NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Menuju Halal

Pondok Pesantren Darunnajah pagi itu riuh dengan cara yang berbeda. Bukan riuh santri setoran hafalan atau riuh ngaji bandongan, tapi riuh persiapan pernikahan Guznya yang ketiga.

Di ndalem putri, Ning Sopia berdiri kaku di depan cermin besar berbingkai ukir Jepara peninggalan Abah Yai. Kebaya putih syar'i dengan bordir mawar kecil di ujung lengan itu terasa begitu berat, bukan karena kainnya, tapi karena makna dan tatapan dua perempuan di belakangnya.

"Ndo, jangan ditahan napasnya, nanti pingsan loh," bisik Ning Ummah, istri pertama Guz Azam, sambil merapikan kerudung putih yang menjuntai panjang. Tangannya cekatan, sudah terbiasa mengurus Darunnajah sejak Abah Yai wafat.

"Bagian depannya biar aku ya Mbak," sahut Ning Latifah, istri kedua, dengan suara yang jauh lebih lembut. Dia merapikan bros mawar putih kecil di dada Sopia, memastikan tidak miring sedikit pun.

Ning Sopia menatap keduanya lewat cermin dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Ning Ummah... Ning Latifah... kenapa kalian baik banget sama Sopia? Padahal Sopia... Sopia kan mau jadi madu kalian... Sopia malu..."

Ning Ummah langsung mencubit pipi Sopia gemas. "Malu kenapa? Kamu itu adik kami, ndo. Kalau bukan kami yang ngerias calon adik kami, siapa lagi? Masa mau Guz Azam sendiri yang ngerias, nanti malah jadi kuntilanak putih, gagal nikah."

Ning Latifah tertawa pelan menahan haru. "Mbak Ummah ini jahilnya gak hilang-hilang. Sopia, kamu cantik banget hari ini. Abah Yai kalau masih ada pasti seneng lihat kita bertiga begini rukun. Ini yang Abah Yai mau dulu, Darunnajah dijaga bersama."

Mendengar nama Abah Yai disebut, suasana ndalem yang tadinya penuh tawa langsung menghangat haru. Umi masuk membawa kotak make up peninggalan Abah Yai untuk putri-putrinya. Melihat tiga menantunya berdandan bersama, saling bantu, Umi langsung mengusap air mata dengan ujung kerudungnya.

"Ya Allah... kalau Abah Yai sama Guz Faiz lihat dari atas, pasti bangga. Lihat... istri-istri Guz Azam saling bantu, tidak ada iri... Darunnajah ini kuat karena kalian rukun, nduk."

Tidak ada lagi tawa Guz Faiz yang biasanya akan menggoda dari pintu sambil teriak "Calon manten salting!" Kursi di sudut ndalem itu kosong. Tapi kekosongan itu justru diisi oleh kehangatan Ning Ummah dan Ning Latifah.

Siang harinya, rapat besar di pendopo utama Darunnajah. Karena Abah Yai sudah wafat, yang memimpin adalah Umi didampingi Paman Kyai dari pesantren induk, dan tentu saja Ning Ummah sebagai istri pertama yang memegang kendali penuh sebagai Wedding Organizer Darunnajah.

Ning Ummah membuka buku catatan tebal dengan tulisan warna-warni. "Oke, list final ya, tolong semua dengarkan. Ini amanah Abah Yai."

Semua terdiam, termasuk Guz Azam yang duduk dengan beskap hitamnya yang baru dijahit.

"Aula Darunnajah sudah fix, sesuai wasiat Abah Yai, biar semua santri 1000 orang bisa ikut mendoakan. Dekor: dominan putih hijau, mawar putih 500 tangkai sesuai mau Sopia. Bener ya Pi, 500?"

Ning Sopia mengangguk pelan, masih menunduk. "Iya Mbak... Sopia suka mawar putih, dulu Abah Yai pernah bilang mawar putih itu simbol cinta yang suci..."

"Mahar: kitab kuning tulisan tangan Abah Yai yang asli, seperangkat alat sholat, plus cincin emas 2 gram. Hantaran: 7 kotak. Catering: dapur pondok, menu nasi kebuli, sate ayam, es degan. Aku bagian konsumsi sama dekor sama berantem sama tukang bunga."

Ning Latifah mengangguk, melanjutkan dengan buku catatannya sendiri yang lebih rapi. "Aku bagian tamu undangan sama hantaran ya Mbak Ummah. Hantarannya 7 kotak udah aku siapin, isinya mukena, Al-Qur'an, dan gamis. Undangan 1000 santri plus keluarga besar Bani Yai. InsyaAllah aman."

Guz Azam yang duduk di depan mereka hanya bisa menunduk dalam, suaranya berat menahan haru. "Terimakasih... Ummah, Latifah... Azam tidak tahu harus balas apa. Kalian ikhlas bantu persiapan Sopia, padahal harusnya..."

"Harusnya apa?" potong Ning Ummah tegas tapi sayang, khas istri pertama. "Guz, ini perintah Abah Yai dulu sebelum wafat kan? Darunnajah harus dijaga bersama, bukan sendiri. Sopia itu juga titipan Abah Yai ke kita semua. Jadi jangan bilang terimakasih, ini kewajiban kami sebagai kakak untuk adik kami. Kami ridho, Guz."

Ning Latifah menambahkan lembut sambil menggenggam tangan Ning Sopia yang dingin. "Lagi pula, Sopia orangnya baik, Guz. Kami sayang Sopia seperti adik kandung sendiri. Kami cuma mau besok akadnya lancar, biar Abah Yai sama Faiz tenang di alam sana melihat Darunnajah masih rukun."

Malam menjelang gladi bersih akad di masjid Darunnajah, suasana paling mengharukan terjadi.

Masjid sepi, hanya diterangi lampu kuning temaram. Hanya ada Paman Kyai yang akan menjadi wali hakim menggantikan Abah Yai, beberapa ustadz sepuh sebagai saksi, dan Guz Azam yang duduk bersila di depan dengan microfon kecil.

"Azam, coba ijabnya, yang lantang seperti ceramah Jumat," pinta Paman Kyai.

Guz Azam menarik napas panjang. "Saya terima nikahnya Sopia binti Kyai Ahmad..."

Berhenti. Lupa. Grogi. Tangan dingin lagi.

Paman Kyai tersenyum haru. "Santai, Zam. Abah Yai kalau lihat kamu grogi begini pasti tertawa. Beliau dulu juga grogi waktu nikah dengan Umi. Kalau grogi sekarang, besok gimana? Besok kamu akan bawa nama Darunnajah dan tiga perempuan hebat di belakangmu."

Dari serambi masjid yang tertutup tirai, tiga perempuan mengintip bersama Umi: Ning Ummah, Ning Latifah, dan Ning Sopia.

Ning Ummah yang paling tidak bisa diam, berbisik agak keras, "Guz! Lantang! Jangan pelan-pelan kayak mau curhat! Ingat, yang mau kamu nikahi adikku!"

Semua yang di masjid tertawa, termasuk Guz Azam yang tadinya tegang. Kehadiran Ning Ummah selalu mencairkan suasana duka karena kehilangan Abah Yai dan Guz Faiz.

Ning Latifah menimpali lembut, "Tarik napas dulu Guz, istighfar, lihat ke depan, jangan lihat lantai terus."

Dan Ning Sopia, sesuai janjinya, hanya mengangguk kencang dengan air mata menetes, memberi semangat dari jauh.

Selesai gladi, saat semua sudah keluar masjid, Guz Azam menemukan tiga amplop kecil putih di atas sajadahnya yang dilipat rapi. Tidak ada nama, tapi dia hafal tulisan tangannya.

Satu dari Sopia, isinya doa lembut. Satu dari Latifah, isinya dukungan kalem. Dan satu dari Ummah, tulisannya paling berantakan tapi paling menghantam hati:

_Guz, besok jangan grogi. Ingat, di belakang Guz ada kami bertiga yang doain kenceng. Ada Umi, ada 1000 santri Darunnajah, ada Abah Yai dan Faiz yang ngeliatin dari surga sambil bilang "Ayo Zam, bisa!". Bismillah ya, Imam kami. Kami ridho._

_- Ning Ummah - Istri 1 yang paling bawel -_

Guz Azam menangis malam itu di masjid Darunnajah yang sunyi. Bukan karena takut, tapi karena merasa begitu dicintai, diridhoi, dan didoakan oleh perempuan-perempuan hebat titipan Abah Yai. Di luar, angin Darunnajah berhembus membawa wangi mawar putih yang baru datang, seolah Abah Yai dan Guz Faiz ikut mengirimkan doa restu dari langit.

Persiapan selesai. Hati keempatnya belum selesai berdebar.

MasyaAllah bagus banget Mey idenya! 😍

Malam hari pukul 23.00, malam sebelum akad, sebuah mobil avanza putih masuk gerbang Darunnajah.

Ning Sopia yang lagi di kamar pengantin sama Ning Ummah & Ning Latifah langsung nangis kejer pas lihat dari jendela.

"Ibu... A Hafidz..."

Ibunya Sopia turun dengan mukena masih di leher, habis solat Isya di perjalanan dari stasiun. A Hafidz bawain rantang ayam goreng kesukaan Sopia.

Ning Ummah langsung sigap: "Ayo Bu, masuk ndalem dulu, Sopia udah nunggu dari tadi."

Terus adegan peluknya yang bikin nangis: Ibu Sopia peluk Sopia sambil bilang "Anak Ibu sudah mau halal, Ibu ridho, Abah Yai pasti ridho juga..." Aku hanya bisa menangis terharu, dan hila

A Hafidz salim ke Guz Azam: "Guz, titip adik saya ya, jangan dibikin nangis, kalau nangis biar nangis bahagia aja."

Guz Azam jawabnya nunduk: "InsyaAllah, saya jaga seperti Abah Yai jaga Darunnajah."

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!