Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat
**
Rafa mengerang kesal, saat melihat bocah lelaki tengah santai menonton kartun sebuah bus berwarna biru dengan ditemani berbagai cemilan di sekelilingnya. Seandainya bocah itu bukan anak kecil, Rafa mungkin sudah melemparnya ke bawah dari lantai 5 apartemennya sekarang juga.
Sekali lagi di ujung sofa bagian lain, Rafa kembali meremas sebuah botol minum yang yang berubah kusut karena sudah dia remas-remas. Maklum, melihat semut jalan saja dia sudah emosi.
"Pa, kenapa tayo suka bolos sekolah?" tanya bocah yang bernama Elvan itu yang sedang sibuk menonton televisi.
"Karena dia malas kaya kamu," jawab Rafa kesal. Dia sebenarnya masih pusing saat mendengar panggilan papa dari bocah nakal itu.
"Pa, apakah tayo akan nikah? Aku harap dia bisa menikah dan bisa tinggal bareng, gak kaya mama sama Papa yang tinggalnya misah-misah," ujar Elvan terdengar sendu diakhirnya.
Mendengar kata mama yang keluar dari mulut Elvan, seketika langsung membangkitkan jiwa penasaran Rafa. Pasalnya mulut bocah itu terkunci rapi tertutup, setiap kali dia menanyakan tentang mama-nya. Rafa duduk berpindah ke dekat Elvan, menatap bocah itu penuh kelicikan.
"Ok, bisa kamu ceritakan siapa mama kamu? Minimal kamu kasih tahu siapa namanya?" Sayangnya, lagi-lagi Elvan menggeleng dan kembali langsung menutup rapat mulutnya.
Rafa mau bertepuk tangan terhadap ibu dari anak ini. Entah, apa yang diajarkannya sampai bocah itu tetap menutup rapat mulutnya, sekalipun diiming-imingi hadiah banyak oleh Rafa tadi.
"Jangan gini dong! Kamu tiba-tiba datang ngaku aku papa kamu, tapi kamu gak bilang siapa mama kamu?" Rafa sekarang sudah benar-benar frustrasi.
Bagaimana Rafa tidak pusing, jika hampir seharian ini mengurus bocah tidak ada akhlak itu. Setelah tadi minta jajan, minta makan, terus tadi juga minta pulang ke rumahnya juga karena ada jadwal kartun bus biru di televisi. Lalu sekarang, bocah tidak ada akhlak itu sudah membuat berantakan apartemennya dengan bungkus snack dimana-mana.
"Oh iya, aku lupa," ujar Elvan yang tiba-tiba membuat Rafa langsung antusias. "Mama titip surat buat Papa. Sebentar aku ambil, Pa ... tas aku dimana?"
Dengan patuh, Rafa mengambil tas Elvan yang berada di ujung karena memang tadi bocah itu yang menendangnya. Kalau bukan demi infonya yang penting, mana sudi dia melakukan ini.
"Makasih, Pa," ujar Elvan setelah mendapatkan tasnya. Bocah itu terlihat mengacak-ngacak isi tasnya, setelahnya mengambil sebuah kotak. "Ini ... Pa, dari mama."
"Apa ini?" tanya Rafa setelah mendapatkan kotaknya, tapi gerakan kepala bocah itu seolah menyuruhnya untuk membuka saja karena sekarang dia sudah fokus menonton televisi lagi.
Rafa kemudian membuka isi kotak itu. Didalamnya, terdapat semua album foto dan juga terdapat sebuah kertas pink yang dilipat terus diikat sebuah pita merah.
"Apa ini?"
"Baca aja Pa, aku gak tahu."
Rafa melihat Elvan kesal.
Dasar bocah semprul, nyuruh-nyuruh mulu dari tadi!
Rafa kemudian membuka isi surat itu.
To Rafa Arya Prasetio
Anjir, emak dan anak tahu nama lengkap gue, serem!
Saya tidak tahu harus memulainya darimana. Saya mama-nya
Elvan, yang tak lain anak kandung kamu juga. Tunggu, kamu harus percaya soal ini! Ingat, kejadian 6 tahun yang lalu disebuah hotel, kamu tidur dengan seorang gadis cantik saat itu. Iya, dia waktu itu masih seorang gadis tapi saat bangun sudah menjadi seorang wanita. Sialan kamu udah perawanin anak orang secara gratis!
Gak ada akhlak ini cewek, dari awal sudah marah-marah mulu!
Untuk sementara waktu saya titip Elvan, soalnya saya ada pekerjaan yang mengharuskan untuk pergi jauh. Saya tidak ada siapapun yang bisa dipercaya untuk menjaga Elvan selain kamu. Jadi sepertinya keputusan yang sangat tepat untuk menitipkan Elvan sama kamu, anggap aja perkenalan dan pendekatan dengan anak sendiri.
Sebenarnya, saya tidak mau memberitahu soal Elvan ke kamu. Saya merasa sudah menjadi wanita hebat dengan menjadi singel mom, saya sudah tidak membutuhkan kamu tapi sekali lagi terpaksa. Ok ... sampai sini sudah percaya, kan? Kalau masih tidak percaya, sungguh keterlaluan kamu. Lihat saja Elvan, anak itu sangat mirip kamu banget. Sialan kan, saya yang hamil, melahirkan, mengurus dia sampai umur dia 5 tahun tapi wajahnya semuanya mirip sama kamu.
Kalau masih tidak percaya, silahkan tes DNA. Yah tes saja, buat kamu percaya, sialan!
Saya tidak tahu harus pergi berapa lama. Elvan itu masih sekolah TK, tolong daftarkan dia kembali sekolah. Semua data-datanya ada dalam tas anak itu. Elvan bisa makan semua makanan, apalagi yang manis. Dia juga suka nonton kartu TAYO, itu favorit dia. Sebelum tidur suka dipeluk, dinyanyiin lagu sebelum tidur, terus lampunya juga harus mati. Dia suka ngemil, terus kalau nangis kasih saja tayangan TAYO di You To Be. Oh iya, Elvan ada alergi kacang sama bawang putih. Terkahir, dia sebelum tidur dan pagi hari harus minum susu.
Tolong dijaga amanah anaknya yah, Bapak. Hitung-hitung sebagai dosa penebusan kamu selama 6 tahun ini menelantarkan anak.
Bye bye dari Mama Elvan yang masih cantik, masih muda, seger, bahenol dan intinya masih banyak yang naksir.
Setelah membaca surat itu, Rafa seperti langsung diserang syok, pusing, setres dan gangguan mental. Harusnya sih sekalian saja diserang lupa ingatan, supaya lupa semua drama ini. Rafa langsung melihat Elvan yang masih anteng sedang menonton kartun dengan mulut yang sudah penuh dengan cemilan. Rafa memang mengakui, jika fisik bocah itu bisa dibilang sangat mirip dengannya. Pantas saja saat melihat bocah itu, dia sudah merasa sangat familiar.
Tapi tetap saja, Rafa tidak akan mudah percaya begitu saja. Masih ada kemungkinan jika wanita gila dan bocah itu juga berbohong. Walaupun dia bukan seorang CEO, pengusaha kaya, mafia kaya, tapi pekerja dia sebagai arsitek sudah bisa cukup menjamin hidup makmur sehat sentosa dunia akhirat. Sepertinya tes DNA memang adalah solusi yang terbaik. Rafa harus segara pergi membawa Elvan untuk tes DNA, supaya dia tidak terus menebak-nebak tidak pasti seperti ini. Dia harap semuanya sesuai harapan. Bahkan dia juga berharap, jika semua ini adalah mimpi.
Dia harap juga kejadian waktu tidak membuahkan apapun.
"Pa!"
"Hemm ...," jawab Rafa antara sadar dan tidak sadar.
"Mau mandi," rengek Elvan. "Gak enak badannya bau acem."
"Yah, mandi sana!" jawab n
Rafa ketus. Hidupnya saat ini itu antara ada dan tiada. Kehadiran bocah itu bahkan jadi membuat Rafa tidak percaya bahwa bumi itu masih berputar.
"Aku mau ditemenin, gak mau sendiri. Takut hantu!" Elvan kembali merengek dengan nada keras.
"Ini masih siang tolong, hantunya juga masih tidur." Rafa terbawa suasana berbicara keras juga.
"Huwaaa!" Sekarang tangis Elvan pecah. "Papa jahat! Jahat! Marahin aku. Papa jahat, gak mau temenin aku mandi!"
Sekarang fix, Rafa sudah depresi. Dia memukul keningnya berulang, masih berharap dia bisa terbangun dari mimpi buruknya. Sayangnya tangisan Elvan semakin kencang, menyadarkan Rafa bahwa ini memang nyata. Setelah menghela napas berat, dia lalu menghampiri Elvan yang sedang menangis guling-guling di sofa.
"Ayo bangun, kita mandi!"
Tangis Elvan masih kencang, membuat Rafa harus kembali menahan diri untuk tidak memarahi bocah itu yang hampir jatuh dari sofa karena aksi berguling-gulingan itu. Beruntung Rafa bisa lebih cepat menahannya dengan kaki, sehingga Elvan tidak jadi terjatuh.
"Mau mandi gak? Ini mau aku temenin. Kalau gak mau, ya udah gak usah mandi aja sekalian!" tegur Rafa masih dengan nada kesalnya. Seumur-umur dia tidak pernah mengurus anak kecil, keponakannya saja jika bertemu hanya minta jajan dan jalan main.
Tangis Elvan berhenti, bocah itu berbalik dengan wajah penuh air mata, hidup meler dan mata bengkak. Ternyata menangis sungguhan, tidak akting karena ingusnya saja sudah sepanjang jalan kehidupan. Lalu kedua tangannya terangkat, Rafa yang melihatnya masih bingung, mau apa bocah itu.
"Gendong Pa, aku mau naik kapal ke kamar mandinya," rengek Elvan masih merentangkan kedua tangannya.
"Hah?" Rafa langsung menggeleng cepat. "Jalan sendiri, udah punya kaki juga. Dikira gendong situ, gak berat."
"Huwa--"
Sebelum tangisan Elvan pecah, Rafa sudah langsung terburu-buru menggendong bocah itu dari depan.
"Yeay ... naik kapal!" teriak Elva girang dalam gendongan Rafa.
"Duh, dikasih makan apa sih bocah ini sama emaknya. Saraf bener!"
Aksi mandi itu akhirnya berakhir dengan Rafa yang juga ikut mandi karena bajunya basah. Bagaimana tidak basah, jika bocah itu sepanjang mandi terus melemparkan serangan yang kata bocah itu adalah serangan nuklir ke arahnya. Ingin sekali dia paketkan bocah itu untuk dikirim ke kampung dinosaurus.
Sekarang Rafa bingung menatap Elva yang sudah duduk di kasur dengan tubuh yang dibungkus handuk. Sementara dirinya sudah berganti baju.
"Jadi kamu gak bawa baju?" tanya Rafa sudah benar-benar frustrasi. Bagaimana dia lupa, jika bocah itu hanya menggendong tas kecil yang di dalamnya sudah Rafa lihat tidak ada baju satupun.
"Kenapa mama kamu gak bekali baju?"
"Biar Papa yang beliin, soalnya kata mama kalau Papa itu kaya dan banyak uang," jawab Elvan polos, khas dengan cengiran tengilya.
"Dosa apa gue!" pekik Rafa sambil menjambak rambutnya frustrasi, sambil membayangkan mama anak itu yang tidak ada akhlak.
Seandainya dia orang yang terlahir sultan, dia pasti sudah menyuruh asisten untuk membelikan baju bocah itu. Tapi walau dia banyak uang, tetap saja dia tidak sekaya itu untuk bisa memiliki seorang asisten. Dia terbiasa untuk melakukan semua hal sendiri, bahkan untuk mengurus apartemen ini juga dia sudah terbiasa melakukannya sendiri. Sebenarnya bisa dibilang jika keluarga dia tergolong kaya, tapi Rafa terbiasa mendapatkan apapun dengan bekerja keras dengan usahanya sendiri.
Rafa mengambil sebuah kaos, lalu memakaikannya ke dalam tubuh Elvan yang terlihat tenggelam tubuh kecilnya dalam kaos itu karena itu memang kaos milik Rafa.
"Pakai kaos ini sementara, ok. Sekarang kita harus pergi belanja."
"Yeay ... belanja!" teriak Elvan senang. Bocah itu bahkan melompat girang di atas kasur. "Mampir ke Timezone yah, Pa!" Rafa mengangguk kecil.
"Beli coklat, Pa!" Rafa kembali mengangguk. "Beli eskream! Beli mainan! Beli mobil Tayo!"
Rafa hanya kembali mengangguk kecil. Tanpa sadar senyumnya terbit, saat melihat betapa senangnya Elvan. Walaupun dia yakin, setelah ini kesehatan dompetnya akan terenggut tapi anehnya dia tidak merasa keberatan.
"Naik kapal lagi belinya!"
"Saraf!"
"Yeay ... saraf!"
"Astaghfirullah ... jangan diikutin!"
"Yeay ... ok saraf!"
"Bodo, gak denger!"
**