S 2. Novel "Jejak Luka"
Lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.
"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"
Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. MJ
...~•Happy Reading•~...
Dr Kirana merasa sedikit lega. "Enni, saya tinggal sebentar, ya. Ada yang mau saya kerjakan. Ikuti saja yang dikatakan Pak Bagas." Kirana memberikan kesempatan bagi Enni untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru, sebab akan sering bertemu dengan Bagas.
"Iya, Dok. Trima kasih." Jawab Enni cepat, sebab menyadari Kirana sangat sibuk sebagai dokter. Dia sangat terharu, melihat Kirana yang masih menyempatkan waktu untuk datang melihatnya diselah-selah kesibukan. Padahal sebagai dokternya, sudah datang sesuai jadwal bersama para perawat.
"Siap, Dok. Nanti selesai di sini, saya hubungi." Bagas yang sedang mengeluarkan perlengkapan wawancara, melihat ke arah Kirana sambil mengangguk pelan, sebagai isyarat mengerti maksud Kirana. Kirana hanya menepuk pundaknya sebagai isyarat pamit, lalu keluar ruangan.
Bagas kembali berhadapan dengan Enni dan berusaha menciptakan suasana ruangan Enni dirawat senyaman mungkin, agar Enni bisa berinteraksi dengan baik dan memberi keterangan sesuai yang dia harapkan.
"Permisi, saya minta tempat sedikit untuk letakan ini, ya." Bagas meletakan perlengkapan wawancara di pinggir tempat tidur. Enni segera menarik duduknya ke bagian atas tempat tidur, lalu melipat kakinya yang masih tertutup selimut sampai ke pinggangnya.
Semua gerakan dan cara Enni merespon membuat Bagas menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa geram pada orang yang lakukan kekerasan padanya.
Ia harus mengendalikan diri untuk tidak berkomentar atas luka atau mau memeriksa luka di bagian tubuh yang lain. Seperti dia lihat di foto, sebab belum berani berinteraksi dengan bebas seperti bersama orang lain.
"Karena anda tidak punya kartu identitas, tolong jawab saja yang saya tanya, sesuai data diri yang sebenarnya, ya." Bagas berkata lagi dan bersikap profesional. Agar bisa berjalan lancar dan cepat.
Enni menggangguk, mengerti. "Iya, Pak..."
"Ok, kita mulai." Bagas berkata serius saat melihat peralatan dan Enni telah siap untuk beri keterangan padanya.
"Nama...?"
"Enni Sriwedari..."
"Usia...?
"29, mau 30 tahun..."
"Status...?
"Belum menikah..."
"Alamat ....?" Enni menyebut alamat rumah orang tuanya, pelan dengan perasaan yang agak berubah, mengingat rumahnya.
"Pendidikan terakhir ...?"
"Kuliah..." Enni menyebut nama kampusnya.
"Baik. Untuk data diri, cukup sampai disitu dulu." Bagas meletakan pulpen dan notenya. Bagas memerlukan data diri utama Enni, sebelum memperoleh data sesuai kartu identitas.
"Sekarang kita maju ke kejadian pertama dengan ipar anda. Bisa?" Bagas menghindari pertanyaan dengan sebutan diper^kosa oleh ipar. Sebab dia masih berhati-hati untuk menyinggung kejadian itu.
Enni kembali mengangguk, mengiyakan. "Bisa, Pak..."
"Baik. Tolong sebutkan nama dan pekerjaan ipar anda." Bagas tidak mencatat, hanya merekam semua yang dikatakan Enni. Agar tidak ada yang terlewatkan.
Ketika Enni menyebut nama Bargani dan pekerjaannya sebagai polisi, Bagas melihat Enni dengan rahang yang mulai kaku. Saraf-saraf halus di kepalanya langsung memberikan sinyal, waspada. Mereka akan berhadapan dengan aparat kepolisian.
"Dia sudah lama menjadi ipar anda?" Tanya Bagas tanpa mengalihkan tatapannya dari Enni untuk mengukur akurat jawaban dan reaksi Enni membicarakan tentang iparnya. Dia perlu mengetahui reaksi Enni secara detail, sebab tidak terlihat dalam alat perekam suara.
"Mmmm... Belum setahun, Pak. Baru beberapa bulan. Jumlah bulannya, saya tidak pasti." Jawaban Enni membuat Bagas menarik kesimpulan, Enni adalah wanita cerdas. Sebab dia mengerti yang dikatakan Bagas sebelumnya. Jika jawabannya ragu-ragu, katakan tidak pasti.
"Baik. Jika masih ingat sikap ipar anda, sebelum kejadian itu, tolong ceritakan." Bagas ingin tahu, agar mereka bisa hadapi serangan balik. Jika ipar Enni dituntut atas perbuatannya.
Mathias telah berpesan kepada Bagas untuk menyelidiki sumber awal kekerasan yang dialami Enni. Agar bisa mengetahui suasana kebatinan Enni dan bisa menyusun dakwaan kepada siapa saja.
"Maksudnya, Pak?" Tanya Enni yang belum mengerti arah pertanyaan Bagas. Sehingga dia melihat Bagas dengan wajah bingung dan bertanya-tanya.
"Begini. Maaf, kalau saya menyebutnya, ya..." Bagas menunggu persetujuan Enni atas permintaannya. Saat melihat Enni mengangguk, Bagas ikut mengangguk, lalu lanjutkan minta keterangan dari Enni.
"Apakah ipar anda itu sekonyong-konyong lakukan tindakan pemer^kosaan, atau sebelumnya dia sudah tunjukan sikap yang tidak sepantasnya sebagai seorang ipar?" Bagas berharap, Enni bisa membedakan sikap pantas dan tidak pantas dalam hubungan saudara ipar.
"Ooh. Apakah seperti memegang tangan saya dengan tiba-tiba saat sedang mencuci piring sambil melakukan begini, maksudnya, Pak?" Enni bertanya sambil mempraktekan cara Bargani mengambil tangannya dan mengusapnya dengan sabun. Tanpa sadar Enni langsung memukul kedua tangannya bergantian dan berulang kali. Sebab dia merasa jijik, saat mengingatnya. Seakan kejadian itu belum lama terjadi.
"Cukuuup...!" Bagas mengangkat tangan untuk menghentikan yang dilakukan Enni. Membuat Enni berhenti.
"Iya, seperti itu. Kita bisa teruskan?" Tanya Bagas pelan, mengendalikan emosinya saat melihat Enni masih memegang erat kedua tangannya, agar tidak bergerak.
"Bisa, Pak. Maaf, tadi refleks. Jadi ingat lagi kejadian itu. Aku jijik sekali, maaf." Enni berkata pelan, lalu memasukan kedua tangannya di balik selimut.
"Baik. Begini, saya harus mengetahui detail sikap dan apa yang dilakukannya sebelum memper^kosa, agar jangan sampai dia bilang anda yang menggodanya. Bisa mengerti maksud saya?" Bagas berkata serius, sambil menyembunyikan emosinya yang sudah naik level.
"Iya, Pak. Mengerti." Enni berkata sambil mengangguk kuat, sebab dia bisa bayangkan itu. Dia sendiri tidak berani mengatakan sikap Bargani kepada kakaknya, sebab khawatir Bargani balik menuduh. Dia sendiri yang mau, dan menggodanya.
"Ada lagi tindakannya, selain itu?" Bagas merasa lega, Enni bisa bekerja sama. Walau dia terlihat berat dan berusaha keras mengendalikan diri.
"Ada, Pak. Saya mau ambil peralatan untuk bikin kue di atas lemari dapur. Saya naik kursi, lalu tiba-tiba dia datang memegang betis dan tangannya meraba naik ke paha saya." Enni sontak memegang pahanya dengan kedua tangannya.
"Saya langsung berteriak, lalu jongkok di atas kursi. Kakak saya datang dan tanya, mengapa berteriak. Tapi dia bilang mau pegang kursi supaya saya tidak jatuh." Enni berkata sambil memegang tangannya, agar tidak mengusap betis dan pahanya. Supaya tidak menimbulkan persepsi lain dari Bagas atas gerakannya.
"Baik. Jadi kakak anda tahu kejadian itu, ya. Ada lagi?" Tanya Bagas untuk melengkapi sebelum pindah ke bagian berikutnya.
Enni mengingat-ingat tindakan Bargani padanya. "Pak, boleh saya cerita yang saya rasakan saat itu? Hanya pemikiran saya saja, sebab belum tentu benar." Enni berharap apa yang dia pikirkan dan rasakan tentang Bargani, bisa menolong Bagas membelanya.
"Iyaa. Sekecil apa pun yang anda ingat dan berkaitan dengan tersangka, katakan. Mungkin sekarang tidak terlalu berarti. Tetapi pada saat kasusnya sudah mulai bergulir, saya bisa mengkonter tunduhan yang dituduhkan dengan jawaban dari kejadian sederhana dan kecil yang anda ceritakan." Bagas merasa lega, Enni bisa kerja sama lebih dari yang dia harapkan.
"Begini, Pak. Sebenarnya mungkin hubungan kakak saya dan dia sudah kurang baik sebelum menikah. Itu yang saya rasakan saat pertama kali bertemu dengannya...." Enni menceritakan kejadian di Mall saat dia dan kakaknya bertemu dengan Bargani yang sedang memegang tangan seorang wanita muda.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...