NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 - Gerobak Bakso Intan

Sebelum meneruskan perjalanan ke gudang, Dimas mampir lebih dulu ke gerobak es campur di Plaza Cendrawasih untuk menitipkan soal lemari pendingin kepada Intan.

Begitu tiba, ia mendapati kakaknya sedang sibuk melayani antrean yang cukup panjang; Dimas menunggu di pinggir berusaha mencari celah, dan baru setelah beberapa saat ia berhasil membuka suara.

Intan mendengarkan ringkas, lalu menjawab tanpa menoleh: "Setahu aku yang penting merek besar, dan usahakan yang bekas. Kalau soal memilih, tanyakan saja pada Bapak; toh yang nanti membelinya juga Bapak."

Dimas menggaruk kepala menanggapi jawaban sesingkat itu; ia benar-benar datang membawa terlalu banyak pertimbangan sendiri.

Dengan sepedanya ia meninggalkan plaza dan melaju ke arah gudang, sampai akhirnya tiba dalam keadaan baju basah kuyup oleh keringat.

Ketika Dimas sampai di gudang, Bapak sudah hampir selesai menyambung pipa air dan sedang mencoba keran.

Air memancar deras lalu mengalir ke saluran pembuangan dari paralon yang kemarin ia pasang; Bapak memutar dan menutup keran berulang kali seperti sedang menguji kesabaran air itu sendiri.

Melihat Dimas berdiri di ambang pintu dengan basah kuyup, Bapak terkejut: "Kamu dari mana saja? Bukan tadi disuruh melihat-lihat lemari pendingin? Bapak, sejak pagi aku belum berhenti sama sekali!"

Dimas duduk di tepi garasi sambil terengah-engah; bajunya menempel di badan seperti kain yang baru diperas.

Matanya lalu jatuh pada tumpukan karung dan kantong plastik di sudut gudang.

Ia bangkit, kesulitan mengangkatnya, lalu berjalan mendekat untuk membongkar: "Ini kapan datangnya, Pak? Sudah diperiksa belum?"

"Tadi pagi pemilik toko grosir mengantarnya langsung. Barangnya banyak dan bermacam-macam; aku juga tidak tahu pasti beratnya pas atau tidak."

Bapak mencuci tangan, menutup keran, lalu masuk menghampiri Dimas: "Kamu datang pas. Ayo, kita beli lemari pendingin!"

Sepanjang jalan menuju pasar peralatan, Dimas melaporkan harga-harga yang semalam ia catat.

Bapak mendengarkan sambil berpikir panjang. Terus terang ia lebih condong membeli merek besar; tetapi lemari pendingin merek besar yang baru harganya empat sampai lima juta, sedangkan yang bekas baru sejutaan saja.

Yang bekas memang banyak, tetapi tidak seorang pun tahu apa yang salah di dalamnya; bagaimana kalau baru dibeli, dua hari kemudian rusak beruntun?

Dimas melihat Bapak terdiam, lalu mengusulkan: "Pak, bagaimana kalau kita tanyakan soal merek besar bekas? Bapak ada kenalan yang paham barang-barang begini?"

Kalimat itu membuat Bapak ingat. Ia langsung mengangkat ponsel, melangkah keluar sebentar: "Halo, sedang sibuk?" Oh, kalau tidak ada kerjaan, bagaimana kalau bantu kulihat lemari pendingin bekas?

"… ya, ya, terima kasih." Begitu telepon ditutup, Dimas buru-buru bertanya: "Bagaimana, Pak?"

"Bapak punya teman yang perbaiki alat-alat listrik; dia pasti tahu seluk-beluknya. Nanti kita temui di pasar peralatan. Nanti, kalau sudah ketemu, panggil saja sesepuh; jangan banyak bicara macam-macam."

Bapak berpesan sambil menunjukkan jari. Dimas mengangguk mengerti, lalu keduanya berangkat dengan motor.

Ketika Ibu pulang tengah hari, ia terkejut mendapati Bapak sudah berada di dapur—bahkan sedang memasak.

"Semua urusan di gudang sudah beres?"

Bapak keluar membawa piring, mengusap peluh, dan tersenyum: "Sudah tuntas." Pagi tadi aku ke sana, belum sampai dua jam pipa dan kerannya jadi.

"Sekalian kubuat pula bak besar dari semen dan keramik untuk mencuci peralatan, lalu kulanjut ke pasar."

Ia menaruh piring, lalu meneruskan, "Di pasar kudapat lemari pendingin bekas merek besar, satu juta delapan ratus ribu; kondisinya masih bagus dan pemiliknya sudah tidak terpakai lagi, jadi tidak perlu cuci tangan macam-macam. Sudah kusuruh orang mengantarnya masuk gudang. Selain itu kubeli meja besar untuk tempat menaruh tungku; nanti masih harus ditambah panci dan baskom besar dari besi tahan karat, belum sempat kuburu sore ini."

Ibu mengira lemari pendingin kira-kira akan menghabiskan tiga juta.

Mendengar hanya satu juta delapan ratus ribu, ia senang bukan kepalang—keuntungan lebih dari satu juta rupiah.

Sejak melangkah masuk, bibirnya tidak pernah berhenti bersenandung: "Lek, Bapak tahu tidak, tadi pagi makelar meneleponku." Aku bilang sewa satu juta dua ratus ribu itu terasa mahal, bisa lebih murah tidak?

"Kalau tidak, terpaksa kami batalkan dan pindah ke apartemen relokasi saja."

"Makelarnya mula-mula masih kokoh." Begitu mendengar kami mau mengubah rencana, dia langsung melunak. Katanya soal harga bisa dibicarakan dengan tuan rumah, dan nanti sore kami bisa bertemu langsung.

"Besok aku masih bekerja, tidak bisa ikut. Kalau Bapak tidak ada kerjaan, temani Dimas ke sana. Baca syarat-syaratnya pelan-pelan, dan tekan harganya sebisa mungkin."

Ibu menyenandungkan sebuah lagu; orang yang sedang berbahagia memang langkahnya serasa ringan.

Bapak hanya menggeleng-geleng dibuat heran, tetapi suara senandung itu mengikuti langkahnya menuju dapur.

Tengah hari itu Bapak mengantar bekal ke Plaza Cendrawasih untuk Intan.

Sambil menunggu Intan menyudahi antrean pelanggan, ia menceritakan perkara rumah baru.

Intan berpikir sejenak lalu menjawab tenang: "Kalau bisa di antara satu juta sampai satu juta seratus ribu sebulan."

Bapak mengangguk: "Angka itu juga yang Bapak bawa."

Intan menambahkan, "Kalau sudah sepakat, periksa baik-baik apa saja yang termasuk di dalamnya; pastikan kami tidak akan disuruh angkat kaki beberapa bulan kemudian."

Bapak tersenyum dalam hati: anak sekecil ini, pikirannya selalu dua langkah lebih cepat daripada umurnya.

Sore itu Intan menutup gerobak dan pulang lebih awal.

Di rumah hanya ada Ibu, dan suasananya sedang sangat baik; dari ambang pintu saja ia sudah menangkap senandung yang mengalir dari arah balkon.

"Bu, Ibu nemu uang di jalan?"

Intan bercanda sambil bersandar di kusen pintu balkon.

"Lebih senang daripada nemu uang!" Ibu menjawab dengan mata berbinar.

"Bapakmu sudah sepakat dengan tuan rumah: sewanya satu juta lima puluh ribu sebulan, dibayar setahun sekali." Kontrak hitam di atas putih, sudah ditandatangani di sana! Total yang dibayar dua belas juta enam ratus ribu, terhitung mulai Agustus sampai Juli tahun depan.

"Kebetulan bulan ini tidak ada yang menempati, jadi tuan rumah langsung menyerahkan kunci; katanya kami boleh pindah sekarang, tidak perlu menunggu tanggal satu Agustus. Bapakmu dan Dimas barusan keluar membeli perlengkapan sehari-hari dan menaruhnya di rumah baru."

Ibu menjabarkan semuanya berurutan sambil tetap mencuci baju: "Selimut dan barang-barang lain di rumah ini nanti kita angkut pelan-pelan dalam beberapa hari. Kamu dan kakakmu yang mengurus itu; Ibu masih bekerja dan Bapak harus menjaga gerobak, kami tidak sempat."

Intan mengerutkan kening, lalu berkata dengan tenang: "Bu, aku dan Kakak selama dua hari ini sudah memindahkan banyak barang ke sana; sisakan sedikit saja di rumah ini. Nanti begitu Ibu tidak usah bekerja lagi, aku yang jaga gerobak bakso besoknya; dua hari kemudian Ibu yang mengambil alih. Baik, begitu caranya!" Ibu langsung setuju.

Di dalam hati Intan, sedikit demi sedikit yang ia susun sejak tiga bulan lalu perlahan menemukan tempatnya: rumah baru, gudang baru, dan gerobak kedua yang sebentar lagi berdiri.

Beberapa hari berikutnya, Intan dan Dimas memanfaatkan waktu orang-orang beristirahat dan setelah lewat pukul sembilan malam untuk memindahkan perlengkapan rumah.

Harta keluarga itu tidak banyak; yang paling tebal justru selimut-selimut hangat untuk musim dingin.

Di rumah baru semua peralatan sudah tersedia, tidak perlu lagi mengangkut barang elektronik seperti lemari pendingin dan mesin cuci.

Perabotan lama di sini disisakan secukupnya untuk tetap dipakai; selebihnya, beberapa potong pakaian musim hujan dan barang-barang kenang-kenangan masih menunggu giliran.

Paling lama beberapa hari sudah tuntas semuanya.

Tiga hari sebelum Ibu berhenti bekerja, Intan menatap gerobak bakso pertama mereka yang baru saja ditata rapi.

Ia memasang papan nama yang ditulis dengan spidol besar di bagian depan gerobak: **Bakso Intan**.

Hari itu juga ia mengadakan promosi potongan harga tiga puluh persen, dan pembeli berdatangan.

Banyak yang tertarik. Ada yang tergoda aroma gurihnya lalu memesan es campur sambil menunggu bakso matang; ada pula yang sekadar mengincar harga miring.

Seporsi bakso goreng biasanya sepuluh ribu, di masa promo cukup tujuh ribu; pentol kecil dua butir yang lazim lima ribu bisa dibawa pulang dengan tiga ribu lima ratus.

Ditambah harga yang memang lebih ringan daripada gerobak lain, maka usaha itu meriah; gerobak kecil mereka nyaris tidak pernah sepi, apalagi kabar harga miring ini tersiar cepat dari mulut ke mulut, membuat pembeli kian berdatangan.

Bapak yang sedang sibuk menuang es campur pun sesekali harus menengok panas minyak di penggorengan, khawatir bakso sampai gosong.

Ayah dan anak itu bekerja sampai mata berkunang-kunang; begitu melihat Dimas datang mengantar makanan, rasanya seperti melihat penyelamat.

Tanpa sempat menolak, Dimas langsung "ditahan" di situ untuk membantu mengangkat mangkuk dan membungkus pesanan.

Pada hari ketiga gerobak bakso berdiri, Intan kembali bertemu dengan Reza—bocah yang dulu berkata akan menjadi teman sekelasnya di SMA Nusantara 1, entah sungguh atau hanya omong kosong.

Begitu tiba di gerobak, Reza langsung memesan empat seporsi bakso goreng, dua puluh butir pentol kecil, empat butir pentol besar, serta delapan gelas es campur, lalu dengan royal menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan: "Tidak usah cari kembalian!"

Intan mengambil kalkulator, menghitung sebentar, lalu menatap Reza dengan mata menyipit.

Sejak itu, Reza mampir dari waktu ke waktu.

Setiap kali datang, Bapak diam-diam mengurangi hitungan satu gelas es campur dari tagihannya, karena ia tahu pemuda itu bakal menjadi teman sekelas Intan.

Lambat laun, Reza benar-benar tidak lagi merasa canggung.

Menjelang petang itu, sesudah ia selesai membungkus pesanannya, Intan berkata dengan ramah: "Omong-omong, mulai besok aku tidak menjaga gerobak lagi. Ayah dan Ibu yang akan mengurus kedua gerobak ini."

Reza menoleh heran sambil memegang barang belanjaannya, lalu mengangguk dengan wajah tenang: "Sekolah mulai beberapa hari lagi; memang harus istirahat sebentar. Meskipun kamu juara satu se-kota, tidak boleh sombong, kan?"

Intan tersenyum, tidak menjawab. Di matanya, gerbang SMA Nusantara 1 sudah terbayang menunggu di depan, dan di baliknya ada keluarga yang lambat laun mulai berjalan tegak setelah sekian lama menunduk.

1
Putry Chan
sebenarnya tadi itu apa ya
Kartika Candra Buwana: nanti akan tau deh
total 1 replies
Putry Chan
rumah ini beneran udh tua ya gak da yang tempatin juga banyak debu nya
Putry Chan
Kakek nya sudah tidak ada tapi kenangan itu masih ada sampai saat ini
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!