Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembuktian kekuatan
Matahari baru saja menyingsing ketika jip militer hitam yang membawa Ana memasuki gerbang Pangkalan Militer Black Field, markas rahasia dari Divisi Khusus Kekaisaran Jenderal Arya dan Adrian.
Tempat ini dikelilingi oleh dinding beton tebal setinggi lima meter dengan kawat berduri dialiri listrik di puncaknya menegaskan statusnya sebagai area terlarang yang tidak tercatat di peta publik.
Ana turun dari jip dengan pakaian lapangan celana kargo dan kaus ketat yang membungkus sempurna tubuh rampingnya. Meskipun fisiknya masih dalam proses pemulihan tapi energi inti Dinda di dalam dirinya pagi ini terasa jauh lebih stabil.
Di tengah lapangan, empat puluh prajurit elite bertubuh kekar sudah berdiri dalam barisan yang rapi. Mereka adalah prajurit petarung pilihan dari berbagai distrik militer, manusia-manusia tangguh yang terbiasa melakukan peperangan.
Namun begitu melihat sosok yang berjalan mendekat bersama Jenderal Arya, bisik-bisik pun langsung terdengar di antara barisan.
"Lapor, Jenderal! Seluruh personel Divisi Khusus siap menerima instruksi!" teriak seorang pria berbadan besar di barisan depan. Dialah Kapten Barros petarung terkuat di pangkalan ini. Setelah memberi hormat pada Jenderal Arya, mata Barros melirik Ana dengan pandangan meremehkan yang kentara bagi Ana.
"Jenderal apakah ini tidak ada kesalahan?" tanya Barros.
"Kami di sini dilatih untuk menjadi petaruanb elit Kekaisaran. Tapi hari ini Anda malah membawa seorang gadis sekolahan bertubuh kecil untuk menjadi Instruktur Taktis Kehormatan kami? Ini lelucon atau apa?"
Beberapa prajurit di belakangnya menahan tawa menyetujui ucapan komandan mereka. Bagi mereka mematuhi perintah seorang remaja perempuan yang bahkan belum lulus sekolah adalah penghinaan terhadap harga diri militer mereka.
Jenderal Arya yang berdiri di samping Ana hanya diam menyilangkan tangan di depan dada dengan senyum yang sulit diartikan. Ia melirik Ana, memberi isyarat bahwa panggung ini sepenuhnya milik gadis itu.
Ana melangkah maju tiga langkah memasukkan satu tangannya ke saku celana kargonya dengan santai. Tatapan begitu datar seolah sedang melihat tumpukan orang yang telah menghinanya.
"Kau merasa dirimu kuat Kapten?" tanya Ana.
"Di medan perang sejati, otot besar tanpa kecepatan otak hanya akan membuatmu menjadi target yang paling pertama terjatuh di tanah."
Muka Barros langsung merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan bawahannya.
"Bocah lancang! Kalau kau beneran punya kemampuanmcoba buktikan di depan kami! Jangan cuma modal bacot di depan Jenderal!"
Barros langsung melepas kopel rim militernya, melangkah maju ke tengah arena pasir pembatas dengan posisi kuda-kuda bertarung yang kokoh.
"Maju kau! Kalau dalam tiga menit kau masih bisa berdiri aku akan mencium sepatumu dan memanggilmu Instruktur!"
Ana tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya melepaskan jaket luarnya, menyisakan kaus hitam ketat lalu berjalan kedepan memasuki area pasir. Posisi berdirinya sangat santai, bahkan kedua tangannya dibiarkan menggantung longgar di samping bafannha sebuah gestur yang dianggap Barros sebagai kebodohan fatal.
"Mati kau!" bentak Barros.
Pria raksasa itu menerjang maju dengan kecepatan yang bagus untuk ukuran tubuh besarnya. Bogem mentahnya yang sanggup meremukkan dinding bata melesat deras mengincar rahang Ana. Murid-murid di barisan menahan napas membayangkan wajah gadis itu akan hancur dalam satu pukulan.
Namun, bagi jiwa Panglima Dinda, gerakan Barros terasa kelewat lambat dan penuh dengan celah fatal.
Tepat saat tinju Barros hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya, Ana menggeser kaki kirinya ke belakang dalam satu gerakan yang sangat presisi. Pukulan Barros melesat bebas memotong udara kosong. Memanfaatkan momentum tubuh Barros yang condong ke depan, Ana merangsek masuk ke dalam ruang buta pria itu.
Tangan kiri Ana dengan secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Barros, sementara telapak tangan kanannya menghantam bagian belakang siku pria itu dengan sentakan energi kasat mata yang dimilikinya.
KRAAK.
"AAARRRGGGHHH!"
Suara derit sendi yang bergeser secara paksa beradu dengan jeritan histeris Barros yang menggema di seluruh penjuru pangkalan. Belum sempat Barros membalas dengan tangan kirinya, Ana sudah memutar tubuhnya menyapu kaki belakang Barros dengan satu tendangan tumit yang mematikan.
Bughh.
Tubuh besar seberat sembilan puluh kilogram itu jatuh tersungkur dengan keras di atas pasir, terkapar memegangi sikunya yang lumpuh total dalam posisi mengunci yang mematikan di bawah tekanan lutut Ana yang menekan leher belakangnya.
Hanya butuh waktu kurang dari lima detik. Seluruh pertarungan selesai tanpa Ana mengeluarkan keringat sedikit pun.
Suasana di lapangan Black Field seketika berubah menjadi sunyi senyap tidak ada suara apa pun. Empat puluh prajurit elite di barisan melotot sempurna dengan wajah pucat. Mereka tidak bisa mencerna bagaimana seorang kapten terkuat bisa ditaklukkan seperti sepotong kayu oleh seorang gadis muda
.
Ana perlahan bangkit berdiri, merapikan kembali lengan kaus hitamnya yang sedikit kusut, lalu menatap dingin ke arah barisan prajurit yang kini mulai gemetaran karena takut.
"Ada lagi yang merasa saya tidak pantas berada di sini?" tanya Ana datar. Tidak ada satu pun prajurit yang berani mengangkat wajah mereka semuanya kompak menunduk dalam-dalam penuh rasa hormat yang dipaksakan.
Ana membalikkan badannya menatap ke arah pilar observasi di pinggir lapangan. Di sana’Adrian Sanjaya sedang duduk santai di atas kap jip dengan setelan kaos hitam formal militer, memegang sebotol soda dingin sambil menyunggingkan senyuman miring penuh kemenangan yang paling Ana tidak suka.
Ana menyipitkan matanya, lalu menunjuk Adrian dengan jari telunjuknya.
"Ujian pertamaku untuk para amatir ini sudah selesai Sanjaya," ucap Ana suaranya meninggi penuh nada menantang. "Sekarang giliranmu. Turun ke arena dan perlihatkan seberapa kuat perisai kebanggaan yang kemarin kamu pamerkan di depan rumahku."
Adrian terkekeh pelan melempar botol sodanya ke arah Luki lalu melompat turun dari kap jip dengan gerakan atletis yang sangat mulus. Matanya penuh gairah berburu yang makin menggila di bawah terik matahari pagi.
"Dengan senang hati Instrukturku," sahut Adrian penuh dominasi.