Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. BADAI DI POS RONDA DAN DANGDUT MARAWIS
"Bapak ngapain bawa-bawa kipas mainan ke sini?" semprot Pak Udin, hampir saja melempar sarungnya karena kesal. "Orang sudah kedinginan begini! Kenapa enggak sekalian saja bawa kulkas dua pintu ke sini, Pak!"
Pak Anwar meringis malu, namun tangannya tetap memegang kipas angin mainan itu dengan sangat posesif. "Hehe... maaf, Pak Udin. Saya sebenarnya mau mengipasi 'aset' saya di bawah, soalnya panas banget."
Pak Udin mengernyitkan dahi dengan tatapan jijik. "Memangnya pantat Bapak kenapa lagi?"
Pak Anwar melangkah mendekat, lalu berbisik sangat pelan di telinga Pak Udin, "Pantat saya kena korengan lagi, Pak. Rasanya kayak lagi didudukin di atas kompor menyala."
Puffft!
Pak Udin menyemburkan tawa keras hingga air ludahnya mengenai sebagian api unggun. Pak Anwar membelalak tersinggung, sementara Jaka dan Pak Dahlan hanya bisa bengong menatap Pak Udin yang tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang kram.
"Nggak lucu tahu, Pak!" gerutu Pak Anwar kesal.
Ia pun berbalik membelakangi mereka, lalu mulai mengambil posisi nungging perlahan demi mengarahkan moncong kipas angin mainan itu ke arah celana bagian belakangnya.
"Ahhh... adem."
"Memangnya belum sembuh juga, Pak?" tanya Jaka yang sudah hafal dengan drama dermatologi Pak Anwar selama seminggu terakhir ini.
"Sudah agak mendingan, Jak. Korengnya enggak seluas lapangan bola lagi semenjak saya berobat ke Dokter Rahsya," sahut Pak Anwar sambil tetap nungging khusyuk di sudut pos.
"Salepnya manjur sekali, cuma ya itu... kalau pas lagi kumat, rasanya mau saya celupkan ke dalam es batu saja ini bokong."
Seketika itu juga, suasana komedi tentang koreng meradang Pak Anwar menguap tanpa bekas, digantikan oleh cekaman horor yang murni. Angin kencang mendadak dihantamkan dari sisi kanan dengan suara menderu nyaring seperti raungan binatang buas yang kelaparan.
Rumpun pohon bambu di pinggir jalan bergoyang hebat, saling bergesekan satu sama lain hingga menimbulkan suara krak... krek... yang menyayat telinga di tengah malam. Ribuan daun bambu kering terbang liar di udara, menghujani area pos ronda bak badai kecil.
Wusss!
Dengan sekali embusan angin yang sangat kuat, api unggun yang tadinya meliuk hangat langsung padam total seketika, hanya menyisakan bara merah yang meredup cepat dan kepulan asap hitam yang menyesakkan dada. Kegelapan pekat yang gulita pun menelan pos ronda itu dalam sekejap mata.
Di kejauhan, seekor burung hantu memecah kesunyian malam dengan suara seraknya yang khas, disusul oleh lolongan anjing milik warga desa yang bersahut-sahutan panjang—sebuah suara penanda yang konon dipercayai warga sebagai lambang kehadiran sesuatu yang tidak kasat mata.
"Kenapa perasaan saya tidak enak begini, ya..." gumam Pak Dahlan. Ia mencengkeram pentungan kayu nangka miliknya kuat-kuat, sepasang matanya yang sangar kini dipenuhi kewaspadaan tinggi.
Keempat pria itu refleks berdiri tegak, melongokkan kepala ke kanan dan ke kiri di tengah kegelapan malam. Senter di tangan Jaka segera disapukan menyisir kegelapan, namun cahayanya seolah-olah langsung tertelan oleh kabut tipis yang tiba-tiba saja turun dari arah hutan jati.
"Waktunya keliling kampung, Pak," ucap Jaka dengan suara yang sedikit bergetar.
Ia buru-buru mengalungkan kain sarungnya ke leher dan menggenggam erat pentungan kayunya. Dingin malam itu terasa sangat berbeda dari biasanya, seolah ada jarum es yang menusuk langsung ke dalam sumsum tulang.
"Oke, kita berangkat sekarang. Jangan ada yang memencar!" perintah Pak Dahlan tegas, mencoba mengembalikan keberanian rekan-rekannya yang mulai luntur.
"Seperti biasa, Pak Udin sama Pak Anwar patroli ke sebelah kiri, arah vila Dokter Rahsya. Saya dan Jaka ke sebelah kanan, arah telaga."
Pak Anwar yang tadi asyik menungging khusyuk langsung berdiri tegak. Kipas angin elektrik mainannya dimasukkan ke dalam lipatan sarung dengan gerakan terburu-buru.
"Siap, Pak! Tapi Pak Udin jalan di depan, ya? Saya di belakang... jagain bokong saya," bisiknya gemetar.
Mereka pun mulai melangkah membelah kegelapan malam Desa Ci Sepi, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik rumpun pohon bambu yang bergoyang misterius, sepasang mata merah sedang mengawasi tiap pergerakan mereka dengan tatapan lapar.
****
Langkah kaki Pak Udin dan Pak Anwar terdengar beradu konstan dengan permukaan aspal jalanan yang lembap. Di tengah kesunyian yang mencekam, Pak Anwar mendadak menghentikan langkahnya. Matanya yang sudah terbiasa melihat kegelapan area sawah kini menangkap sesuatu yang ganjil di ketinggian bangunan.
"Eh, Pak Udin! Sini sebentar, jangan main nyelonong saja. Kita ini mau patroli atau sedang lomba jalan cepat sih?" seru Pak Anwar sambil menarik paksa ujung kain sarung Pak Udin dari belakang.
Pak Udin mendengus kesal. Ia berbalik badan dan refleks mengarahkan moncong senter besarnya tepat ke arah wajah Pak Anwar.
"Apa lagi sih, Pak? Mata saya sudah awas begini!"
"Aduh! Bisa tidak senternya jangan disorot tepat ke muka saya? Silau, Pak! Koreng saya tidak akan pindah ke mata kok!" protes Pak Anwar sambil menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan telapak tangan.
Pak Udin menurunkan arah senternya, menyinari permukaan aspal yang retak-retak di depan kaki mereka.
"Kenapa memangnya, Pak?" tanya Pak Udin penasaran.
Pak Anwar menelan salivanya dengan susah payah. Jari telunjuknya yang sedikit gemetar perlahan menunjuk ke arah lantai dua vila megah milik keluarga Rahsya.
"Itu... coba lihat di jendela kamar lantai dua. Seperti ada siluet cewek, Pak. Berdiri diam saja dari tadi menatap ke arah kita."
Pak Udin segera mengikuti arah telunjuk itu. Di balik kaca jendela besar yang tampak sedikit berembun, terlihat jelas sesosok bayangan wanita yang hanya diam mematung, seolah-olah sedang mengawasi pergerakan jalanan desa dari ketinggian.
"Neng Amel kali, Pak. Kan kata Pak Mamat, cucunya Pak Cahya itu menginap di vila ini beberapa hari ini," sahut Pak Udin mencoba berpikir logis, meskipun bulu kuduk di lehernya sendiri sudah mulai meremang hebat.
"Kayanya bukan Neng Amel deh, Pak. Rambutnya saja tidak sepanjang punya Neng Amel. Lagian itu tidak mungkin dia," bisik Pak Anwar kian lirih sambil merapatkan kain sarungnya ke tubuh.
"Saya dengar tadi sore dari Pak Mamat kalau Neng Amel sudah pulang ke Jakarta. Mobil jemputannya saja sudah tidak ada di dalam garasi."
Keduanya seketika terdiam seribu bahasa. Siluet wanita di atas sana tiba-tiba bergerak sedikit. Kepalanya tampak miring ke satu sisi dengan gerakan patah-patah yang sangat kaku dan tidak manusiawi.
"Kalau bukan Neng Amel... terus itu siapa, Pak?" gumam Pak Udin lirih. Cahaya senter di tangannya mulai bergoyang liar karena tangannya bergetar hebat.
Tepat saat itu, lampu di dalam ruangan lantai dua tersebut mendadak berkedip-kedip tidak stabil. Cahaya lampu yang sekarat itu memperlihatkan sekilas wajah pucat pasi sang wanita yang menempel dekat di kaca jendela, dengan sepasang mata melotot merah darah—persis seperti ciri-ciri sosok Kinan yang menghabisi nyawa Rehan semalam.
"Astagfirullahaladzim!"
Pak Udin dan Pak Anwar tersentak mundur secara serentak dengan kecepatan tinggi, seolah-olah ada pegas tak terlihat yang melempar tubuh mereka.
Saking paniknya, senter besar di tangan Pak Udin terlepas dari genggaman dan jatuh berdentang di atas aspal. Cahayanya berputar liar di tanah sebelum akhirnya berhenti menukik menyorot ke arah rumpun bambu yang gelap gulita.
"Itu mah hantu, Pak! Jelas bukan manusia!" bisik Pak Udin dengan suara yang pecah. Kedua lutut kakinya mendadak terasa lemas seperti jeli.
"Wah, tidak bisa dibiarkan ini, Pak! Kita harus kasih tahu Pak Rahsya segera, jangan sampai dokter tampan itu kenapa-kenapa di dalam sana!" seru Pak Anwar panik.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merogoh saku sarungnya dan mengeluarkan sebuah ponsel jadul yang permukaan layarnya sudah retak-retak. Ia segera memencet nomor panggilan dokter kota itu dengan napas yang memburu.
Sementara itu, di dalam kamar lantai dua yang remang-remang, Rahsya baru saja menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada. Sepasang matanya sudah mulai terasa sangat berat, bersiap untuk akhirnya terlelap tidur setelah rentetan drama "kecelakaan bibir" yang cukup menguras emosi dan energinya tadi siang.
Jreng-jreng-jreng!
Tak-tung-tak-tung!
Tiba-tiba, suara musik dangdut koplo yang beradu bising dengan tabuhan marawis bervolume kencang meledak nyaring dari arah atas nakas samping tempat tidur.
Rahsya tersentak kaget luar biasa hingga tubuhnya hampir saja terjungkal jatuh dari atas ranjang.
"Astagfirullah!" serunya parau sambil refleks mengelus dadanya yang berdegup kencang akibat terkejut.
Ia menyambar ponsel pintarnya dengan kening yang berkerut dalam penuh amarah. "Kenapa nada dering gue jadi berubah begini? Sejak kapan lagu marawis koplo masuk ke dalam daftar putar HP ini?"