IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Malam Pertama yang Sunyi
Hujan turun rintik-rintik di atas kota New York malam itu, membasahi jalanan Fifth Avenue yang berkilauan oleh lampu-lampu gedung pencakar langit. Di dalam sebuah katedral tua di Manhattan, lilin-lilin putih menyala di sepanjang lorong, menerangi wajah Brooklyn Hartley yang tampak begitu anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna gading.
Namun di balik senyum yang ia paksakan untuk para tamu undangan, hatinya terasa hampa.
Pernikahan ini bukan pernikahan yang ia impikan sejak kecil. Bukan pernikahan yang lahir dari cinta yang tumbuh perlahan, atau kisah asmara yang penuh kejutan manis. Pernikahan ini adalah sebuah kontrak—perjanjian dingin di atas kertas yang ditandatangani oleh dua keluarga besar demi menyelamatkan kerajaan bisnis keluarga Whitmore dari kehancuran.
Liam Whitmore, pria yang kini berdiri di sampingnya sebagai suami sah di hadapan Tuhan dan hukum, sama sekali tidak menatapnya. Sepanjang upacara, mata pria itu justru sesekali melirik ke arah pintu masuk katedral, seolah mengharapkan seseorang datang dan menghentikan semua ini.
Brooklyn tahu siapa yang ia tunggu.
Helena Broxley.
Wanita yang telah mencuri hati Liam sejak mereka masih duduk di bangku universitas Columbia, wanita yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar tiga bulan sebelum pernikahan ini direncanakan, meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh di dada Liam.
"Kau boleh mencium pengantin wanita," ucap sang pendeta.
Liam menunduk, bibirnya menyentuh pipi Brooklyn sekilas—dingin, kaku, tanpa perasaan. Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, tetapi bagi Brooklyn, suara itu terdengar begitu jauh, seolah ia sedang berada di dalam gelembung kaca yang memisahkannya dari dunia nyata.
...***...
Resepsi pernikahan berlangsung mewah di Grand Ballroom Hotel Plaza, salah satu hotel paling bergengsi di jantung Manhattan. Lampu kristal menggantung anggun dari langit-langit, gaun-gaun sutra berkilauan di bawah cahaya keemasan, dan para tamu dari kalangan elite New York berbisik-bisik penuh kekaguman sekaligus rasa penasaran.
Semua orang tahu pernikahan ini adalah pernikahan bisnis. Perusahaan keluarga Hartley, yang bergerak di bidang investasi keuangan, telah menyuntikkan dana besar untuk menyelamatkan Whitmore Group dari ambang kebangkrutan setelah skandal yang menimpa mendiang ayah Liam. Sebagai balasannya, pernikahan ini disepakati—Brooklyn, putri tunggal keluarga Hartley, menjadi jaminan aliansi tersebut.
Brooklyn duduk di kursi pengantin, tersenyum sopan pada setiap tamu yang datang memberi ucapan selamat. Namun matanya diam-diam mencari sosok Liam yang entah sejak kapan telah menghilang dari kursi di sampingnya.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya ibunya, Margaret Hartley, sambil menyentuh lengan Brooklyn dengan lembut.
"Aku baik-baik saja, Ibu," jawab Brooklyn, meski suaranya nyaris tak lebih dari bisikan.
Ia tahu ibunya melihat kebohongan dalam matanya. Tetapi malam ini bukan malam untuk drama, bukan malam untuk mengeluh. Ini adalah malam pengorbanan yang telah ia pilih sendiri—demi menyelamatkan ayahnya dari tekanan bisnis yang nyaris menghancurkan segalanya, dan demi menjaga nama baik keluarga Whitmore yang telah lama bersahabat dengan keluarga mereka.
Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam, resepsi mulai mereda. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan ucapan selamat dan senyum penuh basa-basi. Namun Liam tidak pernah kembali ke sisi Brooklyn sejak acara potong kue selesai.
Brooklyn mencarinya di antara kerumunan yang tersisa. Ia bertanya pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.
"Permisi, apakah kau melihat Tuan Whitmore?"
Pelayan itu tampak ragu sejenak sebelum menjawab, "Saya melihat beliau keluar lewat pintu belakang sekitar setengah jam lalu, Nyonya."
Nyonya. Sebuah gelar baru yang terasa asing di telinganya.
Brooklyn mengangguk pelan, mengucapkan terima kasih, lalu melangkah menuju pintu belakang hotel dengan hati yang mulai diliputi kegelisahan.
...***...
Malam semakin larut ketika Brooklyn akhirnya sampai di kamar suite pengantin di lantai tertinggi hotel. Ia telah mengganti gaun pengantinnya dengan gaun tidur sutra berwarna krem, rambut coklat kemerahannya tergerai lembut di bahunya. Ia duduk di tepi ranjang besar yang dihiasi kelopak mawar putih—persiapan romantis yang telah disusun oleh staf hotel untuk malam pertama pengantin baru.
Namun ranjang itu tetap kosong di sisi lain.
Satu jam berlalu. Dua jam. Brooklyn menatap jam dinding antik yang tergantung di ruang tamu suite, jarumnya perlahan bergerak mendekati tengah malam.
Ponselnya bergetar sekali. Sebuah pesan singkat dari Liam.
Aku ada urusan mendadak. Jangan menungguku.
Tidak ada kata maaf. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya kalimat dingin yang seolah menegaskan satu hal—bahwa pernikahan ini, bagi Liam, hanyalah kewajiban yang harus dijalani, bukan awal dari kehidupan baru yang ingin ia bangun bersama Brooklyn.
Brooklyn meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan gemetar. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin besar yang berdiri di sudut kamar—seorang wanita dengan gaun pengantin mahal, cincin berlian berkilau di jari manisnya, namun mata yang dipenuhi kesedihan yang tak seorang pun bisa lihat.
"Kau tahu ini akan terjadi," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Kau tahu sejak awal bahwa hatinya tidak pernah menjadi milikmu."
Namun mengetahui sesuatu secara logika dan benar-benar merasakannya adalah dua hal yang sangat berbeda. Rasa sakit itu tetap menusuk, tajam dan nyata, seperti pisau yang perlahan menyayat dadanya.
...***...
Sementara itu, di sebuah bar kecil yang temaram di kawasan West Village, Liam Whitmore duduk sendirian di sudut ruangan, gelas whiskey keempat sudah kosong di hadapannya. Lampu neon merah dari luar jendela memantul di wajahnya yang tampak lelah dan kacau.
Bartender, seorang pria paruh baya bernama Tony, menatapnya dengan prihatin. "Malam pengantin, tapi kau di sini sendirian, Tuan Whitmore? Bukankah seharusnya kau bersama istrimu sekarang?"
Liam tertawa pahit, suaranya serak. "Istri yang tidak pernah kuinginkan untuk kunikahi, Tony."
Ia menatap gelas kosong di tangannya, pikirannya melayang jauh ke masa lalu—ke wajah Helena Cross yang tersenyum di bawah cahaya matahari sore di Central Park, ke tawa ringannya yang dulu selalu membuat dunia Liam terasa lebih hidup, ke janji-janji yang mereka ucapkan satu sama lain sebelum semuanya hancur berantakan.
Helena telah pergi tanpa jejak tiga bulan lalu, meninggalkan hanya secarik surat singkat yang mengatakan bahwa ia butuh waktu untuk menemukan dirinya sendiri. Tidak ada nomor telepon. Tidak ada alamat baru. Hanya kekosongan yang menganga di hati Liam sejak saat itu.
Dan sekarang, di tengah kekosongan itu, ia dipaksa menikahi Brooklyn Hartley—wanita baik hati, cantik, dan tulus, namun bukan wanita yang ia cintai.
"Kau tahu," ucap Tony sambil menuangkan segelas whiskey baru, "terkadang kita terlalu sibuk meratapi apa yang hilang, sampai kita tidak menyadari apa yang sebenarnya berdiri tepat di depan mata kita."
Liam tidak menjawab. Ia hanya meneguk whiskeynya dalam diam, membiarkan cairan pahit itu membakar tenggorokannya, berharap rasa sakit fisik itu bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit yang jauh lebih dalam di dadanya.
Ia tidak tahu—dan mungkin tidak ingin tahu—bahwa di kamar hotel yang jauh dari sana, wanita yang baru saja menjadi istrinya sedang menangis dalam diam, meratapi malam pertama pernikahan yang seharusnya menjadi awal indah, namun justru menjadi luka pertama dari banyak luka yang akan mereka lalui bersama di tahun-tahun mendatang.
Malam itu, di bawah langit New York yang basah oleh hujan, dua hati yang terikat oleh perjanjian di atas kertas justru semakin jauh satu sama lain—Brooklyn dengan kesetiaan yang mulai ia bangun sendirian, dan Liam dengan kenangan masa lalu yang enggan ia lepaskan.