NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Operasi penghentian pendarahan di kepala Nadia akhirnya selesai saat lampu merah di atas pintu ruang operasi berganti hijau. Dokter melangkah keluar dengan raut wajah lelah, disambut Arvin, Ranti, dan Haris yang langsung berdiri menghampiri.

"Operasi berjalan lancar. Pendarahan di kepala Bu Nadia sudah berhasil kami tangani. Namun akibat benturan yang cukup keras, Bu Nadia belum sadarkan diri dan harus segera dipindahkan ke ruang ICU untuk pemantauan ketat," jelas Dokter.

Belum sempat Arvin menanyakan lebih lanjut, langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan koridor. Mayang dan Vanya datang bersama.

"Arvin! Gimana keadaan Nadia?!" tanya Mayang.

"Nadia baru selesai operasi, Bu. Sekarang mau dipindah ke ICU. Dokter bilang pendarahannya sudah ditangani, tapi belum sadar."

Vanya langsung menghampiri dokter yang menangani kakaknya, bertanya singkat mengenai perkembangan tindakan medis dan kondisi vital kakaknya. Wajah Vanya tampak tegang luar biasa. Setelah mendapat penjelasan, Vanya kembali menghampiri ibunya dan merangkul bahunya erat.

"Ibu yang tenang ya... Kak Nadia kuat, Kak Nadia pasti bisa melewati masa kritis ini," tutur Vanya menenangkan Mayang, meski matanya sendiri sudah berkaca-kaca.

Mayang berjalan mendekati pintu saat brankar yang membawa tubuh Nadia keluar menuju ICU. Wajah Nadia tampak pucat pasi dengan perban tebal melingkar di kepalanya. Melihat kondisi putrinya yang tak berdaya, tangis Mayang pecah seketika.

"Vin, kamu suruh Jovan pulang dulu. Seragamnya penuh darah, kasihan dia terguncang dari tadi."

Arvin mengangguk, lalu memegang bahu Jovan yang masih menunduk lesu. "Jovan, kamu pulang dulu ya sama Pak Adam. Pak Adam sudah menunggu di bawah. Kamu ganti baju, bersihkan diri, terus makan di rumah."

Jovan menggeleng cepat, matanya kembali berkaca-kaca. "Enggak mau, Pa... Jovan mau tunggu Bunda di sini."

"Jangan membantah, Jovan," sela Arvin.

"Nanti setelah bersihkan diri, kamu boleh ke sini lagi"

Dengan berat hati, Jovan mengangguk pasrah. "Iya, Pa... Tapi janji, kalau ada apa-apa sama Bunda, kabari Jovan ya?"

"Iya, Papa janji."

Di rumah, hari mulai gelap. Kenzo duduk di tepi tempat tidur memeluk guling sambil menatap layar televisi.

"bang Damian... telepon Bunda lagi, dong," rengek Kenzo dengan suara serak seraya menarik ujung kaus Damian.

"Biasanya kalau sore Bunda udah di rumah. Ini udah gelap, bang... Bunda kok belum pulang juga?"

Damian menahan sesak di dadanya, mengingat pesan Opa. Ia berlutut di hadapan adiknya.

"Kan tadi Tante Wulan udah bilang, Kenzo... Bunda lagi sibuk urus keperluan Abang Jovan," bujuk Damian lembut sambil mengusap kepala Kenzo.

"Ponsel Bunda mungkin kehabisan baterai atau lagi di dalam tas, jadi enggak kedengaran."

"Tapi Kenzo mau bicara sama Bunda!" rengeknya lagi dengan air mata menetes.

"Telepon Papa aja kalau gitu! Tanya Bunda di mana!"

Damian mengambil ponselnya, berpura-pura menatap layar untuk menenangkan Kenzo. "Papa sama Bunda lagi ada urusan sebentar, Kenzo. Tadi Papa udah pesan sama Kakak, Kenzo harus mandi dulu, makan, terus bobo. Nanti pas Kenzo bangun besok pagi, Bunda udah ada di rumah."

"Beneran besok pagi Bunda ada?" tanya Kenzo polos sambil mengusap air mata.

"Beneran," janji Damian pelan.

Jovan sampai di rumah dengan langkah lesu. Seragamnya yang ternoda darah membuat Damian, yang baru saja keluar dari kamar Kenzo, langsung terperanjat.

Damian bergegas menarik Jovan masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat agar Kenzo tak mendengar.

"Gimana kronologinya? Kenapa Bunda bisa kecelakaan?" tanya Damian cepat dengan raut wajah panik.

Dengan suara parau dan air mata yang terus menetes, Jovan menceritakan semuanya, mulai dari keributan di sekolah, percekcokan di jalan, hingga Nadia yang tertabrak saat menyusulnya.

Damian mengepalkan tangan rapat-rapat, dadanya bergemuruh menahan gejolak emosi. Antara cemas, marah, dan takut akan keselamatan ibunya. Namun melihat kondisi Jovan yang hancur, Damian menahan amarahnya.

"Sekarang kamu cepat mandi dan ganti baju," perintah Damian.

"Kenzo ada di kamar sebelah dari tadi nanyain Bunda. Jangan sampai dia lihat kamu begini."

Jovan mengangguk pasrah lalu melangkah cepat ke kamar mandi.

Sementara itu di ruang tunggu ICU, Arvin duduk mematung. Mayang tak henti-hentinya mengusap air mata sambil memandangi pintu kaca ICU.

Tak lama, dokter keluar dari ruang ICU. Arvin dan Mayang langsung bergegas berdiri.

"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Mayang penuh kepanikan.

"Masa kritis Bu Nadia belum lewat," terang Dokter.

"Tekanan darahnya sempat menurun drastis. Kami sedang melakukan tindakan intensif untuk menstabilkan kondisinya. Hanya satu orang yang diperbolehkan masuk bergantian."

Arvin menatap Mayang. "Ibu masuk duluan saja."

Mayang mengangguk lemas. Setelah mengenakan pakaian steril, ia melangkah masuk ke ruang ICU. Tangisnya pecah saat melihat tubuh Nadia terbaring lemah dengan selang pernapasan dan perban di kepalanya.

Mayang menggenggam erat jemari Nadia yang dingin. "Nadia... Bangun, Nak... Ibu minta maaf. Ibu banyak salah sama kamu..."

Mayang meratapi tubuh putrinya yang tak berdaya dengan dada sesak. "Kamu juga kenapa keras kepala banget, Nadia? Kenapa harus ngejar-ngejar anak sampai ngebahayain diri kamu sendiri begini? Bangun, Nadia... Kasihan anak-anak kamu..."

Setelah beberapa saat Mayang keluar dari ruang ICU dengan mata sembap dan napas masih tersengal. Vanya merangkul ibunya, menuntunnya duduk di kursi tunggu.

Haris menepuk bahu Arvin pelan. "Vin, Papa sama Mama antar Ibu Mayang dan Vanya pulang dulu. Biar Ibu istirahat, kasihan kondisinya terguncang dari tadi."

"Iya, Pa. Terima kasih," jawab Arvin parau. "Biar Arvin yang jaga Nadia di sini."

"Kalau ada perkembangan apa-apa, langsung kabari Papa ya, Vin," pesan Haris sebelum menuntun Ranti, Mayang, dan Vanya menuju area parkir.

Kini, koridor ICU terasa hening dan dingin. Hanya tersisa Arvin sendirian di sana.

Setelah mengenakan pakaian steril, Arvin melangkah masuk ke dalam ruang ICU. Langkahnya terasa sangat berat mendekati brankar tempat Nadia terbaring tak berdaya di antara bunyi konstan mesin monitor detak jantung.

"Nadia..." bisik Arvin parau, air matanya menetes membasahi punggung tangan istrinya. "Maafkan saya... Maafkan saya yang enggak pernah ada buat kamu dan anak-anak."

Ia mengecup jemari Nadia dengan napas bergetar. "Anak-anak butuh kamu, Nadia. Jovan, Damian, Kenzo... mereka nungguin kamu. Tolong bertahan, Nadia... demi saya dan anak-anak..."

Sementara itu di rumah, Jovan keluar dari kamar mandi dengan pakaian bersih. Wajahnya pucat pasi dan matanya sembap. Damian berdiri menunggunya di depan pintu kamar membawa piring berisi makanan.

"Makan dulu sedikit," kata Damian menyerahkan piring itu. "Ingat, bersikap biasa di depan Kenzo. Dia lagi di meja makan."

Jovan menelan ludah, mengangguk kaku. Ia melangkah ke meja makan dan melihat Kenzo yang sedang mengunyah nasinya dengan wajah lesu.

Begitu melihat Jovan, mata kecil Kenzo langsung berbinar. "Abang Jovan! Abang dari mana aja? Kata Bang Damian, Abang sama Bunda di sekolah. Bunda mana, Bang?"

Jovan mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya. Ia menatap Damian sekejap sebelum menatap adiknya dengan senyum dipaksakan.

"Bunda... Bunda masih ada urusan sama Tante Wulan di toko, Kenzo," bohong Jovan.

Kenzo mengernyitkan alisnya, meletakkan sendoknya. "Urusan apa malam-malam gini? Biasanya Bunda selalu nyuapin Kenzo kalau malam."

Damian langsung merangkul bahu Kenzo dari belakang. "Kan Bang Damian udah bilang, malam ini Kenzo makan sama Bang Damian dan Abang Jovan dulu. Besok pagi baru ketemu Bunda. Sekarang dihabiskan nasinya, terus gosok gigi, kita tidur."

"Tapi telepon Bunda dulu, Bang! Kenzo mau dengar suara Bunda!" desak Kenzo, matanya mulai berkaca-kaca lagi.

Jovan tidak sanggup menahannya lagi. Ia berdiri mendadak hingga kursinya bergeser kasar. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berlari cepat masuk ke kamarnya dan membanting pintu.

Kenzo terkejut, menatap pintu kamar Jovan dengan polos. "Abang Jovan kenapa, Bang Damian? Kok marah?"

"Abang Jovan cuma capek, Kenzo. Ya udah, yuk habiskan makannya, habis itu Bang Damian temani tidur."

Di ruang ICU, hembusan napas lewat mesin respirator terdengar berirama. Arvin masih setia duduk di samping brankar, menggenggam erat tangan Nadia yang dingin dan tak bergeming.

Ponsel di saku jas Arvin bergetar pelan. Ia merogohnya dan melihat nama Damian di layar. Arvin berdiri sebentar lalu melangkah pelan keluar dari ruang ICU agar tidak mengganggu.

"Halo, Damian?"

"Papa... gimana keadaan Bunda?" suara Damian terdengar pelan di seberang telepon, berusaha berbisik agar tak terdengar Kenzo.

Arvin mengusap wajahnya yang lelah. "Bunda masih belum sadar, Damian. Masih kritis di ICU."

Hening sejenak di seberang sana. Arvin bisa mendengar helaan napas berat putra sulungnya.

"Kenzo dari tadi nanyain Bunda terus, Pa. Dia susah tidur kalau belum dengar suara Bunda," bisik Damian.

"Jovan juga nangis terus di kamar."

"Jaga adik-adik kamu dulu ya, Damian. Maafkan Papa belum bisa pulang. Papa harus dampingi Bunda di sini."

"Iya, Pa. Papa juga jangan lupa makan. Kalau ada apa-apa sama Bunda, kabari Damian ya, Pa."

"Iya, Nak. Terima kasih ya..."

Arvin mematikan telepon, lalu kembali masuk ke ruang ICU. Ia duduk di kursi sebelah brankar, menatap wajah pucat istrinya yang terlelap dalam koma.

"Nadia... tolong bangun," panggil Arvin penuh penyesalan, mengecup punggung tangan Nadia.

"Kasihan anak-anak di rumah... Saya mohon, Nadia..."

1
merry
pengen arvin dgrinn rencananya mayang dan vanya,, syg x duit di porotin wlpun mm kndung klo baik gpp in mah jht🤭🤭🤭
Fitri Yah
mas arvin ... mode dingjn lg deh, gda manggil sayang2nya lg deh , kemaren wkt blm sadar nangis2 da sadar mode cuek lg deh tp masih kaku ke nadia nya
Sri Supriatin
Sedih banget thor n tks upnya lanjuuut 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
Ayunda
ini itu emak kandung emak angkat ap emak tiri kok segitunya sama Nadia
Sri Supriatin
eleuh2 aya emak kandung rada2 sugan🤭🤭
merry
arvin hrs tau klo mertua y mau porotin uangy lewat nadia,,, mulut manis tp hati busuk
Bunda HB
ada iya ibu biadan.kaya nya nadia bukan ank kandung ibu Maya.karena di perlakukan gk adil.
Sri Supriatin
Aduh airmataku g berhenti mengalir... Double upnya thor 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
merry
hilng ingatan gk tu nadia ya,,, 🤔🤔🤔biar nyesel tu laki 😆😆😆
utama: jangan kak, kasian anak2 meraka kalau Nadia hilang ingatan
total 1 replies
Fitri Yah
double up thor , kan kemaren tdk up
English Lesson
lanjut kak 👍👍
Sri Supriatin
Mampir Thor..seruuu😍😍😍
English Lesson
lanjut kak 💪
Chenyu Wang
bagus banget awal ngeliat judul nya kaget waw Duda anak 3 tapi pas baca keseluruhan ternyata crita nya bagus banget seru rugi kalo ga baca..
Bunda HB
jgn kasih sadar dulu thor.suami kaya alvin hrs ksih pelajaran dulu. buat ibu mayang, ibu yg pilih kasih zholim sama ank sndri dan untk adik nya juga org tdk tau bertrima kasih pengorbanan kakak nya.😭😭😭
wida nur
lanjutttyy
Fitri Yah
double up thor
NN
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!