Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar utama, menyinari wajah Karin yang sedang menatap langit-langit dengan mata melotot.
Ia tidak bergerak. Ia bahkan takut bernapas.
Memori semalam berputar di kepalanya seperti film yang di-replay secara paksa. Pengakuan dosa di dalam mobil. Tatapan Arlan yang begitu dalam. Dan... bibir mereka yang bertaut. Ciuman yang membuat otaknya blue screen dan melupakan cara membaca neraca keuangan.
"Kau akan menatap langit-langit itu sampai bolong jika kau tidak segera bangun, Nyonya Dirgantara."
Karin tersentak. Ia menoleh dan mendapati Arlan sudah duduk di tepi kasur, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku. Pria itu memegang dua cangkir kopi, menatapnya dengan senyum miring yang sangat berbahaya.
"P-pagi, Kak Arlan!" Karin langsung duduk tegak, insting bertahan hidupnya mengambil alih. Ia melebarkan matanya, memasang wajah polos, dan berteriak, "Aku tadi malam mimpi buruk! Aku mimpi dicium sama kodok raksasa yang pakai jas!"
Arlan terdiam sejenak. Lalu, ia meletakkan cangkir kopi di meja nakas, mencondongkan tubuhnya, dan mencium puncak kepala Karin dengan lembut.
"Kodok mana yang seberuntung aku?" bisik Arlan, suaranya serak dan penuh tawa tertahan. "Karin, kita sudah di kamar. Pintu sudah dikunci. Kau tidak perlu berpura-pura lagi."
Wajah Karin memanas hingga ke telinga. Topeng idiotnya retak seketika. Ia menunduk, menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. "Aku... aku masih kaget, Kak. Tiba-tiba dari mode *survival* berubah jadi mode *romance*. Otakku belum *update*."
Arlan tertawa kecil, menarik selimut itu turun dan menangkup wajah Karin. "Nikmati saja. Karena mulai hari ini, tidak ada lagi yang perlu kau takuti. Aku di sini."
Kehangatan itu hampir membuat Karin lupa pada dunia luar. Namun, dawai realita segera berbunyi nyaring saat ponsel Arlan bergetar di atas meja.
Arlan melirik layar, dan senyum di wajahnya langsung lenyap, digantikan oleh aura dingin yang membuat suhu ruangan turun sepuluh derajat.
"Ada apa, Kak?" tanya Karin, duduk bersila dan menatap layar ponsel itu.
"Clara," jawab Arlan datar. Ia mengangkat panggilan itu dan menyalakan speaker. "Katakan, Clara."
"Selamat pagi, Pak Arlan. Maaf mengganggu waktu pribadi Anda," suara Clara terdengar tegang. "Tapi ada krisis media. Pagi ini, semua portal berita gosip dan finansial menurunkan judul yang sama: 'SKANDAL DIRGANTARA: CEO DINGIN DIKUASAI ISTRI GILA? LELANG 100 MILIAR DIDUGA PEMERASAN DAN PELET!'"
Karin tersedak ludahnya sendiri. Apa?! Pelet?!
"Sumber anonim mengklaim bahwa Nyonya Karin menggunakan ilmu hitam untuk mengontrol Bapak," lanjut Clara. "Sumber itu juga menyebarkan audio rekaman lama saat Nyonya Karin berbicara dengan tanaman, diedit sedemikian rupa sehingga terdengar seperti mantra sihir. Citra Bapak di mata investor asing sedang turun 4% dalam satu jam terakhir. Dan rumor mengatakan, Vanessa adalah orang yang membocorkan audio itu ke pers."
Arlan meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Vanessa bermain kotor. Clara, siapkan tim hukum. Kita tuntut semua portal berita itu. Dan lacak nomor Vanessa. Aku akan memastikan dia menghabiskan sisa hidupnya di penjara."
"Tunggu!" potong Karin cepat. Ia meraih lengan Arlan, menatap mata pria itu dengan serius. "Kalau Kak Arlan lapor polisi atau tuntut mereka, Mbak Vanessa malah akan berperan sebagai korban yang dikorbankan oleh keluarga Dirgantara yang kejam. Publik akan mengasihani dia. Dan dewan direksi akan menggunakan ini sebagai alasan bahwa aku memang 'sakit jiwa' dan berbahaya."
Arlan menatap istrinya, rahangnya mengeras. "Lalu apa yang kau sarankan? Membiarkan mereka menghancurkan reputasiku?"
"Tidak," jawab Karin, matanya berkilat dengan ide gila yang khas. "Kita tidak melawan narasi 'istri gila'. Kita memeluknya. Kita buat narasi itu menjadi senjata kita."
Arlan mengangkat alisnya. "Menarik. Lanjutkan."
"Publik dan investor tidak peduli pada lukisan bebek. Mereka peduli pada kewarasan," jelas Karin, otaknya berputar cepat menganalisis psikologi massa yang ia baca di novel-novel sebelumnya. "Mbak Vanessa ingin orang-orang percaya aku ini penyihir gila yang mengendalikan Kak Arlan. Jadi, kita akan pergi keluar sekarang. Berdua. Ke tempat yang sangat... tidak masuk akal untuk dikunjungi oleh CEO triliuner dan istrinya."
"Tempat apa?"
"Pasar burung dan hewan peliharaan di Jatinegara," jawab Karin tanpa ragu. "Aku mau beli bebek. Bebek beneran. Terus aku mau jalan-jalan sambil gendong bebek itu di depan kamera paparatzi. Kalau mereka bilang aku gila karena pakai pelet, biar aku buktikan bahwa kegilaanku adalah kegilaan yang menggemaskan dan tidak berbahaya. Kita akan membuat seluruh Jakarta jatuh cinta pada 'Nyonya Bebek'."
Arlan menatap istrinya. Otak briliannya memproses rencana itu. Secara logika bisnis, itu adalah mimpi buruk bagi branding Dirgantara Group. Tapi secara psikologi publik... itu adalah langkah jenius. Arlan yang dingin dan protektif, menemani istrinya yang 'gila' membeli bebek di pasar tradisional. Itu akan mematahkan narasi 'kekerasan domestik' atau 'pelet'. Itu akan menunjukkan bahwa Arlan memilih untuk mencintai kegilaan istrinya, bukan dikendalikan olehnya.
Arlan menghela napas, lalu tersenyum. Senyum yang penuh dengan kekaguman dan kepasrahan.
"Kau benar-benar makhluk yang paling aneh dan paling brilian di bumi ini, Karin," ucap Arlan, berdiri dan merapikan kerah kemejanya. "Clara, batalkan tim hukum. Siapkan mobil. Dan tolong carikan tahu apakah pasar burung Jatinegara menjual bebek yang bisa diajak naik mobil mewah."
"S-siap, Pak Arlan," Clara terdengar sangat bingung, tapi ia tidak berani membantah.
Arlan menoleh ke arah Karin yang sedang melompat-lompat di atas kasur. "Ayo, Nyonya Bebek. Mandi dan pakai baju yang paling... mencolok yang kau punya. Kita akan pergi berburu bebek."
Karin tersenyum lebar. Langkah kedua puluh tiga berhasil! Pelakor mau pakai jalur gosip? Kita hancurkan dia dengan jalur kelucuan massal! Tunggu saja, Mbak Vanessa. Karirmu sebagai bulan putih akan karam di kolam bebek!
lanjut kn thor💪