NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMURNIAN LANGIT

​Sirine evakuasi melolong membelah langit pagi Sektor Pusat yang biasanya sibuk. Jalanan aspal bergetar di bawah jejak kaki jutaan warga yang berlarian panik menuju bunker perlindungan bawah tanah di Sektor 3 hingga Sektor 10. Di langit Sektor 1 dan Sektor 2, tidak ada satu pun burung yang berani terbang. Militer Asosiasi setempat telah ditarik mundur sepenuhnya atas perintah langsung Marcus, menyisakan zona mati yang lengang dan hening, menunggu badai turun dari Benua Tengah.

​Di atas atap menara observasi tertinggi Sektor 1, tiga siluet berdiri menantang angin yang mulai membawa hawa panas tak wajar.

​Bastian memukul perisai Legendary-nya dengan pedang pendeknya, menciptakan resonansi mana emas yang menyelimuti tubuhnya. "Pahlawan Nasional Peringkat Ketujuh, eh? Kemarin Peringkat Tiga, sekarang Peringkat Tujuh. Kita ini seperti magnet bagi orang-orang stres berlevel seratus ke atas."

​"Jangan remehkan dia, Kak Bastian," ucap Marvin, matanya menyipit menatap cakrawala utara. Kedua tangan remaja itu telah memancarkan kabut ungu dan hijau yang berputar saling mengunci. "Level 165. Itu berarti dia memiliki kapasitas mana sepuluh kali lipat lebih besar dari kita berdua digabungkan. Jika dia melepaskan sihir area, kita harus menahannya sebelum menyentuh tanah."

​Andre berdiri selangkah di depan mereka, ujung jubah hitamnya berkibar liar. Matanya yang segelap malam menatap awan putih di kejauhan yang mulai berubah warna menjadi emas menyilaukan.

​"Dia tidak akan sempat menyentuh tanah," gumam Andre, suaranya sedingin es. "Kaelen adalah seorang fanatik. Orang-orang fanatik bertarung menggunakan keyakinan, bukan logika. Jika keyakinan mereka dipatahkan pada benturan pertama, mereka tidak lebih dari sekadar kaca rapuh."

​Di cakrawala, armada Kapal Perang Suci dari Eden akhirnya muncul. Sepuluh kapal udara raksasa berbentuk salib yang terbuat dari logam putih mengkilap melesat menembus awan. Di geladak kapal utama, berdiri lima ribu pasukan Inkuisitor berbaju zirah perak, siap membumihanguskan segala yang ada di bawah mereka.

​Dan di haluan kapal utama tersebut, melayang sesosok pria berambut emas dengan dua pedang raksasa di punggungnya. Kaelen sang Pedang Matahari. Auranya memancarkan panas yang begitu ekstrem hingga awan di sekitarnya menguap menjadi ketiadaan.

​Kaelen menatap ke bawah, ke arah Sektor 1 yang telah dikosongkan. Matanya menemukan tiga sosok yang berdiri di atas menara observasi.

​"Hanya tiga ekor tikus?" suara Kaelen menggema dari langit, diperkuat oleh sihir resonansi suci hingga terdengar ke seluruh penjuru Sektor Pusat. "Inikah teroris yang berani menentang hukum Eden? Menyerahlah sekarang, dan aku berjanji api penyucianku tidak akan terlalu menyiksa jiwa kotor kalian!"

​Andre tidak membalas teriakan heroik nan klise itu. Ia hanya menoleh sedikit ke belakang.

​"Bastian, Marvin. Tetap di sini," perintah Andre.

​"Tunggu, kau mau maju sendirian?!" seru Bastian kaget. Menghadapi lima ribu Inkuisitor Level 80 dan seorang Pahlawan Level 165 secara bersamaan adalah definisi dari bunuh diri massal.

​Namun, sebelum Bastian sempat meraih bahu Andre, pemuda berbaju hitam itu telah menghilang.

​Bukan melompat, bukan pula terbang. Ia menggunakan Void Step yang digabungkan dengan kecepatan Black Lightning. Andre membelah ruang hampa, meninggalkan letupan udara kosong di belakangnya.

​Di atas langit, Kaelen masih tersenyum arogan, menunggu balasan ketakutan dari targetnya. Namun senyumnya membeku saat ia melihat pemuda berbaju hitam itu menghilang dari menara. Insting Peringkat Ketujuhnya menjeritkan bahaya absolut.

​ZRRAAAK!

​Andre muncul tepat di udara, lima puluh meter di depan haluan kapal utama Kaelen. Pemuda itu melayang di udara tanpa sayap atau sihir levitasi, murni memanfaatkan hukum inersia dari kecepatannya yang melampaui suara.

​"Hentikan dia! Tembak!" raung komandan Inkuisitor di geladak kapal.

​Ribuan Inkuisitor mengangkat tombak sihir mereka secara serempak. Dalam hitungan detik, lima ribu pilar cahaya suci ditembakkan dari geladak kesepuluh kapal, membentuk jaring laser pemusnah yang mengurung Andre dari segala arah. Langit pagi berubah menjadi putih menyilaukan. Tidak ada celah untuk menghindar. Serangan itu dirancang untuk menguapkan seekor naga tingkat Nightmare tanpa menyisakan abu.

​Di bawah sana, Marvin menahan napas, tangannya gemetar bersiap meluncurkan racun penangkal.

​Namun, di tengah kurungan lima ribu pilar cahaya tersebut, Andre tidak menghindar. Ia hanya mencabut Nocturne.

​[Skill Pasif: Devour Light Diaktifkan Secara Maksimal.]

​Bilah hitam legam dari pedang legendaris itu mendengung. Saat ribuan pilar cahaya suci itu menyentuh jarak satu sentimeter dari tubuh Andre, cahaya-cahaya itu tidak meledak. Alih-alih membakar, cahaya itu justru tersedot, melengkung, dan ditelan bulat-bulat ke dalam bilah Nocturne. Pedang itu bertindak seperti lubang hitam miniatur yang memakan seluruh energi bercahaya di sekitarnya.

​Ribuan Inkuisitor ternganga tak percaya. Serangan gabungan mereka, kebanggaan Resimen Pertama Eden, baru saja ditelan oleh sebilah pedang hitam tanpa menyisakan percikan sedikit pun.

​"Terima kasih atas mananya," bisik Andre, matanya memancarkan kegelapan mutlak.

​Ia mengangkat Nocturne tinggi-tinggi. Stigmata mahkota di dadanya menyala hebat. Andre membalikkan seluruh energi cahaya suci yang baru saja dihisap pedangnya, mencampurnya dengan elemen petir hitam miliknya, dan melepaskan tebasan horizontal memutar ke arah kesepuluh armada udara tersebut.

​"Black Lightning: Eclipse Slash."

​Sebuah cakram tebasan hitam yang tepiannya memancarkan petir biru gelap melesat keluar. Ukurannya membengkak dari dua meter menjadi dua kilometer dalam seperseribu detik. Cakram kematian itu tidak bersuara, mengiris udara dengan keheningan kosmik.

​Kaelen membelalakkan matanya. Ia merapalkan perisai matahari terkuatnya, menyilangkan kedua pedang raksasanya di depan dada.

​CLANK!

​Tebasan itu menghantam perisai Kaelen, mementalkan sang Pahlawan Nasional sejauh ratusan meter ke udara akibat daya dorongnya yang gila.

​Namun, kesepuluh kapal perang Inkuisitor di belakang Kaelen tidak memiliki Pahlawan Nasional untuk melindungi mereka. Cakram hitam itu melewati lambung kesepuluh kapal raksasa berlapis titanium tersebut layaknya pisau panas menembus mentega.

​Satu detik berlalu.

​KRAAAAAK! BLAAARRRRR!

​Kesepuluh kapal udara salib itu terbelah dua secara simetris di bagian tengah. Mesin anti-gravitasi mereka meledak serentak, menciptakan bola api raksasa yang mewarnai langit dengan warna jingga dan hitam. Jeritan lima ribu Inkuisitor tenggelam dalam gemuruh ledakan saat tubuh mereka dan bangkai kapal seberat ribuan ton mulai berjatuhan dari langit menuju zona kosong Sektor 1 seperti hujan meteor rongsokan.

​Bastian dan Marvin yang menonton dari menara menelan ludah secara bersamaan. Hanya dengan satu ayunan pedang, armada kebanggaan Eden musnah.

​Kaelen, yang berhasil menstabilkan posisinya di udara, memandang ke bawah dengan wajah pucat pasi. Pasukannya hancur berantakan sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di tanah. Kebanggaan sucinya terkoyak. Ia menatap Andre yang masih melayang di udara, mulai kehilangan ketinggian akibat inersianya yang habis.

​"Bidaah! Iblis!" raung Kaelen, urat-urat di dahi dan lehernya menonjol. Api suci yang membakar zirahnya kini meluap-luap, mengubahnya menjadi bola matahari buatan yang menyilaukan. "Aku akan membakarmu hingga ke akar jiwamu! Sun Blade: Solar Prominence!"

​Kaelen menukik turun dengan kecepatan penuh, kedua pedangnya menyatu membentuk pilar api matahari raksasa yang diarahkan tepat ke jantung Andre. Panasnya melampaui batas kewajaran, melelehkan kaca-kaca gedung pencakar langit di bawah mereka.

​Andre, yang sedang meluncur jatuh, hanya menatap pilar api matahari itu dengan pandangan bosan. Ia tidak menangkis. Ia memutar tubuhnya di udara, dan melepaskan tendangan kaki kirinya tepat saat pilar api Kaelen berjarak setengah meter dari wajahnya.

​Tentu saja, menendang sihir matahari dengan kaki fisik adalah bunuh diri. Namun, sebelum kakinya menyentuh api, bayangan Andre melesat keluar dari tubuhnya dan membungkus kakinya. "Shadow Art: Void Kick."

​Kaki berlapis bayangan itu menabrak pilar api Kaelen.

​Sihir matahari Peringkat Ketujuh itu tidak meledak; ia retak. Tendangan fisik Andre yang dimodifikasi oleh Atribut Strength dan efek spasial bayangan menembus langsung ke pusat serangan Kaelen, menghancurkan sirkulasi mananya, dan menghantam dada Kaelen dengan telak.

​Suara tulang rusuk yang patah terdengar nyaring.

​Kaelen memuntahkan darah segar dari mulutnya. Sihir mataharinya padam seketika layaknya lilin yang ditiup angin. Tubuh Pahlawan Nasional Peringkat Ketujuh itu melesat jatuh ke tanah seperti batu, menghantam aspal jalanan Sektor 1 dengan kekuatan ledakan bom, menciptakan kawah berdiameter lima puluh meter di tengah jalan protokol.

​Andre mendarat dengan ringan di tepi kawah tersebut. Tidak ada debu yang menempel di jubahnya.

​Di dasar kawah, Kaelen berusaha merangkak bangun. Zirah peraknya penyok parah, salah satu pedangnya patah, dan dadanya cekung ke dalam. Matanya dipenuhi rasa tak percaya yang melumpuhkan kewarasannya. Ia adalah Level 165. Ia adalah pilihan langsung dari Sang Hakim Suci. Bagaimana mungkin ia dikalahkan hanya dalam dua kali pertukaran serangan oleh seorang pemuda tak bernama?

​"Kau... siapa kau sebenarnya..." batuk Kaelen, memuntahkan lebih banyak darah emas.

​Andre berjalan menuruni kawah, langkahnya pelan dan berirama. Ia berhenti tepat di depan wajah Kaelen. Mata hitam pekatnya menatap rendah sang Pahlawan.

​"Kau terlalu berisik, dan apimu terlalu dingin," ucap Andre datar.

​Ia mengangkat Nocturne, ujung pedangnya diarahkan ke leher Kaelen.

​"T-Tunggu! Jika kau membunuhku, Arthur akan mengerahkan seluruh umat manusia untuk memburumu!" ancam Kaelen dengan suara bergetar, mencoba menggunakan sisa-sisa wibawa Eden.

​Andre sedikit memiringkan kepalanya. "Itulah yang kuharapkan. Beri tahu Arthur, anjing pesuruhnya gagal. Aku sendiri yang akan memotong lehernya."

​JRASH!

​Satu tebasan halus. Kepala Pahlawan Nasional Peringkat Ketujuh itu terpisah dari tubuhnya, mengakhiri hidup sang Pedang Matahari dalam kehinaan mutlak.

​Andre menyarungkan pedangnya, menatap langit Sektor 1 yang kini bersih dari armada suci, menyisakan kepulan asap hitam dari puing-puing kapal di kejauhan. Perang telah dideklarasikan, dan Rishing Guild baru saja membantai pembawa pesan dari Eden. Sang Hakim Suci tidak akan bisa tidur tenang malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!