NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

"Tidak ada penolakan," tegas Bashkar pendek. Suaranya serendah guruh di kejauhan, memotong rengekan Zela tanpa celah kompromi sedikit pun. Pandangannya lurus menatap jalanan di balik kaca depan, seolah menganggap keberadaan Zela di sampingnya hanyalah angin lalu yang mengganggu.

Zela terdiam. Jemarinya yang tadi meremas ujung kemeja Bashkar perlahan melonggar. Kabin mobil mewah itu seketika kembali diselimuti kesunyian yang mencekam.

Di balik diamnya, otak Zela berputar cepat mengingat kembali ingatan novel yang pernah ia baca. Menghitung mundur lini waktu alur cerita, Zela sadar betul bahwa badai terbesar dalam hidup Bashkar akan meletus tepat dua bulan dari sekarang. Hari di mana musuh-musuh besar di dunia underworld dan pengkhianat internal akan bersatu membongkar rahasia keluarga Deluca, menjebak Bashkar hingga pria itu terpuruk di titik terendah dalam hidupnya hancur, terasingkan, dan sendirian tanpa satu orang pun yang berdiri melindunginya.

Dua bulan lagi... dia bakal mengalami masa-masa paling kelam dan terpuruk dalam hidupnya, batin Zela dengan dada yang mendadak sesak. Gue nggak peduli soal nasib gue nanti di novel ini, tapi setidaknya... sampai hari buruk itu tiba, gue nggak akan biarin dia ngerasain kesepian itu sendirian.

Zela menegakkan posisi duduknya. Ia membuang jauh-jauh raut bercanda atau gaya manjanya, menggantinya dengan tatapan yang amat tegar dan serius.

"Dua bulan," ucap Zela perlahan namun mantap.

Bashkar melirik dingin dari sudut matanya, tidak merespons.

"Aku masih mau jadi istri kamu... selama dua bulan lagi," lanjut Zela, menatap tepat ke samping wajah tampan suaminya yang sekeras pahatan batu. "Kasih aku waktu dua bulan. Setelah dua bulan itu berlalu... aku janji aku bakal pergi dari kehidupan kamu. Aku janji, Bashkar. Yakin deh."

Ia mengacungkan jari kelingkingnya di udara, bermaksud mengikat janji sederhana itu dengan senyuman tipis yang sangat tulus.

Bashkar menoleh sepenuhnya. Manik mata kelabunya menyipit tajam, berkilat berbahaya memancarkan aura kegelapan khas pemimpin mafia. Keheningan di antara mereka terasa begitu tegang hingga gesekan kain saja bisa terdengar nyaring.

"Jika kau mengingkari janji itu..." desis Bashkar dengan suara berat yang mengancam, "...maka aku sendiri yang akan mengusirmu dari dunia ini."

Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Kata 'mengusir dari dunia' dari mulut seorang Bashkar Deluca berarti sebuah kematian yang nyata.

Namun alih-alih gemetar atau menarik kembali ucapannya, Zela justru menyunggingkan senyuman manis. Matanya berbinar lembut tanpa ada riak ketakutan sedikit pun.

"Kamu tidak akan melakukannya," bisik Zela santai dan penuh keyakinan.

Sensasi pembangkangan dan tatapan tanpa rasa takut dari wanita di depannya ini secara mendadak menyulut kemarahan yang tertahan di dada Bashkar. Dengan refleks secepat kilat, tangan besar dan kekar milik Bashkar terulur maju!

SREK!

Cengkeraman kuat dan dingin meremas leher halus Zela, mencengkeramnya dan mendorong tubuh ramping wanita itu hingga bersandar keras ke pintu mobil!

Napas Zela tersentak tertahan. Cengkeraman jemari panjang Bashkar di lehernya sangat rapat, membatasi pasokan udara meski tidak sampai benar-benar meremukkan tenggorokannya. Pria itu mencondongkan tubuhnya yang tinggi tegap, memangkas jarak hingga hembusan napasnya yang hangat dan berbau mint menusuk kulit wajah Zela.

"Jangan pernah menguji kesabaranku, Zelara," desis Bashkar tepat di depan bibir Zela. Suaranya serendah bisikan iblis, sarat akan bahaya yang mematikan. "Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya. Sekali lagi kau bermain-main dengan nyawamu... aku pastikan kau tidak akan sempat melihat hari esok."

Di bawah cengkeraman tangan kuat yang bisa mematahkan lehernya dalam hitungan detik itu, Zela justru menatap lurus ke dalam manik mata kelabu yang penuh kegelapan tersebut. Di balik kemarahan dan ancaman membunuh itu, Zela bisa melihat betapa terisolasi dan penuh lukanya jiwa Bashkar.

Tanpa memedulikan rasa sesak di lehernya, Zela perlahan mengangkat tangan cantiknya, meletakkannya dengan lembut di atas punggung tangan Bashkar yang sedang mencekiknya mengelus kulit dingin suaminya dengan hangat.

Mobil yang membawa mereka akhirnya tiba kembali di mansion Deluca. Keheningan pekat yang menyelimuti perjalanan tadi perlahan memudar begitu mesin mobil dimatikan. Zela, yang kelelahan secara fisik dan emosional setelah rentetan kejadian sepanjang hari—mulai dari memasak subuh, keributan dengan Freya, hingga ketegangan di dalam mobil—langsung berjalan menuju kamarnya dan terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak.

Sementara itu, malam semakin larut. Di lantai dua, ruang kerja pribadi Bashkar tampak temaram. Hanya ada pendar cahaya remang dari lampu meja yang menyinari permukaan meja kayu jati hitam yang megah. Aroma asap cerutu tipis bercampur wangi kayu cendana memenuhi udara.

Klek.

Rian melangkah masuk dengan dokumen tipis di tangannya. Langkah kakinya tanpa suara, sangat terukur. Ia mendekati meja kerja Bashkar yang sedang duduk tenang memandangi luar jendela kaca raksasa.

"Tuan," panggil Rian dengan suara rendah dan penuh penghormatan.

Bashkar tidak berbalik, hanya menghembuskan asap cerutunya perlahan. "Bicara."

"Mengenai pergerakan Nyonya Zelara," Rian membuka laporannya dengan nada profesional. "Sesuai perintah Anda, saya sudah menempatkan orang-orang terbaik untuk menyelidiki kemungkinan adanya pengawas atau mata-mata yang berhubungan dengan Nyonya selama beberapa hari terakhir ini. Hasilnya... Nyonya Zelara sama sekali tidak melakukan kontak dengan siapa pun."

Bashkar memutar sedikit kursinya, melirik Rian dari sudut matanya yang kelabu.

"Sama sekali tidak ada," ulang Rian menegaskan. "Beliau tidak menemui pria dari masa lalunya, tidak ada pengiriman pesan rahasia, dan tidak ada transaksi mencurigakan. Setiap hari beliau hanya berinteraksi dengan para pelayan di mansion ini, serta... dengan Anda dan saya."

Laporan itu membuat keheningan kembali mengendap di ruangan tersebut. Bashkar mengetukkan jemarinya yang panjang di atas meja. Informasi ini bertolak belakang dengan dugaannya selama ini bahwa perubahan Zelara hanyalah bagian dari jebakan musuh-musuhnya. Namun, jika tidak ada dalang di baliknya... lalu apa yang sebenarnya merubah wanita itu?

Mengabaikan sebentar teka-teki tentang istrinya, manik mata kelabu Bashkar mendadak meredup, menyisakan kegelapan pekat yang amat mendinginkan darah. Aura kekejaman yang murni dan intimidatif menguar kuat dari tubuh sang gembong mafia.

"Bagaimana dengan dia yang di bawah tanah?" tanya Bashkar singkat. Suarasa serendah desisan salju, namun sanggup meremangkan bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya.

Rian sempat diam sejenak. Wajahnya yang biasanya kaku menunjukkan sedikit guratan kecemasan, membayangkan tempat paling terisolasi di kedalaman penjara bawah tanah milik keluarga Deluca.

"Dia..." Rian menelan ludah, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Tentu saja dia masih meronta-ronta, Tuan. Dia terus menerus memaki dan berteriak menuntut kebebasan."

Sebuah senyum tipis yang teramat dingin dan tanpa ampun terukir di bibir Bashkar tipe senyuman yang menandakan bahwa nyawa seseorang berada di ujung tanduk. Tidak ada rasa iba, tidak ada penyesalan, hanya ada sifat kejam tak tersentuh dari seorang pemimpin underworld.

"Biarkan saja dia di sana," putus Bashkar datar, mengibaskan tangannya santai seolah sedang membicarakan hal yang paling tidak penting di dunia. "Biarkan dia membusuk di kegelapan sampai dia benar-benar sadar... di mana posisinya yang sebenarnya."

1
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
Pelangi Jingga
di tunggu kelanjutannya tor
Apis
ini sebenarnya temanya apa yathor di indo pa di barat, ko manggilnya mas mb tp ada musim saljunya
Gustinur Arofah
karya baru semangat💪💪💪, sdh vote, like, komen, bunga dan kopi biar makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!