Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Jadi Saksi
Cun Yu yang sejak tadi mendengarkan akhirnya tidak tahan. Ia menatap Meng Lin dengan kesal. "Kalau memang kau tidak mau kami ikut, ya bilang saja baik-baik. Kenapa harus sampai menampar Meng Wan?"
Temannya yang lain ikut mengangguk. "Iya. Tinggal bilang tidak boleh ikut, selesai."
Tang Qi tidak langsung bicara. Sebenarnya ia sendiri sulit mempercayai cerita Meng Wan.
Ia mengenal Meng Lin cukup lama. Mereka saling menyukai dan sudah menjalin hubungan sebagai kekasih.
Tang Qi memang tidak menyukai gadis yang kasar. Selama ini, ia mengenal Meng Lin sebagai gadis yang lembut dan mudah mengalah.
Namun ada satu hal yang membuat situasinya sedikit rumit. Selain Meng Lin, Meng Wan juga sering memberinya hadiah.
Tang Qi menerimanya. Bukan berarti ia tidak menghargai Meng Lin. Meng Lin juga sering memberinya hadiah, hanya saja barang yang diberikan Meng Lin biasanya lebih sederhana dibandingkan pemberian Meng Wan.
Tang Qi tidak pernah benar-benar menganggap pemberian Meng Wan sebagai sesuatu yang serius. Tidak ada maksud lain, dia hanya menyukai pemberiannya.
Sekarang, melihat Meng Wan menangis seperti ini, ia merasa tidak bisa begitu saja membiarkannya.
Tang Qi akhirnya menatap Meng Lin dengan serius. "Lin Lin... Aku serius menjalani hubungan ini denganmu." Suaranya terdengar tegas. "Aku tidak pernah menganggap hubungan kita sebagai permainan."
Ia berhenti sebentar. "Aku memang ingin hubungan kita terus berlanjut. Kalau semuanya berjalan baik, aku bahkan ingin hubungan ini menjadi lebih serius."
Tang Qi menarik napas. "Tapi aku tidak bisa menerima kalau kau memukul orang lain tanpa alasan. Apalagi Wan Wan sepupumu!" Ia menatap Meng Lin lurus-lurus.
"Kalau kau tidak mau meminta maaf kepada Meng Wan..." Tang Qi mengepalkan tangannya. "...kita putus saja."
Begitu kata-kata itu keluar, semua orang terdiam. Namun yang paling aneh justru reaksi Meng Lin.
Tidak ada kesedihan. Tidak ada wajah pucat.
Tidak ada air mata. Sebaliknya, mata Meng Lin justru tampak sedikit berbinar.
Bagus sekali.
Ia sebenarnya sudah memikirkan bagaimana cara mengakhiri hubungan ini! Sekarang Tang Qi sendiri yang membuka jalan.
Ia bahkan tidak perlu mencari alasan.
Meng Lin mengangkat kepalanya. "Aku tidak mau meminta maaf." katanya dengan dingin.
Tang Qi membeku. Ia sama sekali tidak menyangka jawaban itu.
Meng Wan yang sejak tadi diam segera menyela.
"Tang Qi, jangan..." Ia menggeleng sambil menangis. "Jangan putus dengan Meng Lin hanya karena aku. Aku tidak apa-apa."
Ia menyentuh pipinya sendiri. "Tamparan itu... mungkin Kakak tidak sengaja."
Cun Yu langsung ikut bicara. "Wan Wan, kau terlalu baik."
Ia menatap Meng Lin. "Kalau memang Meng Lin tidak mau meminta maaf, ya biarkan saja Tang Qi memutuskannya."
Temannya mengangguk. "Iya. Masa sudah jelas begini masih membelanya?"
Meng Lin memandang mereka semua. Kemudian ia bertanya dengan tenang,
"Apakah kalian semua mendengar ucapan Tang Qi tadi?"
Cun Yu mengangguk. "Tentu kami mendengarnya.."
Meng Wan juga mengangguk pelan. Sedangkan Tang Qi tidak mengatakan apa-apa, dia malah bingung dengan sikap Meng Lin yang terlihat sangat santai.
Meng Lin melanjutkan, "Dia mengatakan kalau aku tidak meminta maaf, kami putus."
Semua orang mengangguk.
Meng Lin tersenyum tipis. "Baiklah." Ia memandang satu per satu wajah di hadapannya. "Kalau begitu, jadilah saksiku."
Tang Qi tiba-tiba merasa tidak nyaman. "Lin Lin..."
Namun Meng Lin sudah berbicara. "Mulai detik ini, aku dan Tang Qi putus."
Ruang tengah mendadak sunyi.
"Lin Lin!" Tang Qi benar-benar terkejut.
Cun Yu juga membelalakkan mata. Meng Wan bahkan sampai lupa menangis.
Meng Lin melanjutkan dengan tenang. "Kami tidak punya hubungan apa-apa lagi."
Tidak seorang pun menyangka ia akan mengambil keputusan secepat itu. Bukankah Meng Lin sangat menyukai Tang Qi? Bukankah selama ini dia dikenal sebagai gadis yang sangat mencintai kekasihnya?
Bagaimana mungkin hanya karena satu kalimat, dia memilih putus daripada meminta maaf?
Tang Qi menatapnya tidak percaya. "Lin Lin, apa maksudmu?" Nada suaranya mulai kehilangan ketenangan.."Aku cuma..."
Ia terdiam. Sebenarnya ia hanya ingin menekan Meng Lin agar meminta maaf. Ia tidak benar-benar berniat putus. Tetapi Meng Lin sama sekali tidak mengikuti alur yang ia harapkan.
Meng Lin menatapnya datar. "Kenapa? Bukankah kamu yang mau putus?"
Tang Qi tidak bisa menjawab. Bukan itu maksudnya, dia tidak benar-benar ingin putus. Banyak pria yang mengejar Meng Lin, banyak suka kepadanya, apalagi Meng Lin sangat canti. Jika dia putus, pasti besok ada banyak pria yang berlomba-lomba datang untuk mencari kesempatan.
Meng Lin tersenyum tipis. "Aku hanya mengabulkan keinginanmu."
Tang Qi berdiri terpaku. Meng Lin mengambil napas pendek sebelum melanjutkan. "Mulai hari ini, hubungan kita berakhir sampai di sini."
Tatapannya tetap tenang. "Ke depannya, kalau kita bertemu..." Ia berhenti sejenak. "Anggap saja kita orang asing."
Setelah mengatakan itu, Meng Lin berbalik dan kembali ke kamarnya. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam langkahnya.
Sementara di belakangnya, Tang Qi masih berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa gadis yang selama ini ia pikir akan selalu mengejarnya... ternyata bisa pergi begitu saja.
***
Tang Qi masih berdiri mematung di tempatnya.
Pikirannya belum mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.
Meng Lin benar-benar serius mengakhiri hubungan mereka?
Biasanya gadis itu selalu mengalah. Bahkan ketika dirinya bersikap dingin atau jarang menemuinya, Meng Lin tidak pernah benar-benar mempersoalkannya.
Namun hari ini berbeda. Tatapan gadis itu tenang, suaranya juga datar, tetapi setiap kata yang keluar terdengar begitu tegas.
Tang Qi tidak tahu harus melakukan apa. Dia ingin bertanya lebih banyak, tetapi ketika melihat jam tangannya, wajahnya langsung berubah.
Sudah terlalu siang. Waktu makan siang telah habis. Setelah ini dia masih harus kembali ke pabrik. Dan yang lebih menyebalkan, sejak pagi dia belum sempat makan apa pun.
Tang Qi menghela napas panjang. "Sudahlah. Aku harus kembali bekerja. Besok aku akan datang lagi. Aku harus membicarakan ini dengan jelas." Akhirnya Tang Qi berbalik dan pergi.
---
Setelah Tang Qi pergi, suasana di tempat itu tidak langsung kembali tenang. Cun Yu dan yang lainnya masih berada di sekitar Meng Wan.
Meng Wan duduk dengan wajah pucat. Matanya masih terlihat berkaca-kaca. "Cun Yu, mungkin aku memang salah..." gumamnya pelan.
"Jangan berpikir begitu." Cun Yu segera menghiburnya.
"Kamu hanya ingin membantu. Tidak ada yang menyangka Meng Lin akan bereaksi seperti itu."
"Benar," sahut gadis lain. "Aku juga merasa dia terlalu berlebihan."
Meng Wan menundukkan kepala. "Tapi aku memang mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan."
"Sudah, jangan dipikirkan lagi." Cun Yu menepuk bahunya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf terus-menerus." Meski berkata demikian, sebenarnya Cun Yu dan yang lainnya masih merasa aneh.
Mereka tidak benar-benar percaya Meng Lin akan memutuskan hubungannya dengan Tang Qi hanya karena kejadian kecil tadi.
Bahkan sebagian dari mereka menganggap Meng Lin sengaja bersikap tegas agar dirinya tidak perlu meminta maaf kepada Meng Wan.
Bagaimanapun juga, selama ini Meng Lin dikenal sebagai gadis yang pendiam dan mudah mengalah.
Tidak ada yang menyangka dia tiba-tiba berani mempermalukan Meng Wan di depan Tang Qi.
"Mungkin dia hanya sedang marah," ujar salah satu dari mereka.
"Besok juga pasti baik-baik saja."
"Ya. Lagipula Tang Qi pasti akan membujuknya."
Mendengar itu, Meng Wan perlahan mengangkat wajahnya. "Benarkah?"
"Tentu." Cun Yu tersenyum. "Jangan khawatir. Hubungan mereka sudah berlangsung lama. Tidak mungkin berakhir hanya karena masalah seperti ini."
Meng Wan mengangguk pelan. Wajahnya mulai terlihat lebih baik. Namun tidak seorang pun menyadari bahwa jauh di dalam hatinya, Meng Wan masih menyimpan rasa tidak nyaman.
Sikap Meng Lin tadi benar-benar berbeda dari biasanya.
---
Setelah memastikan Meng Wan sudah tenang, Cun Yu melihat waktu.
"Sudah hampir sore." Dia menghela napas kecewa. "Sepertinya kita tidak jadi pergi ke toko serba ada."
Rencana mereka yang sejak awal ingin pergi bersama akhirnya gagal total.
"Kalau bukan karena Meng Lin, kita tidak akan membuang waktu di sini."
"Benar."
"Padahal aku sudah menunggu dari tadi."
Cun Yu juga tidak membantah. Dia bahkan melirik ke arah tempat Meng Lin berdiri dengan tatapan kurang senang.
"Kalau tadi dia mau bicara baik-baik, semuanya tidak akan seperti ini."
Meng Wan segera berkata pelan, "Jangan salahkan Kak Lin Lin."
Namun justru ucapan itu membuat yang lain semakin kesal.
"Kamu masih membelanya?"
"Sudahlah, Meng Wan. Kamu terlalu baik."
"Jelas-jelas dia yang membuat semuanya kacau."
Meng Wan kembali menundukkan kepala.
Tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi dalam hati dia sangat bahagia, tamparan itu juga tidak sia-sia karena tidak perlu pergi ke toko serba ada.
Beberapa saat kemudian, Cun Yu berdiri.
"Kalau begitu kami pergi dulu."
Mereka semua berpamitan kepada Meng Wan.
Sebelum pergi, Cun Yu masih sempat berkata, "Jangan terlalu memikirkan masalah tadi. Besok semuanya pasti sudah selesai."
Meng Wan mengangguk. " Emmm.. Maaf ya, hari ini kita tidak jadi pergi. Mungkin beberapa hari kedepan, Ibuku juga tidak akan mengizinkanku keluar!"
"Tidak masalah. Kita bisa lain kali..!"
"Baiklah.. Kalian pulanglah, dan hati-hati di jalan..!"
.
.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍