NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15.Rindu mamah

Pagi hari di mansion Diksara selalu diawali dengan suasana yang tenang namun dipenuhi arus dingin yang tak kasat mata. Cahaya matahari pagi baru saja menyusup masuk melewati celah gorden tirai kaca ruang makan, memantul di atas meja makan berbahan marmer hitam yang sudah tertata rapi.

Bik Inah, kepala pelayan senior di mansion itu, dengan penuh kehati-hatian meletakkan sebuah mangkuk keramik besar yang masih mengepulkan uap hangat di tengah meja. Di dalamnya, tersaji sup ayam kampung bening dengan potongan wortel, kentang, dan taburan daun seledri serta bawang goreng yang sangat harum.

Naya melangkah turun dari lantai dua dengan piyama katun santai bermotif kucing. Matanya langsung berbinar begitu aroma gurih dari sup bening itu menusuk inderanya.

"Wah, Bik Inah! Wangi banget supnya!" puji Naya ceria seraya menarik kursi makan dan mendudukkan tubuhnya.

Bik Inah tersenyum hangat. "Iya, Bu Naya. Ini resep sup bening Jawa kuno, bibik pake rempah pala sama sedikit jahe biar badannya hangat."

Naya meraih sendok, lalu mengambil kuah sup hangat itu dan menyesapnya perlahan.

Namun, begitu rasa gurih dan hangat dari pala serta seledri itu meledak di lidahnya, gerakan Naya mendadak membeku. Rasa sup bening racikan Bik Inah ini... persis sekali dengan racikan sup yang selalu dibuat oleh ibunya di dunia nyata. Rasa hangat yang sama, aroma gurih yang identik, dan kebiasaan memasukkan potongan wortel berbentuk bunga yang sering dibuat almarhumah ibunya dulu sewaktu Naya masih duduk di bangku sekolah sebelum kecelakaan naas itu melempar jiwanya masuk ke dalam novel ini.

Kerinduan yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam dada Naya tanpa ampun. Di balik sikap savage, ceplas-ceplos, dan selalu menang saat berdebat, Naya hanyalah seorang gadis yang terlempar sendirian di dunia asing ini. Ia merindukan rumahnya. Ia merindukan pelukan hangat ibunya yang selalu menyajikan sup hangat saat ia sedang lelah.

Mata Naya mulai berkaca-kaca. Dinding pertahanan mentalnya yang biasanya sekokoh benteng baja, mendadak runtuh hanya gara-gara semangkuk sup bening.

Tepat pada saat yang sangat tidak tepat itu, Mamah Ratna melangkah masuk ke ruang makan dengan gaya anggunnya yang penuh keangkuhan. Wanita paruh baya itu menarik kursinya di kepala meja, lalu mendengkus sinis begitu melihat Naya sudah asyik makan duluan.

"Hmph! Baru bangun jam segini, langsung duduk manis kayak ratu!" cibir Mamah Ratna memulai serangan paginya. "Lihat itu Bik Inah sama pelayan lain sibuk dari subuh! Kamu sebagai menantu numpang gratis di sini apa enggak ada malu-malunya ya? Tidak pernah sekalipun bantu-bantu pekerjaan rumah, sapu-sapu, atau cuci piring!"

Biasanya, kalau Mamah Ratna mulai ngoceh pedas seperti ini, Naya akan langsung membalas dengan kalimat savage yang bikin tensi mertuanya melonjak naik.

Tapi pagi ini berbeda.

Naya yang sedang memegang sendok dan teringat senyuman ibunya di dunia nyata, sama sekali tidak mendengarkan ocehan Mamah Ratna. Pikiran Naya tenggelam dalam kesedihan mendalam karena menyadari satu hal pahit: ia tidak akan pernah bisa kembali ke dunia asalnya, dan ia tidak akan pernah bisa memeluk ibunya lagi. Ia terperangkap di dalam tubuh Naya versi novel ini selamanya.

Set!

Air mata bening pertama menetes luncur menembus pipi mulus Naya, jatuh tepat ke dalam mangkuk supnya.

Lalu, bahu Naya mulai bergetar pelan. Sesenggukan kecil yang sangat pilu terdengar memecah keheningan ruang makan.

Mamah Ratna yang sedang siap-siap menyusun kalimat omelan berikutnya mendadak menghentikan ucapannya. Matanya membelalak kaget. "L-loh?"

Naya meletakkan sendoknya dengan tangan gemetaran, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu menangis sesenggukan dengan sangat sedih. "Huuu... Ibu... Naya kangen banget sama Ibu..." bisik Naya pelan di balik tangannya, bermaksud memanggil ibunya di dunia nyata. Namun di mata orang lain, tangisan itu terlihat sangat mengenaskan.

Mamah Ratna makin melotot panik. Selama berbulan-bulan, Naya yang ia kenal adalah cewek berlidah tajam yang siap membalas setiap kata-katanya dengan ejekan menyebalkan. Tapi sekarang? Kenapa cuma ditegur soal bantu-bantu pelayan saja cewek ini mendadak menangis kejer seperti ditindas habis-habisan?!

"Eh, k-kamu kenapa menangis?!" tanya Mamah Ratna gagap, nada bicaranya mendadak hilang wibawa. "M-Mama kan cuma bilang bantu-bantu dikit! Kok malah menangis begitu?!"

Tepat pada detik yang sangat krusial itu, Damar melangkah masuk ke ruang makan dengan setelan kemeja kerja yang rapi. Pria itu baru saja hendak menyapa istrinya dengan sisa-sisa gengsinya, namun langkah tegapnya terhenti seketika begitu mendengar suara tangisan yang sangat pilu dari meja makan.

Damar membeku. Matanya menatap Naya yang sedang menutupi wajahnya sambil menangis sesenggukan hingga bahunya naik-turun, lalu matanya beralih menatap Mamah Ratna dengan kilatan amarah yang sangat tajam dan dingin membekukan.

DEG!

Di dalam benak Damar, sebuah kesimpulan otomatis langsung terbentuk: Mama pasti sudah keterlaluan memarahi Naya pagi ini sampai cewek sekuat Naya bisa menangis sesedih itu!

Rasa khawatir yang amat sangat dan naluri protektif langsung membakar dada Damar, menghancurkan sisa-sisa pikiran rasionalnya. Namun, dasar pria penuh gengsi, rasa khawatirnya itu dibungkus rapi oleh kemarahan berwibawa khas seorang CEO.

"Mama!" bentak Damar dengan suara beratnya yang bergema keras di seluruh ruangan.

Mamah Ratna tersentak kaget, berdiri refleks dari kursinya. "D-Damar! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan! Mama tidak—"

"Cukup, Ma!" potong Damar dingin tanpa kompromi. Damar melangkah cepat menghampiri Naya, lalu berdiri tegap di samping kursi istrinya. "Saya sudah katakan berulang kali, Naya adalah istri saya! Mama tidak punya hak untuk terus-menerus memarahi atau menindas dia di rumah ini!"

"Tapi Damar, Mama cuma bilang—"

"Bik Inah! Bawa sarapan Mama ke kamarnya!" perintah Damar mutlak, menatap Mamah Ratna dengan aura intimidasi yang tak tertahankan. "Mama sebaiknya sarapan di kamar saja kalau hanya untuk membuat suasana rumah ini seperti neraka."

Mamah Ratna melongo panik. Ia merasa sangat bersalah sekaligus tidak enak hati secara luar biasa. Selama ini ia memang sengaja menguji Naya, tapi melihat menantunya menangis sesenggukan tanpa melawan sedikit pun, Mamah Ratna merasa seperti nenek sihir yang telah membantai perasaan gadis yatim piatu yang malang.

"I-iya deh, Mama ke kamar aja! Naya... Mama minta maaf ya, Mama enggak maksud bikin kamu menangis..." ujar Mamah Ratna terbata-bata dengan wajah bersalah, sebelum buru-buru melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan rasa canggung yang menumpuk.

Setelah Mamah Ratna pergi, ruang makan kembali hening. Tinggal Damar dan Naya yang masih menangis pelan.

Damar menarik napas panjang. Gengsi besarnya melarangnya untuk merengkuh Naya ke dalam pelukannya secara langsung. Sebagai gantinya, sang CEO kaku itu merogoh saputangan sutra putih dari dalam saku jasnya, lalu mengulurkannya ke depan wajah Naya dengan canggung.

"Ambil ini," ujar Damar. Suaranya diusahakan sedingin mungkin demi menjaga martabatnya sebagai suami tegas, namun matanya memancarkan rasa cemas dan panik yang luar biasa. "Jangan menangis lagi. Saya sudah menyuruh Mama pergi."

Naya yang sebenarnya menangis karena merindukan ibunya di dunia nyata—dan sama sekali tidak mendengarkan percekcokan Damar dan Mamah Ratna tadi—perlahan mendongakkan kepalanya. Matanya merah, hidungnya bangir merona, dan pipinya basah oleh air mata.

Naya menatap saputangan di tangan Damar, lalu menatap wajah kaku Damar yang terlihat panik tertahan.

Loh? Kok Mas Kulkas tiba-tiba ngasih saputangan? Trus Tante Ratna ke mana? batin Naya bingung setengah mati.

"Mas Damar... ngapain ngasih saputangan?" tanya Naya polos dengan suara serak khas orang habis menangis.

Damar berdeham keras, memalingkan wajahnya sedikit demi menutupi rasa iba dan khawatirnya yang makin meluap melihat wajah sembab istrinya. "Saya cuma tidak mau wajah istri saya jelek gara-gara dimarahi Mama. Lain kali kalau Mama bicara sembarangan lagi, bilang pada saya. Jangan menangis sendirian seperti ini. Kamu bikin... repot saja."

Naya membelalakkan matanya tipis, lalu melihat ke arah mangkuk supnya yang sudah agak dingin. Kepingan puzzle di kepalanya mendadak menyatu.

Astagfirullah! Jadi dari tadi si Mas Kulkas sama Tante Ratna ngira gue menangis gara-gara dimarahi Tante Ratna?! Padahal gue menangis cuma gara-gara teringat sup buatan nyokap gue di dunia nyata!

Rasa geli dan tawa yang amat sangat mendadak menyembur di dalam dada Naya. Kesalahpahaman gila ini benar-benar tidak masuk akal! Mertuanya yang terkenal judes mendadak minta maaf dan kabur ketakutan, sementara suaminya yang gengsian mendadak sok pahlawan memarahinya gara-gara menyangka Naya cewek lemah yang ditindas!

Naya menerima saputangan sutra Damar, lalu menyapu air matanya. Sebuah senyuman savage yang tipis kembali terukir di bibirnya yang merona.

"Oh... jadi Mas Damar khawatir banget ya pas ngeliat saya menangis?" goda Naya dengan suara yang masih agak serak, namun matanya sudah kembali berbinar jahil.

Damar mendadak membeku. Rasa canggung yang luar biasa hebat kembali menghantam dadanya. Pria itu buru-buru merapikan kemejanya dan menegakkan badannya kaku bagaikan tiang listrik.

"S-siapa yang khawatir?!" bantah Damar cepat dengan nada ketus yang dibuat-buat, telinganya langsung merah padam. "Saya cuma menjaga ketenangan rumah tangga! Saya tidak suka ada kegaduhan di meja makan!"

Naya terkekeh renyah seraya menyesap kembali kuah supnya yang hangat. "Masa sih, Mas? Tapi tadi pas ngusir Tante Ratna, suaranya kenceng banget loh! Berasa kayak pahlawan kesiangan yang lagi nyelamatin putri teraniaya!"

Damar mengepalkan tangannya di samping celana, rasa malu dan gengsi yang menumpuk membuat pria itu tidak tahan lagi berdiri di sana.

"Makan saja sup kamu. Jangan banyak bicara," desis Damar ketus, langsung membalikkan badannya dan melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang makan dengan rasa salah tingkah yang membakar seluruh tubuhnya.

Naya yang memperhatikan punggung kaku suaminya dari belakang tidak bisa menahan tawa gigihnya lagi. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil menikmati sup hangat racikan Bik Inah.

Kerinduan pada ibunya di dunia nyata memang masih ada, namun melihat tingkah gengsi ajaib dari Damar Diksara berhasil membuat hatinya terasa jauh lebih hangat dan terhibur.

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!