NovelToon NovelToon
Gawat! Aku Punya Anak Dari Musuh Sendiri!

Gawat! Aku Punya Anak Dari Musuh Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.

Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.

Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.

Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amnesia Disosiatif?

Keesokan harinya, matahari pagi menyinari kota dengan hangat ketika mobil sport hitam yang dikemudikan oleh Guzelar melaju tenang menuju salah satu rumah sakit jiwa dan rehabilitasi mental swasta terbaik di kota ini. Tujuan mereka hari ini sangat jelas mendatangi psikiater pribadi untuk mengobati trauma Ayara.

​Selama di dalam mobil hingga mereka melangkah menyusuri koridor rumah sakit, Guzelar tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri. Pria itu terus menggenggam jemari Ayara erat-erat, dan sesekali membawanya ke punggung tangan untuk mengecupnya dengan penuh kelembutan.

​Meskipun Ayara sempat merasa sedikit terganggu dengan sikap hiper-manja suaminya itu, anehnya ia sama sekali tidak berniat menolak. Tubuhnya terasa begitu terbiasa, seolah perlakuan romantis tersebut adalah hal yang sangat lumrah mereka lakukan setiap hari.

​"Selamat siang, Tuan Guzelar dan Nyonya Ayara. Wah, sudah cukup lama ya kita tidak bertemu di ruangan ini," sapa seorang wanita paruh baya berjas putih bersih dengan senyuman ramah. Beliau adalah Dokter Annisa, psikiater senior yang sudah lama memegang kasus pemulihan Ayara.

​"Selamat siang juga, Dokter," sapa Ayara ramah sambil membalas senyuman sang dokter dengan manis.

​Dokter Annisa mempersilakan keduanya duduk di sofa konsultasi yang nyaman. "Dokter Josh sudah memberikan laporan lengkap kepada saya mengenai kondisi Nyonya Ayara kemarin malam. Bagaimana perasaan Anda hari ini, Nyonya? Apakah ada keluhan atau bayangan-bayangan buruk yang mengganggu?" tanya Dokter Annisa memulai sesi tanya jawab secara profesional.

​Ayara sedikit tertegun. Nampaknya, Dokter Annisa sudah sangat terbiasa dan akrab menangani dirinya di masa lalu. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu santai, membuat Ayara yang awalnya merasa asing mendadak bisa bernapas lebih lega tanpa tahu persis mengapa dirinya bisa begitu tenang berhadapan dengan orang asing berstatus psikiater.

​"Saya merasa agak penasaran dengan beberapa hal belakangan ini, Dokter. Tapi selebihnya saya baik-baik saja," jawab Ayara jujur.

​"Baiklah, kalau begitu kita bisa langsung mulai sesi hipnoterapi lanjutan hari ini ya, Nyonya, agar kita bisa melihat sejauh mana alam bawah sadar Anda merespons kepingan ingatan tersebut," ucap Dokter Annisa dengan nada sangat sopan, lalu mempersilakan Ayara berbaring di atas kursi khusus pasien hipnoterapi.

​Guzelar duduk di sudut ruangan, kedua tangannya bertumpu di atas lutut dengan postur tegang. Pria itu mengawasi setiap gerak-gerik dokter dan istrinya dalam diam.

​Sesi hipnoterapi pun dimulai. Dokter Annisa mulai membimbing pernapasan Ayara, membisikkan kata-kata relaksasi agar wanita itu masuk ke dalam kondisi trans relaksasi yang dalam.

​"Tarik napas dalam-dalam, Nyonya... keluarkan perlahan. Mari kita kembali ke masa di mana bayangan-bayangan itu mulai menghantui pikiran Anda... Apa yang Anda lihat sekarang, Nyonya Ayara?" tanya Dokter Annisa lembut.

​Di atas kursi medis, kelopak mata Ayara yang tertutup rapat mulai bergetar hebat. Alisnya bertaut, menunjukkan ekspresi kesakitan dan ketakutan yang mendalam.

​"Saya... saya melihatnya..." suara Ayara terdengar tercekat di tenggorokan.

​"Apa yang Anda lihat, Nyonya? Ceritakan pada saya," pancing Dokter Annisa sabar.

​Ayara tidak menjawab dengan kata-kata. Air mata tiba-tiba meleleh deras menuruni kedua sudut matanya, membasahi pipi dan bantal yang ia tumpui. Bibirnya bergetar hebat, mencoba merangkai kata, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah isakan tertahan yang begitu memilukan.

​"Hiks... hiks..." Ayara menangis tanpa suara, mencengkeram kuat-kuat kain selimut di sisi tubuhnya.

​"Nyonya, biarkan emosi itu keluar. Apa yang terjadi pada diri Anda di dalam ingatan itu?" tanya Dokter Annisa lagi dengan kelembutan luar biasa.

​Ayara menggelengkan kepalanya kuat-kuat dalam pengaruh hipnotis. Isakannya semakin menjadi-jadi, napasnya mulai tersenggal-senggal, namun tidak ada satu pun kalimat penjelasan yang keluar dari mulutnya selain tangisan bisu yang sarat akan kepedihan luar biasa.

​Melihat penderitaan sang istri di atas kursi terapi, dada Guzelar terasa dihantam palu godam. Pria itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah yang teramat besar kembali menghujam ulu hatinya. Guzelar merasa ialah satu-satunya pihak yang paling berdosa di dunia ini. Jika saja ia memiliki kekuatan untuk menanggung dan melenyapkan seluruh rasa sakit itu dari benak Ayara, maka dengan senang hati Guzelar akan merelakan dirinya sendiri yang menanggung penderitaan tersebut.

​Melihat kondisi Ayara yang mulai menunjukkan tanda-tanda syok emosional, Dokter Annisa segera mengambil tindakan cepat.

"Cukup, Nyonya. Tarik napas, rileks... perlahan-lahan buka mata Anda. Sesi hipnoterapi kita cukupkan sampai di sini," instruksi Dokter Annisa tenang sambil memetikan jarinya untuk menyudahi trans.

​Ayara langsung membuka matanya dengan napas terengah-engah, tubuhnya lemas terkulai dan langsung jatuh tertidur pulas akibat kehabisan energi setelah menangis hebat.

​Dokter Annisa melangkah menghampiri Guzelar yang langsung beranjak dari tempat duduknya dengan wajah cemas.

​"Tuan Guzelar, ada hal penting yang harus kita bicarakan secara empat mata," ucap Dokter Annisa dengan nada serius, menunjuk ke arah meja kerjanya.

​Guzelar mengangguk kaku, melirik sekilas ke arah Ayara yang tertidur tenang sebelum melangkah mendekati meja dokter.

"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter? Kenapa reaksinya bisa separah tadi?" tanya Guzelar menuntut, berusaha mempertahankan ketenangannya.

​Dokter Annisa menghela napas berat sebelum menjawab. "Sepertinya Nyonya Ayara sedang mencoba secara naluriah untuk mengeluarkan dan menyatukan kembali kepingan ingatannya yang hilang, Tuan. Anda sendiri tahu persis bahwa Nyonya Ayara didiagnosis mengalami amnesia disosiatif akibat trauma berat di masa lalu. Dan kepribadian atau versi diri Nyonya Ayara yang sekarang ini tampaknya sangat bersikeras ingin mengingat semuanya kembali," jelas Dokter Annisa sopan.

​Mendengar penjelasan itu, raut wajah Guzelar langsung mengeras. "Kalau begitu, lakukan hipnoterapi ulang atau berikan tindakan medis lain dengan membuatkan blokade ingatan baru lagi untuknya, Dokter! Saya tidak mau dan tidak ingin melihat Ayara menderita seperti beberapa tahun lalu!" perintah Guzelar dengan nada tegas dan mutlak.

​Dokter Annisa menggelengkan kepalanya pelan, menatap tajam pria di hadapannya. "Tapi, Tuan... tindakan manipulasi memori atau penghapusan paksa secara berulang-ulang seperti itu justru akan membuat struktur memori di dalam otaknya semakin berantakan total. Apa Tuan benar-benar ingin melihat Nyonya Ayara berakhir seperti orang yang kehilangan kesadaran penuh atau mengalami kebingungan akut akan identitas dirinya sendiri di masa depan?" tanya Dokter Annisa blak-blakan menyadarkan risiko fatalnya.

​Mendengar kata-kata bernada sindiran itu, emosi Guzelar meledak seketika. Pria itu menggebrak meja kerja dengan keras, berdiri dari duduknya dengan mata menyala-nyala penuh amarah.

​"Siapa yang kamu maksud dengan orang bodoh, hah?! Jaga mulutmu, Dokter!" bentak Guzelar murka, tidak terima istrinya direndahkan dengan cara seperti itu.

​Dokter Annisa sedikit berjengkit kaget, namun ia tetap berusaha tenang mempertahankan profesionalitasnya.

"Maafkan saya jika kata-kata saya menyinggung perasaan Tuan. Tetapi sebagai dokter penanggung jawab medis yang menangani pemulihan Nyonya Ayara, saya harus menentang keras permintaan Tuan untuk terus menutup-nutupi kebenaran dengan paksa."

​"Jika dipaksakan terus menerus, kondisi psikis Nyonya justru akan semakin memburuk dari hari ke hari, dan hal ini sangat fatal akibatnya untuk jangka panjang," jelas Dokter Annisa tegas tanpa gentar.

"Saat ini, Nyonya sedang berusaha keras melawan batas ingatannya sendiri. Meskipun memori itu masih terkunci rapat di balik alam bawah sadarnya, ingatan tersebut bisa sewaktu-waktu bocor dan meledak keluar setiap kali Nyonya mengalami pemicu atau kejadian serupa di kehidupan sehari-hari."

​Guzelar tertegun. Amarahnya perlahan surut, digantikan oleh rasa takut yang mencengkeram dadanya.

​"Selain itu, saya juga sudah membuatkan jadwal janji temu khusus dengan Dokter Efran, seorang ahli spesialis bedah saraf dan neurologi terkemuka, guna melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap fungsi saraf otak Nyonya Ayara," lanjut Dokter Annisa.

​Dokter Annisa menatap Guzelar lekat-lekat. "Dan satu hal lagi, Tuan... sepertinya Anda sendiri juga sangat membutuhkan sesi konseling psikologis. Anda sudah terlalu lama mengabaikan kondisi mental Anda sendiri sejak Nyonya Ayara mengalami amnesia disosiatif bertahun-tahun lalu, Tuan Guzelar."

​Hening merayap di dalam ruangan konsultasi yang luas itu. Guzelar kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Pria itu menunduk lama, merenungkan segala pilihan berat yang harus ia ambil demi keselamatan wanita yang dicintainya.

​Beberapa menit kemudian, Guzelar mengangkat kepalanya. Sorot matanya menyiratkan kepasrahan bercampur tekad yang kuat.

​"Baiklah... lakukan apa saja yang terbaik untuk kesembuhan Ayara, Dokter," putus Guzelar akhirnya, memilih jalan akhir yang paling masuk akal meskipun itu menakutkan.

​Di dalam lubuk hatinya, Guzelar menyadari satu hal, jika pada akhirnya masa lalu dan seluruh ingatan buruk itu harus kembali diingat oleh Ayara secara perlahan, maka ia akan berdiri di garis terdepan untuk menemani istrinya. Guzelar berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan sekuat tenaga menenangkan sang istri menghadapi badai apa pun yang menerjang, apa pun konsekuensinya. Guzelar sangat yakin seyakin-yakinnya, mereka pasti mampu melewati ujian berat ini bersama-sama sebagai sebuah keluarga.

Bersambung...

1
Ita Putri
mike
Hadi Mulyono
biadab banget ayah ayara ..jadi kuat ayara balas dendam .aku kok pingin ayara bisa bela diri .hajar keluarganya yg jahat
mimief
ternyata yg bikin dia hancur bukan mike.
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
Anbu Hasna
ketiduran di ruang laundry 🫣🫣
mimief
saudara tirinya ya?🥹🥹🥹
mimief
sering Thor...
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
It's me Ri🥕
Wkwkwk... Ayara emang suka benget ngerjain orang, tapi ga boleh ditiru yaa🤭
It's me Ri🥕
Tania nya belom mau cuti kak😭
mimief
dasar Ayana...kasian bapak bapak dikerjain.
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
Anbu Hasna
kirain beneran jadi sekertaris. kasihan Tania lagi hamil besar disuru kerja
Mia Camelia
banyak rahasia ingatan yg belum terungkap nih🤔
Hadi Mulyono
guziler perlu di bawa ke uya kiya biar di hipnotis tar kan jujur ngomongnya😄
mimief
iy kan,laki laki tuh aneh. buat nyari perhatian kita tuh ngelakuin segala cara🤣🤣🤣.
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
mimief
masa lalu adalah cerminan masa depan kita
mimief
kyk dihipnotis kl yaaa....🥹🥹🥹
biar trauma nya terputus
Mia Camelia
mungkin duanda nyiksa ayara pas lagi hamil muda 🤔🤔🤔
Hadi Mulyono
emang nanti Gabriel mati?
Hadi Mulyono
ayara ayo semangat balas lah dendammu
mimief
pantesan mereka sebegitu benci nya.
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
mimief
kalau kata di didrakor fix me..
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama
It's me Ri🥕: Benar kak, semakin bungkam maka akan semakin sulit untuk sembuh 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!