulan medis.
Namun hari ini, Energi di dalam nadinya sekarang sepenuhnya berubah. Di dalam mobil silver tadi, ketika dia berada di ambang kematian setelah kecelakaan dan Tera kembali menggenggam erat tangannya untuk menenangkannya, Sean merasakannya lagi.
Sebuah aliran energi hangat yang sangat murni, lembut, namun memiliki daya redam yang luar biasa kuat, mengalir dari jemari Tera masuk ke dalam sistem tubuhnya.
Energi hangat itu bagaikan air es yang menyiram api neraka di dalam dadanya.
Gangguan supranatural yang menyiksanya selama bertahun-tahun langsung jinak, mereda, dan mengalir dengan sempurna, memicu proses penyembuhan sel tubuhnya dengan kecepatan di luar nalar.
"Tuan Sean," Profesor Baskoro mendekati brankar dengan sikap sangat berhati-hati.
"Kondisi Anda secara ajaib sangat stabil. Kami hanya perlu membersihkan luka luar dan menjahitnya sedikit untuk estetika wajah. Anda tidak perlu menjalani perawatan intensif jangka panjang."
"Aku tahu," jawab Sean pendek. Dia mendudukkan tubuhnya di atas brankar, gerakannya begitu tegap seolah tidak pernah terjadi kecelakaan apa pun.
Pandangannya mengunci ke arah Tera. "Semua dokter dan perawat, silakan keluar. Saya ingin berbicara berdua dengan dokter yang membawa saya ke sini."
Profesor Baskoro sempat ragu sejenak, menatap Lentera yang tampak kebingungan dengan pakaian kotornya. Namun, melihat tatapan mata Sean yang mulai menggelap tanda tidak suka didebat, sang Direktur Utama langsung membungkuk.
"Baik, Tuan Sean. Kami akan menunggu di luar. Jika ada sesuatu, silakan tekan tombol darurat."
Dalam hitungan detik, ruangan luas itu menjadi sunyi. Hanya menyisakan Sean yang duduk di atas tempat tidur mewah dan Tera yang masih berdiri kaku di dekat pintu dengan tangan bertumpu pada tas lamaran kerjanya yang agak lecek.
"Kemari," perintah Sean, suaranya kini tidak sedingin tadi, melainkan terdengar lebih dalam.
Tera menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Dia melangkah mendekati brankar dengan gaya angkuh yang dipaksakan.
"Dengar ya, Tuan Sean. Meskipun kamu adalah pemilik tempat megah ini dan bisa memecat siapa saja, aku ini bukan karyawan mu. Jadi jangan memerintah ku seperti pelayanmu. Mengerti?"
Sean menatap wajah Tera yang penuh coretan debu namun tidak kehilangan kecantikannya yang alami.
Sebuah tawa kecil yang sangat langka hampir saja lolos dari tenggorokan Sean. "Siapa namamu?"
"Lentera. Panggil saja Tera," jawabnya ketus. "Dan sebagai dokter anda saat di jalan tadi, aku berhak tahu, jenis suplemen atau mutasi genetik apa yang ada di dalam tubuhmu? Hasil laboratorium mu tadi sama sekali tidak masuk akal secara medis."
Sean tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru mengulurkan tangan kanannya yang besar ke hadapan Tera.
"Pegang tangan saya lagi, Tera."
Tera mengernyitkan alisnya.
"Untuk apa? Aku sudah memeriksa nadimu tiga kali di mobil. Kamu sehat walafiat, bahkan mungkin lebih sehat daripada aku yang belum makan dari pagi karena kelelahan."
"Pegang saja," ulang Sean dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Didorong oleh rasa penasaran ilmiahnya sebagai seorang dokter, Tera akhirnya mengulurkan tangannya.
Begitu telapak tangan Tera yang mungil bersentuhan dan menggenggam jemari Sean yang kokoh, detik itu juga, sensasi itu kembali.
Aliran hangat yang pekat dan nyaman memancar keluar dari dada Tera, menembus kulit Sean.
Sean memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang mengalir memenuhi seluruh rongga dadanya, menyempurnakan setiap sudut kekuatannya yang sempat retak.
Di dalam benaknya, sebuah keputusan besar telah diambil. Gadis di hadapannya ini bukan sekadar dokter penolong. Dia adalah Lentera kehidupan yang dikirimkan takdir untuk melengkapinya.
Lentera menarik tangannya dengan paksa, walau dia merasakan sesuatu yang berbeda, tetap saja apa yang di minta oleh Sean seolah hal yang tak normal dalam pandangannya.
"Kenapa?" Tanya Sean saat melihat Lentera menghentak cepat saat menarik tangannya kembali.
"Seharusnya aku yang tanya kenapa?, aku seorang dokter, bukan wanita yang bisa kau pegang seenaknya, lagian aku lihat kamu sudah jauh dari kata trauma kecelakaan saat ini, jadi tak ada alasan untuk memegang tangan ku lagi" sahut Lentera yang kini mundur satu langkah.
Sean hanya menghela nafasnya, rasanya percuma saja jika saat ini harus menjelaskan panjang lebar pada wanita yang ada di depannya, pada kenyataannya juga Lentera tak mungkin bisa percaya begitu saja.
"Okey, sepertinya tidak mungkin juga aku menjelaskan padamu saat ini, mungkin lain kali, tapi tolong, saat ini aku butuh bantuan mu, setidaknya untuk mengisi sesuatu yang di sebut tenaga di dalam tubuh ku, mengerti?"
"Apa?, kenapa harus aku?"
Sungguh saat ini Lentera merasa pusing sendiri dengan permintaan laki-laki premium di depannya ini, apa mungkin otak semua orang kaya dan berkuasa selalu ada masalah?, batin Lentera.
Sean kini hanya menyandarkan tubuhnya, melihat Lentera yang sedang menunggu jawaban darinya, tapi rasanya juga percuma, jadi Sean masih berpikir bagaimana caranya wanita di depannya ini mau untuk membantunya memberikan energi murni itu dengan sukarela.
"Aku butuh jawaban, bukan hanya tatapan" ucap Lentera pada akhir, merasa tak nyaman dengan kondisinya.
Hingga akhirnya seorang dokter masuk kembali untuk memeriksa keadaan Sean kembali.
"Maaf Tuan Sean, ada yang anda butuhkan saat ini?" Seorang dokter wanita dengan tersenyum manis menawarkan penanganan terbaiknya.
"Emm, aku butuh dia" Jawab Sean begitu saja, sambil mengarahkan tatapan tepat ke Lentera yang masih berdiri tegak di tempatnya.
Dokter wanita itu terkejut, lalu menatap Lentera yang terlihat tengah menatap Sean saat ini, tatapan itu dari ujung kepala ke ujung kaki, melihat penampilan Lentera dengan pakaian formal sederhana dan jauh dari kata mewah tentu saja, rasanya tak percaya jika Lentera di butuhkan Tuan Muda Sean saat ini, batinnya.
"Maksud anda, Nona_?"
"Tera, Lentera, dan aku dokter Lentera" kesal juga saat di tatap dengan aneh seperti itu.
"Ehem, aku hanya butuh dia, bisa tolong anda keluar dokter?" Suara Sean menyahut perbincangan mereka.
Dan akhirnya dokter wanita itu segera keluar dengan sopan dan penuh senyuman.
Sean menatap Lentera lagi, dan kali ini tidak ada kata yang diucapkan, hanya tangan kanannya yang maju dan terbuka, meminta Lentera untuk maju dan menyambutnya.
"Ya Tuhan, ini konyol!" Ucap Tera sebelum akhirnya maju dan menuruti apa yang diinginkan oleh Sean saat ini.
Tangan mereka saling menggenggam erat, dan Sean hanya menutup matanya pelan, diam dan merasakan segarnya aliran kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya.
Mari komen ya, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.