Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Hari Jumat sore menjelang malam akhirnya tiba di pusat kota.
Lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit mulai menyala terang menggantikan sinar matahari.
Bima menghentikan Lamborghini hitamnya di pinggir jalan yang agak sepi untuk meregangkan otot lehernya.
Ting.
[Sistem Pekerjaan Impian: Pembaruan Tugas]
[Kemajuan Tugas: 9/10]
[Host hanya membutuhkan satu pesanan bintang lima lagi untuk menyelesaikan tugas minggu ini]
"Akhirnya sampai juga di penghujung hari kerja," ucap Bima lega sambil memutar lehernya yang sedikit kaku.
Tiga hari terakhir ini berjalan dengan sangat lancar tanpa banyak drama yang berarti.
Nadhira sibuk dengan urusan internal perusahaannya sehingga tidak memanggilnya lagi untuk antar jemput.
Bima pun fokus berkeliling kota mengumpulkan pesanan dari berbagai macam penumpang jalanan.
Sebagian besar penumpang sangat takjub dan otomatis memberikan penilaian bintang lima setelah turun dari mobil mewahnya.
Ting.
Layar aplikasi di ponsel Bima kembali menyala menampilkan pesanan baru.
Titik penjemputan berada di Restoran Mutiara Laut.
Sedangkan tujuannya adalah Hotel Grand Cakrawala.
"Hotel Grand Cakrawala?" batin Bima membaca nama tempat tersebut dengan kening berkerut tipis.
"Ini kebetulan yang sangat menarik, aku memang berencana pergi ke sana besok pagi."
Bima segera menerima pesanan itu dan memutar arah mobilnya menuju lokasi penjemputan.
Hanya butuh waktu sepuluh menit baginya untuk tiba di depan restoran makanan laut kelas atas tersebut.
Dua orang pria berkemeja rapi tampak sudah berdiri menunggu di area valet restoran.
Pria yang lebih tua memiliki perut buncit dan memakai cincin emas berukuran besar di jari-jarinya.
Sementara pria yang lebih muda tampak seperti asisten pribadinya yang sigap membawakan tas kerja kulit.
Bima menghentikan kendaraannya tepat di depan mereka berdua.
Cklik.
Pria muda itu membukakan pintu belakang dengan sangat sopan untuk bosnya.
"Silakan masuk, Pak Tommy," ucap asisten itu sambil menahan pintu.
Kedua pria itu masuk ke dalam kabin mobil mewah Bima dan langsung duduk bersandar.
Aroma cerutu yang sangat menyengat langsung tercium saat Pak Tommy mendudukkan dirinya.
"Sopir, langsung jalan ke Hotel Grand Cakrawala sekarang, saya ada pertemuan penting," perintah Pak Tommy dengan nada angkuh.
"Baik, Pak," jawab Bima singkat tanpa menoleh ke belakang.
Vrooom.
Mobil melesat membelah jalanan malam yang mulai padat oleh kendaraan warga kota yang merayakan awal akhir pekan.
"Kamu sudah siapkan dokumen kontraknya, Anton?" tanya Pak Tommy kepada asistennya.
"Sudah, Pak, semua klausul yang menguntungkan pihak kita sudah saya masukkan ke dalam draf," jawab Anton cepat.
Pak Tommy tertawa pelan dengan nada yang terdengar sangat serakah dan licik.
"Bagus sekali."
"Aku dengar pemilik baru Hotel Grand Cakrawala itu belum pernah muncul ke publik."
"Dia pasti cuma anak konglomerat yang manja dan tidak mengerti kejamnya dunia bisnis perhotelan."
Anton menganggukkan kepalanya setuju membenarkan ucapan atasannya.
"Bapak benar, ini kesempatan emas untuk menekan harga suplai bahan makanan kita ke hotel mereka."
"Kontrak kita bernilai dua puluh miliar per tahun, kita harus buat dia menandatanganinya malam ini juga."
Bima mendengarkan percakapan dari kursi belakang itu dengan sangat saksama.
Berkat insting bisnis tingkat lanjut dari sistem, otak Bima langsung bisa membedah niat buruk mereka berdua dalam hitungan detik.
"Maaf menyela pembicaraan kalian, Tuan-tuan," ucap Bima dengan suara tenang dari kursi pengemudi.
"Tapi apa kalian yakin pemilik baru hotel itu sebodoh yang kalian pikirkan?"
Pak Tommy langsung mengerutkan keningnya tidak suka mendengar seorang sopir ikut campur urusan bisnisnya.
"Kamu ini cuma sopir, tahu apa kamu soal bisnis perhotelan tingkat tinggi?" tegur Pak Tommy sinis.
"Saya memang cuma sopir, tapi saya sering mendengar obrolan penumpang kaya," balas Bima santai.
"Hotel Grand Cakrawala itu aset yang bernilai triliunan rupiah."
"Orang yang bisa membeli aset sebesar itu secara tunai pasti bukan orang sembarangan yang mudah ditipu."
Pak Tommy mendengus meremehkan argumen yang sebenarnya sangat masuk akal tersebut.
"Uang banyak tidak berarti punya otak yang pintar, anak muda."
"Dalam dunia bisnis, yang senior dan berpengalaman sepertiku yang akan selalu menang menekan yang muda."
"Aku bisa membuat pemilik baru itu tunduk padaku hanya dengan beberapa trik gertakan kecil."
Bima tersenyum tipis melihat betapa tingginya kesombongan pria buncit di belakangnya ini.
"Bagaimana kalau ternyata pemilik baru itu tahu tentang permainan kotor suplai bahan makanan Anda?" tanya Bima memancing kelemahan mereka.
"Maksud kamu apa menuduh perusahaanku bermain kotor, hah?" bentak Pak Tommy mulai terpancing emosinya.
Bima melirik dari kaca spion tengah dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi.
"Saya cuma menebak saja berdasarkan apa yang sering terjadi di industri ini, Pak Tommy."
"Biasanya pemasok yang sangat memaksa kontrak jangka panjang itu sedang berusaha menutupi penurunan kualitas bahan baku mereka."
"Atau mungkin, sedang menutupi pembengkakan harga pasar yang tidak wajar untuk mengeruk keuntungan kotor?"
Wajah Pak Tommy dan asistennya mendadak berubah pucat pasi mendengar analisis yang luar biasa tajam tersebut.
Tebakan sopir taksi online ini seratus persen akurat mengenai niat busuk perusahaan suplai mereka.
"Tutup mulutmu, jangan berani-berani ikut campur urusan bisnisku lagi," ancam Pak Tommy dengan suara bergetar menahan panik.
"Fokus saja menyetir sebelum aku melaporkan kelakuan burukmu ini ke perusahaan aplikasimu agar kamu dipecat."
Bima tidak membalas lagi dan membiarkan keheningan yang mencekam menguasai sisa perjalanan mereka.
Dia sudah mendapatkan informasi yang cukup untuk menghancurkan pria sombong ini besok.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Bima memasuki gerbang megah Hotel Grand Cakrawala.
Bangunan hotel bintang lima itu menjulang tinggi membelah langit malam dengan lampu-lampu keemasannya yang memancarkan kemewahan mutlak.
Bima menghentikan mobilnya tepat di depan lobi utama yang berlapis marmer kualitas nomor satu.
Beberapa staf hotel berseragam merah rapi langsung mendekat untuk membukakan pintu mobil.
"Silakan turun, tagihannya lima puluh ribu rupiah dipotong dari saldo aplikasi," ucap Bima tanpa menoleh.
Pak Tommy turun dari mobil dengan wajah yang masih masam dan diliputi kekesalan.
"Dasar sopir tidak tahu diuntung, pelayanannya sangat buruk," gerutu Pak Tommy sambil merapikan jas mahalnya.
"Anton, pastikan kamu memberi dia penilaian bintang satu di aplikasi sekarang juga."
Anton mengangguk patuh dan buru-buru menekan layar ponselnya sebelum mengikuti langkah bosnya masuk ke dalam lobi hotel.
Bima hanya tertawa pelan melihat kelakuan kekanak-kanakan dua pebisnis licik tersebut.
Ting.
[Sistem Pekerjaan Impian: Pembaruan Tugas]
[Pesanan Kesepuluh Selesai]
[Peringatan: Penumpang memberikan penilaian bintang satu]
[Sistem sedang menganalisis keabsahan penilaian penumpang]
Bima menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk sambil menunggu proses sistem berjalan.
Dia tahu sistem ini sangat adil dan tidak akan membiarkan dirinya dirugikan oleh penumpang yang curang.
Ting.
[Analisis Selesai: Penumpang terbukti memiliki niat buruk dan memberikan penilaian palsu untuk merugikan Host]
[Penilaian bintang satu dihapus secara permanen, status pesanan diubah menjadi bintang lima sempurna]
[Selamat, Tugas Mingguan telah selesai 10/10]
Sebuah layar holografik biru yang jauh lebih besar dan terang dari biasanya mendadak muncul di depan wajah Bima.
Bima tersenyum puas membaca rentetan notifikasi keberhasilannya itu.
[Status Pekerjaan: Pengemudi Taksi Online telah resmi berakhir]
[Memasuki Periode Libur Akhir Pekan]
[Hadiah Penyelesaian Tugas sedang dihitung dan didistribusikan]
"Nah, ini dia bagian yang paling kutunggu-tunggu dari semua kegilaan ini," ucap Bima penuh semangat.
[Hadiah Utama 1: Uang tunai tambahan sebesar Rp 100.000.000.000]
Drrrtt.
Ponsel Bima di saku celananya langsung bergetar keras menerima pesan masuk dari pihak bank.
Saldo rekeningnya kini resmi membengkak menjadi seratus lima puluh miliar rupiah murni dalam waktu lima hari saja.
[Hadiah Utama 2: Keterampilan Mata Identifikasi Tingkat Dewa]
Bima mendadak merasakan kedua matanya sedikit memanas selama beberapa detik sebelum kembali normal.
[Mata Identifikasi memungkinkan Host melihat detail nilai barang, status seseorang, niat tersembunyi, dan kelemahan musuh hanya dengan satu tatapan]
"Kemampuan yang sangat mengerikan untuk dipakai berburu di dunia bisnis," batin Bima kagum dengan kehebatan sistem.
Dia mengalihkan pandangannya menatap tajam ke arah lobi hotel yang megah di depannya.
"Dan besok pagi, aku akan mencoba kemampuan baru ini langsung pada Pak Tommy dan seluruh jajaran direksi hotel yang berani bermain di belakangku."
Bima memutar kemudinya perlahan meninggalkan area lobi hotel miliknya tersebut.
Malam ini dia akan tidur dengan sangat nyenyak di kosan sempitnya untuk terakhir kalinya.
Karena mulai besok matahari terbit, status dan jalan hidupnya akan berubah total tanpa bisa dibalikkan lagi.