NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Suara riuh gemuruh terdengar menggema dari dalam aula utama SMA Garuda.

Ratusan murid dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas duduk berdesakan di tribun penonton.

Udara di dalam aula terasa sedikit panas meskipun beberapa kipas angin besar sudah dinyalakan.

Hari ini adalah hari penentuan seleksi perwakilan sekolah untuk Olimpiade Akademik tingkat kota.

Di barisan paling depan tribun, Bagas dan gengnya duduk dengan gaya angkuh seperti biasa.

Reno memegang dua buah botol plastik bekas minuman yang diisi dengan batu kerikil kecil.

Kricik! Kricik!

Reno menggoyang-goyangkan botol itu untuk membuat suara bising yang memekakkan telinga.

"Woi, perwakilan IPS dua mana nih suaranya!" teriak Bagas memancing keramaian dari teman-teman sekelasnya.

Anak-anak kelas sebelas IPS dua yang duduk di sekitar Bagas langsung bersorak ramai.

Mereka tidak bersorak untuk memberikan dukungan sungguhan, melainkan bersiap untuk menertawakan sebuah lelucon besar.

Di pinggir panggung kayu yang luas, sepuluh pasang murid perwakilan dari masing-masing kelas sudah berdiri berjejer.

Nadin berdiri tegak dengan wajah serius, merapikan kerah seragamnya yang sudah sangat rapi.

Di sebelah gadis pintar itu, Tommy berdiri dengan postur membungkuk dan bahu yang turun.

Tommy sengaja membuat kedua kakinya sedikit gemetar seolah ia sedang diserang kepanikan yang luar biasa.

Berkat skill Manipulasi Ekspresi Mikro miliknya, wajahnya kini terlihat pucat pasi dan berkeringat dingin.

Nadin melirik ke arah Tommy dan menghela napas panjang menahan rasa kesalnya.

"Lo mending berdiri di belakang gue aja deh, Tom," bisik Nadin dengan nada ketus.

"I-iya, Din, aku takut banget," jawab Tommy dengan suara bergetar dan tatapan mata yang liar ke sana kemari.

"Pokoknya nanti kalau ada soal, lo diam aja dan jangan pencet bel, biar gue yang mikir semuanya," perintah Nadin tegas.

"Siap, Din, aku nurut aja," balas Tommy sambil menelan ludah dengan susah payah.

Di dalam hatinya, Tommy tertawa sangat santai melihat betapa tegangnya ketua kelas tersebut.

Otaknya yang kini memiliki IQ seratus sepuluh merasa suasana di aula ini terasa sangat lambat dan membosankan.

Ia bisa memproses setiap suara sorakan, wajah para guru, hingga pola angin dari kipas di sudut ruangan dengan sangat jelas.

Tap. Tap. Tap.

Kepala sekolah berjalan naik ke atas panggung diikuti oleh tiga orang guru penguji.

Salah satu dari guru penguji itu adalah Pak Darmawan yang membawa setumpuk map berisi soal.

"Selamat pagi semuanya, harap tenang!" suara kepala sekolah menggema melalui pengeras suara.

Aula yang tadinya sangat bising seketika berubah menjadi sunyi senyap.

"Hari ini kita akan menyeleksi dua puluh murid terbaik ini menjadi dua orang saja untuk mewakili sekolah kita."

Kepala sekolah menjelaskan bahwa seleksi akan dibagi menjadi dua babak utama.

Babak pertama adalah adu cepat menjawab soal lisan bagi seluruh peserta secara beregu.

Babak kedua adalah ujian papan tulis individu untuk menentukan pemenang mutlak.

"Baiklah, kita mulai babak pertama sekarang, Pak Darmawan silakan bacakan soalnya," ucap kepala sekolah menyerahkan mikrofon.

Pak Darmawan mengambil mikrofon itu dan menatap lurus ke arah para peserta di panggung.

Tatapan guru matematika itu sempat terhenti selama dua detik tepat di wajah Tommy.

Tommy membalas tatapan itu dengan raut wajah melas yang seolah meminta belas kasihan.

Pak Darmawan hanya bisa menahan napas melihat kemampuan akting muridnya yang sangat mengerikan itu.

"Soal pertama, sejarah kebudayaan," ucap Pak Darmawan memulai ujian.

"Pada tahun berapa candi Borobudur pertama kali dipugar secara besar-besaran oleh pemerintah kolonial Belanda?"

Teng!

Nadin langsung memukul bel di mejanya dengan sangat cepat.

"Tahun sembilan belas kosong tujuh sampai sembilan belas sebelas oleh Theodoor van Erp!" jawab Nadin lantang.

"Benar, sepuluh poin untuk kelas sebelas IPS dua," sahut Pak Darmawan.

Bagas dan teman-temannya di tribun langsung bersorak dan membunyikan botol kerikil mereka.

Tommy hanya diam mematung di sebelah Nadin, bertepuk tangan pelan dengan wajah kebingungan layaknya orang bodoh.

Soal demi soal terus dibacakan dengan tempo yang semakin cepat.

Matematika, fisika, sejarah, hingga geografi silih berganti dilemparkan oleh para guru penguji.

Nadin berjuang sendirian menjawab setiap soal yang bisa ia tangkap.

Gadis itu memang sangat cerdas, ia berhasil mengumpulkan delapan puluh poin untuk regunya.

Namun tim dari kelas dua belas IPA satu ternyata jauh lebih tangguh karena kedua perwakilannya sama-sama jenius.

"Babak pertama selesai!" umumkan kepala sekolah.

"Tim kelas dua belas IPA satu memimpin dengan seratus poin, disusul oleh kelas sebelas IPS dua dengan delapan puluh poin."

Nadin menyeka keringat di dahinya dengan perasaan sedikit kecewa karena tertinggal dua puluh poin.

Ia melirik ke arah Tommy yang sedari tadi hanya diam tanpa menyumbang satu poin pun.

"Lo benar-benar cuma jadi pajangan ya di sini," sindir Nadin dengan suara pelan.

"Maaf, Din, aku bahkan gak ngerti pertanyaan mereka tadi bahasa apa," jawab Tommy dengan wajah polos.

"Sekarang kita masuk ke babak kedua, babak penentuan," ucap Pak Darmawan kembali memegang kendali.

"Untuk menguji pemerataan kemampuan, aturan babak kedua sedikit diubah."

Semua peserta di atas panggung menajamkan telinga mereka.

"Peserta yang sudah paling banyak menjawab di babak pertama, dilarang menjawab di babak kedua ini."

Deg!

Nadin langsung melebarkan matanya terkejut mendengar aturan mendadak tersebut.

"Artinya, murid perwakilan kedua dari masing-masing kelas yang harus maju ke depan papan tulis sekarang juga," lanjut Pak Darmawan.

Sorakan heboh langsung meledak dari arah tribun penonton, terutama dari kelompok Bagas.

"Hahaha! Mampus lo, Tom! Waktunya unjuk gigi!" teriak Bagas kegirangan sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Ayo si bodoh, jangan bikin malu kelas kita!" sahut Reno tidak kalah keras.

Wajah Nadin seketika berubah menjadi pucat pasi.

Jika Tommy yang harus maju menjawab soal papan tulis, mereka pasti akan kalah telak dengan nilai nol besar.

"Sial, aturan macam apa ini," gerutu Nadin sambil menggigit bibir bawahnya menahan marah.

Tommy di sisi lain, mulai memunculkan senyum panik yang sangat meyakinkan di wajahnya.

"Gimana ini, Din? Aku disuruh maju?" tanya Tommy dengan tangan yang sengaja ia buat gemetar hebat.

"Maju aja sana, pasrah aja, toh kita udah pasti kalah," jawab Nadin membuang muka dengan putus asa.

Perwakilan kedua dari lima tim dengan nilai tertinggi diminta maju ke tengah panggung.

Di sana sudah disiapkan lima buah papan tulis putih beserta spidol di atas sebuah meja kecil.

Tommy melangkah maju dengan gaya berjalan yang sedikit canggung dan ragu-ragu.

Peserta lain dari kelas dua belas IPA satu yang bernama kakak kelas Reyhan, menatap Tommy dengan senyum meremehkan.

"Jangan menangis kalau kau tidak bisa menulis angkanya nanti, Dek," ejek Reyhan pelan saat Tommy berdiri di sebelahnya.

"I-iya, Kak," jawab Tommy sambil menunduk dalam-dalam.

Pak Darmawan berjalan ke depan panggung membawa sebuah kertas berisi satu soal panjang.

Guru itu kembali menatap Tommy sejenak.

Pak Darmawan tahu bahwa soal ini tidak akan ada apa-apanya bagi otak monster milik Tommy.

Tetapi ia sangat penasaran, bagaimana cara Tommy menyelesaikannya tanpa membongkar penyamarannya di depan ratusan pasang mata ini.

"Soal penentuan ini bernilai lima puluh poin," ucap Pak Darmawan.

"Siapa yang bisa menyelesaikannya paling cepat dan paling tepat, akan langsung menjadi perwakilan utama sekolah."

Pak Darmawan mulai membacakan soal tersebut yang merupakan gabungan antara logika probabilitas dan deret aritmatika tingkat tinggi.

"Sebuah dadu bersisi dua belas dilempar sebanyak seratus kali."

"Jika peluang munculnya angka prima selalu berbanding terbalik dengan kuadrat lemparan ke-n, berapakah limit peluang totalnya saat n mendekati tak terhingga?"

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!