~DALAM TAHAP REVISI~
Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Nama Keluarga Itu
Kereta pertama tiba lima belas menit sebelum pukul tujuh. Danang turun tanpa berganti kemeja, tanpa tidur, dengan mulut terasa pahit oleh kopi stasiun. Kertas-kertas label dari karungnya masih terlipat di saku dada, lembap terkena dua kali hujan.
Di kereta, ia berkali-kali menyusun kalimat. Kalimat formal, santai, sampai yang seolah-olah muncul karena kebetulan ia lewat. Tak satu pun terasa seperti dirinya, dan akhirnya ia berhenti mencoba. Ia hanya tahu satu hal: orang yang bisa memberinya jawaban tanpa menjualnya adalah orang yang tidak punya apa-apa untuk dipertahankan.
Kios Pak Bambang berada di lorong ketiga pasar, di antara penjual bawang dan tumpukan kacang tanah yang masih berdebu tanah. Lelaki itu sedang menimbang karung, sarung terselip di pinggang. Ia mendongak, dan timbangannya nyaris terlepas dari tangan.
"Lho, Mas Danang? Kok mriki? Mboten kabar rumiyin?" (Lho, Mas Danang? Kok ke sini? Tidak mengabari dulu?)
"Nuwun sewu, Pak. Kulo badhe tanglet setunggal bab. Sanes urusan dagang." (Permisi, Pak. Saya mau bertanya satu hal. Bukan urusan dagang.)
Bambang menatapnya agak lama, lalu menoleh kepada anak buahnya. "Le, ngopi sik." Anak itu pergi tanpa bertanya. Bambang menarik pintu besi kios separuh ke bawah, mengambil dua dingklik plastik, lalu duduk lebih dulu.
"Mangga."
Danang duduk. Dari celah di bawah pintu, hanya kaki-kaki orang pasar yang terlihat berlalu-lalang.
"Kemarin Bapak bilang Pramesti itu pasaran," katanya. "Tapi Bapak juga bilang ada dalem sepuh di kidul kutho. Trah lama. Itu bukan pasaran, Pak."
Bambang mengembuskan napas panjang dan mengusap wajah dengan handuk kecil di bahunya. "Kulo kesupen mekak ilat, Mas." (Saya lupa menahan lidah, Mas.)
"Saya nggak minta Bapak ngrasani siapa pun." Danang mengeluarkan ponsel, membuka foto yang ia ambil dari bingkai pernikahan semalam, lalu menyodorkannya. "Saya cuma mau tahu siapa saja yang berdiri di belakang istri saya waktu itu."
Bambang menerima ponsel itu dengan kedua tangan. Ia memicingkan mata. Ibu jarinya berhenti di sudut layar, tepat di atas satu wajah.
"Niki Pak Hadi," katanya pelan. "Niki Mbok Jinem. Niki Pak Karno, ingkang ngurus pategalan. Niki..." Ia menyebut lima nama lagi, satu per satu, seperti orang membaca daftar hadir. "Sedoyo meniko abdi dalem Pramesti, Mas."
"Abdi dalem. Di pernikahan saya."
"Mboten wonten abdi dalem ingkang mboten rawuh nalikane putri dalem palakrama, Mas." (Tidak ada abdi dalem yang tidak hadir ketika putri dalem menikah.)
Danang tidak menjawab. Dua kata itu jatuh di dadanya, dan sesaat ia lupa bagaimana caranya mengisi paru-paru.
"Putri siapa, Pak?"
Bambang mengembalikan ponsel itu. Wajahnya, yang kemarin ramah sampai terkekeh, kini tampak diam dan tua.
"Raden Roro Raras Pramesti Kusumaningtyas." Ia mengucapkannya tanpa lagu, seperti menyebut nama yang tidak boleh diubah satu huruf pun. "Putrone Pak Aditya Pramesti. Putune Raden Mas Jayeng Kusuma, ingkang sepuh ing dalem kidul kutho."
Danang mendengar suara pasar di luar: tawar-menawar, bunyi timbangan, sepeda motor yang dipanaskan. Semuanya terdengar jauh, seperti berada di balik kaca.
Raden Roro.
Ia pernah menyebut Raras begitu pada bulan-bulan awal pernikahan mereka, sambil bercanda. Raden Roro Raras, kayak Roro Jonggrang. Raras hanya tersenyum tipis dan menuang teh. Danang mengira senyum itu muncul karena istrinya geli dibandingkan dengan tokoh candi.
"Dia nggak pernah bilang," katanya. Suaranya terdengar lebih kecil daripada yang ia rencanakan.
"Tiyang Jawi mboten nyebut gelar nek mboten perlu, Mas." (Orang Jawa tidak menyebut gelar kalau tidak perlu.) Bambang menunduk. "Malah sing nggadhahi gelar, biasane sing paling ajrih ngagem." (Justru yang punya gelar biasanya paling takut memakainya.)
"Tiga tahun, Pak." Danang meremas ponselnya. "Tiga tahun saya nggak tahu istri saya Raden Roro. Saya nggak tahu dia bisa..." Ia berhenti.
Bisa apa? Pertanyaan itu menggantung, dan ia tak sanggup menyelesaikannya.
Ia mencoba mencari pegangan. Pegangan lama yang selalu berhasil ia gunakan. Dia menyembunyikan ini dariku. Dia membiarkan aku mengangkat karung jam dua pagi sementara orang-orangnya mengurus gudang yang kusewa. Dia menonton aku jatuh bangun, lalu tersenyum waktu aku pulang.
Pikiran itu terasa benar. Terasa seperti tuduhan yang punya alamat, dan ia ingin sekali berpegang padanya.
"Nanging Mas mboten nate tanglet, to?" tanya Bambang lembut. (Tapi Mas tidak pernah bertanya, kan?)
"Orang nggak perlu bertanya kalau istrinya kerja di rumah, Pak. Itu..." Ia mendengar kalimatnya sendiri, lalu berhenti di tengah.
Ia mencoba membayangkan Raras berkata pada malam pertama mereka, Mas, saya Raden Roro dari keluarga yang punya dalem. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika itu terjadi. Apakah ia akan menikahi Raras sebagai Raras, atau sebagai nama itu? Pertanyaan tersebut lebih membuatnya takut daripada Hartono, bahkan daripada empat ratus dua puluh karung di gudang orang.
"Soal keluarganya," katanya akhirnya. "Pak Aditya itu pensiunan, saya kira."
"Pak Aditya mboten pensiun, Mas." Bambang menggeleng pelan. "Panjenenganipun ingkang ngatur nglampahi dalem."
"Ngatur apa?"
"Lemah. Pategalan. Gudang." Bambang menyebutnya satu per satu, seperti meletakkan batu di atas meja. Lalu ia menutup mulut, dan Danang melihat sungkan merayap ke wajah tuanya. "Kulo namung pedagang cilik, Mas. Bab lemah, gudang, sawah, niku sanes pangkat kulo. Kulo mboten wantun ngomong luwih saking niku." (Saya hanya pedagang kecil, Mas. Soal tanah, gudang, sawah, itu bukan pangkat saya. Saya tidak berani bicara lebih dari itu.)
"Saya cuma ingin tahu, Pak."
"Mas Danang sampun ngertos namane." Bambang tersenyum tipis, tanpa riang. "Sak niki Mas ingkang kedah nggoleki piyambak, mboten saking kulo." (Sekarang Mas yang harus mencarinya sendiri, bukan dari saya.)
Ia menegakkan punggung, tetapi lututnya tidak kuat menahan tubuhnya. Ia kembali bersandar pada dingklik.
"Pak Bambang kenal dia sejak lama?"
"Kulo tau ningali Ndoro Putri taksih alit, Mas." (Saya pernah melihat Ndoro Putri waktu masih kecil.) Mata Bambang menerawang ke lorong pasar. "Nyunggi sapu lidi, ngewangi Mbok Jinem nyapu latar. Sampun gadhah dalem, sampun gadhah gelar, nanging mboten nate gadhah swara ingkang inggil. Kulo mboten nate mireng piyambakipun mbentak, Mas." (Sudah punya dalem, sudah punya gelar, tapi tidak pernah bersuara tinggi. Saya tidak pernah mendengarnya membentak, Mas.)
Kalimat itu mengenai Danang di tempat yang tidak ia duga. Ia teringat bahwa selama tiga tahun, ia tidak sekali pun mendengar Raras meninggikan suara. Dulu, ia mengira itu tanda ketidakmampuan.
Danang memandang lelaki tua itu. Ia tahu Bambang sudah memberinya lebih banyak daripada yang seharusnya ia berikan, dengan harga yang tidak akan pernah ditagihnya.
Tangannya masuk ke saku dada dan menyentuh kertas-kertas label itu. Nama, jumlah, tanggal, dengan huruf miring yang rapi. Ia tahu itu bukan tulisan Raras. Namun, guru yang mengajari tangan itu menulis pasti orang yang sama dengan yang mengajari Raras, dan kenyataan itu membuat bahunya turun setengah jengkal.
Seorang anak kecil di dalem yang sama, pada tahun yang sama, pernah belajar menulis angka dengan benar, supaya suatu hari bisa mencatat timbangan karung untuk lelaki yang tidak pernah menanyakan apa yang ia catat.
"Matur nuwun, Pak." Ia berdiri dan membungkuk lebih dalam daripada yang dibutuhkan. "Kalau Raras tanya Bapak, apa Bapak akan bilang saya datang?"
"Kulo mboten badhe ngapusi, Mas. Nek dipun tanglet, kulo wangsuli." (Saya tidak akan berbohong, Mas. Kalau ditanya, saya jawab.)
Danang mengangguk. Itu jawaban yang adil, dan ia tidak punya hak untuk menawar lebih. "Saya nggak akan sebut nama Bapak ke siapa pun."
"Mboten nopo-nopo, Mas. Kulo sampun sepuh." (Tidak apa-apa, Mas. Saya sudah tua.)
Ponsel di tangannya bergetar saat ia menyentuh pintu kios. Bu Tutik.
Pak, maaf. Pak Hartono telepon kantor jam tujuh tadi. Pertemuan dimajukan jadi besok pagi pukul delapan, bukan Senin. Pak Joko sudah kirim jadwalnya. Saya sudah baca tiga kali.
Danang membaca pesan itu sekali. Tangannya mendingin.
Satu pesan lain menyusul, dikirim dua detik kemudian.
Dan Pak, Pak Surya sudah tanya Bapak di mana. Saya belum jawab.
lanjuut
🙏💪