Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Menunggu Pedang dari Langit
Aula Perburuan Sekte Iblis dipenuhi bau arak dan darah.
“Hei!”
Seorang pria besar bermata satu mengangkat botol araknya ketika rombongan Su Yun masuk.
“Kalian pulang dengan tangan kosong?”
Tatapannya menyapu mereka satu per satu.
“Mana buruannya?”
Su Yun masih mempertahankan penyamaran Bayangan Pedang.
Di dalam Sekte Iblis, identitas yang digunakannya adalah seorang murid bernama Serigala Batu Hitam.
Ia menjawab tanpa ragu.
“Para murid Sekte Pedang Abadi melawan sampai mati.”
Su Yun menghela napas seolah kecewa.
“Jumlah mereka lebih banyak dari perkiraan. Kami terpaksa membunuh semuanya.”
Pria bermata satu mencibir.
“Semua mati?”
“Ya.”
“Pantas kalian terlihat babak belur.”
Ia menenggak araknya.
“Tapi keluar berburu dan tidak membawa satu tawanan pun?”
Pria itu meludah ke lantai.
“Sampah.”
Su Yun menatapnya.
“Apa katamu?”
Pria bermata satu langsung berdiri.
“Apa?”
Tubuh besarnya menjulang.
“Mau berkelahi?”
Su Yun mengamatinya beberapa saat.
Lalu berbalik.
Ia tidak datang untuk bertengkar dengan murid rendahan.
Pria itu tertawa dari belakang.
“Pengecut!”
Su Yun tetap berjalan.
Semakin diremehkan, semakin baik.
Dengan alasan terluka dalam perburuan, Su Yun meminta dua hari untuk memulihkan diri.
Permintaan tersebut diterima tanpa banyak pertanyaan.
Itu memberinya kebebasan terbatas untuk bergerak di dalam sekte.
Para murid Sekte Pedang Abadi yang kembali membawa kabar seharusnya sudah dalam perjalanan menuju sekte mereka.
Jika semuanya berjalan lancar, bantuan akan tiba.
Namun Su Yun tidak berniat hanya duduk menunggu.
Kristal Surgawi masih berada di dalam sini.
Dan kesempatan mendapatkan harta tersebut mungkin hanya datang sekali.
Pada pagi hari kedua, Su Yun meninggalkan ruang pemulihan.
Ia berjalan menuju bagian terdalam Sekte Iblis.
Tempat tinggal Pemimpin Sekte.
Semakin mendekat, penjagaan semakin ketat.
Bangunan-bangunan sederhana berubah menjadi paviliun batu besar.
Jalan setapak bahkan dihiasi batu giok dan logam spiritual.
Formasi terlihat samar di tanah.
Sekte ini jelas telah mengumpulkan kekayaan luar biasa melalui pembunuhan dan perampasan selama bertahun-tahun.
Su Yun tidak terlalu terkejut.
Berapa banyak kultivator yang hilang di Lembah Bulan Sabit?
Senjata mereka.
Cincin penyimpanan.
Obat.
Koin roh.
Semuanya kemungkinan besar berakhir di sini.
“Berhenti.”
Seorang penjaga menghadang.
Aura yang keluar dari tubuhnya membuat Su Yun langsung waspada.
Orang ini berada jauh di atas dirinya.
“Serigala Batu Hitam?”
Penjaga mengerutkan kening.
“Apa yang kau lakukan di wilayah Pemimpin?”
Su Yun memasang wajah serius.
“Ada masalah penting yang harus kulaporkan.”
“Masalah apa?”
“Aku hanya akan memberitahukannya langsung kepada Pemimpin.”
Tatapan penjaga berubah dingin.
“Katakan padaku.”
“Aku akan menyampaikannya.”
Su Yun menggeleng.
“Tidak bisa.”
Penjaga mulai tidak sabar.
“Kau pikir siapa dirimu?”
Ia menunjuk ke belakang.
“Pemimpin sedang sibuk. Pergi.”
“Baik.”
Su Yun berbalik tanpa perlawanan.
Penjaga sedikit terkejut.
Namun baru beberapa langkah, Su Yun berhenti.
“Kalau begitu, ketika masalah ini membuat seluruh sekte berada dalam bahaya…”
Ia menoleh.
“…aku akan mengatakan bahwa kaulah yang mencegahku melapor.”
Wajah penjaga berubah.
“Apa maksudmu?”
Su Yun tidak menjawab.
Ia kembali berjalan.
“Tunggu!”
Senyum kecil hampir muncul di wajah Su Yun.
Ia menahannya sebelum berbalik.
“Ada apa?”
Penjaga mendekat.
“Masalahnya benar-benar serius?”
“Kalau tidak, untuk apa aku mempertaruhkan leher datang kemari?”
Penjaga terlihat ragu.
Kalau yang dikatakan Su Yun benar dan ia menghalangi laporan penting…
hukuman Pemimpin Sekte mungkin lebih mengerikan daripada kematian.
Akhirnya ia menggeser tubuh.
“Masuk.”
“Tapi kalau kau mengganggu Pemimpin tanpa alasan…”
“Aku yang menanggung akibatnya.”
Su Yun langsung berjalan melewatinya.
Wilayah dalam jauh lebih mewah.
Sebuah jalan perak membelah halaman.
Tiga formasi besar menjaga jalur menuju Danau Roh.
Di seberangnya berdiri istana tempat Pemimpin Sekte berkultivasi.
Su Yun tidak mendekat.
Ia bahkan tidak berniat benar-benar meminta bertemu.
Tujuan utamanya adalah mengamati.
Jalur masuk.
Posisi penjaga.
Formasi.
Jarak antara paviliun.
Tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi.
Dan yang paling penting—
kediaman pribadi Pemimpin Sekte.
Su Yun mengeluarkan sedikit Bubuk Kamuflase lalu menaburkannya pada pakaian.
Auranya semakin sulit dibedakan.
Ia bergerak perlahan di sepanjang batas luar.
Tidak terlalu dekat.
Jika Pemimpin Sekte memiliki indra spiritual kuat, satu kesalahan saja cukup untuk membongkar penyamarannya.
Selama kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk membakar satu batang dupa, Su Yun menghafal hampir seluruh susunan wilayah tersebut.
Kemudian ia pergi.
Saat melewati penjaga tadi, Su Yun berhenti.
Wajahnya tetap serius.
“Pemimpin memberi perintah.”
Penjaga langsung menegakkan tubuh.
“Apa?”
“Pertemuanku hari ini tidak boleh dibicarakan.”
Su Yun menurunkan suara.
“Kalau bocor, kau tahu akibatnya.”
Wajah penjaga memucat.
“Mengerti.”
“Bagus.”
Su Yun menepuk bahunya.
Kemudian pergi.
Penjaga itu bahkan tidak menyadari bahwa Su Yun sama sekali tidak pernah bertemu Pemimpin Sekte.
Pekerjaan Su Yun belum selesai.
Setengah hari berikutnya ia berkeliling markas.
Gudang.
Jalur patroli.
Tempat tinggal murid.
Aula perburuan.
Pintu keluar darurat.
Beberapa area terlarang hanya diamatinya dari kejauhan.
Ia tidak serakah.
Informasi yang cukup lebih penting daripada mengambil risiko berlebihan.
Menjelang senja, Su Yun akhirnya kembali ke kamar milik Serigala Batu Hitam.
Ruangan itu lembap dan berbau tidak sedap.
Namun ia tidak peduli.
Su Yun duduk bersila di ranjang.
Bantuan belum tiba.
Berarti ia masih memiliki waktu.
Tangannya perlahan terangkat.
Energi spiritual mengalir keluar dari tubuh.
Sebuah cahaya biru tipis berkumpul di telapak tangannya.
Seni Pedang Tanpa Batas membutuhkan kendali yang sangat tinggi.
Tidak cukup hanya kuat.
Energi spiritual harus mampu diubah menjadi energi pedang yang stabil.
Su Yun memusatkan perhatian.
Bola energi di telapak tangannya mulai berputar.
Perlahan ia mencoba membaginya.
Satu.
Dua.
Tiga bagian.
Namun bagian ketiga langsung goyah.
Puff!
Energinya buyar.
Su Yun mengerutkan kening.
“Masih terlalu kasar.”
Ia mencoba lagi.
Kali ini, energi dibentuk menjadi lapisan tipis di atas telapak tangan.
Namun ketebalannya tidak merata.
Beberapa bagian terlalu padat.
Beberapa terlalu tipis.
Masalahnya jelas.
Kultivasinya masih berada di tahap ketujuh Alam Murid Roh.
Pemahaman dan pengalaman Su Yun jauh melampaui tubuhnya.
Namun tubuh tetap memiliki batas.
Untuk pedang pertama Seni Pedang Tanpa Batas, ia harus mampu mengubah energi spiritual menjadi Energi Pedang Roh dengan sempurna.
Setelah tahap itu dikuasai, barulah ia dapat mencoba mengendalikan pedang dari jarak jauh.
Dan suatu hari—
seratus pedang sekaligus.
Su Yun berlatih sepanjang malam.
Tidak tidur.
Tidak berhenti.
Setiap kegagalan hanya membuat kendalinya sedikit lebih halus.
Ketika fajar datang, matanya memerah karena lelah.
Namun senyum kecil muncul.
Kemajuannya nyata.
“Masih jauh…”
Ia mengepalkan tangan.
“Tapi cukup untuk dimulai.”
Su Yun makan untuk memulihkan tenaga.
Kemudian menatap cahaya pagi di luar jendela.
Waktunya hampir tiba.
Informasi tahanan sebelumnya kembali muncul dalam ingatan.
Pemimpin Sekte sering bersama istrinya pada pagi hari.
Artinya perhatian lelaki itu kemungkinan tidak sepenuhnya tertuju pada keadaan sekte.
Dan kalau para tetua Sekte Pedang Abadi datang sekarang…
kekacauan akan menjadi penutup terbaik.
Su Yun berdiri.
Ia meninggalkan kamar Serigala Batu Hitam sebelum orang-orang lain bangun.
Sekitar setengah jam kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
“Serigala Batu Hitam!”
Tidak ada jawaban.
“Serigala Batu Hitam, kau di dalam?”
Yang berdiri di luar adalah Zhang Da Qiang, salah satu murid Sekte Pedang Abadi yang ikut menyamar.
Ia mengetuk lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Wajahnya mulai cemas.
Apakah penyamaran Dewa Pedang terbongkar?
“Berisik sekali!”
Pintu kamar sebelah terbuka.
Seorang murid Sekte Iblis keluar dengan wajah kesal.
“Kenapa mengetuk terus?”
Zhang Da Qiang segera bertanya,
“Di mana Serigala Batu Hitam?”
“Dia?”
Pria itu menguap.
“Sudah pergi sejak pagi.”
“Hilang?”
Jantung Zhang Da Qiang langsung berdebar.
Dewa Pedang pergi sendirian?
Ke mana?
Belum sempat ia berpikir lebih jauh—
Denting!
Suara pedang tiba-tiba menggema dari langit.
Semua orang di sekitar markas mengangkat kepala.
Satu aura.
Dua.
Tiga.
Empat!
Empat tekanan pedang besar turun bersamaan dari atas Lembah Bulan Sabit.
Langit seakan dibelah.
Formasi pertahanan Sekte Iblis langsung bergetar hebat.
Kemudian terdengar suara keras menggelegar dari udara.
“Sekte jahat berani bersembunyi jauh di dalam Lembah Bulan Sabit dan membantai kultivator tak bersalah!”
Suara itu menyapu seluruh markas.
“Bagus!”
“Sangat bagus!”
“Hari ini aku, Pedang Badai, akan melihat siapa yang berani menghalangi Sekte Pedang Abadi membersihkan tempat ini!”
BOOM!
Empat cahaya pedang muncul di langit.
Wajah Zhang Da Qiang langsung berubah penuh kegembiraan.
“Empat Tetua!”
Akhirnya.
Bala bantuan telah tiba.
Namun pada saat seluruh Sekte Iblis dilanda kepanikan…
Su Yun sudah tidak berada di antara mereka.
Ia sedang bergerak menuju satu tempat yang sejak kemarin telah dipetakan dengan sangat teliti.
Kediaman Pemimpin Sekte.
Karena jika semua perhatian musuh tertuju ke langit—
siapa yang akan memperhatikan seorang murid rendahan berjalan menuju harta terbesar mereka?
Tatapan Su Yun menjadi tajam.
“Kristal Surgawi…”
Suara ledakan kembali mengguncang markas.
Su Yun mempercepat langkah.
“Sekarang giliranku.”
......................
Bersambung...