Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Pagi itu, suasana di sekitar SMA Garuda Bangsa.
Tiga mobil SUV Black Edition melaju pelan dan berhenti tepat di depan gerbang utama sekolah.
Begitu pintu SUV bagian tengah terbuka, empat orang pengawal berjas hitam langsung melangkah turun.
Mereka secara sigap memastikan keamanan di sekeliling mobil sebelum membukakan pintu untuk Adel.
Adel melangkah keluar dengan seragam sekolahnya yang rapi. Di belakangnya, dua pengawal pribadi wanita bersenjata, yang ditugaskan Ardio khusus untuk menjaga Adel dari dekat.
"Selamat pagi, Non Adel. Tas sekolah Anda biar saya yang bawakan," panggil salah satu pengawal wanita dengan nada sangat sopan.
"Eh, tidak usah, Mbak Lina. Tasnya tidak berat kok. Biar Adel bawa sendiri saja," sahut Adel buru-buru, memegang tali ranselnya erat-erat.
"Maaf, Non Adel, ini sudah menjadi instruksi langsung dari Tuan Ardio untuk memastikan Non Adel tidak terbebani sedikit pun," balas Lina lembut seraya mengambil alih ransel Adel dengan sikap hormat.
Adel menghela napas panjang, lalu tersenyum pasrah. "Baiklah... Terima kasih ya, Mbak."
Ketika Adel melangkah memasuki gerbang sekolah, suara murid-murid di lorong utama seketika terhenti.
Kerumunan murid yang tadinya memenuhi jalanan koridor refleks bergeser ke kiri dan kanan, memberi jalan untuk Adel seolah-olah seorang putri kerajaan sedang lewat.
Tidak ada satu pun murid yang berani menatap mata Adel secara langsung, mereka menundukkan kepala dengan raut wajah takut.
"P-permisi, Non Adel..." bisik seorang murid laki-laki kelas dua yang tak sengaja berdiri agak dekat, lalu terburu-buru mundur tiga langkah karena ditatap tajam oleh pengawal berjas hitam di belakang Adel.
Adel menyadari suasana canggung itu dan merasa kurang nyaman.
Ia menoleh ke arah Karin yang berjalan agak ragu di sampingnya.
"Karin. Kenapa kamu jalannya jauh banget di belakang? Sini dekat-dekat aku," kata Adel pelan.
Karin menelan ludah, melirik takut-takut ke arah dua pengawal di belakang mereka.
"A-Adel... aku agak merinding dijaga pria-pria berjas hitam begini, Del! Mereka menatap semua orang seperti mau makan orang hidup-hidup!" visit Karin sedikit gemetar.
Adel tertawa kecil, lalu merangkul lengan Karin.
"Tenang saja, Karin. Mereka orang baik kok, cuma memang mukanya saja yang sedikit galak. Kamu kan sahabatku, mereka tidak akan macam-macam," shut Adel ceria.
Saat mereka masuk ke kantin, beberapa mantan anggota geng Sisca yang dulu sering melontarkan ejekan kini buru-buru menyembunyikan wajah mereka di balik buku pelajaran dengan ketakutan.
Devan yang sedang berdiri di dekat tangga lapangan basket hanya bisa menatap Adel dari jauh.
Devan secara sadar mundur beberapa langkah dan menundukkan kepalanya saat Adel lewat.
Di dalam kelas X-A, suasana mengajar pun berubah drastis. Guru kimia yang biasanya dikenal sangat galak dan suka membentak murid kini berbicara dengan intonasi yang amat lembut dan santai.
"Adelia... apakah penjelasan Bapak di papan tulis sudah cukup jelas? Atau perlu Bapak ulangi lagi?" tanya sang guru dengan senyum yang dipaksakan dan hati-hati.
"Sudah sangat jelas, Pak Guru. Terima kasih," Jawab Adel mengulas senyum manisnya
"B-baguslah kalau begitu..." sahut sang guru sambil mengusap keringat di pelipisnya.
Sementara itu, di luar ruang kelas, empat pengawal berjas hitam berdiri tegap di samping pintu dan jendela, mengawasi setiap pergerakan di area koridor tanpa henti.
Melalui saluran radio rahasia di dalam mobil komando yang terparkir di luar sekolah, Reno mendengarkan laporan situasi secara real-time.
"Laporan untuk Paman Reno. Non Adel telah berada di dalam kelas. Perlindungan lobi, koridor, dan perimeter luar sekolah sudah diperketat 100%. Tidak ada potensi ancaman yang mendekat," ujar agen di lapangan.
Di kantor pusat, Ardio yang menyimak laporan itu dari speaker teleponnya menyandarkan punggung di kursi kebesarannya.
"Bagus. Musuh-musuh lamaku mulai bergerak di balik bayangan. Perketat pengawalan ini sampai tingkat maksimal. Jangan biarkan sebutir debu pun membahayakan putriku!" pukas Ardio dingin.
"Siap, Bos Ardio!"
Meski kini menjadi sosok yang paling disegani dan ditakuti di seluruh SMA Garuda Bangsa, Adel tahu bahwa pengawalan super-ketat ini adalah bentuk kasih sayang dari sang ayah untuk menjaganya dari bahaya besar.