Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suara riuh gemuruh terdengar menggema dari dalam aula utama SMA Garuda.
Ratusan murid dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas duduk berdesakan di tribun penonton.
Udara di dalam aula terasa sedikit panas meskipun beberapa kipas angin besar sudah dinyalakan.
Hari ini adalah hari penentuan seleksi perwakilan sekolah untuk Olimpiade Akademik tingkat kota.
Di barisan paling depan tribun, Bagas dan gengnya duduk dengan gaya angkuh seperti biasa.
Reno memegang dua buah botol plastik bekas minuman yang diisi dengan batu kerikil kecil.
Kricik! Kricik!
Reno menggoyang-goyangkan botol itu untuk membuat suara bising yang memekakkan telinga.
"Woi, perwakilan IPS dua mana nih suaranya!" teriak Bagas memancing keramaian dari teman-teman sekelasnya.
Anak-anak kelas sebelas IPS dua yang duduk di sekitar Bagas langsung bersorak ramai.
Mereka tidak bersorak untuk memberikan dukungan sungguhan, melainkan bersiap untuk menertawakan sebuah lelucon besar.
Di pinggir panggung kayu yang luas, sepuluh pasang murid perwakilan dari masing-masing kelas sudah berdiri berjejer.
Nadin berdiri tegak dengan wajah serius, merapikan kerah seragamnya yang sudah sangat rapi.
Di sebelah gadis pintar itu, Tommy berdiri dengan postur membungkuk dan bahu yang turun.
Tommy sengaja membuat kedua kakinya sedikit gemetar seolah ia sedang diserang kepanikan yang luar biasa.
Berkat skill Manipulasi Ekspresi Mikro miliknya, wajahnya kini terlihat pucat pasi dan berkeringat dingin.
Nadin melirik ke arah Tommy dan menghela napas panjang menahan rasa kesalnya.
"Lo mending berdiri di belakang gue aja deh, Tom," bisik Nadin dengan nada ketus.
"I-iya, Din, aku takut banget," jawab Tommy dengan suara bergetar dan tatapan mata yang liar ke sana kemari.
"Pokoknya nanti kalau ada soal, lo diam aja dan jangan pencet bel, biar gue yang mikir semuanya," perintah Nadin tegas.
"Siap, Din, aku nurut aja," balas Tommy sambil menelan ludah dengan susah payah.
Di dalam hatinya, Tommy tertawa sangat santai melihat betapa tegangnya ketua kelas tersebut.
Otaknya yang kini memiliki IQ seratus sepuluh merasa suasana di aula ini terasa sangat lambat dan membosankan.
Ia bisa memproses setiap suara sorakan, wajah para guru, hingga pola angin dari kipas di sudut ruangan dengan sangat jelas.
Tap. Tap. Tap.
Kepala sekolah berjalan naik ke atas panggung diikuti oleh tiga orang guru penguji.
Salah satu dari guru penguji itu adalah Pak Darmawan yang membawa setumpuk map berisi soal.
"Selamat pagi semuanya, harap tenang!" suara kepala sekolah menggema melalui pengeras suara.
Aula yang tadinya sangat bising seketika berubah menjadi sunyi senyap.
"Hari ini kita akan menyeleksi dua puluh murid terbaik ini menjadi dua orang saja untuk mewakili sekolah kita."
Kepala sekolah menjelaskan bahwa seleksi akan dibagi menjadi dua babak utama.
Babak pertama adalah adu cepat menjawab soal lisan bagi seluruh peserta secara beregu.
Babak kedua adalah ujian papan tulis individu untuk menentukan pemenang mutlak.
"Baiklah, kita mulai babak pertama sekarang, Pak Darmawan silakan bacakan soalnya," ucap kepala sekolah menyerahkan mikrofon.
Pak Darmawan mengambil mikrofon itu dan menatap lurus ke arah para peserta di panggung.
Tatapan guru matematika itu sempat terhenti selama dua detik tepat di wajah Tommy.
Tommy membalas tatapan itu dengan raut wajah melas yang seolah meminta belas kasihan.
Pak Darmawan hanya bisa menahan napas melihat kemampuan akting muridnya yang sangat mengerikan itu.
"Soal pertama, sejarah kebudayaan," ucap Pak Darmawan memulai ujian.
"Pada tahun berapa candi Borobudur pertama kali dipugar secara besar-besaran oleh pemerintah kolonial Belanda?"
Teng!
Nadin langsung memukul bel di mejanya dengan sangat cepat.
"Tahun sembilan belas kosong tujuh sampai sembilan belas sebelas oleh Theodoor van Erp!" jawab Nadin lantang.
"Benar, sepuluh poin untuk kelas sebelas IPS dua," sahut Pak Darmawan.
Bagas dan teman-temannya di tribun langsung bersorak dan membunyikan botol kerikil mereka.
Tommy hanya diam mematung di sebelah Nadin, bertepuk tangan pelan dengan wajah kebingungan layaknya orang bodoh.
Soal demi soal terus dibacakan dengan tempo yang semakin cepat.
Matematika, fisika, sejarah, hingga geografi silih berganti dilemparkan oleh para guru penguji.
Nadin berjuang sendirian menjawab setiap soal yang bisa ia tangkap.
Gadis itu memang sangat cerdas, ia berhasil mengumpulkan delapan puluh poin untuk regunya.
Namun tim dari kelas dua belas IPA satu ternyata jauh lebih tangguh karena kedua perwakilannya sama-sama jenius.
"Babak pertama selesai!" umumkan kepala sekolah.
"Tim kelas dua belas IPA satu memimpin dengan seratus poin, disusul oleh kelas sebelas IPS dua dengan delapan puluh poin."
Nadin menyeka keringat di dahinya dengan perasaan sedikit kecewa karena tertinggal dua puluh poin.
Ia melirik ke arah Tommy yang sedari tadi hanya diam tanpa menyumbang satu poin pun.
"Lo benar-benar cuma jadi pajangan ya di sini," sindir Nadin dengan suara pelan.
"Maaf, Din, aku bahkan gak ngerti pertanyaan mereka tadi bahasa apa," jawab Tommy dengan wajah polos.
"Sekarang kita masuk ke babak kedua, babak penentuan," ucap Pak Darmawan kembali memegang kendali.
"Untuk menguji pemerataan kemampuan, aturan babak kedua sedikit diubah."
Semua peserta di atas panggung menajamkan telinga mereka.
"Peserta yang sudah paling banyak menjawab di babak pertama, dilarang menjawab di babak kedua ini."
Deg!
Nadin langsung melebarkan matanya terkejut mendengar aturan mendadak tersebut.
"Artinya, murid perwakilan kedua dari masing-masing kelas yang harus maju ke depan papan tulis sekarang juga," lanjut Pak Darmawan.
Sorakan heboh langsung meledak dari arah tribun penonton, terutama dari kelompok Bagas.
"Hahaha! Mampus lo, Tom! Waktunya unjuk gigi!" teriak Bagas kegirangan sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo si bodoh, jangan bikin malu kelas kita!" sahut Reno tidak kalah keras.
Wajah Nadin seketika berubah menjadi pucat pasi.
Jika Tommy yang harus maju menjawab soal papan tulis, mereka pasti akan kalah telak dengan nilai nol besar.
"Sial, aturan macam apa ini," gerutu Nadin sambil menggigit bibir bawahnya menahan marah.
Tommy di sisi lain, mulai memunculkan senyum panik yang sangat meyakinkan di wajahnya.
"Gimana ini, Din? Aku disuruh maju?" tanya Tommy dengan tangan yang sengaja ia buat gemetar hebat.
"Maju aja sana, pasrah aja, toh kita udah pasti kalah," jawab Nadin membuang muka dengan putus asa.
Perwakilan kedua dari lima tim dengan nilai tertinggi diminta maju ke tengah panggung.
Di sana sudah disiapkan lima buah papan tulis putih beserta spidol di atas sebuah meja kecil.
Tommy melangkah maju dengan gaya berjalan yang sedikit canggung dan ragu-ragu.
Peserta lain dari kelas dua belas IPA satu yang bernama kakak kelas Reyhan, menatap Tommy dengan senyum meremehkan.
"Jangan menangis kalau kau tidak bisa menulis angkanya nanti, Dek," ejek Reyhan pelan saat Tommy berdiri di sebelahnya.
"I-iya, Kak," jawab Tommy sambil menunduk dalam-dalam.
Pak Darmawan berjalan ke depan panggung membawa sebuah kertas berisi satu soal panjang.
Guru itu kembali menatap Tommy sejenak.
Pak Darmawan tahu bahwa soal ini tidak akan ada apa-apanya bagi otak monster milik Tommy.
Tetapi ia sangat penasaran, bagaimana cara Tommy menyelesaikannya tanpa membongkar penyamarannya di depan ratusan pasang mata ini.
"Soal penentuan ini bernilai lima puluh poin," ucap Pak Darmawan.
"Siapa yang bisa menyelesaikannya paling cepat dan paling tepat, akan langsung menjadi perwakilan utama sekolah."
Pak Darmawan mulai membacakan soal tersebut yang merupakan gabungan antara logika probabilitas dan deret aritmatika tingkat tinggi.
"Sebuah dadu bersisi dua belas dilempar sebanyak seratus kali."
"Jika peluang munculnya angka prima selalu berbanding terbalik dengan kuadrat lemparan ke-n, berapakah limit peluang totalnya saat n mendekati tak terhingga?"
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇