Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAb 28
2 minggu setelah USG
Kandungan Alena sudah 14 minggu 1 hari. Baby bump-nya sudah bukan "kayak habis makan kenyang" lagi, tapi sudah beneran kelihatan. Kalau pakai daster bunga ketat, sudah jelas tonjolan kecil di bawah perut. Kalau pakai dress hamil udah berasa pas banget karna kali ini benar-benar sudah sangat menonjol.
Mualnya sudah hilang total. Sekarang ganti fase ngidam. Dan ngidamnya Alena itu... aneh.
Tapi sebelum ngidam aneh jam 2 pagi, ada drama baru yang lebih heboh di rumah Pondok Indah, bukan dari Clarissa, tapi dari Sean.
Sean Pradana, 18 tahun, mahasiswa baru Manajemen Bisnis UI Depok, IPK sementara 3,8, yang biasanya pulang jam 15.00 sore langsung naik ke lantai 2 main game atau tempel kuping ke perut Bunda, 3 hari terakhir pulangnya jam 17.00, dengan senyum-senyum sendiri.
Hari pertama telat, Aditya tanya, "sean kok jam 17.00 baru pulang? Macet ?
Sean jawab gugup, "Hehe... iya Yah... macet Yah... banyak tugas kelompok juga Yah..."
Hari kedua telat lagi jam 17.30, Alena yang tanya "Nak, kok pulang sore terus nak? Tugas kelompok terus nak?"
Sean jawab makin gugup, muka merah, "Hehe... iya Bun... tugas kelompok Bun... sama temen Bun..."
Hari ketiga, jam 18.00 baru pulang, bawa 2 boba brown sugar, 1 untuk dirinya, 1 lagi tidak diminum, masih utuh.
Aditya dan Alena yang duduk di taman belakang langsung saling lihat. Ini bukan tugas kelompok.
Jam 19.00 malam, Sean tiba-tiba makan malam sendrian di taman dan lebih anehnya lagi Sean senyum-senyum sendiri saat lihat HP.
Alena yang insting Bundanya tajam, apalagi lagi hamil, langsung to the point.
"Sean, jujur sama Bunda, kamu punya pacar ya nak di UI?"
Sean yang lagi minum es teh langsung keselek.
"UHUK UHUK! BUNDA! KOK BUNDA TAU BUN?!"
Aditya yang di sebelah langsung ketawa ngakak.
"HAHAHA! Akhirnya jagoan Ayah punya pacar! Ayah kira kamu mau jomblo sampai lulus UI! Siapa nak? Anak mana? Jurusan apa? Apa dia cantik?"
Sean mukanya langsung merah seperti tomat, lebih merah dari lipstik Clarissa kala itu, nunduk, mainin nasi di piringnya.
"Namanya... namanya... Naya Yah... Bun... Nayla Putri... jurusan Psikologi UI... semester 1 juga... satu angkatan... kenal pas ospek kemarin..."
Alena langsung heboh.
"Ya ampun Naya! Cantik pasti secantik namanya! Mana fotonya nak? Bunda mau lihat nak!"
Sean dengan malu-malu buka HP, buka foto Instagram @naya.psikologi.ui, foto cewek cantik pakai almamater UI kuning juga, rambut panjang, senyum manis, lagi bawa buku psikologi.
"Cantik Bun... cantik Yah... dia pinter Bun, IPK sementara 3,9 Bun..."
Aditya lihat foto itu "Cantik, pinter, Psikologi UI, bagus nak, Ayah setuju, kapan mau dibawa ke rumah? Ayah sama Bunda mau kenalan."
Sean makin merah, "Jangan dulu Yah! Malu Yah! Baru 2 minggu Yah!"
Malam itu rumah Pondok Indah heboh gara-gara Sean punya pacar. Bi Ijah sampai bikinin es teh manis extra buat Sean yang lagi jatuh cinta.
Tapi kehebohan Sean punya pacar kalah sama kehebohan jam 2 pagi.
Jam 02.00 pagi, Pondok Indah gelap, semua tidur, Sinta bodyguard shift malam duduk di ruang tamu jaga.
Tiba-tiba dari kamar utama terdengar suara Alena nangis pelan.
Aditya yang tidur peluk baby bump langsung bangun panik.
"Sayang kenapa sayang? Mules sayang? Pendarahan sayang? Sesak sayang?"
Alena yang duduk di ranjang king size, rambutnya berantakan, daster bunga kusut, nangis sambil memegang perut bumpnya bicara dengan suara menyedihkan.
"Mas... Aku pengen rujak mangga Mas... tapi mangganya harus mangga muda, bumbunya harus pedes banget, terus makannya harus di pinggir sawah Mas..."
Aditya bengong karna saat melihat jam di ponselnya menunjukkan jam 2 pagi.
"Rujak mangga? Jam 2 pagi? Di pinggir sawah? Sayang di Pondok Indah gak ada sawah sayang..."
Alena makin tersedu-sedu usia kehamilan 14 minggu, hormon semakin naik.
"Pokoknya Aku pengen Mas! Adik pengen Mas! kalau mas gak percaya nih pegang perut aku,adik nendang-nendang mas!" rengeknya.
Aditya langsung panik,ia gegas beranjak dari tempat tidurnya ,ia langsung mengambil ponselnya dan nomor pertaman yang ia telepon ialah Rudi ,satpam dirumahnya.
"Rudi! Bangun Rudi! Cari mangga muda sekarang! Di pasar mana kek! Jam 2 pagi! Istri saya ngidam rujak mangga mau makan di pinggir sawah!"
Rudi yang lagi tidur di pos satpam langsung kebangun," Mangga muda Pak? Pinggir sawah Pak?"
Sean yang di lantai 2 mendengar tangisan Alena yang makin menjadi karna melihat aditya panik.Sean buru-buru turun dan jalan tergesa-gesa menuju kamar utama.
"Bunda ngidam apa Bun? Rujak mangga? Sean carikan Bun!"
Jam 02.30 pagi, rumah Pondok Indah heboh dari jam 2 pagi. Aditya, Sean, Rudi, dan Sinta bodyguard, 4 orang cowok panik, nyari mangga muda dari jam 2 pagi di Jakarta.
Jam 03.00, Rudi datang bawa mangga muda 2 kilo dari tukang sayur pasar Kebayoran yang kebetulan baru buka.
Bi Ijah yang melihat Rudi sudah mendapat mangga langsung pergi ke dapur dan ngulek bumbu rujak pedes banget, cabe 20 biji.
Jam 03.15, rujak mangga muda pedes banget sesuai riques Alena sudah jadi.
Tapi Alena masih nangis, "Makannya harus di pinggir sawah Mas..."
Aditya yang sudah pasrah akhirnya memikirkan ide gila.
Dia bawa tikar, bawa rujak mangga itu ke taman belakang , gelar tikar di atas rumput taman yang ijo, nyalain lampu tumblr warm kuning biar kayak sawah.
"Sayang sini sayang, ini sawah-sawahan sayang, kita makan rujak di pinggir sawah ya sayang ya," kata Aditya sambil gendong Alena ke taman belakang jam 3 pagi.
Alena, Aditya, Sean, Bi Ijah, Rudi, dan Sinta bodyguard, 6 orang makan rujak mangga muda pedes banget di atas tikar di taman belakang Pondok Indah jam 03.15 pagi, keinginan Alena memang luar biasa dia tidak hanya ingin memamkan itu sendiri tapi dia juga minta semua orang yang ada dirumah itu makan mangga muda itu juga.
Alena makan dengan lahap
"Enak Mas... enak banget Mas... trimakasih Mas..."
Aditya yang melihat Alena lahap dan kembali ceria akhirnya tersenyum lega, walau matanya ngantuk berat.
Sean yang melihat Bunda ngidam aneh dijam 2 pagi, langsung video call Naya pacar barunya.
"Yang, lihat Yang, Bunda aku ngidam rujak mangga jam 2 pagi makannya minta ditepi sawah,tapi karna tidak ada sawah ayah buat sawah-sawahan."
Naya di seberang sana tertawa, "Gemesh banget Bunda kamu Sean."
Jam 04.00 pagi, rujak habis, Alena merasa kenyang tak terasa matanya mengantuk lagi dan meminta Aditya untuk menggendongnya kembali ke kamar.
"Mas makasih ya Mas udah bikinin sawah-sawahan Mas," bisik Alena dengan suara lirih dan muka ngantuk.
Aditya tersenyum dan mencium kening Alena, "Sama-sama sayang, buat kamu sama baby biru pink Papa, sawah beneran pun Papa beliin."
Dan jam 04.00 pagi itu, di taman belakang masih ada tikar, piring rujak sisa, dan 2 bodyguard Sinta Wulan yang ketawa lihat majikannya ngidam aneh jam 2 pagi.
Bersambung