NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Langkah Terakhir yang Menjadi Awal

Musim berganti dan waktu terus berjalan dengan tenang. Tidak ada perubahan besar yang terjadi dalam semalam. Semuanya berjalan pelan dan alami seperti air yang mengalir menuju sungai yang lebih luas. Aku tetap menulis setiap hari. Cerita-ceritaku kini tidak hanya tentang kenangan atau kehilangan. Aku mulai menulis tentang harapan dan pertemuan baru serta keberanian untuk melangkah lagi. Setiap tulisan yang kubuka selalu dimulai dengan rasa syukur. Setiap tulisan yang kututup selalu diakhiri dengan doa yang tulus untuk Bima dan semua orang yang pernah berjalan bersamaku. Aku sadar sekarang bahwa tulisan bukan sekadar kata-kata yang tersusun di atas kertas. Itu adalah bagian dari diriku yang aku bagikan supaya orang lain juga merasa tidak sendirian dalam perjuangan mereka.

Hari ini adalah hari yang istimewa. Aku kembali berdiri di halaman rumah Bima bersama ibunya. Dia memegang tanganku dengan lembut dan matanya bersinar banget. Di halaman itu kini berdiri sebuah bangku kayu sederhana yang menghadap ke taman kecil di halaman rumahnya. Di papan belakang bangku itu terukir tulisan sederhana. Langkah terindah selalu dimulai dari hati. Itulah kalimat yang paling sering diucapkan Bima. Aku dan ibunya yang menanamkan tulisan itu dengan hati yang penuh rasa syukur. Bukan untuk mengenang kepergiannya saja. Tapi untuk merayakan kehadirannya yang begitu bermakna di hidup kita semua. Kita menanam bunga-bunga kecil di sekeliling bangku itu. Bunga yang warnanya lembut dan wanginya samar persis seperti kehadirannya di hidupku. Sederhana tapi selalu terasa menenangkan.

Kita duduk berdua di bangku itu saat matahari mulai turun perlahan. Angin sore berhembus lembut menyapu dedaunan di sekitar kita. Ibu Bima bercerita tentang masa kecilnya yang penuh tawa dan keingintahuan yang besar. Dia bilang Bima selalu percaya bahwa setiap orang punya perjalanan masing-masing yang indah dengan caranya sendiri. Tidak ada yang terlambat dan tidak ada yang terlalu cepat. Semuanya punya waktunya sendiri. Mendengar itu aku merasa damai sekali. Selama ini aku sering merasa harus buru-buru menyembuhkan luka atau melupakan rasa sakit. Ternyata tidak perlu. Waktu akan melakukan tugasnya asalkan kita tetap mau membuka hati untuk terus berjalan. Luka memang tidak hilang sepenuhnya tapi dia tidak lagi terasa menyakitkan setiap kali kamu menyentuhnya. Dia berubah menjadi bagian dari ceritamu yang mengingatkan kamu seberapa kuat kamu sebenarnya.

Beberapa minggu kemudian aku pergi ke bukit tempat terakhir yang ada di buku sketsa Bima. Kali ini aku tidak sendirian. Dimas ikut bersamaku. Dia tidak banyak bertanya saat aku berdiri sendirian di tepi tebing dan memandang ke arah lembah yang hijau kebiruan di kejauhan. Dia hanya berdiri agak di belakangku dan menunggu dengan tenang sampai aku siap berjalan pulang. Dia mengerti bahwa ada bagian dari diriku yang bukan miliknya untuk dimiliki. Dia menghormatinya dengan cara yang paling tulus. Saat aku menoleh dan menatapnya dia tersenyum lembut. Senyum yang bilang aku tahu dia ada di sini bersamamu dan aku tidak akan pernah berusaha menggantikan tempatnya. Terima kasih sudah membiarkan aku berjalan di sampingmu. Itulah kebaikan yang diajarkan Bima kepadaku. Bahwa mencintai bukan berarti kamu harus memiliki seseorang seutuhnya. Kadang mencintai cukup dengan hadir dan menghormati ruang di dalam hati satu sama lain.

Saat kita turun dari bukit langit mulai berubah menjadi warna ungu yang lembut. Aku berjalan di samping Dimas sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan setapak itu. Aku menyadari sesuatu yang penting sekali. Langkah Bima berakhir di tengah perjalanan menuju aku. Tapi langkahku tidak berakhir di tempat perpisahan itu. Langkahku justru dimulai dari sana. Dia berjalan 38.000 langkah untuk sampai ke hatiku supaya aku belajar mencintai dengan tulus dan berani. Dan sekarang aku membawa pelajaran itu melangkah lebih jauh dari yang dia sempat tempuh. Itulah hadiah terindah yang bisa kuberikan untuknya. Bukan kesedihan yang abadi. Tapi kehidupan yang utuh dan penuh makna karena pernah diajarkan oleh seseorang yang begitu baik. Setiap kebaikan yang aku lakukan sekarang adalah cara aku berkata terima kasih kepadanya setiap hari.

Malam itu aku membaca ulang seluruh cerita yang sudah kutulis dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Cerita tentang pertemuan tak terduga di sebuah taman kecil. Cerita tentang obrolan sederhana yang perlahan menyentuh hati yang paling dalam. Cerita tentang perjalanan yang terhenti terlalu cepat. Cerita tentang rindu yang terasa berat namun juga menenangkan. Cerita tentang perjalanan mencari jejak dan akhirnya menemukan diri sendiri. Cerita tentang keberanian untuk membuka hati lagi. Cerita tentang langkah yang berlanjut meski seseorang tidak lagi terlihat di sampingmu. Semua itu bukan kisah tentang kesedihan. Itu adalah kisah tentang cinta yang begitu kuat sehingga ia tidak berakhir saat seseorang pergi. Ia hanya berubah bentuk menjadi kekuatan yang mendorong kita untuk hidup lebih baik dan lebih berharga. Buku ini bukan cerita tentang dia. Ini cerita tentang bagaimana dia mengubah arah hidupku menjadi lebih indah selamanya.

Aku menutup buku itu pelan dan meletakkannya di meja dekat jendela. Di luar sana bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit malam yang jernih. Aku menyentuh liontin di dadaku. Terima kasih Bima. Terima kasih sudah memilih aku sebagai tujuan perjalananmu. Terima kasih sudah mengajarkan aku bahwa mencintai itu berarti memberi yang terbaik tanpa mengharap kembali. Terima kasih karena kamu pernah ada di duniku walau waktunya tidak lama. Kamu adalah bab terindah dalam hidupku yang tidak akan pernah kutulis ulang dengan yang lain. Tapi cerita hidupku sendiri harus terus berjalan kan? Kamu pasti mau aku melangkah dengan senyum di wajahku dan ketulusan di hatiku. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Tapi aku juga tidak akan menunda kebahagiaanku menunggu kamu kembali. Karena kamu sudah mengajarkan aku bahwa kebahagiaan itu ada di jalan yang kita tempuh bukan di tempat yang kita tuju.

Besok pagi matahari akan terbit lagi seperti biasa. Orang-orang akan berangkat bekerja dan anak-anak akan berjalan ke sekolah. Bunga-bunga akan mekar pada musimnya dan angin akan tetap berhembus membawa pesan ke tempat-tempat yang jauh. Hidup terus berjalan dan aku ikut bersamanya. Bukan karena aku melupakan yang lama. Tapi karena aku menghargai cukup berharganya kehidupan ini untuk disia-siakan dalam kesedihan yang tidak berujung. Setiap pagi saat aku membuka mata aku mengucap syukur. Setiap malam saat aku menutup hari aku berdoa untuk ketenangan jiwanya. Itulah cara terbaik aku menjaga kenangannya tetap hidup di dalam hatiku.

38.000 langkah ke hatimu. Bukan sekadar judul cerita. Itulah perjalanan seseorang yang mencintai dengan segenap jiwanya. Dan sekarang langkah itu terus berjalan di dalam diriku. Ke mana pun aku pergi dan dengan siapa pun aku berjalan nanti. Ketulusan yang kamu berikan akan selalu menjadi kompas yang menuntunku ke arah yang benar. Aku tidak tahu ke mana kakiku akan membawaku esok hari. Tapi aku tidak takut lagi. Karena aku tahu aku tidak berjalan sendirian. Kenanganmu adalah teman perjalananku yang paling setia. Doamu adalah cahaya yang selalu menyinari jalanku.

Selamat jalan Bima. Sampai kita bertemu lagi di pertemuan yang tak ada perpisahan. Dan sampai saat itu tiba aku berjanji akan menjaga hatiku tetap tulus dan hidupku tetap bermakna. Aku akan menulis cerita-cerita indah lainnya. Aku akan bertemu orang-orang yang luar biasa. Aku akan melihat tempat-tempat yang menakjubkan. Dan di setiap momen yang berharga aku akan menyempatkan diri berhenti sebentar dan berkata dalam hati kamu harus melihat ini Bima. Kamu pasti akan menyukai ini.

Itulah cara kita tetap berjalan bersama kan? Walau kamu di sana dan aku di sini. Kita tetap melihat matahari yang sama terbit dan terbenam. Kita tetap menghirup udara yang sama dan memandang langit yang sama luasnya. Cinta tidak diukur dari berapa lama seseorang berdiri di sampingmu. Tapi dari seberapa jauh jejaknya membawamu menjadi orang yang lebih baik. Dan kamu membawaku sejauh itu Bima. Terima kasih untuk 38.000 langkah yang kamu tempuh hanya untuk sampai ke hatiku. Langkah itu tidak akan pernah terbuang sia-sia. Karena di sanalah kamu akan selalu tinggal. Di hatiku. Selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!