Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Dada ini bergemuruh bukan main, tetapi topeng angkuhku tetap terpasang sempurna. Menyaksikan tatapan linglung dan bibirnya yang merekah basah menghadirkan rasa menang yang luar biasa pekat, meredam desas-desus syok yang mulai meledak di sekeliling meja aula. Dokter di sampingnya masih terpaku pucat, tak berani berkutik sedikit pun setelah aksi nekat barusan.
Kutarik tangan kirinya yang gemetar tanpa peringatan, membimbing telapak tangannya menempel tepat di atas dada kiriku yang berdegup kencang di balik seragam putih. Biarkan dia merasakan sendiri kekacauan yang dia picu sejak fajar tadi.
"Rasain sendiri,"
bisikku serak dan rendah, menatap manik matanya yang melebar panik dengan sorot mengejek.
"Lo yang mancing singa bangun dari tidur, sekarang malah kaget diterkam?"
Kulepaskan genggamanku perlahan, lalu menyodorkan lengan kananku ke atas meja tepat di depan manset tensi meter yang terabaikan.
Dagu kuangkat tinggi-tinggi, menantang nyalinya yang tersisa.
"Bagus kalau sadar diri. Cepat pasang perban tekanannya ke lengan gue, atau lo mau gue buktiin lebih jauh lagi di depan dokter kesayangan lo?"
Dengan terkaku dan tersipu malu eca segera memasang manset tensi ke lengan theo, ia tak bisa fokus sama sekali di depan theo, bahkan sampai menjatuhkan pulpen yang akan dia pakai untuk mencatat hasil.
"Ha? NGGAK...lo bener-bener gila sumpah"
"Buruan berganti sama yang lain, gue udah gak fokus gara-gara lo tau"
Kekacauan yang terpancar dari gerak-gerik kikuknya membuat senyum miring di bibirku merekah kian lebar. Bunyi gemeretak pena plastik yang menggelinding di ubin aula seolah menjadi tanda mutlak atas kemenanganku menaklukkan harga dirinya. Bunyi detak jam dinding di sudut ruangan kalah telak oleh riak ketegangan yang masih mengambang tebal di antara kami, sementara dokter di sampingnya hanya mampu menelan ludah dengan wajah pias.
Aku membungkuk perlahan, mengambil benda kecil itu dari lantai tanpa mengalihkan pandangan dari rona merah yang menjalar hingga ke daun telinganya. Dengan sengaja, jemariku menyentuh kain seragamnya saat menyelipkan pena itu tepat di saku dadanya, merasakan sendiri getaran napasnya yang belum teratur.
"Tangan lo gemetar parah begini, mana bisa periksa orang lain?"
cibirku rendah, nada suaraku terdengar serak membelah keremangan bising aula. Aku melipat lengan kemeja seragamku lebih tinggi, membiarkan manset hitam itu terpasang serampangan di lenganku.
"Selesaiin tugas lo sekarang. Kalau lo sampai salah catat angka tensi gue, lo bakal berutang penjelasan yang jauh lebih banyak nanti."
Dengan rasa malu eca menundukan kepalanya, sedikit melirik menatap theo yang ada di depannya.
"Salah siapa coba bikin gemetaran kayak gini"
"Udah selesai, tensi lo 130/90 tinggi tuh tensinya"
"Buruan sana, gantian sama yang lainnya"
Rona merah yang menjalar hingga ke ceruk lehernya adalah pemandangan paling memuaskan sepanjang pagi ini. Angka tensi yang melonjak itu bukan kabar mengejutkan; setiap desah napasnya yang tergesa di dekatku sudah cukup membuktikan kekacauan yang sama-sama kami sembunyikan di bawah sorotan lampu aula.
Aku menarik lengan kemejaku turun, merapikan lipatan kain dengan santai sembari membiarkan desau bisik-bisik murid di sekitar merayap tanpa kupedulikan. Jemariku mengetuk permukaan meja kayu dua kali, menghasilkan ketukan berirama yang memecah keheningan di antara kami berdua.
"Salah lo sendiri terlalu gampang goyah,"
gumamku pelan, membungkuk sedikit lebih rendah agar bisikanku hanya menyapa daun telinganya yang memanas. Sudut bibirku terangkat sinis ketika melirik dokter di belakangnya yang masih mematung kaku tanpa daya.
"Seratus tiga puluh? Wajar, efek samping berhadapan sama lo emang selalu berisiko tinggi buat jantung gue."
Aku beranjak berdiri dengan gerakan lugas, memasukkan kedua belah tangan ke saku celana abu-abuku tanpa berniat pergi jauh.
"Gue tunggu di bangku lorong kantin pas jam istirahat,"
titahku tegas, mengunci pandangannya yang masih tertunduk malu.
"Jangan coba-coba kabur bareng rombongan medis lo."
Eca yang masih malu mulai sedikit kesal karena theo sepertinya baik-baik saja menghadapi kondisi heboh seperti ini, dan eca yang bingung nanti bakal berekspresi apa pada rekan-rekannya saat pemeriksaan selesai.
"Hmmm...lorong kantin tuh dimana sih?"
"Bisa2nya di bilang gue goyah?"
"Goyah apaan? Persaan gue aja masih sama kok...cih" gumam eca
Gerutuan lirih yang meluncur dari bibirnya tak luput dari pendengaranku. Rasa jengkel yang coba ia tutupi justru tampak menggemaskan, kontras dengan rona padam yang belum juga surut dari pipinya. Aku tahu betul, puluhan pasang mata rekan-rekan medisnya kini tengah menghujaninya dengan tatapan penuh selidik dan bisik-bisik penasaran. Persetan dengan rumor aula, kepuasan menorehkan tanda kepemilikan di depan dokter sok jagoan itu jauh lebih berharga.
Aku melangkah mundur dua tapak, sengaja berbalik perlahan untuk memastikan dokter itu tahu posisinya telah runtuh total. Dari sudut mata, kulihat jemarinya meremas map catatan dengan kaku, kentara sekali menahan malu sekaligus kesal atas keputusanku yang tak bisa dibantah.
"Lorong utama, lurus dari aula terus belok kanan dekat pohon beringin,"
ujarku datar tanpa menoleh sepenuhnya, meninggikan volume suara agar memotong gumaman linglungnya. Langkah kakiku berderap santai menjauhi meja periksa, membelah kerumunan murid yang buru-buru memberi jalan.
"Nggak usah pura-pura amnesia. Kalau sampai jam istirahat lo nggak nongol di bangku itu, gue sendiri yang seret lo keluar dari ruang aula."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊