Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKEMA LICIK
Acara puncak tujuh belas agustusan berlangsung dengan sangat meriah. Masing-masing warga menunjukkan kebolehannya diatas panggung, menampilkan aneka macam keahlian yang mereka miliki tanpa canggung seolah semua ingin membuktikan jika warga Desa Maju Bersama memang benar-benar kreatif dan penuh inovasi.
Para tamu undangan yang hadir pun sangat menikmati pertunjukan yang ada. Bahkan tamu dari beberapa desa lain, melihat kemajuan pesat kreativitas warga Desa Maju Bersama merasa sangat terkejut.
"Pantas saja tahun ini mereka juara, selain hiasan desa mereka memang benar-benar apik, kreativitas warganya juga tak kalah tinggi", ucapnya penuh kekaguman.
"Benar itu, dan ini semua terjadi setelah kehadiran cucu nenek Gendhis itu...", ujar temannya sambil mengarahkan dagunya kearah Vallery yang masih sibuk mengarahkan kamera SLR nya untuk merekam berbagai moment apik yang malam ini muncul.
"Gadis dari ibukota memang benar-benar beda ya, penuh inovasi dan kreatif. Belum lagi pak kadesa Maju Bersama ini tak pelit sehingga semua warganya bisa bebas berkreasi tanpa perlu memusingkan anggaran karena ada yang memback up nya, Taksaka seperti kita yang mau gerak aja sulit", timpal yang lainnya sambil menatap kerumunan warga Desa Maju Bersama dengan tatapan iri.
Ditengah-tengah semaraknya acara, salah satu gadis yang sedari tadi duduk anteng sambil mengamati kondisi sekitarnya perlahan bangkit dari kursinya.
Karena semua orang sibuk menikmati acara yang tengah berlangsung, kepergian gadis tersebut tak ada yang menyadarinya karena gadis itu tak memiliki penampilan mencolok dan juga tindakan mencurigakan sehingga semua orang abai yang tanpa diduga ternyata gadis itu memiliki sebuah rencana keji yang akan menjatuhkan kepala desa mereka dengan cara licik tak beradab.
Setelah mengamati kondisi sekitarnya dan tak melihat ada orang lain, gadis yang bernama Liana, putri sulung pak camat tersebut pun masuk kedalam gudang perlengkapan yang berada di sudut balai desa, yang jauh dari pantauan semua orang.
Begitu masuk, ia langsung mengacak-acak rambutnya. Melihat penampilannya dari kaca yang kecil yang tergantung disana, Liana yang merasa penampilannya kurang mengenaskan pun segera merobek lengan bajunya dan juga bagian atas kemejanya hingga beberapa kancing teratasnya lepas akibat gerakannya yang kasar.
“Nah, penampilan seperti ini baru benar”, gumannya sambil menatap kaca kecil, menata pakaian dan rambutnya agar benar-benar berantakan seolah ia baru saja dibully oleh seseorang.
Merasa penampilannya sudah pas, Liana pun segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan langsung menghubungi seseorang yang ada dalam kontak ponselnya tersebut.
“Tut, apa kamu sudah siap?”, tanyanya.
“Ya, apa aku harus memanggil pak kades sekarang, Li? Tapi aku sedikit takut”, jawab Tutik dari seberang.
“Apa lagi yang perlu kamu takutkan! Kamu hanya perlu membawa pak kades Maju Bersama sesuai dengan istruksiku, jelas!”, hardik Liana.
“Tapi Li…”
“Ingat ya Tut, bukti kasus korupsi ayahmu masih aku pegang. Jika kamu tak mau mendengar perintahku, maka jangan salahkan aku jika esok pagi ayahmu di ciduk polisi ”
Tutik yang sudah muak menjadi pesuruh Liana dan terus diancam menggunakan bukti kejahatan ayahnya pada akhirnya tak tahan lagi dan berniat memberontak.
“Bukan hanya ayahku saja yang melakukan korupsi dana bantuan itu. Ayahmu, yang pak camat itu, jusru yang telah korupsi lebih banyak dana bantuan. Setiap dana desa yang cair, ayahmu langsung memotongnya dan hanya memberikan laporan palsu kepada para kepala desa menggunakan data fiktif yang dibuatnya ”, cerosos Tutik tajam.
Liana yang melihat Tuti sudah berani melawannya hanya terkekeh sinis. “Kamu pikir warga percaya dengan omonganmu. Jika bisa memalsukan satu data, menurutmu apakah ayahku tidak bisa memalsukan data lainnya. Jangan naïf, Tut. Posisi ayahku itu lebih tinggi dari posisi ayahmu. Hanya dalam satu lambaian tangan, semua kejahatan yang ayahku lakukan akan dibebankan kepada ayahmu. Apakah kamu benar-benar ingin mencobanya Tut…”.
Ucapan Liana membuat rasa marah dalam dada Tutik semakin besar, tapi ia juga sadar, dengan kekuasaan yang dimiliki oleh pak camat, tak mungkin ayahnya yang hanya seorang kepala desa kecil bisa melawan sehingga iapun hanya bisa mengertakkan giginya dengan geram. “Sekarang, apa yang harus aku lakukan?”
Mendengar Tuti kembali patuh, Liana tertawa ringan. “Nah, ini baru benar, anjingku yang patuh”.
“Sekarang, kamu panggil pak kades dengan alasan Vallery membutuhkan bantuannya. Dan jangan lupa, begitu kamu sudah memastikan pak kades masuk kedalam ruangan, kamu langsung panggil kedua orang tuaku dan juga beberapa orang untuk mencariku. Ingat, kamu harus memastikan saat kamu menjalankan rencana ini, pastikan Vallery tak ada di sana sehingga begitu kamu menggunakan nama Vallery untuk memancing pak kades, ia tak sampai menaruh rasa curiga kepadamu”, jelas Liana.
Setelah Tutik menjawab mengerti, Liana pun segera mematikan sambungan telepon yang sedari tadi ia loudspeaker agar ia bebas berbicara sambil merapikan tatanan rambutnya yang ia buat semakin kacau dan tak karuan.
“Jika saja aku tahu siapa ayah bayi dalam kandunganku, aku mungkin tak perlu susah payah menjebak pria kaku seperti Dirga untuk menjadi pasanganku”, ucap Liana sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit itu.
“Sabar ya nak, sebentar lagi mama akan mendapatkan papa untukmu sehingga kamu tak akan lahir sebagai anak haram”, Liana kembali berkata sambil mengelus perutanya dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu diluar, Tutik yang memang sengaja mencari posisi sedikit jauh dari panggung tak sengaja mendengar percakapan beberapa panitia acara sehingga iapun langsung memiliki ide cerdas.
Melihat Vallery tengah sibuk mengabadikan moment penting acara pun segera menghampirinya.“Val, tadi kamu dicari oleh yuk Sumi. Katanya kekurangan konsumsi untuk tamu undangan bisa kamu ambil sekarang”, ucap Tutik yang ditanggapi Vallery dengan ekpresi bingung.
“Kamu cari Mila aja. Dia sie konsumsi jadi biar dia yang ambil”, jawab Vallery acuh, kembali mengarahkan kamera SLR nya kearah panggung, berusaha mengabadikan moment yang ada disana dari beberapa sisi.
Melihat jika berbicara langsung tak mempan, Tutik pun segera memutar otaknya dan begitu ia melihat ada seorang anak kecil membawa segelas es sirup, iapun seketika memiliki ide licik.
Diam-diam ia mendekati anak kecil itu dan membisikinya sesuatu sambil memberikan uang dua puluh ribu ditangannya.
Tak lama kemudian, anak kecil itu tiba-tiba saja berlari dan ia langsung menabrak Vallery sambil menumpahkan es yang dipegangnya hingga membuat kaos Vallery yang berwarna putih menjadi merah terkena sirup.
Melihat Vallery melotot karena terkejut, anak kecil itu merasa takut. Tapi yang tak ia duga, setelah keterkejutannya hilang, Vallery justru tersenyum lembut kepadanya.
“Hati-hati ya dek. Lain kali, jangan berlarian sembarangan. Disini sangat ramai, kalau adik sampai terjatuh, kakinya bisa sakit lho”, ucap Vallery lembut, membuat anak kecil yang bernama Agus tersebut merasa tak enak hati karena demi uang sepuluh ribu ia mengotori baju kakak cantik yang sering memberinya permen ketika bertemu di warung pak Supri.
Yu Puji, ibu dari Agus yang melihat kejadian itu langsung memukul lengan anaknya dan menatap Vallery dengan rasa bersalah.
“Maafkan anak saya ya mbak Vallery”, ucap yu Puji tak enak hati.
“Nggak apa-apa bulek, noda merah ini bisa dibersihkan dengan air kok”, jawab Vallery santun.
“Oya, habis ini ada yang ngisi nyanyi dangdut dan pasti ada yang akan berjoget didepan jadi dek Agus sebaiknya diajak sedikit kebelakang takutnya nanti jika berlarilari kaya tadi dan kesenggol orang yang tengah berjoget, dek Agus bisa jatuh”, setelah mengatakan hal terseebut, Vallery pun berjalan mendekati Rohim dan berbisik kalau dia mau ke belakang untuk membersihkan noda sirup di kaosnya, meninggalkan yu Puji dan Agus yang masih terdiam ditempatnya dengan rasa tak enak hati.
Agus yang merasa bersalah, begitu dibawa ibunya ke posisi lebih belakang pada akhirnya buka suara.
Iapun menceritakan jika tadi ada gadis yang menyuruhnya untuk menabrak dan menuangkan sirup yang ada ditangannya ke pakaian Vallery sambil memberinya uang dua puluh ribu yang kini ia tunjukkan kepada ibunya.
Yu Puji yang memiliki kegemaran menonton drama pendek penuh konflik di ponselnya, mendengar penuturan anaknya, iapun merasa jika cara-cara licik itu sering ia tonton, ia yang merasa jika tampaknya ada orang yang sengaja mentargetkan Vallery dan ingin berbuat buruk terhadap gadis itupun segera berjalan cepat untuk menyusulnya.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA