NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 — Arena Api Kekaisaran

Arena Api Kekaisaran berbeda dari arena mana pun yang pernah Kael lihat sebelumnya—lantai pertarungannya terbuat dari batu vulkanik yang sengaja dijaga tetap hangat oleh aliran lava alami yang mengalir di bawahnya, terlihat berkilau melalui celah-celah kecil di permukaan, menciptakan suasana yang benar-benar mencerminkan elemen dasar kekuatan Dragonkin.

Ribuan penonton dari kalangan bangsawan dan rakyat Drakoria memenuhi tribun yang mengelilingi arena, semuanya antusias menyaksikan pertarungan yang telah menjadi buah bibir seluruh istana sejak diumumkan malam sebelumnya.

"Kau yakin bisa menghadapinya?" Seraphina bertanya dengan nada khawatir saat mereka menunggu di area persiapan, mengamati Selene yang sudah bersiap di sisi berlawanan arena dengan aura kekuatan yang jelas terasa bahkan dari jarak jauh.

"Aku tidak punya pilihan lain," Kael menjawab, memeriksa pedangnya untuk terakhir kalinya. "Aliansi dengan Drakoria bisa menjadi kunci penting, dan aku tidak akan mundur hanya karena lawannya kuat."

[Selene Drakoria — Dragonkin Kekaisaran.]**

[Perkiraan kekuatan: Spirit Core Realm tingkat tinggi.]

Angka itu menunjukkan bahwa Selene sedikit lebih kuat dari level Kael saat ini, meski dengan fragmen Naluri Primal yang baru dia integrasikan, dia merasakan cadangan kekuatan tambahan yang belum sepenuhnya dia pahami cara menggunakannya secara optimal.

Kaisar Valerius sendiri duduk di podium kehormatan, mengamati dengan mata tajam saat kedua peserta memasuki arena dan mengambil posisi masing-masing.

"Pertarungan ini akan berlangsung sampai salah satu pihak menyerah atau tidak bisa melanjutkan," seorang pejabat istana mengumumkan aturan dengan suara lantang.

"Penggunaan kekuatan mematikan langsung dilarang, namun selain itu, kedua peserta bebas menggunakan kemampuan penuh mereka."

"Bersiaplah, manusia," Selene berkata dengan seringai penuh percaya diri, tubuhnya mulai bersinar dengan aura merah keemasan yang menandakan persiapan transformasi. "Aku tidak akan menahan diri hanya karena kau tamu kehormatan."

"Aku tidak mengharapkan kau melakukannya," Kael menjawab, mempersiapkan diri dengan Teknik Langkah Bayangan Angin yang sudah siap dia gunakan kapan saja dibutuhkan.

Wasit pertandingan mengangkat tangannya, dan sedetik kemudian, pertarungan dimulai dengan Selene langsung melancarkan serangan udara—dia melompat tinggi, sebagian tubuhnya mulai bertransformasi, sayap-sayap kecil bersisik merah muncul dari punggungnya, memungkinkannya melayang di udara sambil melontarkan bola-bola api kecil namun sangat panas ke arah Kael.

[Peringatan: Serangan Elemen Api terdeteksi. Suhu ekstrem.]

Kael menggunakan Teknik Langkah Bayangan Angin untuk menghindar, bergerak dengan kecepatan yang membuat sebagian penonton terkesiap melihat betapa mudahnya dia menghindari serangan yang seharusnya sulit dielakkan.

[Adaptation terhadap Elemen Api Dragonkin: 5%.]

"Kau cukup gesit," Selene berkata dari udara, matanya berkilat dengan kekaguman yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Tapi bisakah kau bertahan melawan kekuatan sejati naga?"

Dia mendarat kembali di lantai arena, dan kali ini, transformasinya berlanjut lebih jauh—sisik-sisik merah menyebar ke seluruh lengannya, cakar tajam menggantikan kukunya, dan matanya berubah sepenuhnya menjadi warna emas menyala khas naga murni.

Serangannya kini jauh lebih cepat dan lebih kuat, setiap pukulan membawa hawa panas yang bahkan tanpa kontak langsung mampu membakar udara di sekitarnya. Kael terpaksa menggunakan kombinasi Adaptation, Teknik Langkah Bayangan Angin, dan sesekali blok langsung dengan pedangnya untuk bertahan dari rentetan serangan itu.

[Peringatan: Cadangan Qi menurun akibat penggunaan Teknik Langkah Bayangan Angin berulang dalam lingkungan bersuhu ekstrem.]

Kael menyadari bahwa dia tidak bisa terus mengandalkan penghindaran murni—lingkungan panas arena membuat setiap penggunaan tekniknya menguras energi lebih cepat dari biasanya. Dia perlu mencari cara lain untuk mengimbangi kekuatan Selene.

Mengingat pelajaran dari fragmen Naluri Primal yang baru dia terima, dia mencoba merasakan sesuatu yang berbeda—insting primal yang kini menjadi bagian dari dirinya, mencoba membaca pola pergerakan Selene tidak hanya melalui analisis Qi seperti biasa, tetapi melalui naluri murni yang lebih dalam.

[Fragmen Naluri Primal beresonansi dengan situasi pertarungan.]

[Adaptation terhadap Elemen Api Dragonkin: 24%.]

Sesuatu berubah dalam persepsinya. Dia mulai bisa merasakan pola napas Selene, ritme jantungnya yang berdetak lebih cepat setiap kali dia bersiap melancarkan serangan besar, bahkan perubahan halus dalam otot-ototnya sepersekian detik sebelum bergerak.

Ketika Selene melancarkan serangan cakar besar berikutnya, Kael sudah tahu persis kapan dan ke mana arah serangan itu akan datang, jauh sebelum gerakan fisik benar-benar dimulai.

Dia menghindar dengan presisi yang mengejutkan, dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, dia berhasil membalas dengan tebasan yang mengenai lengan Selene, meninggalkan goresan yang cukup dalam meski sisiknya yang keras mengurangi sebagian besar dampak serangan itu.

Selene mundur, menatap goresan di lengannya dengan mata melebar penuh keterkejutan. "Bagaimana kau bisa memprediksi gerakanku?"

"Insting," Kael menjawab sederhana, meski dia sendiri masih mencoba memahami sepenuhnya kemampuan baru yang baru saja dia rasakan bekerja untuk pertama kalinya dalam pertarungan nyata.

Selene menyipitkan matanya, seringai kompetitifnya kembali muncul dengan intensitas yang lebih besar. "Menarik. Sangat menarik. Baiklah, manusia, mari kita lihat seberapa jauh insting itu bisa membawamu melawan kekuatan sejati seorang putri naga."

Dia mengaum keras, dan transformasinya melanjutkan lebih jauh lagi, tubuhnya mulai membesar secara signifikan, sayap-sayapnya melebar sepenuhnya, dan aura panas di sekitarnya meningkat drastis hingga membuat udara di seluruh arena bergetar dengan gelombang panas yang terlihat jelas mata.

Pertarungan baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.

Transformasi penuh Selene mengubah seluruh dinamika pertarungan secara dramatis.

Tubuhnya kini menjulang hampir dua kali lipat tinggi normalnya, sisik merah gelap menutupi seluruh permukaan kulitnya, dan sepasang sayap besar yang terbentang lebar menciptakan bayangan luas di atas arena.

Meski belum sepenuhnya menjadi naga sejati, transformasi setengah itu sudah cukup untuk melipatgandakan kekuatan dan kecepatannya secara signifikan.

"Ini kekuatan sejati Dragonkin," Selene berkata dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan bergema, matanya yang menyala emas menatap Kael dengan intensitas predator sejati. "Bertahanlah jika kau bisa."

Dia menyerang dengan kecepatan yang jauh melampaui sebelumnya, cakarnya yang kini jauh lebih besar menyambar dengan kekuatan yang bisa menghancurkan batu jika mengenai target dengan telak.

Kael menggunakan seluruh kemampuannya—Teknik Langkah Bayangan Angin, insting dari Fragmen Naluri Primal, dan pengalaman bertahun-tahun beradaptasi dengan lawan yang lebih kuat—untuk terus bertahan.

[Peringatan: Cadangan Qi kritis.]

Notifikasi itu membuat Kael waspada.

Dia tidak bisa terus mengandalkan penghindaran murni tanpa risiko kehabisan energi di tengah pertarungan, sesuatu yang bisa berakibat fatal melawan lawan sekuat ini.

Dia memutuskan untuk mengubah strategi, mengingat pelajaran dari pertarungan-pertarungan sebelumnya tentang menemukan celah dalam pola serangan lawan alih-alih terus menghindar tanpa henti.

Memusatkan seluruh fokusnya, dia mulai memperhatikan pola napas Selene yang semakin berat seiring transformasi penuhnya menguras energi yang signifikan, sama seperti bagaimana transformasi Ragna di masa lalu memiliki batas ketahanan tertentu.

[Adaptation terhadap Transformasi Dragonkin: 38%.]

"Transformasi penuhmu tidak bisa bertahan selamanya," Kael berkata, menghindari serangan lain dengan margin yang semakin tipis namun tetap berhasil. "Aku hanya perlu bertahan sampai kau kelelahan."

Selene menggeram, jelas tidak senang dengan analisis yang tepat itu. "Kau berani sekali menganggap remeh kekuatanku."

Dia mempercepat serangannya, mencoba mengakhiri pertarungan sebelum prediksi Kael terbukti benar.

Namun semakin dia memaksakan diri, semakin jelas tanda-tanda kelelahan mulai muncul—napasnya semakin berat, dan gerakannya, meski masih sangat cepat, mulai kehilangan sedikit presisi yang dia miliki di awal pertarungan.

Ketika Selene melancarkan serangan besar dengan seluruh sisa tenaganya, sebuah tebasan cakar diagonal yang membawa gelombang panas luar biasa, Kael sudah menunggu momen ini.

Dia menggunakan Tebasan Seribu Prajurit yang telah dia gabungkan dengan pemahaman baru tentang insting primal, menciptakan tebasan balasan yang tepat menargetkan titik kelemahan yang telah dia identifikasi selama pertarungan—sendi bahu tempat transformasi sisiknya sedikit kurang padat dibanding area lain.

*BLAAAR!*

Kedua serangan itu bertabrakan dengan kekuatan luar biasa, menciptakan ledakan panas dan energi yang membuat seluruh arena bergetar.

Ketika debu dan uap panas mereda, Selene berdiri terhuyung, transformasinya mulai mereda kembali ke bentuk manusia karena kelelahan energi yang ekstrem, sementara Kael juga berlutut dengan napas terengah, cadangan Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras.

"Aku..." Selene mencoba berbicara, namun tubuhnya terlalu lelah untuk melanjutkan pertarungan. "Aku menyerah."

Sorak-sorai riuh dari penonton memenuhi arena, terkejut namun kagum menyaksikan seorang manusia berhasil mengalahkan putri kekaisaran mereka sendiri dalam pertarungan yang begitu sengit.

Kael berdiri dengan susah payah, mendekati Selene yang masih berlutut kelelahan, dan mengulurkan tangannya dengan hormat. "Pertarungan yang luar biasa, Putri Selene. Kau benar-benar layak dengan reputasimu."

Selene menatap tangan itu, kemudian menatap wajah Kael, ekspresi arogansinya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat dan penuh rasa hormat yang tulus.

"Belum pernah ada yang berhasil membuatku menggunakan transformasi penuh sejak aku dewasa," katanya sambil menerima uluran tangan itu.

"Kau benar-benar layak mendapatkan rasa hormat Drakoria."

Kaisar Valerius berdiri dari podiumnya, tepuk tangannya bergema di seluruh arena sebagai tanda pengakuan resmi. "Pertarungan yang luar biasa, dari kedua belah pihak. Kael dari Heavenly Sword Sect, kau telah membuktikan dirimu layak mendapatkan pertimbangan serius untuk aliansi yang kau usulkan."

Setelah pertarungan berakhir dan kedua peserta menerima perawatan medis untuk memulihkan energi mereka, pertemuan resmi diadakan kembali di ruang tahta untuk membahas detail aliansi yang kini didukung penuh oleh rekomendasi Selene sendiri.

"Drakoria Empire akan bergabung dalam aliansi melawan Dravos," Kaisar Valerius mengumumkan secara resmi.

"Kami akan menyediakan informasi apa pun yang kami miliki tentang legenda Darah Primordial, dan jika diperlukan, kekuatan militer kami untuk membantu dalam konfrontasi langsung."

Selene, yang kini duduk di samping ayahnya dengan lengan masih diperban dari luka pertarungan, menambahkan dengan senyum yang jauh berbeda dari keangkuhan awal pertemuan mereka. "Dan aku secara pribadi akan bergabung dalam misi kalian mencari fragmen-fragmen yang tersisa. Aku ingin melihat lebih jauh seberapa kuat kau bisa berkembang, Kael."

"Aku menyambut baik bantuanmu," Kael menjawab tulus, menghargai perubahan sikap yang signifikan dari sang putri naga.

Malam itu, perayaan kecil diadakan di istana untuk merayakan aliansi baru yang terbentuk, dan Kael menemukan dirinya duduk bersama Selene, Seraphina, dan Lyra dalam suasana yang mulai terasa seperti kumpulan sekutu sejati, bukan sekadar kombinasi kepentingan politik semata.

"Empat kerajaan besar, bersatu melawan ancaman yang sama," Lyra berkata dengan nada penuh harapan, mengangkat gelasnya untuk bersulang. "Ini adalah awal yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Elyndra yang kuketahui."

"Semoga ini cukup untuk menghentikan Dravos," Seraphina menambahkan, meski kekhawatiran masih terlihat jelas di matanya.

Kael menatap ketiga wanita kuat yang kini duduk di sekelilingnya, masing-masing membawa kekuatan dan kebijaksanaan unik dari latar belakang mereka yang berbeda, dan merasakan optimisme baru yang mengalir bersama tekad untuk melindungi dunia yang telah menjadi rumahnya—meski dia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa perjalanan mereka masih jauh dari selesai, dan tantangan yang jauh lebih besar masih menanti di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!