NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN PERTAMA ELVIRA

Pagi harinya, jam delapan kurang sepuluh menit, Enzo sudah berdiri di depan gerbang gudang logistik utama milik Elvira Srikandi Group yang terletak di kawasan industri pinggiran kota. Udara pagi masih diselimuti embun tipis, namun keriuhan di dalam area gudang seluas dua hektar itu sudah terasa pekat. Deru mesin forklift, teriakan para pekerja yang membongkar muatan truk, serta gesekan peti-peti kayu berukuran besar memenuhi ruangan beratap seng tinggi tersebut.

Enzo mengenakan kemeja kerja kain kusam berwarna abu-abu yang lengannya digulung hingga ke siku, celana jins tebal yang nyaman untuk bergerak, serta sepatu boots keselamatan pinjaman dari bagian operasional. Pemuda itu berdiri tenang di samping papan pengumuman gudang, menunggu pengarahan pertamanya.

Sebuah mobil sedan hitam meluncur masuk ke area parkir gudang. Elvira melangkah keluar dengan penampilannya yang selalu anggun dan berwibawa. Wanita empat puluh satu tahun itu mengenakan celana kain hitam berpotongan rapi, kemeja putih berlengan panjang yang bagian tangannya sedikit digulung, serta helatan rompi keselamatan reflektif di atas bahunya. Kacamata berbingkai emasnya terpantul pendar lampu sorot gudang.

Di sampingnya, berjalan seorang pria paruh baya bertubuh gempal bernama Pak Hadi, Kepala Supervisor Logistik Senior yang raut wajahnya tampak masam dan penuh tekanan.

Elvira menghentikan langkahnya di hadapan Enzo. Matanya yang tajam mengamati penampilan pemuda itu sejenak sebelum menyunggingkan senyum tipis yang amat tipis.

"Kamu datang tepat waktu, Enzo," tegur Elvira seraya memperbaiki posisi kacamatanya.

"Saya selalu berusaha tepat waktu, Bu," sahut Enzo tenang seraya mengangguk sopan.

Elvira menoleh ke arah Pak Hadi, lalu mengambil sebuah binder tebal berisi tumpukan dokumen kertas berkosong tebal dari tangan supervisor tersebut.

"Tiga jam lalu, empat truk kontainer besar yang membawa modul komponen stan pameran utama tiba dari pelabuhan," cerita Elvira dengan nada suara tegas dan tanpa kompromi.

"Manifes pengiriman dari pihak vendor menunjukkan bahwa seluruh seribu dua ratus unit komponen—mulai dari pilar besi, panel dinding, hingga instalasi pencahayaan khusus—sudah lengkap dan siap dirakit untuk pameran lusa," sambung Elvira seraya menyodorkan binder tebal itu ke dada Enzo.

Enzo menerima binder tebal itu dengan kedua tangannya, merasakan bobot tumpukan lembaran data fisik yang berisi ribuan nomor seri barang.

"Tugas kamu hari ini sederhana, tapi tidak boleh ada kesalahan sedikit pun," tegas Elvira menatap mata Enzo lurus-lurus.

"Saya minta kamu memeriksa dan memverifikasi secara fisik setiap unit barang di dalam Gudang Blok C. Cocokkan nomor seri fisik pada komponen dengan laporan di manifes ini," lanjut Elvira.

"Seluruh proses hitung ulang dan inspeksi kondisi fisik harus selesai sebelum pukul empat sore," sambung Elvira memasang tenggat waktu yang hampir mustahil untuk dikerjakan sendirian.

Pak Hadi, supervisor senior yang berdiri di samping Elvira, menyunggingkan senyum sinis yang samar. Sebagai orang lama di gudang, Pak Hadi tahu betul bahwa Gudang Blok C adalah area penampungan barang paling kacau. Menghitung seribu dua ratus unit komponen berbobot belasan kilogram secara fisik dalam waktu kurang dari tujuh jam bukan sekadar pekerjaan menguras tenaga, melainkan tugas yang sengaja dirancang untuk membuat seorang pekerja pemula frustrasi atau mengambil jalan pintas dengan memalsukan tanda tangan verifikasi.

Ini adalah ujian pertama dari Elvira. Wanita pengusaha itu ingin melihat apakah Enzo adalah pemuda pekerja keras yang jujur pada data riil, atau sekadar pemuda malas yang bersikap manis di depannya demi mendapatkan posisi enak.

"Sendirian, Bu?" tanya Enzo memiringkan kepalanya tipis, menatap tumpukan peti kayu di Gudang Blok C yang menjulang tinggi.

"Iya. Sebagai Asisten Logistik, kamu harus membuktikan bahwa kamu tahu kondisi riil lapangan," jawab Elvira dingin tanpa menawarkan bantuan tambahan.

"Kalau kamu merasa tidak sanggup atau menganggap tugas ini terlalu berat, kamu bisa mengembalikan binder itu sekarang dan kembali jadi pekerja lepas harian," gertak Elvira menguji mental pemuda di hadapannya.

Enzo menatap binder tebal di tangannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jajaran peti kayu berdebu di Gudang Blok C. Pemuda itu tidak menunjukkan raut kekesalan, cemas, atau niat untuk mengeluh. Mengingat evaluasi sistem yang menuntutnya untuk bersikap tegas dan bertanggung jawab penuh, Enzo justru menyambut tantangan berat ini dengan kepala dingin.

"Saya terima tugasnya, Bu. Pukul empat sore laporannya sudah ada di meja Ibu," jawab Enzo lugas dan mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Elvira menatap Enzo sejenak, ada pendar keheranan halus di balik sepasang matanya saat melihat ketenangan pemuda itu.

"Bagus. Jangan buat saya kecewa," tutup Elvira seraya berbalik melangkah menuju kantor pengawas di lantai mezzanine.

Enzo tidak membuang waktu satu detik pun. Pemuda berkaus abu-abu itu langsung menyambar senter industri, pita pengukur, dan papan jalan, lalu melangkah lebar memasuki lorong Gudang Blok C yang remang dan berdebu.

Kondisi di dalam Blok C benar-benar berantakan. Ratusan peti kayu dan rangka besi bertumpuk tanpa pola yang jelas. Hawa di dalam ruangan tertutup itu terasa pengap dan panas, dipenuhi aroma besi berkarat dan debu kayu.

Beberapa pekerja gudang senior yang melintas tampak tertawa kecil sambil berbisik-bisik, memandang Enzo dengan tatapan meremehkan. Mereka mengira pemuda baru itu akan menyerah dalam dua jam pertama atau sekadar menyalin angka dari lembaran manifes tanpa memeriksa barangnya secara nyata.

Namun Enzo membuktikan hal yang bertolak belakang.

Pemuda itu memanjat tumpukan peti kayu dengan terampil, mengandalkan kekuatan otot dan kelincahan fisiknya yang terbiasa bekerja keras. Enzo tidak sekadar menghitung jumlah kotak; ia membuka tiap kait peti, mengusap debu pada plat nomor seri komponen besi, dan mencocokkan setiap kode alfanumerik pada lembaran kertas dengan teliti.

Jam bergerak cepat. Peluh membasahi kemeja abu-abu Enzo hingga basah kuyup di bagian dada dan punggung. Otot-otot tangannya terasa pegal dan tegang akibat memindahkan peti-peti kayu berbobot puluhan kilogram demi menjangkau komponen yang tersembunyi di tumpukan paling bawah. Noda oli dan debu hitam menempel di pipi dan lengannya.

Namun, ketelitian Enzo membendung niat untuk mengambil jalan pintas.

Pada jam dua siang, saat ia memeriksa tumpukan komponen lampu sorot khusus di sudut Blok C, Enzo menemukan ketidakcocokan yang fatal. Pada laporan manifes tertulis bahwa lima puluh unit lampu sorot tipe LED-X100 dalam kondisi baru dan lengkap. Namun saat Enzo membongkar fisik peti nomor 84, ia menemukan sepuluh unit di antaranya adalah lampu model lama yang bagian kacanya retak dan plat tembaganya telah teroksidasi.

Tak hanya itu, di tumpukan peti bagian belakang, Enzo menemukan selisih lima belas unit pilar penyangga besi yang dicatat "lengkap" oleh tim vendor, padahal peti-peti tersebut sebenarnya kosong dan hanya diisi oleh karung pasir ganjal demi memanipulasi berat timbangan.

Enzo mengusap keringat di dahinya dengan lengan kemeja, menatap temuan kecurangan vendor tersebut dengan mata berbinar dingin. Ia menyadari bahwa jika ia bersikap malas dan sekadar menandatangani laporan manifes seperti yang diharapkan oleh pihak-pihak curang, maka saat pameran berlangsung lusa, perusahaan Elvira akan mengalami kekacauan besar dan kerugian ratusan juta rupiah.

Tanpa membuang waktu, Enzo mencatat seluruh temuan fisik tersebut secara terperinci: nomor seri barang yang hilang, foto bukti fisik yang rusak, serta selisih jumlah riil di lapangan. Ia menyusun laporan ulang secara rapi dan sistematis menggunakan papan jalannya.

Dari balik jendela kaca kantor mezzanine di lantai dua, Elvira berdiri memperhatikan Enzo sepanjang hari. Wanita anggun itu melihat bagaimana Enzo terus bekerja tanpa henti, tidak mencuri waktu untuk bersantai, tidak mengeluh saat kausnya basah oleh peluh, dan tidak tergiur untuk menandatangani dokumen secara asal-asalan. Rasa hormat dan ketertarikan Elvira terhadap karakter Enzo kian menyala terang di dalam dadanya.

Tepat pukul tiga lewat lima puluh menit sore, derap langkah kaki yang mantap terdengar menyusuri lorong kantor mezzanine.

Enzo memutar gagang pintu kantor pengawas, melangkah masuk dengan kemeja abu-abu yang kotor oleh debu dan basah oleh keringat. Wajahnya agak kusam, namun sorot matanya terpancar sangat jernih dan tegap.

Ia meletakkan binder tebal beserta lembaran laporan audit fisiknya tepat di atas meja kerja Elvira.

"Pukul tiga lewat lima puluh menit, Bu. Verifikasi fisik Gudang Blok C selesai," kata Enzo tenang seraya mengatur napasnya yang teratur.

Elvira melepaskan kacamatanya, menatap tumpukan kertas laporan yang disodorkan Enzo, lalu beralih menatap penampilan kusam pemuda di hadapannya.

Pak Hadi yang duduk di sudut ruangan tersenyum miring. "Sudah ditandatangani semua kan, Mas Enzo? Lengkap seribu dua ratus unit?" cibir supervisor senior itu, mengira Enzo terjebak memalsukan laporan.

"Tidak," sahut Enzo tegas seraya menatap Pak Hadi lurus-lurus.

"Barang tidak lengkap seribu dua ratus unit," lanjut Enzo mantap.

Elvira mengangkat alisnya di balik kacamata, sementara Pak Hadi tersentak kaget dari duduknya.

"Maksud kamu apa?!" tegur Pak Hadi dengan nada suara yang meninggi.

"Manifes dari vendor menunjukkan selisih," jelas Enzo tenang seraya menunjuk lembaran auditnya.

"Ada lima belas unit pilar penyangga besi yang hilang dan diganti karung pasir di peti nomor sembilan puluh. Selain itu, sepuluh unit lampu sorot dalam kondisi rusak parah dan tidak sesuai spesifikasi kontrak," rincinya lugas tanpa ada nada panik.

"Ini bukti foto nomor seri dan lokasi petinya," sambung Enzo seraya menyodorkan ponsel tuanya yang menampilkan foto-foto rinci temuan fisiknya.

Ruangan kantor pengawas itu mendadak hening seketika. Pak Hadi membeku di tempatnya berdiri dengan wajah pucat pasi, tak sanggup menyanggah bukti data riil yang begitu sempurna dan tak terbantahkan. Kecurangan vendor yang biasanya lolos dari pemeriksaan petugas malas kini terbongkar total di tangan Enzo.

Elvira membaca lembaran laporan audit buatan Enzo baris demi baris. Kerapian data, ketelitian nomor seri, serta kejujuran Enzo yang tidak takut melaporkan kesalahan membuat dada wanita pengusaha itu bergetar oleh rasa kagum yang luar biasa.

Elvira menutup binder tebal itu dengan bunyi *bamm* yang pelan namun berwibawa. Wanita itu berdiri dari kursi kerjanya, menatap Enzo dengan binar mata hangat dan senyum bangga yang memancar murni dari wajah cantiknya.

"Laporan yang sangat luar biasa, Enzo," puji Elvira tulus dengan suara altonya yang hangat.

"Kamu tidak hanya menyelesaikan tugas tepat waktu, tapi kamu juga baru saja menyelamatkan perusahaan saya dari kerugian besar lusa nanti," lanjut Elvira tanpa ragu.

"Mulai hari ini, kamu resmi memegang kendali pengawasan logistik penuh untuk pameran," tegas Elvira menatap Enzo mantap.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Bu Elvira," sahut Enzo tenang seraya mengangguk sopan.

Saat Enzo melangkah keluar dari kantor pengawas menyusuri lorong gudang untuk membersihkan diri, ponsel tua di saku celana jinsnya bergetar halus dua kali secara berurutan.

Enzo merogoh benda itu, membuka layar retaknya yang membiaskan pendar cahaya keemasan yang anggun.

[Pembaruan Data Target: Tante Elvira (41 Tahun)]

[Analisis Tindakan: Kejujuran Audit Data, Ketahanan Fisik Ekstrem, & Integritas Tanpa Kompromi.]

[Evaluasi Psikologis Target: Target sangat terkesan dan kagum atas dedikasi kerja nyata Anda. Ujian pertama berhasil dilewati dengan hasil sempurna. Kepercayaan profesional dan keterikatan emosional Target melonjak pesat.]

[Keterikatan Tante Elvira Meningkat: 28% -> 38%]

[Catatan Sistem: Karakter dan integritas Anda telah diakui sepenuhnya oleh Target.]

Enzo menyunggingkan senyum tipis yang membumi, mematikan layar ponsel tuanya, lalu melangkah mantap menyongsong sore dengan dada yang lapang dan percaya diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!