NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecupan Singkat

Arsen kembali ke balai desa dengan langkah tergesa. Di tangannya terdapat sebuah mangkuk kecil berisi ramuan herbal yang baru saja diracik oleh Pak Salim.

Di dalam ruangan, Keira masih terbaring lemah. Rina duduk di sampingnya sambil sesekali mengipasi tubuh Keira yang terlihat kepanasan.

Arsen menghampiri mereka.

"Rina, tolong bantu Keira minum ini."

Rina segera mengangguk dan menerima mangkuk tersebut. "Iya, Pak."

Ia kemudian mendekat ke arah Keira. "Kei, minum dulu, ya."

Namun Keira langsung menggeleng lemah. Wajahnya seketika meringis.

"Aku nggak suka minum obat..."

"Kamu harus minum, Keira. Kalau nggak, demammu bisa semakin tinggi," bujuk Rina dengan sabar.

"Pahit... Aku nggak suka yang pahit..." rengek Keira lirih. Meski suaranya terdengar lemah, penolakannya cukup jelas.

Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat mereka akhirnya ikut bersuara.

"Nona Keira, Pak Salim tidak sembarangan meracik obat itu. Cepat diminum."

Nada suara Arsen terdengar tegas. Tatapannya pun lurus mengarah kepada Keira.

Keira yang semula masih merengek langsung terdiam. Ada sesuatu dari tatapan Arsen yang membuatnya tidak bisa membantah. Tatapan itu memang tegas, tetapi di baliknya terselip sesuatu yang lain.

Kekhawatiran.

Tanpa banyak protes lagi, Keira perlahan bangkit dengan bantuan Rina. Setelah duduk, ia menerima mangkuk tersebut dan menatap isinya dengan wajah enggan.

Ia menarik napas, memejamkan mata, lalu langsung meneguk ramuan itu sampai habis.

Beberapa detik kemudian—

"Uh..."

Keira spontan mengernyit. Wajahnya langsung berubah.

"Pahit banget..."

Ia bahkan hampir merasa mual karena rasa ramuan yang begitu kuat.

"Cepat, makan gula ini!"

Pak Salim yang baru saja masuk langsung menyodorkan sepotong gula merah kepadanya.

Keira buru-buru mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Perlahan ekspresinya sedikit membaik, meskipun rasa pahit itu masih terasa.

"Gimana sekarang?" tanya Rina.

"Masih pahit..." gumam Keira dengan suara pelan.

Pak Salim hanya tersenyum kecil.

"Memang begitu rasa obatnya. Tapi mudah-mudahan setelah ini kondisi kamu membaik."

Setelah mengatakan itu, Pak Salim melirik Arsen sekilas. Tatapannya seolah memberikan sebuah isyarat yang hanya dipahami oleh mereka berdua.

"Kalau begitu, untuk sementara Keira tinggal di rumah saya saja," ujar Pak Salim. "Kondisinya masih belum stabil. Lebih baik dia berada di tempat yang tenang supaya mudah diawasi."

Rina langsung mengernyit.

"Lho? Kenapa Keira harus tidur terpisah dari kami?"

"Keadaannya sedang kurang baik," jawab Pak Salim tenang. "Kalau di rumah saya, saya bisa lebih mudah mengawasinya dan memastikan kondisinya tidak semakin buruk."

Rina terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk.

"Oh... ya sudah kalau begitu."

Keira yang masih merasa lemas hanya bisa pasrah. Tubuhnya benar-benar tidak memiliki tenaga untuk memperdebatkan keputusan tersebut.

Beberapa mahasiswa kemudian membantu memindahkan barang-barang Keira ke rumah Pak Salim.

Tidak lama kemudian, suasana kembali menjadi lebih tenang.

Di rumah Pak Salim, sebuah kamar sederhana sudah dipersiapkan untuk Keira. Hanya ada kasur tipis, selimut, serta sebuah jendela kecil yang menghadap ke halaman.

Keira dibaringkan perlahan di atas kasur. Arsen berdiri beberapa langkah dari pintu, memperhatikannya dalam diam.

Kini, setelah tidak ada banyak orang di sekitar mereka, suasananya terasa berbeda.

Lebih sunyi. Lebih tenang. Dan entah kenapa... terasa jauh lebih pribadi.

Keira menggerakkan kepalanya dan menoleh ke arah Arsen. Untuk pertama kalinya sejak tadi, tidak ada panggilan formal seperti sebelumnya.

Tidak ada "Mas."

Hanya tatapan mereka yang kembali terasa seperti saat berada di rumah. Arsen akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar.

Ia menutup pintu perlahan. Tak lama kemudian, terdengar bunyi kunci yang diputar. Keira yang masih berbaring langsung menoleh kepadanya.

"Kamu nggak takut yang lain curiga?"

"Mereka tidak akan tahu," jawab Arsen singkat.

Kamar itu kembali dipenuhi keheningan. Hanya suara napas Keira yang terdengar sedikit berat.

"Aku merasa seluruh badan aku sakit..." keluh Keira pelan sembari meringis.

Arsen mendekat beberapa langkah.

"Jangan banyak bergerak dulu. Kamu istirahat."

Keira menatapnya cukup lama. Ada rasa penasaran yang sejak tadi mengganjal di pikirannya.

"Kamu nggak marah?"

Arsen terdiam.

Keira melanjutkan dengan suara lirih, "Tumben kamu perhatian."

Arsen mengalihkan pandangannya sejenak sebelum menjawab.

"Gimana aku nggak khawatir? Aku cuma takut nanti dimarahi Bunda dan mama kamu."

"Oh..." Jawaban itu membuat ekspresi Keira perlahan berubah.

"Karena mereka..." Suaranya semakin pelan.

Ada sesuatu yang terselip di balik nada bicaranya. Sedikit kecewa. Dan kali ini, Keira bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.

Arsen terdiam selama beberapa detik. Ia tidak langsung menjawab. Namun kemudian, tanpa banyak bicara, pria itu melangkah mendekati sisi kasur tempat Keira berbaring.

Tangannya perlahan terangkat. Sempat ada keraguan sebelum akhirnya telapak tangannya menyentuh kepala Keira dan mengusap rambutnya dengan lembut.

Gerakannya begitu pelan dan hati-hati, seolah takut membuat Keira semakin tidak nyaman. Namun sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi setelahnya.

Arsen menundukkan tubuhnya, lalu memberikan sebuah kecupan singkat di kening Keira. Keira sontak membeku.

Matanya melebar dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ia benar-benar tidak menyangka Arsen akan melakukan hal seperti itu. Selama ini, Arsen tidak pernah menunjukkan kelembutan seperti ini kepadanya.

Sementara itu, Arsen sendiri tampak seperti baru menyadari tindakannya. Ia segera kembali berdiri tegak. Wajahnya kembali datar seperti biasa, meskipun ada sedikit kegugupan yang berusaha disembunyikannya.

"Aku pergi," ucapnya cepat. "Jangan banyak bergerak."

Tanpa memberi Keira kesempatan untuk menjawab, Arsen langsung berbalik dan meninggalkan kamar.

Pintu kembali tertutup. Keira masih terdiam di atas kasur. Beberapa saat kemudian, tangannya perlahan terangkat dan menyentuh keningnya sendiri.

"Dia... baru saja mencium aku?" gumamnya lirih, masih seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Untuk pertama kalinya, sikap Arsen benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata.

Bukan karena pria itu bersikap dingin. Justru sebaliknya. Kelembutan Arsen yang tiba-tiba itu jauh lebih membingungkan.

---

Arsen keluar dari rumah Pak Salim dan mendapati pria tua itu sedang duduk santai di teras.

"Terima kasih banyak, Pak Salim," ucap Arsen dengan tulus.

Pak Salim tersenyum lalu mengangguk.

"Sama-sama. Memang sudah seharusnya kalian satu kamar. Jaga istri kamu baik-baik."

Arsen sempat terdiam mendengar ucapan itu.

Namun beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan. "Iya, Pak."

Tatapannya sempat kosong sesaat. Entah apa yang sedang memenuhi pikirannya, tetapi tak lama kemudian ekspresinya kembali seperti biasa.

Arsen pun meninggalkan rumah tersebut dan berjalan menuju balai desa, tempat para mahasiswa mulai kembali berkumpul.

Begitu tiba di sana, ia langsung berdiri di hadapan mereka.

"Oke!" serunya dengan suara tegas. "Semangat semuanya! Jangan lupa jaga kesehatan. Kondisi di sini berbeda dengan di kota, jadi kalian harus lebih memperhatikan kondisi tubuh masing-masing."

Para mahasiswa menjawab hampir bersamaan.

"Siap, Pak Arsen!"

Arsen mengangguk. "Kalau ada yang merasa tidak enak badan, segera laporkan. Jangan memaksakan diri."

"Iya, Pak!"

Kegiatan kembali berlangsung seperti biasa. Namun dari kejauhan, rumah Pak Salim masih terlihat begitu tenang.

Di dalam rumah itu, Keira masih beristirahat seorang diri. Dan meskipun Arsen kini berdiri di tengah banyak mahasiswa, pikirannya ternyata tidak sepenuhnya tertuju pada mereka. Sebagian pikirannya masih tertinggal di kamar kecil itu.

---

Sementara itu, kamar tempat Keira berbaring terasa semakin pengap.

Udara panas seakan terperangkap di dalam ruangan. Tidak ada kipas, sementara sirkulasi udara pun tidak cukup untuk membuatnya nyaman.

Keira sudah beberapa kali mengubah posisi tidurnya.

Miring ke kanan. Kemudian berbalik ke kiri.

Tetap saja rasa gerah itu tidak menghilang.

"Aku nggak bisa tidur..." keluhnya lirih sambil mengusap wajah. "Gerah banget..."

...

Butuh Like & Komen kalian guys 🥲

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!