Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rantang Sayur Asem, Preman Lapangan, dan Hukuman Sambal Terasi
Jam istirahat di SMAN 7 Bogor biasanya diwarnai oleh hiruk-pikuk siswa yang berebut siomay di kantin atau bermain gitar di bawah pohon rindang. Namun hari itu, suasana di pinggir lapangan basket luar ruangan terasa mencekam.
Dea duduk dengan tenang di bangku beton, memangku sebuah komputer tablet rakitannya sendiri. Ia sedang menyempurnakan kode satelit saat sebuah bayangan besar menutupi layar tabletnya.
Rio, kapten tim basket sekolah yang merangkap sebagai anak kepala dinas setempat, berdiri berkacak pinggang di depannya. Di belakangnya, tiga anggota tim basket lainnya menyeringai meremehkan. Rio terkenal sebagai penguasa sekolah yang tidak tersentuh; guru-guru pun segan menegurnya.
"Heh, anak aneh," sapa Rio sambil memantulkan bola basketnya keras-keras ke tanah, nyaris mengenai sepatu Dea. "Gue denger lu jago nge-hack. Ganti nilai Fisika dan Matematika gue di database sekolah jadi 90. Sekarang."
Dea tidak mendongak. Jari-jarinya tetap mengetik di atas layar. "Server sekolah sudah ku-enkripsi dengan protokol keamanan tiga lapis. Dan lagipula, aku tidak menerima pesanan manipulasi nilai dari orang yang kapasitas otaknya lebih kecil dari bola yang dia pegang."
Wajah Rio memerah. Ego kelelakiannya merasa diinjak-injak oleh seorang gadis berkacamata. Dengan gerakan kasar, Rio merebut tablet dari pangkuan Dea.
"Oh, lu nantangin gue?!" bentak Rio, mengangkat tablet itu tinggi-tinggi dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain mengapit bola basket. Ia berjalan menuju kolam ikan koi sekolah yang berada tepat di sebelah lapangan. "Lu ubah nilai gue sekarang, atau tablet butut lu ini gue ceburin ke kolam biar jadi makanan lele!"
Dea akhirnya menghela napas panjang dan berdiri. "Rio, aku sarankan kau meletakkan itu. Prosesor kuantum di dalamnya menggunakan pendingin nitrogen mini. Jika kau menjatuhkannya ke air dan pelindungnya retak, air kolam itu akan membeku dalam radius dua meter, dan ikan-ikan koi itu akan berevolusi menjadi fosil instan."
"Banyak bacot lu!" Rio tertawa mengejek, mengayunkan tablet itu ke atas permukaan air kolam. Siswa-siswa lain mulai berkerumun, berbisik-bisik tegang melihat perisakan itu.
Tepat pada detik itu, dari arah gerbang sekolah, sepasang suami istri berjalan masuk membelah kerumunan siswa dengan aura yang sangat tidak pada tempatnya.
Xander von Hapsburg melangkah tegap dengan wajah sedingin es. Mantan penguasa dunia bawah Eropa itu mengenakan setelan jas Armani serba hitam, lengkap dengan kacamata gelap. Namun, yang membuat pemandangan itu sangat absurd adalah benda yang ia tenteng di tangan kirinya: sebuah rantang susun empat bermotif bunga matahari yang berwarna kuning ngejreng.
Di sebelahnya, Tania berjalan santai mengenakan tunik kasual dan celana jin, tangannya sibuk memegang sebuah kipas anyaman bambu.
"Permisi, numpang lewat. Awas, sayur asemnya masih panas, nanti kuahnya tumpah," ucap Tania santai, menyingkirkan beberapa siswa yang menghalangi jalan.
Langkah Tania terhenti saat melihat Dea berdiri berhadapan dengan Rio yang sedang menyandera tabletnya di atas kolam. Insting emak-emaknya langsung mendeteksi adanya ketidakberesan.
"Dea? Kamu ngapain berdiri di situ? Ini Ibu bawain rantang, tadi pagi kamu lupa bawa bekal gara-gara buru-buru nyari flashdisk," panggil Tania dengan suara lantang.
Rio dan gengnya menoleh. Melihat seorang ibu-ibu membawa rantang dan seorang pria bule, Rio malah menyeringai makin lebar.
"Oh, ini emak lu, Dea?" ejek Rio. "Pantesan lu cupu, emak lu aja gayanya kayak tukang katering keliling. Heh, Tante! Anak Tante ini belagu banget. Mending Tante ajarin dia sopan santun sama senior!"
Udara di lapangan basket mendadak terasa berhenti mengalir.
Xander yang tadinya berdiri tenang, perlahan menurunkan rantang susun itu ke atas bangku beton. Di balik kacamata hitamnya, mata birunya menyipit tajam. Ada aturan tak tertulis di dunia bawah: kau boleh menghina Xander, kau boleh menantang pasukannya, tapi jika kau berani menghina Tania, kau baru saja memesan tiket VIP ke neraka.
Xander perlahan membuka kancing jasnya. "Tania," bisiknya dengan suara bariton yang berat dan mematikan. "Aku akan mematahkan kedua lengannya, mencabut lidahnya, dan menjadikan tubuhnya pupuk untuk pohon beringin sekolah ini."
"Mas, stop," desis Tania, menahan dada suaminya dengan satu tangan. "Ini area sekolah, bukan kartel Meksiko. Jangan ada darah. Biar aku yang urus."
Tania berjalan maju mendekati pinggir kolam. Ia menatap Rio dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan yang jauh lebih mengintimidasi daripada todongan pistol.
"Tong," ucap Tania santai, berkacak pinggang. "Balikin mainan anak saya. Dan minta maaf."
Rio mendengus congkak. "Kalau gue nggak mau, Tante mau apa? Mau laporin ke guru? Bapak gue kepala dinas, Tante! Guru aja takut sama gue!"
Untuk unjuk gigi, Rio sengaja melempar bola basket di tangan kirinya ke arah wajah Tania dengan kekuatan penuh. Siswa-siswa perempuan di sekitar menjerit panik.
Namun, bola itu tidak pernah mendarat di wajah Tania.
Dalam sepersekian detik, sebuah tangan besar berkulit pucat melesat dari belakang bahu Tania. Xander menangkap bola basket yang melaju kencang itu hanya dengan satu tangan.
Bunyi benturan keras menggema. Xander tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan ekspresi sedatar tembok, Xander meremas bola basket itu dengan kelima jarinya. Otot-otot lengannya menonjol di balik kemeja mahalnya.
BLLLLLPPP... PSSSSTTT!
Bola basket karet yang diisi tekanan udara penuh itu meledak kempis di dalam cengkeraman satu tangan Xander, layaknya balon tiup murahan yang dipencet. Xander lalu menjatuhkan sisa karet kempis itu ke tanah, menatap Rio dengan pandangan yang membuat jiwa remaja itu seakan melayang meninggalkan raganya.
"B-bapak lu... monster..." gumam Rio pucat pasi, tangannya yang memegang tablet mulai gemetar hebat.
Tania memanfaatkan momen keterkejutan itu. Dengan kecepatan seorang mantan grandmaster Silat Cimande, Tania melesat ke depan. Ia tidak memukul wajah Rio. Ia hanya menendang pelan bagian belakang lutut remaja bongsor itu, memotong titik keseimbangannya.
"Eh—wooo!" Rio kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang, tepat ke arah kolam ikan koi.
Tablet di tangannya terlepas dan melayang di udara. Dengan gerakan anggun layaknya menari, Tania menangkap tablet berharga ratusan juta itu dengan tangan kanannya, tepat sebelum benda itu menyentuh air.
BYURRRR!
Rio mendarat telentang di dalam kolam sedalam pinggang. Air berlumut membasahi seluruh seragam putihnya. Seekor ikan koi besar berwarna jingga kebetulan melompat dan menampar wajahnya dengan ekor, membuat insiden itu semakin memalukan. Tiga teman geng Rio mundur teratur, tidak berani berkutik melihat Xander yang masih berdiri bagaikan patung pencabut nyawa.
Tania membersihkan debu fiktif dari tablet Dea, lalu menyerahkannya kembali kepada putrinya. "Lain kali, kalau ada yang berani ambil barangmu, patahkan saja kelingkingnya, Nak. Ibu izinkan."
Dea menerima tabletnya dengan senyum tipis. "Siap, Bu. Tapi kayaknya tadi lebih seru lihat dia dicium ikan koi."
Tania lalu berjongkok di pinggir kolam, menatap Rio yang sedang terbatuk-batuk mengeluarkan air kolam bercampur lumut dari mulutnya.
"Gimana, Tong? Seger airnya?" sindir Tania sambil tersenyum manis. "Katamu kamu jagoan yang nggak takut sama guru? Bagus. Karena saya bukan guru. Saya emak-emak yang benci banget sama anak kurang ajar."
Tania memberi isyarat kepada Xander. Mantan bos mafia itu melangkah maju, mengambil rantang susun kuningnya, dan membukanya satu per satu. Aroma harum sayur asem, tempe mendoan, dan nasi hangat menguar ke udara. Di rantang paling atas, terdapat sebuah mangkuk kecil berisi sambal terasi ulek yang warnanya merah pekat kehitaman.
Tania mengambil mangkuk sambal itu. "Kamu tahu ini apa? Ini sambal terasi level dewa. Cabainya seratus persen cabai rawit setan dari pasar Bogor, diulek pakai cinta dan sedikit dendam kesumat."
Tania menunjuk Rio dan ketiga temannya yang gemetar. "Kalian berempat, duduk bersila di pinggir kolam sekarang. Berbaris!"
Tidak ada yang berani membantah. Bahkan Rio yang bajunya basah kuyup langsung melompat keluar dari kolam dan duduk rapi bersama teman-temannya.
"Hukuman buat anak yang suka bully temannya dan nggak punya sopan santun sama orang tua bukanlah skorsing," ucap Tania tegas. "Hukumannya adalah cuci mulut. Mas Xander, tolong bagikan tempe mendoannya."
Xander dengan patuh membagikan satu potong tempe mendoan kepada masing-masing preman sekolah itu, layaknya pramusaji restoran bintang lima yang sedang melayani tamu, namun dengan raut wajah ingin membunuh.
"Sekarang, colek sambalnya banyak-banyak, dan makan," perintah Tania, menodongkan kipas bambunya. "Kalau ada sisa sedikit saja di mangkuk itu, suami saya yang akan menyuapi kalian. Pakai sekop pasir."
Rio menelan ludah, menatap sambal merah menyala itu. Dengan tangan gemetar, ia mencolek sambal itu dengan tempe, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Teman-temannya mengikuti.
Tiga detik pertama, tidak terjadi apa-apa.
Pada detik keempat, wajah Rio berubah warna menjadi merah tomat. Matanya melotot lebar. Teman-temannya mulai memukul-mukul dada mereka sendiri sambil menjulurkan lidah. Rasa pedas yang meledak dari sambal buatan Tania tidak hanya membakar lidah, tapi seolah membakar jiwa mereka.
"HAAAAH! PEDAAAS! AMPUN TANTE! AIR! AIR!" jerit Rio histeris, air matanya mengalir deras seperti air terjun. Temannya yang satu lagi bahkan mulai merangkak memeluk tiang ring basket sambil menangis tersedu-sedu memanggil ibunya.
"Nggak boleh minum sampai istirahat selesai," putus Tania kejam namun sambil tersenyum keibuan. "Itu pelajaran biar mulut kalian dijaga. Paham?"
"P-pahaaam, Tanteee! Huhu, ampuun, pedas banget nyampe ke ubun-ubun!" ratap geng basket itu serempak, mengipas-ngipas mulut mereka yang dower.
Tania mengangguk puas, mengelap tangannya, lalu menoleh ke arah Dea yang sudah asyik duduk makan sayur asem dari rantang bawah dengan santai.
"Enak sayurnya, Nak?" tanya Tania lembut.
"Enak banget, Bu. Pas banget dimakan sambil nonton reality show orang kepedesan," jawab Dea santai.
Xander berdiri di samping istrinya, melipat tangannya di dada. Mantan raja dunia bawah itu memandangi para preman sekolah yang sedang menangis meraung-raung karena sambal terasi. Ia lalu melirik istrinya dengan pandangan penuh rasa hormat yang mendalam.
"Tania," bisik Xander pelan, "jika dulu The Elysium Court tahu resep rahasia sambal terasimu ini... mereka pasti akan menjadikannya senjata biologis pengganti nuklir."
Tania hanya tertawa renyah, merapikan rambut suaminya yang sedikit berantakan. "Makanya, Mas, jangan macam-macam sama masakan Nusantara. Ayo kita pulang, aku belum angkat jemuran di rumah."
Sepasang suami istri itu pun berjalan meninggalkan lapangan basket, bergandengan tangan menembus kerumunan siswa yang secara otomatis membuka jalan dengan penuh rasa segan dan takjub. Mulai hari itu, SMAN 7 Bogor punya legenda urban baru: Jangan pernah mencari masalah dengan Dea, kecuali kau siap menghadapi bola basket yang meledak, atau yang lebih mengerikan, sambal terasi maut milik Nyonya Hapsburg.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor