seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUJAN DARAH SEKTOR 3
Sirine peringatan Tingkat 2 melolong tanpa henti, membelah langit sore Sektor 3 yang kini berubah menjadi kelabu pekat. Di atas alun-alun kota yang biasanya ramai oleh pejalan kaki dan pedagang asongan, sebuah celah dimensi raksasa terkoyak di udara. Dari balik pusaran energi ungu tersebut, ribuan makhluk bersayap kelelawar dengan kulit semerah darah berhamburan keluar. Itu adalah Lesser Gargoyle, pasukan vanguard kasta bawah dari ras Iblis. Meski berstatus kasta bawah, level mereka setara dengan monster bos di dungeon tingkat Medium, membuat mereka menjadi mimpi buruk absolut bagi warga sipil biasa.
Kepanikan meledak di jalanan aspal. Mobil-mobil saling bertabrakan saat pengemudinya berusaha melarikan diri. Jeritan histeris memenuhi udara ketika para Gargoyle menukik tajam, menancapkan cakar-cakar tajam mereka ke bahu warga sipil, lalu menerbangkan mangsanya ke udara sebelum menjatuhkannya dari ketinggian. Darah mulai menggenangi trotoar. Bangunan-bangunan toko hancur dihantam bola api yang ditembakkan dari mulut para iblis.
Militer Asosiasi dan beberapa regu pemburu dari guild menengah yang sedang berpatroli mencoba memberikan perlawanan, namun jumlah mereka terlalu sedikit. Rentetan peluru sihir penembus zirah memecah langit, menjatuhkan beberapa Gargoyle, tetapi celah dimensi itu terus memuntahkan ratusan iblis baru setiap menitnya.
Di tengah kekacauan itu, seorang ibu muda mendekap erat putrinya yang menangis di balik sebuah mobil yang terbakar. Seekor Gargoyle berukuran dua kali lebih besar dari yang lain mendarat di atas kap mobil tersebut, mengendus bau ketakutan. Makhluk itu menyeringai, memperlihatkan deretan taring kuning, dan mengangkat cakarnya untuk merobek ibu dan anak tersebut.
Sang ibu memejamkan mata rapat-rapat, menunggu akhir hidupnya.
Namun, rasa sakit itu tak kunjung datang.
Terdengar suara benturan logam yang sangat keras. Sang ibu membuka matanya perlahan dan terkesiap. Seekor iblis setinggi dua meter itu kini terpental ke belakang, terlempar sejauh belasan meter, dada bidangnya remuk dihantam oleh sebuah perisai raksasa yang memancarkan pendar emas menyilaukan.
Bastian Valerius berdiri tegak di depan mobil yang terbakar itu. Zirahnya memantulkan cahaya api di sekitarnya. Ia menoleh ke arah ibu tersebut, tersenyum ramah, lalu menunjuk ke arah stasiun bawah tanah dengan dagunya.
"Jalur evakuasi Asosiasi ada di ujung jalan, Bu. Berlarilah. Jangan menoleh ke belakang," ucap Bastian tenang, suaranya dipenuhi otoritas yang membuat ibu itu tanpa sadar mengangguk patuh dan segera menggendong putrinya menjauh dari zona pertempuran.
Bastian kembali menatap ke depan. Di udara, belasan Gargoyle telah menyadari kehadirannya dan mulai menukik secara bersamaan, siap mencabik-cabiknya.
Bastian menghantamkan gagang pedang pendeknya ke perisainya, melepaskan gelombang kejut energi. "Absolute Provocation!"
Gelombang aura provokasi itu tidak hanya menarik perhatian belasan Gargoyle di dekatnya, melainkan ratusan iblis yang beterbangan di langit alun-alun. Mereka meninggalkan mangsa warga sipil mereka, mengubah rute terbang, dan melesat seperti kawanan lebah raksasa menuju satu titik fokus: Tuan Muda Valerius.
Bastian meringis melihat awan merah hitam iblis yang menerjangnya. "Semoga aku tidak mati konyol hari ini," gumamnya, menancapkan perisainya ke aspal jalanan. "Iron Will! Absolute Guard!"
Bastian menciptakan kubah emas kokoh di sekelilingnya tepat ketika ratusan iblis menghantam posisinya. Suara benturan yang terjadi terdengar seperti ledakan bom beruntun. Cakar, taring, dan tembakan bola api menghujani perisai Bastian tanpa henti. Energi pertahanannya berfluktuasi hebat, menyerap ratusan pukulan mematikan dan mengubahnya menjadi kekuatan struktur tambahan. Bastian menggertakkan gigi, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol. Ia berhasil mengumpulkan setidaknya tiga ratus Gargoyle di satu titik, menyisakan ruang udara yang jauh lebih bersih bagi pasukan evakuasi.
Di atap sebuah gedung perkantoran bertingkat lima belas yang menghadap langsung ke alun-alun, sesosok bayangan berdiri tanpa suara.
Andre menatap lautan iblis yang mengerumuni kubah emas Bastian di bawah sana. Matanya dingin, sedingin es abadi. Ia mencabut pedang peraknya. Energi Swordmaster dan Shadow Assassin melebur di sekujur tubuhnya, bukan lagi berwujud aura ungu atau perak, melainkan hitam absolut yang menyerap cahaya di sekitarnya.
Ini adalah kali pertama sejak reinkarnasinya, ia menghadapi ras iblis. Kebencian kuno yang mengakar dalam jiwanya sebagai Kaisar Kilat bereaksi. Udara di sekelilingnya bergetar. Atribut Strength dan Agility-nya yang terus ia kumpulkan diam-diam akhirnya dilepaskan sepenuhnya.
Andre melangkah dari tepi atap dan membiarkan tubuhnya jatuh bebas ke arah alun-alun. Gravitasi menariknya turun dengan kecepatan tinggi, menembus kabut asap tebal. Saat ia berada sekitar lima puluh meter di atas kerumunan iblis yang masih membombardir Bastian, Andre memutar tubuhnya di udara.
Ia tidak merapalkan sihir. Ia tidak meneriakkan nama jurus. Ia hanya mengayunkan pedangnya dalam satu putaran melingkar yang sempurna.
Wush.
Sebuah tebasan horizontal berupa garis hitam setipis rambut melesat keluar dari bilah pedangnya, membelah udara dengan kecepatan melebihi suara. Garis hitam itu meluas dengan cepat, membentuk cakram mematikan beradius ratusan meter.
Waktu seakan berhenti.
Garis hitam itu menyapu lautan Gargoyle di udara. Ratusan iblis yang sedang beterbangan atau menukik tiba-tiba membeku di tempat. Sedetik kemudian, fenomena yang sangat mengerikan terjadi. Kepala, sayap, dan torso ratusan iblis itu terpotong rapi secara bersamaan. Darah hitam kemerahan meledak di udara seperti hujan lebat yang mewarnai langit Sektor 3. Bangkai-bangkai makhluk neraka itu jatuh berhamburan ke aspal layaknya batu hujan es.
Di tengah hujan darah iblis itu, Andre mendarat dengan anggun di atas atap sebuah mobil van. Tidak ada suara benturan saat kakinya menyentuh besi. Jubah hitamnya tidak ternoda setetes pun darah berkat manipulasi bayangannya.
Bastian membatalkan kubah emasnya, bernapas terengah-engah. Ia menatap ratusan mayat iblis yang berserakan di sekitarnya, lalu menatap Andre dengan takjub.
"Pamer kekuatan, eh?" Bastian tertawa parau, mengusap peluh di dahinya. "Kau hampir membuatku kena serangan jantung. Kukira langit runtuh."
"Aku hanya membersihkan sampah," jawab Andre datar, menatap langsung ke arah celah dimensi ungu yang masih berputar di atas langit alun-alun. "Pertunjukan utamanya baru saja tiba."
Benar saja. Begitu gelombang pertama pasukan rendahan itu musnah, celah dimensi ungu itu membesar. Suara terompet perang dari tulang-belulang bergema, menggetarkan kaca-kaca gedung di sekitarnya. Dari dalam pusaran energi itu, melangkah keluar sesosok makhluk raksasa setinggi lima meter.
Makhluk itu tidak memiliki sayap seperti Gargoyle. Ia berdiri dengan dua kaki berotot, mengenakan zirah hitam pekat yang terbakar oleh api hijau. Ia membawa sebuah kapak raksasa beraliran lahar di tangan kanannya.
[Peringatan: Anomali Level Tinggi Terdeteksi!]
[Identitas: Intermediate Demon - General Xar'Goth]
[Estimasi Level: 75 (Setara Third Job Elite)]
Sistem memunculkan peringatan merah di retina setiap pemburu di area tersebut. Pasukan militer Asosiasi yang sedang mengevakuasi warga pucat pasi. Seorang Intermediate Demon adalah entitas komandan. Mereka membutuhkan setidaknya regu yang dipimpin oleh ketua guild besar untuk ditaklukkan.
Xar'Goth menjejakkan kakinya di udara yang kini mengeras seperti pijakan kaca. Mata apinya menatap tumpukan mayat anak buahnya di alun-alun. Ia mengaum marah, suaranya menciptakan gelombang kejut yang mementalkan mobil-mobil di bawahnya.
"Manusia kotor! Siapa yang berani membantai pasukanku?!" raung sang Jenderal Iblis, mengangkat kapak laharnya tinggi-tinggi. Ia mengunci pandangannya pada dua pemuda yang berdiri menantang di tengah alun-alun.
Xar'Goth mengayunkan kapaknya ke bawah. Sebongkah meteor api raksasa melesat dari langit, mengarah tepat ke posisi Bastian dan Andre. Daya hancurnya cukup untuk meratakan satu blok perumahan.
"Bastian. Mundur," perintah Andre dingin.
Bastian tidak membantah. Ia langsung melesat menjauh, tahu batas kemampuannya.
Andre menatap meteor api hijau itu tanpa berkedip. Ia tidak menghindar. Sebaliknya, ia membungkukkan badannya, menempatkan tangan kirinya di punggung, dan memegang gagang pedang dengan tangan kanannya. Seluruh otot kakinya menegang. Ia mengalihkan seluruh titik mananya ke Agility.
Saat meteor api itu berjarak kurang dari sepuluh meter darinya, tanah pijakan di bawah kaki Andre meledak hancur berantakan.
Tubuhnya melesat ke atas seperti kilatan petir hitam, menembus langsung ke pusat meteor api tersebut. Alih-alih terbakar, aura pedang Andre yang memadat membelah api hijau itu menjadi dua bagian yang melenceng dan meledak di gedung-gedung kosong di sekitarnya.
Xar'Goth melebarkan matanya yang menyala. Ia baru saja melihat pemuda manusia itu membelah sihir kelas atasnya, dan sebelum sang jenderal iblis sempat mengangkat kapaknya untuk bertahan, Andre sudah muncul tepat di depan wajah raksasanya.
"Kau terlalu lambat, iblis tingkat menengah," bisik Andre, suaranya sedingin kematian.
Andre mengayunkan pedangnya dalam gerakan vertikal yang sangat sederhana namun disempurnakan oleh pengalaman ratusan tahun. Pedang perak kelas atas itu tidak sanggup menahan beban tekanan Swordmaster level dewa yang disuntikkan ke dalamnya, bilahnya retak bercahaya terang sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.
Namun, sisa momentum energi pedang itu sudah cukup.
Garis hitam merobek udara. Zirah iblis tebal Xar'Goth yang dikabarkan tidak bisa ditembus oleh senjata konvensional terbelah layaknya kertas basah. Garis kematian itu mengiris lurus dari mahkota kepala sang jenderal hingga ke pangkal pahanya.
Xar'Goth mematung. Matanya yang menyala meredup drastis. Ia tidak mengeluarkan suara erangan. Tubuh raksasa setinggi lima meter itu terbelah menjadi dua bagian simetris, jatuh berdebum menghantam aspal alun-alun hingga menciptakan kawah kecil. Darah hitam membanjiri jalanan, menyebarkan bau belerang yang memuakkan.
Di saat bersamaan, celah dimensi ungu di langit kehilangan penopang energinya dan mengecil hingga akhirnya lenyap sepenuhnya tanpa bekas.
Andre mendarat dengan ringan di samping kawah tersebut. Tangannya hanya memegang gagang pedang yang sudah tidak memiliki bilah. Ia melempar gagang besi rongsokan itu ke atas mayat Jenderal Iblis, menghela napas pelan.
Di ujung jalan, ratusan warga sipil, pasukan militer Asosiasi, hingga tim berita televisi yang meliput dari helikopter tercengang membisu. Mereka baru saja menyaksikan sejarah. Sebuah bencana Tingkat 2 yang berpotensi meratakan separuh kota Sektor 3, dihentikan hanya oleh dua orang pemuda dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Kamera-kamera berdengung, menyorot tajam siluet Andre yang berdiri di atas genangan darah iblis, jubah hitamnya berkibar tertiup angin senja.
Bastian berjalan mendekati Andre sambil menepuk-nepuk debu di zirahnya. Ia menatap ke arah helikopter berita dan kamera Asosiasi yang memfokuskan lensa kepada mereka berdua. Senyum arogan namun berkarisma merekah di wajah sang Tanker.
"Kurasa," gumam Bastian, melirik Andre, "iklan gratis kita baru saja tayang perdana secara nasional."