NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Asap Hitam

"Kalau begitu, tunjukkan pada Ayah sekarang juga. Mari kita lihat apa yang sebenarnya kamu temukan di dalam sana," ucap Lucas dengan suara rendah yang terdengar dingin, mengabaikan fakta bahwa malam telah sepenuhnya turun menyelimuti hutan.

Mereka berdua berjalan membelah semak-semak berduri yang lebat di bawah lindungan bayang-bayang malam. White memimpin di depan dengan langkah kaki yang terpincang-pincang menahan rasa nyeri. Rasa penasaran dan ketakutan bercampur aduk di dalam dadanya, memacu detak jantungnya menjadi lebih cepat.

Begitu mereka tiba di titik yang dimaksud, langkah kaki Lucas seketika terpaku mati di atas tanah. Pria paruh baya itu terbelalak sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Ia seolah kehilangan seluruh kata-kata untuk menggambarkan apa yang sedang tersaji di depan matanya.

Tepat di hadapan mereka, berdiri dengan megah sebuah bongkahan es kristal raksasa. Strukturnya teramat murni, jernih, dan memancarkan kilau keperakan yang aneh. Di dalam dinding beku setinggi dua meter itu, terperangkap sesosok tubuh pemuda.

Ia memiliki fitur fisik yang luar biasa tampan. Rahangnya tegas seperti dipahat oleh seniman terbaik, hidungnya mancung sempurna, dan ia mengenakan pakaian berbahan beludru mewah bersulam benang perak. Pakaian semacam itu tidak akan pernah dijumpai pada penduduk desa mana pun di sekitar wilayah mereka.

Pemuda itu tampak seperti seorang bangsawan agung dari kerajaan kuno yang terlempar dari dimensi lain. Waktu seolah berhenti berputar tepat di sekeliling tubuhnya.

"Ayah bisa melihatnya sendiri, kan? Apa sekarang Ayah masih menganggapku berhalusinasi?" tanya White, menoleh ke arah ayahnya.

"Iya... sekarang Ayah memercayaimu. Fenomena ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Lucas dengan suara rendah yang sedikit serak. Ia melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, mengamati bagian bawah bongkahan es yang terendam sebagian oleh aliran air sungai yang mengalir tenang.

"Coba perhatikan bagian kakinya dengan teliti, White. Bongkahan es ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mencair, padahal bagian bawahnya terendam air sungai yang mengalir konstan. Ini bukan es alam biasa, White. Ini es sihir tingkat tinggi," analisis Lucas dengan kening berkerut dalam, mengingat kembali catatan buku kuno kakek buyutnya tentang barier pertahanan absolut.

White ikut mendekatkan wajahnya. Ia memperhatikan detail yang ditunjuk oleh ayahnya dengan saksama. "Ayah benar. Struktur es ini sepertinya sama sekali tidak terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya."

"Mungkin... pria ini membeku secara tidak sengaja karena efek dari kekuatan sihir es murni milikmu saat mandi di dekat sini tadi?" tebak Lucas, mendadak menatap putrinya dengan pandangan menyelidik yang tajam.

White segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak mungkin karena aku, Ayah. Aku mandi hanya sebentar dan area air sungai yang membeku akibat sentuhanku tidak sampai meluas ke wilayah semak-semak ini. Apalagi sampai membentuk bongkahan tebal setinggi manusia."

Lucas mengangguk pelan. Ia menyetujui analisis putrinya sembari matanya terus memandangi kemewahan pakaian jasad tersebut yang memancarkan aura otoritas yang sangat kuat.

"Sepertinya dia bukan dari kalangan orang biasa. Lebih baik kita segera kembali ke kereta kuda dan melaporkan penemuan jasad ini kepada Pengawal Kota Arcania. Kita tidak boleh menyentuhnya sedikit pun agar tidak terlibat masalah."

Selagi Lucas berbalik sejenak untuk memeriksa jalur setapak dan memastikan tidak ada pengawal desa yang berpatroli di sekitar sana, hal lain terjadi pada White. Rasa penasaran yang membakar di dalam benak remajanya justru telah mencapai titik puncak. Ada sesuatu dari balik dinding es itu yang seolah terus menarik magnet energi di dalam tubuhnya secara paksa.

Dengan langkah perlahan, White melangkah mendekati bongkahan es misterius itu, mengabaikan peringatan ayahnya. Perlahan, White mengangkat kedua tangannya yang gemetar. Ia menempelkan kedua telapak tangannya tepat di atas permukaan es yang sedingin maut.

White memejamkan sepasang manik mata ungunya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai memusatkan seluruh fokus pikirannya pada aliran energi tersembunyi yang ada di dalam inti tubuhnya.

Krek... Krek... Krek...

Sebuah keajaiban supernatural mendadak terjadi. Bongkahan es purba yang tadinya tidak bergeming sedikit pun, kini mulai melunak. Es itu mencair dengan kecepatan yang tidak masuk akal di bawah sentuhan lembut jemari White, karena inti energinya merasakan ketenangan.

Air sisa lelehan es yang dingin mengalir deras, membasahi tanah kering hingga becek. Kejadian itu menyingkap tubuh pria misterius itu sepenuhnya tanpa ada lagi penghalang beku.

White memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat lagi. Ia membungkuk sedikit, menjulurkan jari telunjuknya ke bawah lubang hidung pria yang kini terbaring pasrah di atas hamparan rumput liar. Namun, hasilnya tetap nihil. Tidak ada pergerakan udara sama sekali. Kulit pria tampan itu terasa sangat dingin.

"Ternyata... dia memang sudah mati," bisik White dengan nada kekecewaan yang getir.

Perasaan sedih itu entah mengapa mendadak muncul begitu saja di dalam lubuk hatinya.

"Sayang sekali..."

Namun, pendengaran Lucas yang tajam menangkap suara gemercik air yang runtuh mendadak. Pria itu menoleh cepat ke arah White. Wajahnya seketika pucat pasi melihat tempat itu kini kosong dari bongkahan es abadi.

"White! Apa yang baru saja kau lakukan?!" tanya Lucas dengan nada panik yang luar biasa.

Matanya melebar, teringat peringatan buku kuno bahwa mencairnya es murni ini akan melepas aroma energi yang mengundang bangsa Demon.

White tersentak kecil dari lamunannya. Ia menoleh ke arah sang ayah dengan raut canggung. "Ah, itu... aku hanya penasaran, Ayah. Dan lihat... aku ternyata memiliki kemampuan untuk mencairkan struktur es misterius ini! Aku hanya menggunakan kekuatan sentuhanku!" ucap White dengan nada bangga, mencoba menutupi debar aneh di dadanya.

Di atas hamparan rumput yang basah, kini tergeletak bebas sosok laki-laki tampan bertubuh tegap dengan rambut cokelat yang basah kuyup.

"Ya Tuhan... kau mencairkannya?"

Suara Lucas terdengar bergetar hebat akibat rasa takut yang amat besar kini menyergap logikanya. Pria itu menatap tangan putrinya dengan cemas, tahu bahwa mulai detik ini, takdir perlindungan mereka atas White telah resmi bergeser ke arah marabahaya yang sesungguhnya.

"Iya, Ayah. Aku sendiri yang melakukan semua itu. Bagaimana menurut Ayah? Aku ternyata cukup hebat dan berguna, kan?"

White bersedekap dada. Ia mengangkat dagunya sedikit tinggi dengan raut wajah bangga yang kekanak-kanakan, berusaha menutupi rasa lelahnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, gadis itu merasa seolah-olah baru saja memenangkan sebuah pencapaian besar atas kemampuan spesialnya—kemampuan aneh yang selama bertahun-tahun ini selalu ia kutuk sebagai sebuah beban yang menyengsarakan dan merenggut masa mudanya.

Namun, rasa bangga dan kegembiraan itu sama sekali tidak bertahan lama di udara malam yang dingin.

Wusshhh!

Tiba-tiba, sebuah fenomena supernatural yang mengerikan terjadi tepat di depan mata mereka berdua. Gulungan asap hitam yang tampak sangat pekat, tebal, dan berdenyut secara tidak alami mendadak keluar berhamburan dari pori-pori kulit tubuh pria yang tergeletak di tepi sungai itu.

Asap hitam itu meliuk-liuk agresif di udara layaknya seekor ular bayangan raksasa. Asap itu melesat dengan kecepatan tinggi ke atas menembus kanopi pepohonan hutan, sebelum akhirnya menghilang ditiup oleh angin malam begitu saja tanpa bekas.

White dan Lucas terperanjat hebat. Darah di sekujur tubuh mereka mendadak berdesir sedingin es. Sontak, ayah dan anak itu secara instan melangkah mundur beberapa meter ke belakang dengan gerakan refleks yang waspada.

Mereka menciptakan jarak aman, sementara sepasang mata mereka sama sekali tidak lepas memantau tubuh misterius di hadapan mereka.

Bulu kuduk di sekujur tubuh mereka meremang seketika akibat tekanan aura yang mendadak berubah menjadi sangat pekat dan dominan. Udara di sekitar tempat itu mendadak terasa menghimpit dada.

"Apa... asap apa yang barusan keluar dari tubuhnya itu? Apa Ayah juga melihat fenomena aneh itu?" tanya White dengan nada suara yang mulai bergetar menahan ketakutan yang hebat. Ia langsung mengambil posisi kuda-kuda waspada.

Jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dada, membuatnya bersiap untuk berbalik dan berlari kapan saja jika asap hitam misterius itu kembali muncul menyerang mereka.

"Tentu saja, Ayah juga melihatnya dengan sangat jelas,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!