"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawar Racun = Menikahi Arthur
Samantha berdiri di lorong sunyi sejenak, membiarkan raut wajahnya yang sempat melunak kembali membeku. Ia tidak mau orang lain, siapapun itu melihat keluarga bangsawan yang lunak. Karena itu, di setiap kesempatan, Samantha selalu memasang muka yang tegas dan dingin.
Baru beberapa langkah Samantha menyusuri koridor marmer, derap langkah tergesa-gesa seorang prajurit elit Pendragon menghentikan jalannya. Prajurit itu berlutut dengan napas tersengal dan wajah pucat pasi.
"Lady Samantha! Laporan darurat dari penjara bawah tanah!" ucap prajurit itu dengan suara bergetar.
Mata keemasan Samantha menatap tajam. "Bicara!."
"Cedric Ashworth... dia telah tewas di dalam sel tahanan, Milady."
Samantha tersentak"Tewas? Bagaimana bisa? Aku belum menyentuhnya, dan pengawal menjaga sel itu ketat!"
"Dia meminum racun yang tersembunyi di balik cincin stempelnya, Milady. Racun itu bekerja sangat cepat. Sebelum prajurit sempat menahannya, dia sudah tewas dengan bibir biru mengeluarkan busa di lantai sel."
Samantha mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku jarinya memutih. Kematian Cedric yang mendadak ini bukan sekadar tindakan putus asa seorang pengecut—ini adalah taktik pembungkaman. Ada tangan tersembunyi yang memastikan Cedric mati sebelum ia sempat membuka mulut di persidangan darurat Dewan Kekaisaran.
Dan hanya ada satu orang di kekaisaran ini yang memiliki akses, pengaruh, dan kepentingan sebesar itu untuk memutus lidah Cedric Ashworth.
Putra Mahkota Arthur Leonard de Oswold.
Aura membunuh yang dingin seketika memancar kuat dari tubuh Samantha. Tanpa mengucapkannya sepatah kata pun, ia berbalik kencang, mantel peraknya berkibar tajam. "Siapkan kendaraan! Aku akan ke Istana Barat sekarang juga!"
Dalam hitungan menit, mobil sedan hitam berlogo cakar naga milik Keluarga Pendragon melaju membelah jalanan berbatu ibu kota dengan kecepatan tinggi. Mesinnya meraung keras, membelah kabut pagi yang masih menggantung tipis di atas menara-menara istana. Samantha duduk di kursi kemudi, mencengkeram erat roda kemudi dengan rahang yang mengeras.
Pikiran Samantha berputar cepat. Cedric hanyalah pion murahan. Sejak awal, manuver Keluarga Ashworth untuk menjatuhkan Pendragon didukung oleh bayangan kekuasaan yang jauh lebih besar. Dan kini, setelah rencana penjebakan itu berantakan di pesta dansa, sang dalang utama bergerak cepat menghapus jejaknya.
BRUK!
Samantha membanting pintu mobilnya tepat di pelataran kediaman Istana Barat. Dua pengawal pribadi kerajaan mencoba menghalangi jalannya di depan tangga pilar emas, namun tatapan membunuh Lady Pendragon membuat mereka tertegun kaku, tak berani menghunus senjata.
Samantha menerobos masuk ke dalam aula penerimaan tamu tanpa ketukan.
Di ujung ruangan berdinding beludru merah dan emas, seorang pria berambut pirang keemasan tampak berdiri santai di dekat jendela tinggi, memegang gelas berisi wine merah. Ia mengenakan kemeja sutra putih bersulam emas.
Putra Mahkota Arthur Pendragon—sepupu mereka sekaligus pewaris tahta—berbalik perlahan. Senyum tipis yang anggun namun penuh racun terukir di wajah tampannya.
"Masuk tanpa ketukan seperti biasa, Samantha," sapa Arthur sambil meneguk wine dari gelasnya dengan santai. "Bagaimana keadaan Matthew? Aku mendengar kabar bahwa Grand Duke kita tercinta terluka parah oleh belati beracun."
"Cedric mati di sel bawah tanah sejam yang lalu," potong Samantha tanpa basa-basi. Suaranya serak oleh amarah yang tertahan. "Jangan berakting seolah-olah kamu tidak tahu apa-apa, Arthur!"
Arthur tertawa pelan, meletakkan gelas wine nya ke atas meja kristal. Ia melangkah mendekati Samantha, berdiri hanya beberapa jengkal di hadapan wanita itu.
"Cedric hanyalah sampah yang tidak berguna. Dia gagal menjalankan tugas sederhananya dan berani bertindak nekat di luar rencana," bisik Arthur dingin. Senyumnya pudar, berganti dengan tatapan penuh ambisi. "Dia memang pantas mati."
"Kamu yang menyuruhnya!" gertak Samantha, tangannya melayang menuju gagang pedang di pinggangnya. "Kamu menggunakan Ashworth untuk melemahkan Matthew!"
"Tentu saja," jawab Arthur jujur tanpa ada sedikit pun rasa takut. Ia menatap Samantha dari atas ke bawah dengan binar obsesi yang mengerikan. "Matthew terlalu kuat, Samantha. Dia menguasai militer, dia dicintai rakyat, dan posisinya sebagai Grand Duke Harrington membuat tahtaku sebagai Putra Mahkota selalu terancam. Aku butuh cara untuk menyingkirkannya."
"Dan kamu pikir aku akan membiarkanmu melakukan itu?!"
"Kamu tidak punya pilihan, Samantha," potong Arthur tajam.
Arthur hanya tertawa pelan. "Penawaran ku sangat sederhana, Lady Pendragon. Nikahi aku. Berdirilah di sampingku sebagai Permaisuri Kekaisaran saat aku naik tahta nanti. Dengan pernikahan politik kita, posisi tahtaku akan aman tanpa ada yang berani menentang, dan seluruh kekuasaan Pendragon akan menyatu dengan Kekaisaran."
Samantha menatap Arthur dengan tatapan paling jijik yang pernah ia miliki. "Dalam mimpimu, Arthur! Aku tidak akan pernah sudi menikah dengan ular sepertimu!"
Raut wajah Arthur seketika berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. Matanya tajam bagai bilah pisau.
"Kalau begitu, persiapkan pemakaman untuk kakakmu tercinta," bisik Arthur pelan di dekat telinga Samantha.
Samantha membeku. "Apa maksudmu?"
"Kamu pikir racun Black Widow's Tears pada belati itu berasal dari pasar gelap biasa?" Arthur tersenyum culas. "Itu adalah racun khusus koleksi rahasia Istana Barat. Penawarnya hanya ada di tanganku, Samantha. Jika kamu menolak lamaranku hari ini... aku tidak akan pernah menyerahkan penawar itu. Dan dalam tiga hari, racun yang mengendap di pembuluh darah Matthew akan membuat organ dalam tubuhnya busuk secara perlahan."
Napas Samantha tertahan. Dadanya terasa dihantam bongkahan es batu yang amat dingin.
"Kamu... kamu benar-benar iblis, Arthur!" cecer Samantha dengan suara bergetar hebat oleh amarah dan ketakutan akan keselamatan kakaknya.
"Aku adalah calon Kaisar kalian," koreksi Arthur dingin. Ia merapikan kerah bajunya dan menatap Samantha dengan penuh kemenangan. "Pikirkan baik-baik, Samantha. Kehidupan Matthew, masa depan Keluarga Pendragon, dan nasib gadis rakyat jelata bernama Evelyn itu... semuanya ada di tanganmu sekarang."