NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nonton (2)

**

Akhirnya, setelah drama motor mogok yang ternyata habis bensin itu, mereka bisa sampai juga di bioskop. Entahlah, perjalanan ke bioskop seperti perjalanan ke padang pasir karena banyak sekali rintangannya.

Ayana lelah, walau kebagian tugas menunggu motor sementara Reyhan berjalan mencari bensin, tapi dia yang paling apes soalnya saat menunggu motor itu dia bertemu orang gila yang kemudian mengejarnya karena meminta bajunya. Memang ada gila-gilanya orang gila itu malah meminta baju yang dia pakai. Lalu, dia harus telanjang gitu?

Ayana sampai berlari ke arah Reyhan yang cowok itu sedang duduk di warung sambil makan gorengan. Rasanya, ingin dia pukul pakai palu kepala lelaki itu. Akhirnya, orang gila itu bisa berdamai setelah diberi gorengan oleh Reyhan.

"Ay, udah dong marahnya. Tadi itu gak sengaja," rayu Reyhan yang kesekian kalinya.

Ayana mendelik. "Gak sengaja duduk di warung dan makan gorengan, gitu? Sementara aku dikejar orang gila saat nungguin motor kamu."

Reyhan berdehem, dia tertawa canggung. "Itu, anu itu kan gorengannya ada di tukang bensin, aku cuman duduk niat makan dua gorengan aja kok, setelah itu mau samperin kamu."

Reyhan menyentuh punggung Ayana, tapi gadis itu langsung menepisnya. Dia duduk memiringkan tubuhnya ke arah lain, dia sudah tidak percaya lagi akal bulus Reyhan. Ayana masih dendam.

"Sana, beli tiket dan popcorn. Aku mau nunggu di sini. Cepetan, ini udah malam takut keburu tutup."

Ayana lalu mendudukkan dirinya di kursi tunggu dengan tangan melipat ke dada sambil cemberut, gadis itu bahkan masih membuang muka ke Reyhan.

Reyhan melihatnya takut, kali ini dia tidak berani membantah karena terlihat jelas aura macan ngamuk dari gadis itu. Terlebih, dia juga merasa bersalah karena membuat gadis itu harus ketakutan karena sedang dikejar orang gila. Bisa-bisanya juga dia lupa mengisi bensin?

"Ok, tunggu bentar, yah," pamit Reyhan tapi diabaikan oleh Ayana.

"Hemm ...." Ayana masih membuang muka ke Reyhan.

Setelah Reyhan pergi, Ayana menghela napas. Dia masih sangat kesal, tapi jika malam yang langka ini terlewat dengan keadaan mood dia yang seperti ini, rasanya sayang sekali. Dia mau menikmati malam ini, berkencan menonton dengan seorang cowok, apalagi ini bukan sekedar dengan pacar lagi tapi suami.

Setelah menunggu 15 menit, akhirnya Reyhan datang dengan dua tiket dan dua popcorn. Ayana mencoba untuk tidak berbicara ketus, tapi setelah melihat tiket yang Reyhan beli, dia mulai kesal lagi.

"Rey, yakin nonton ini? Emang gak ada film lain? Emang ini udah jam berapa, sih? Udah jam 9, emang udah gak ada film lagi?" Ayana terus mengomel.

Reyhan berhenti berjalan, berbalik ke arah belakang dimana ada Ayana. Lelaki itu mendekat, menangkup kedua pipi Ayana. Kemudian mencium bibir gadis itu cepat, hanya kecupan setelah itu menjauhkan bibirnya.

"Berisik." Jari telunjuk Reyhan di atas bibir Ayana. "Ini udah tayang 5 menit, film lain belum tayang. Ini film 'Tetangga Adalah Maut' lagi viral, penasaran mau nonton. Dion sama Bima ngomong mulu soal film ini, aku penasaran."

"Aku tahu," ujar Ayana setelah sadar dari rasa terkejutnya. Entah kenapa, dia tidak marah saat Reyhan menciumnya. Entahlah. "Tapi film ini bikin setres, darah tinggi. Aku lihat orang-orang yang udah nonton jadi makin parnoan."

Reyhan terkekeh. "Bawa santai aja, ini cuman film. Ayo, kita nonton!"

Reyhan sudah menarik tangan Ayana, gadis itu hanya pasrah saja mengikuti langkah Reyhan. Toh, tiket sudah dibeli. Sayang uang mereka kalau tidak ditonton.

"Rey, nyebelin! Bisa-bisanya tidur sepanjang film!" Ayana kesal, memukul bahu lelaki itu kencang.

Sekarang mereka sudah diparkiran, 15 menit yang lalu baru selesai nonton. Kepala Ayana rasanya mendidih saking kesalnya dengan film itu. Dia mau marah sama salah satu tokoh di sana yang kelakuannya sudah seperti setan, malah lebih, mungkin setan saja minder melihat kelakuan dia.

Ada hal yang paling membuat Ayana kesal, yaitu hampir sepanjang film Reyhan tertidur. Dia yang memilih film, dia yang penasaran tapi Ayana yang sepertinya terkena darah tinggi saking kesalnya.

"Gak sepanjang film Ay, aku nonton kok sebagian," bela Reyhan sambil cengengesan. Dia menguap, sepertinya nyenyak sekali tadi tidur.

"Sebagian?" Ayana mencibir. "Berapa? 15 menit? 20 menit?"

Reyhan tertawa. "10 menit Ay, lumayanlah untuk bahan ghibah dengan dua salbeng."

"Gak jelas. Apa yang bisa dibahas dari 10 menit film?" Ayana seperti biasa sedang berjuang memakai helm

Reyhan yang melihatnya, kemudian membantu gadis itu memakai helm dengan mudahnya. Tanpa aba-aba lagi, mencium bibir Ayana. Kali ini, cowok itu sedikit melumatnya. Tak lama, menjauhkan wajahnya kemudian terkekeh.

"Jangan cium-cium sembarang!" Ayana cemberut. "Apalagi ini di tempat umum?"

Reyhan mendekat. "Berarti kalau gak di tempat umum boleh berarti. Lebih dari ciuman juga boleh, kan?"

"Le--lebih, apa sih?" Ayana gelagapan, tiba-tiba teringat kejadian malam itu.

Reyhan tertawa, memberi kecupan terakhir di bibir Ayana yang selalu menggodanya itu. Kemudian, lelaki sudan siap akan menjalankan motornya.

"Pegangan Sayang, mau terlempar?"

Ayana mencibir. "Udah cium suka-suka, sekarang mau aku peluk. Sorry ... yah, emang aku cewek apaan? Bilang sayang kalau ada maunya. Siapa situ?"

Reyhan terkekeh. "Gak papa, kalau gak mau peluk. Nanti kalau terlempar terus terlindas bukan salah aku, yah?"

Plak

Ayana memukul keras punggung Reyhan membuat lelaki itu meringis. "Kalau ngomong hati-hati, jangan sembarangan gitu. Kalau terlindas terus mati, aku bakal gentayangin kamu seumur hidup kamu."

"Iya maaf-maaf, bercanda Malaikat, gak usah dicatat soalnya aku masih mau cewek bawel tukang ngambek ini." Reyhan cengengesan tetap tidak serius. "Makanya peluk Ay, takut jatuh."

"Terpaksa ini!" Ayana berkata ketus, kemudian memeluk Reyhan seperti yang cowok itu mau, toh sudah dia bilang kan, kalau memeluk cowok itu saat di motor adalah hal yang dia suka. Tapi tetap harga diri, pura-pura dulu saja.

"Rey, cari makan dulu, yuk!" teriak Ayana seperti biasa saat menaiki motor.

Reyhan malah terkekeh. "Aku udah gak ada uang Ay, jatah makan kita tadi beli bensin. Aku bawa uang pas-pasan cuman buat tiket, popcorn terus minum. Aku juga lupa di rumah masih ada uang apa enggak, yah? Makan di kontrakan aja, yah?"

Ayana cemberut. "Di kontrakan cuman ada mie, stok makan kita udah abis. Bosen, Rey."

"Maaf yah, sabar dulu tiga hari lagi aku gajian. Nanti, kita beli stok bahan makan lagi yang banyak. Aku juga sekarang lagi ada kerjaan sampingan, bantu-bantu edit video yt temen di tempat kerja. Cuman channel-nya belum gede, jadi bayarannya kecil. Tapi lumayan, buat nambah makan kita. Kemarin, uang yang aku kirim ke ibu itu buat studi tour adek, kamu kan udah tahu."

Ayana mengangguk. "Eh, aku ada Rey, tadi dapat tip. Kita ayo makan!"

Reyhan menggeleng. "Enggak, itu buat jajan kamu simpen."

"Ini kan juga mau jajan. Aku traktir kamu!" Ayana kesal. "Pokoknya ayo, jangan banyak drama lagi. Besok juga aku gajian. Besok aku traktir lagi!"

"Gak boleh Ay, uang gaji kamu besok simpan aja!"

"Rey, jangan keras kepala. Kita udah berumah tangga, semua kebutuhan kita tanggung bersama. Aku juga bakal nabung, suatu hari nanti aku tetap mau kuliah. Tenang aja, aku gak bakal pakai uangnya semua. Aku bakal habisin uang kamu semuanya."

Reyhan menghela napas berat. "Aku masih merasa bersalah, udah pakai uang tabungan kamu saat di rumah sakit waktu itu."

Ayana tidak suka sifat tidak enakan Reyhan yang seperti ini. Dia kesal, masalah yang sama terus terulang.

"Terserah, aku capek! Biar aja aku mati kelaparan malam ini, pokoknya aku gak mau makan mie!"

"Ok. Ayo traktir aku makan! Mau makan apa? Apa aku yang tentuin?" Reyhan mengalah, dia selalu berjanji dalam dirinya akan mengganti semua pengorbanan Ayana lebih dari apa yang gadis itu keluarkan.

Ayana tersenyum, mengeratkan pelukan soalnya tadi dia melepas pelukannya. "Mau makan sate."

"Lest go!"

"Lest go!" Ayana meremas dada Reyhan.

"Aw, pelecehan mulu. Awas aja nanti aku di rumah balas remas punya kamu."

"Hah?"

Reyhan tertawa, tanpa sadar Ayana juga ikut tertawa. Ayana tahu jika cowok itu bercanda, padahal tidak tahu saja dia kalau Reyhan serius. Sekarang saja otak Reyhan sedang memikirkan, apa saja yang akan dia lakukan kepada Ayana? Apa sekalian pecah telor saja, yah?

Ayana senang, sekarang dua porsi sate sudah tersaji ada di depannya. Mungkin karena sudah malam jadi tidak terlalu banyak orang yang mengantri, walau mengantri juga Reyhan yang melakukannya. Untungnya, lelaki itu tidak banyak drama dengan memesan setengah porsi atau nasi dan bumbunya saja. Kalau itu terjadi, dia akan kabur naik angkot pulang ke kosan.

"Enak." Ayana menggeleng-gelengkan kepalanya senang setiap satu suapan sate yang dia makan.

Reyhan tersenyum. "Enak banget, yah? Maaf yah, gak pernah beliin sate. Nanti, aku bakal sering beliin sate dan makanan enak lainnya."

Ayana menoleh. "Berisik Reyhan, aku gak mau drama lagi!"

Reyhan terkekeh, kemudian dia merapikan rambut Ayana yang menjuntai terlihat mengganggu gadis itu makan. Dia mengambil karet gelang di gelangnya yang entah sejak kapan ada di sana, kemudian mengikat rambut Ayana.

"Eh, ngapain?" Ayana terkejut akan tindakan Reyhan, tiba-tiba dia merasa degdegan.

"Ngikat rambut, biar gak ganggu kamu makan."

"Oh, makasih," cicit Ayana pelan, entah kenapa wajahnya terasa panas.

"Sama-sama," jawab Reyhan santai, kemudian cowok itu melanjutkan makan.

Ayana melirik Reyhan yang sudah kembali makan, dia menggeleng kemudian kembali makan juga. Satenya sudah melambai-lambai menggoda.

"Reyhan, kebetulan banget ketemu di sini!"

Dua sejoli itu mendongak, melihat dua orang wanita yang berdiri di dekat meja mereka.

"Eh ... Sin, lagi beli sate juga?" Reyhan menanggapi seolah mengenal wanita itu.

"Iya, kebetulan banget kita ketemu di sini. Mungkin, ehemmm ..." Wanita yang berambut sebahu itu terlihat merona.

"Siapa?" tanya wanita berambut panjang di sebelahnya.

"Temen kerja," jawab wanita berambut sebahu.

"Yang sering kamu ceritain?"

"Ih ... enggak, apaan sih?" jawabnya malu-malu salah tingkah.

Ayana melihat dua wanita itu entah kenapa kesal. Terlihat wanita yang satunya sangat menyukai Reyhan, bibit jablay sudah terlihat. Katanya teman kerja, apa dia tidak tahu bahwa Reyhan sudah menikah? Apa cowok itu selalu mengaku single?

Ayana kesal, dia menusuk satenya brutal. Tapi tunggu, kenapa dia kesal? Ah, tahu lah.

"Makan sendiri, Rey?"

Ayana kembali mendongak, dia tidak lihat Ayana sebesar ini sedang makan bersama Reyhan. Terlihat sekali berpura-puranya. Dasar centil!

"Enggak lah, ini berdua sama ...." Reyhan melirik Ayana, kemudian berdehem melihat aura macan gadis itu. "Pacar."

"Oh, boleh gabung?" tanya wanita itu masih mengabaikan Ayana. Memang sudah menjadi bibit pelakor ini.

"Oh--"

"Boleh aja, tapi kita udah selesai, kok." Ayana tersenyum manis, tapi sudah jelas itu terpaksa. "Ayo Sayang, kita pulang!"

"Hah?" Reyhan cengo membuat Ayana semakin kesal.

"Sayang?" Ayana berdiri, mengamit tangan Reyhan untuk berdiri. "Ayo pulang, Sayang!"

Reyhan terkekeh, seolah paham. "Iya, Sayang."

Cup

Dengan iseng, Reyhan mencium pipi Ayana. "Duluan yah Sin, mbak!"

"Ayo!" Ayana menarik tangan Reyhan.

"Iya, sayang."

"Cemburu, yah? Dia cuman temen kerja, kok," goda Reyhan saat mereka sudah naik motor.

"Enggak, siapa yang cemburu. Aku kesal saja karena cewek itu seolah tidak anggap aku ada. Emang aku hantu, sampai gak kelihatan?" Ayana makin emosi meledak-ledak, apalagi helm Reyna susah dipakai lagi.

"Oh gitu, kirain cemburu." Reyhan masih tertawa.

"Enggak, mana ada! Aku cuman gak suka bibit plakor cewek jab--"

Mata Ayana memicing saat melihat wanita penggoda itu akan berjalan kemari. Mungkin sudah selesai tidak jadi makan karena tidak ada Reyhan. Mau apa lagi?

Ayana melirik sekitar, untungnya sepi. Menyimpan kembali helm di atas motor. Kemudian turun dan langsung duduk di depan Reyhan sembari menghadap cowok itu.

"Eh, ngapain?" Reyhan jelas terkejut atas tindakan Ayana ini.

Dia akan membuat pelakor itu tahu diri, siapa dia dan Reyhan. Hubungan apa yang mereka miliki? Siapa wanita itu? Harus sadar diri, jika sudah tidak ada celah buat jablay masuk.

Ayana memeluk leher Reyhan, kemudian untuk pertama kalinya mencium bibi lelaki itu duluan. Biasanya dia hanya menerima ciuman Reyhan.

Ayana akan menunjukan hubungan panas mereka kepada wanita itu.

Reyhan awalnya terkejut, tapi siapa juga lelaki yang bisa menolak mendapat rizki seperti ini. Awalnya, dia membiarkan Ayana memimpin ciuman mereka, tapi dia tidak sabar, tiba-tiba kepalanya terasa panas, akhirnya Reyhan mengambil alih ciuman mereka.

Dia semakin mengeratkan pelukan ke Ayana, melumati bibir gadis itu yang dia yakin saat ini sedang naik-naiknya dan menggebu-gebu. Bahkan, dia sudah mengajak Ayana bermain lidah membuat gadis itu terlihat kewalahan mengimbangi Reyhan. Tangan Reyhan tanpa sadar meremas salah satu dada gadis itu dibalik kaosnya.

"Emmm .... Rey ... enggak ... kita ini di pinggir jalan ...," kata Ayana kesusahan di tengah ciuman Reyhan yang menggebu-gebu.

Ting

Seperti biasa, seperti ada alarm di otak Reyhan. Tadi dia lupa mereka sedang ada di mana. Bagaimana kalau ada orang lihat, terus meng-video mereka dan menjadi viral. Orang-orang kan tidak tahu kalau mereka sudah halal.

Reyhan melepas ciuman mereka, dengan tergesa cowok itu mengangkat tubuh Ayana kemudian memindahkan ke belakang. Kemudian, memakaikan Ayana helm dengan terburu-buru.

"Ayo pulang, kita lanjutkan di kosan sampai tuntas. Udah waktunya untuk aku buat dapat jatah suami."

"Hah, ngomong apa, sih?"

"Kamu yang udah bangunin harimau tidur, jadi harus tanggung jawab!"

Setelah mengatakan itu, Reyhan sudah menjalankan motornya dengan ngebut. Sedang Ayana, dia merasa panik karena niat memberi pelajaran kepada pelakor itu, malah dia yang akan diberi pelajaran.

Tuhan, tolong aku dari kucing mau kawin ini!

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!