Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Perasaan Yang Selama Ini Terpendam
“Aku...” Risa membuka mulutnya, hendak menjawab.
Tiba-tiba Yuda meraih pinggang rampingnya dan menariknya mendekat.
Tubuh Risa yang semula duduk berjarak kini berada dalam pelukannya.
Sebelum ia sempat bereaksi, Yuda langsung menunduk dan mencium bibir merah Risa.
Risa membeku, matanya membelalak kaget.
Ia terkejut dengan keberanian Yuda.
Kedua tangannya refleks menempel di dada Yuda berusaha mendorongnya.
Akan tetapi usahanya sia-sia, tubuh kuat Yuda tidak bergeming.
Sebaliknya, semakin ia meronta, makin erat tubuhnya dipeluk dan semakin intens ciumannya.
Beberapa saat kemudian, rasa hangat dari ciuman itu mulai merayap ke seluruh tubuhnya.
Tangannya yang tadi menahan dada Yuda mulai melemas lalu turun mencengkram erat sudut pakaiannya.
Perasaan yang sejak tadi memenuhi hatinya seakan menemukan jalan keluar begitu saja.
Rasa gugup, bahagia, dan keraguan yang selama ini bercampur menjadi satu perlahan tenggelam dalam ciuman tersebut.
Risa perlahan menutup matanya dengan pasrah.
Di sisi lain.
Yuda memeluk tubuh elok Risa erat, menikmati ciuman gairah dengan wanita yang akhirnya menerima perasaannya.
Beberapa saat kemudian, Yuda perlahan melepaskan ciuman itu.
Risa menarik napas panjang.
Wajah cantiknya memerah, terutama di bagian pipi dan telinga.
Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya tampak sedikit basah dan kemerahan, sementara dadanya naik turun, napasnya belum sepenuhnya teratur.
Yuda menatapnya dari jarak dekat.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Risa yang menyadari tatapan itu buru-buru menundukkan kepala.
Untuk beberapa saat, Risa hanya diam.
Ia masih berusaha menata napas dan mencerna apa yang baru saja terjadi.
Yuda memperhatikannya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Ada apa?"
Raut wajah Risa yang masih memerah seketika berubah cemberut.
Ia langsung meliriknya tajam. "Kamu masih sempat nanya?"
"Memangnya kenapa?"
"Kamu..." napas Risa mendadak tertahan.
Ia menatap wajah Yuda tampak sangat polos tak bersalah, seolah aksi ciuman intens tadi tidak berdampak apa-apa padanya, padahal senyuman di bibirnya mengembang begitu lebar.
Risa mendengus kesal melihat ekspresi menyebalkan itu. "Muka sok polos begitu, padahal kelakuannya nakal banget!"
Nada suaranya terdengar seperti protes, tetapi sama sekali tidak menyimpan rasa marah yang sungguhan.
Senyuman Yuda makin lebar. "Lagian bibirmu pas bilang 'aku...' tadi seolah-olah memang lagi minta dicium."
Risa terdiam beberapa detik.
Matanya membelalak sebelum wajahnya kian memerah membara.
"Kamu jangan asal ngomong ya! Pinter banget memutarbalikkan kata-kata... dasar buaya!" Risa mencubit keras lengan Yuda.
"Aduh, aduh." Yuda meringis pelan, tapi senyum di wajahnya sama sekali tidak pudar. "Aku kan cuma jujur bilang apa yang ada di pikiranku."
"Memangnya ekspresiku tadi tampak minta dicium?" dengus Risa tak mau kalah.
"Ya-" Suara Yuda seketika tertahan melihat tatapan ganas Risa.
Ia menelan kembali kata-kata yang ingin di ucapkannya.
Yuda berdehem pelan, pura-pura berpikir, "Nggak tahu,"
Lalu menatap wajah cantik Risa yang menggembung seperti tupai sedang makan.
'Lucu sekali.'
Ia kembali tersenyum tipis. "Tapi aku memang lagi ingin menciummu."
Risa seketika bungkam.
Jawaban frontal tanpa basa-basi itu membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Pipinya kian memanas.
Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah danau sambil bergumam pelan, "Dasar... mesum."
Yuda tersenyum makin puas melihat reaksi menggemaskan dari wanita di sebelahnya.
Sebenarnya, Risa sendiri tidak bisa menyangkal kalau ada rasa bahagia yang luar biasa membuncah di dalam hatinya.
Ternyata ia benar-benar mulai nyaman berada didekatnya.
Juga merasa menyukai perubahan dan inisiatif Yuda.
Risa tersenyum kecil tanpa sadar.
Namun, bukannya langsung menerima, berbagai pikiran justru bermunculan di kepalanya.
Apa Yuda benar-benar serius?
Atau hanya terbawa suasana?
Bagaimana kalau nanti dia hanya menyukai tubuhku?
Bagaimana kalau setelah beberapa waktu, Yuda mulai bosan dengannya lalu mendapatkan wanita yang jauh lebih muda dan lebih cocok dengannya?
Risa menundukkan kepalanya.
Ada satu hal lagi yang membuatnya semakin ragu.
Usia mereka.
Sembilan tahun bukanlah jarak yang sedikit.
“Yuda...”
“Hm?”
“Kamu yakin?” Risa mengangkat wajahnya kembali.
“Usia kita terpaut jauh...” Suaranya sedikit lemah saat ini.
Yuda hanya menatapnya menunggunya selesai bicara.
Risa terdiam sebentar, seolah masih mencari cara untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Sekarang mungkin nggak terlalu terasa."
Ia menatap Yuda. "Tapi nanti bagaimana?"
Yuda mengernyit sedikit bingung. "Maksudnya?"
"Kalau beberapa tahun lagi usiaku sudah semakin tua, sementara kamu masih muda..." Risa memaksakan diri untuk tersenyum lembut, tetapi ada sedikit keraguan di baliknya.
"Apa kamu masih akan melihatku dengan cara yang sama?"
Yuda terdiam.
Risa kembali menundukkan kepalanya. "Aku bukan takut kamu sekarang nggak serius."
"Terus?"
Risa menarik napas pelan sebelum menjawab.
Ia memainkan ujung rambutnya. "Aku mungkin sekarang masih terlihat seperti ini, tapi sepuluh tahun lagi aku sudah empat puluh."
Risa tertawa kecil, berusaha membuat ucapannya terdengar biasa. "Sementara kamu baru tiga puluh satu, aku hanya nggak ingin kamu mengambil keputusan sekarang, lalu menyesalinya nanti."
Risa kemudian kembali diam.
Itulah yang sebenarnya membuatnya ragu.
Bukan karena ia tidak bahagia mendengar Yuda menyukainya.
Justru karena ia sangat bahagia.
Ia takut kebahagiaan itu hanya akan menjadi sesuatu yang indah untuk sementara waktu.
"Yuda, kamu masih muda. Jangan mengambil keputusan hanya karena sedang merasa nyaman denganku."
“Karena...” Risa terdiam sebentar. “Kamu kaya, tampan, masih muda juga, pasti ada banyak pilihan gadis muda cantik yang tertarik padamu. Sedangkan aku sudah tua."
Nada suaranya perlahan berubah getir.
Yuda hampir tidak bisa menahan senyum.
Risa benar-benar mulai berbicara seperti seorang bibi yang sedang menasihati yang muda. 'Eh bentar... aku kan memang masih muda, baru 21 tahun.'
“Aku serius,” lanjut Risa. “Hubungan itu bukan cuma soal suka atau tidak suka. Kamu harus memikirkan masa depan juga.”
Yuda akhirnya tertawa.
Risa langsung mengerutkan kening.
“Apa yang lucu?”
“Tidak ada.”
“Jangan tertawa. Aku sedang serius.”
“Iya, Bibi Risa.”
“Siapa yang kamu panggil Bibi?”
Risa langsung mencubit lengannya.
Namun di balik protesnya itu, wajah Risa sudah memerah.
Dan jauh di dalam hatinya, ada satu harapan kecil yang sejak tadi berusaha dia sembunyikan.
'Semoga Yuda benar-benar serius.'
Yuda mengusap lengan bekas dicubit sambil tersenyum kecil.
Melihat Risa berbicara serius seperti itu, entah kenapa ia malah teringat pada bibi-bibi yang sering ditemuinya saat mengantar paket.
Pada saat yang sama, sebuah panel transparan muncul di hadapannya.
[Ding!]
[Pindai Emosi Target]
Target: Risa Aprilia
Emosi Saat Ini: Panik, Bahagia, Berharap, Tidak Percaya Diri, Merasa Tidak Cocok Karena usianya.
Favorability: 78>83↑— Menyukai
Tadi, saat Risa berbicara panjang lebar, ia menyuruh sistem memindainya.
Kemudian pandangan tertuju pada status emosi wanita itu.
Ia tak kuasa menahan senyum makin lebar.
Dari kata-kata Risa, dia memang terdengar seperti sedang menolak dan bahkan menasihatinya.
Namun perasaannya justru berkata sebaliknya.
Risa berharap.
Hanya saja, dia merasa dirinya tidak cukup pantas untuk berada di sisi Yuda.
Yuda kembali menatap wanita di sampingnya.
Risa masih terus berbicara, menjelaskan tentang perbedaan usia, kemungkinan Yuda bosan, dan berbagai alasan lain yang menurutnya perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.
Yuda mendengarkan semuanya tanpa menyela.
Dia tahu, semua kekhawatiran itu muncul karena Risa benar-benar memikirkan hubungan mereka.
Namun, semakin lama mendengarnya, Yuda semakin yakin pada satu hal.
Risa terlalu banyak meragukan dirinya sendiri.
Dan kali ini, Yuda tidak ingin membiarkannya terus berpikir seperti itu.
Ia akan membuatnya berhenti meragukan dirinya sendiri.
Saat Risa kembali hendak membuka mulut, Yuda mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya perlahan di depan bibir Risa, menghentikan perkataan wanita itu.
"Cukup."
Risa seketika bungkam.
Matanya menatap Yuda dengan pandangan bingung sekaligus bertanya-tanya.
Yuda tersenyum tipis sebelum perlahan menarik jarinya kembali.
"Aku tahu apa yang sedang kamu khawatirkan, Ris. Tapi sekarang, dengerin aku dulu."
Risa masih terdiam. Ia hanya menatap wajah Yuda, menunggu apa yang ingin dikatakannya.
"Aku mengerti kenapa kamu berpikir begitu," lanjut Yuda dengan suara tenang. "Karena dulu... aku juga pernah berada di posisi yang sama. Aku juga pernah merasa nggak pantas."
Risa sedikit tertegun.
Alisnya bertaut halus.
Ia benar-benar tidak menyangka Yuda akan mengatakan hal seperti itu.
"Ingat pertama kali kita ketemu dua tahun lalu? Waktu aku masih sering bolak-balik mengambil paket di rumahmu?"
Yuda tersenyum kecil, mengingat masa lalu mereka. "Jujur, saat itu aku merasa kamu menarik. Tapi waktu itu, cuma sebatas ketertarikan biasa."
Yuda menatap mata Risa dengan tenang. "Waktu itu aku masih sangat muda. Hidupku juga pas-pasan. Aku cuma seorang kurir biasa."
Ia berhenti sejenak. "Sedangkan kamu wanita dewasa yang mandiri, dan punya usaha sendiri. Jadi jangankan buat mendekatimu, terpikir untuk mengejarmu saja aku nggak berani."
Risa hanya diam mendengarkan.
Ia sama sekali tidak pernah menyadari kalau Yuda ternyata sudah memperhatikannya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Lalu waktu terus berjalan," lanjut Yuda.
"Selama dua tahun itu, interaksi kita memang cuma sebatas urusan pekerjaan. Tapi karena semakin sering bertemu, sesekali ngobrol dan kita mulai akrab, aku juga mulai mengenalmu sedikit demi sedikit."
"Dan tanpa sadar, rasa yang awalnya cuma ketertarikan mulai berubah."
Yuda terdiam sebentar. "Pelan-pelan, meski tidak mau mengakui, namun dalam hati, aku merasa mulai benar-benar menyukaimu."
Risa menahan napas. Tatapannya tidak lepas dari wajah Yuda.
"Tapi waktu itu aku memilih diam," Yuda menghela nafas sedikit. "Karena pemikiranku dulu... sebenarnya sama seperti yang kamu pikirkan sekarang."
Yuda tersenyum tipis. "Aku merasa nggak pantas berada di sampingmu."
Kalimat itu membuat Risa sedikit tersentuh.
Ternyata bukan hanya dirinya yang pernah merasa tidak cukup baik untuk berada di sisi orang lain.
"Bedanya..." Yuda berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
Tatapannya menjadi lebih serius.
"Kalau sekarang, aku sudah nggak merasa seperti itu lagi."
"Bukan karena aku merasa lebih hebat atau lebih kaya darimu."
Yuda menggeleng pelan.
"Tapi karena sekarang aku sudah tahu apa yang kuinginkan. Dan aku punya keberanian untuk mengejarnya."
Yuda kemudian meraih jemari Risa dan menggenggamnya dengan lembut.
"Jadi kalau kamu masih bertanya-tanya apakah aku yakin..."
Ia menatap langsung ke mata Risa. "Jawabannya iya."
"Aku yakin..."
"Sangat yakin."
Bab Berakhir.