"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Suka
"Kok dingin?" tanya Aluna saat masuk ke dalam mobil.
"Kan mobilnya ada AC-nya, Ibu. Ini bukan mobil pick up kaya biasanya yang dibawa Mang Jono. Ini mah mobilnya olang kaya, halganya satu tliliyun." seru Elova dengan melebih-lebihkan.
Satu triliyun?
Elova menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Aluna. Tampaknya perempuan itu mulai merasa bingung dengan kehidupan Bian. Saat datang pertama kali di rumah ini, dia menggunakan pick up bersama Bian. Bahkan bau buah dan sayuran masih menyengat. Tak lupa dengan udara sepoi-sepoi dari luar karena mobil pick up tidak ada AC-nya. Sedangkan sekarang, bau pengharum mobil begitu menyengat dan ada rasa dingin yang tiba-tiba terasa di kulitnya. Tak lupa dengan kursi yang empuk. Jika memang benar harga mobil ini satu triliyun, uang darimana Bian sampai bisa memilikinya?
"Iya, Bu. Satu tliliyun. Uangnya satu embel mandinya Lopa," ucap Elova dengan asal.
"Jangan dengarkan Lova. Dia itu terlalu melebihkan. Ini hanya mobil biasa kok," ucap Bian yang kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"Benelan lho. Ini tuh mobil kaya di sinetlon pelempuan telsakiti. Papa punya selatus mobil. Dipalkilnya di stadion sepak bola," ucap Elova dengan yakin.
"Lebay, Lova. Mana ada Papa punya mobil seratus? Mending uangnya buat beli kebun daripada mobil," ucap Reyhan yang langsung menggendong Lova dan dimasukkan ke dalam mobil.
"Namanya juga lagi puji Papa lho, Abang. Ndak ngelti ini olang," ucap Elova mencibir Abangnya.
Pasti ada maunya kan ini? Dasar penjilat,
Hehehe...
Reyhan sudah tahu tanda-tanda Elova akan meminta sesuatu. Aluna duduk di kursi samping kemudi. Sedangkan Elova dan Reyhan berada di kursi penumpang. Reyhan akan diantar oleh Elova, Aluna, dan Bian ke sekolah. Bian ingin menemui guru BK dan Pak Dayat. Sedangkan Aluna ingin mengetahui alasan dari sisi Pak Dayat. Untuk Elova, dia memang dasarnya ingin jalan-jalan dan tak mau pisah dari Aluna. Padahal dia belum mandi sama sekali.
Tadi Elova memilih mencari cara masuk ke dalam kamar Reyhan daripada makan dan mandi. Namun malah tersangkut di jendela kamar milik Reyhan. Aluna dan Bian sudah mandi dengan cepat. Hari ini, Reyhan terpaksa berangkat terlambat karena harus menunggu orangtuanya membersihkan diri. Namun tak apa, Reyhan malah senang tidak lama-lama di sekolah.
"Papa, es klim lasa nano-nano ya." ucap Elova saat mobil sudah perlahan berjalan keluar area halaman rumah.
"Rasa nano-nano? Rasa apa maksudnya?" tanya Aluna dengan raut wajah bingungnya.
"Rasa strawberry, kacang hijau, cokelat, pisang, blueberry, vanilla, dan banyak lagi. Semua mau dibeli itu, Bu." ucap Reyhan menjelaskan membuat Aluna terkekeh pelan.
"Jangan terlalu banyak makan es krim. Mending banyak makan buah dan sayur aja. Besok Ibu buatkan salah buah atau sayur aja," ucap Aluna memberikan ide.
"Setuju, Bu. Lova kan emang harus banyak makan sayuran biar perutnya nggak maju ke depan. Apalagi tadi sampai nyangkut di jendela kamar," seru Reyhan dengan antusiasnya membuat Elova menatapnya sinis.
"Enak saja, pelut Lova ndak maju ke depan ya. Ini tuh nanti kempes lagi kalau ndak makan satu jam. Wajal ini sedikit maju, olang habis makan." ucap Elova membela diri.
Reyhan masih terus meledek adiknya karena kejadian saat Elova menyangkut di jendela kamar. Ada-ada saja ide adiknya itu agar bisa masuk kamarnya. Naik ke atas jendela dengan beralaskan kursi mini dari dapur. Sampai sekarang pun Reyhan penasaran bagaimana Elova bisa kabur dari penjagaan Bibi Tari. Bahkan tadi Bibi Tari sampai panik sendiri karena takut kalau Elova hilang. Bian tersenyum mendengar keriuhan di dalam mobil ini. Perasaan Bian begitu hangat, apalagi melihat anak-anaknya saling melempar candaan.
"Anak-anak sekarang jauh lebih ceria dan mau terbuka sama aku. Padahal sebelumnya, mereka seperti ada jarak denganku." ucap Bian dengan pelan.
"Mas harus sering beri perhatian walaupun hanya sekedar bertanya hari ini apa yang dilakukan di sekolah atau rumah. Setidaknya mereka bisa merasakan kalau Papanya itu ada," ucap Aluna sambil tersenyum.
"Terimakasih ya, istriku. Ini semua juga berkat kamu," bisik Bian sambil terkekeh pelan. Aluna hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Pujian kecil itu membuat kedua pipi Aluna bersemu merah.
***
Aluna berjalan di tengah-tengah Elova dan Reyhan. Sedangkan Bian berada di belakang ketiganya. Dia sudah seperti pengawal yang menjaga majikannya. Sedari tadi, kedua anaknya itu tidak membiarkan Bian dekat-dekat dengan Aluna. Bahkan Aluna digandeng tangannya kanan dan kiri oleh kedua anaknya. Saat tadi di mobil pun begitu, awalnya Aluna tidak diperbolehkan duduk di depan. Namun Aluna memberikan alasan pusing atau mabuk kendaraan jika duduk di bagian belakang.
"Reyhan..." panggil Rizky, salah satu teman Reyhan saat melihat kedatangan sahabatnya itu. Rizky baru saja hendak kembali ke kelas setelah dari kamar mandi.
"Kok baru nongol dua hari ini?" tanyanya tentang dua hari Reyhan tidak berangkat sekolah.
"Temani Ibuku di rumah sakit," jawab Reyhan dengan santai.
"Ibu?" Rizky tahu kalau Reyhan sudah tidak mempunyai Ibu sehingga terkejut dengan ucapan temannya itu. Reyhan menganggukkan kepalanya kemudian menunjuk ke arah Aluna.
"Halo, Nak. Saya Aluna, Ibunya Reyhan." ucap Aluna sambil tersenyum ke arah lain.
"Tante, saya di sini. Kok ngomong dan senyumnya ke sana sih?" tanya Rizky menatap aneh pada Aluna.
"Ibuku tidak bisa melihat," jawan Reyhan membuat Rizky hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan canggung.
"Kenapa kamu? Lihatnya begitu mamat. Mau jelek-jelekin Ibuku ya?" seru Elova tiba-tiba sambil menatap menyelidik ke arah Rizky.
"Kami permisi dulu menemui guru BK," ucap Bian yang tak ingin terlalu lama berada di sana.
Iya, Om.
Bian pun segera mengajak anak dan istrinya untuk pergi dari sana. Pasalnya Elova terlihat kesal dengan mimik wajah dari Rizky yang terkesan meremehkan Aluna. Bian pun merasakan hal itu, tapi bodo amat. Selama dia tidak mengganggu keluarganya baik secara ucapan atau fisik, Bian memilih diam. Namun jika nanti sampai mengganggu keluarganya, maka dia akan langsung turun tangan. Reyhan pun segera menggandeng tangan Aluna tanpa malu. Ibunya memang punya kekurangan dari segi fisik, tapi kelebihannya juga banyak.
"Ibu tirinya Reyhan kali ya? Kan Ibunya sudah meninggal, tinggal Papa dan adiknya aja." gumam Rizky sambil menatap kepergian dari temannya itu.
"Aku harus bilang sama Aldo dan Tama kalau Reyhan punya Ibu tiri yang buta. Pasti mereka akan terkejut dan heboh," lanjutnya.
Lagian Reyhan kenapa pilih Ibu tiri yang begitu. Harusnya kan pilih yang...
Ah... Sudah lah...
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..