NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Menuju pemulihan

Ujung jemari Ye Chan nyaris menyentuh helai akar itu ketika sebuah bayangan berkelebat di depannya. Dalam satu gerakan lincah, seorang pemuda lain telah berdiri di sana, memotong aksesnya menuju Akar Bintang Pucat yang tumbuh di sela batu besar.

Ye Chan menarik tangannya kembali, matanya menyipit tajam. Napasnya teratur, meski jantungnya berdegup lebih kencang karena kewaspadaan.

Pemuda di hadapannya mengenakan jubah biru pudar dengan emblem yang tidak ia kenali, tatapannya dingin dan penuh tantangan.

Itu dia, orang yang datang lebih dulu.

"Menjauhlah," ucap pemuda itu. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sarat dengan peringatan. "Aku sudah melacak tumbuhan ini selama dua hari. Aku tidak berniat berbagi dengan orang asing."

Ye Chan tidak langsung mundur. Ia memiringkan kepala, mengamati celah di sekitar posisi pemuda itu berdiri. "Dunia kultivasi tidak mengenal siapa yang duluan, tapi siapa yang mampu mengambilnya. Aku juga membutuhkan bahan itu."

'Sombong, tapi memiliki dasar Qi yang solid,' pikir Ye Chan. Ia menyadari lawan ini setingkat dengannya, namun auranya lebih agresif.

Tanpa membuang kata, Ye Chan melesat maju. Pemuda itu—Meng Hao—bereaksi seketika. Ia menarik pedang panjang dari sarungnya, memangkas udara dengan presisi yang mengejutkan. Logam beradu, memercikkan bunga api di tengah hutan yang mulai meredup.

Keduanya saling tukar serangan. Ye Chan menangkis dengan efisien, tubuhnya bergerak sehemat mungkin guna menyimpan energi, sementara Meng Hao terus mendesak dengan tebasan lebar yang penuh risiko. Setiap kali pedang mereka berbenturan, getaran merambat hingga ke tulang lengan.

'Dia tidak peduli pada pertahanan,' gumam Ye Chan dalam hati saat berhasil menghindari tebasan miring yang hampir merobek pundaknya. Ia melompat mundur, menjaga jarak.

"Kau cukup gesit untuk tingkat Kultivasimu," ujar Meng Hao, memutar pedangnya dengan satu tangan. "Tapi kau hanya membuang waktumu, aku tetap yang akan mendapatkan."

Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, tanah di bawah kaki mereka berguncang hebat. Suara raungan rendah menggetarkan dedaunan di sekitar, memaksa keduanya menghentikan langkah. Dari dalam gua tersembunyi yang tertutup semak-semak besar, muncul sesosok monster berukuran tiga kali tubuh manusia.

Hewan Buas-Bertaring Besi. Matanya merah menyala, menatap dua manusia di hadapannya sebagai mangsa yang baru saja masuk ke wilayah perburuannya. Tekanan Qi dari monster tingkat Pembentukan Inti itu sangat menekan, membuat napas Ye Chan mendadak sesak.

'Sial, Pembentukan Inti,' batin Ye Chan. Keadaan berubah drastis dalam sekejap. Ego dan keinginan untuk memperebutkan tumbuhan itu menguap, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang mendesak.

Monster itu tidak menunggu. Ia menerjang maju, menghancurkan pohon-pohon kecil di jalurnya dengan taring besinya yang tajam. Ye Chan dan Meng Hao terpaksa melompat ke arah berlawanan untuk menghindari hantaman pertama yang menghancurkan bongkahan batu besar tepat di tempat mereka berdiri tadi.

Debu beterbangan di udara. Ye Chan mengusap keringat di dahinya, matanya terkunci pada gerak-gerik monster itu. Ia melihat Meng Hao yang kini terpojok di dekat tebing. Jika monster itu menghantam sekali lagi, Meng Hao tidak akan selamat.

Tanpa berpikir dua kali, Ye Chan melesat, bukan ke arah monster, melainkan ke arah tumpukan batu di atas tebing yang menggantung tepat di atas kepala monster. Dengan satu tebasan penuh tenaga ke arah akar pohon yang menopang batu itu, ia membuat bongkahan besar jatuh menghantam punggung monster.

Monster itu meraung marah, kehilangan keseimbangan sejenak.

"Sekarang!" teriak Ye Chan.

Meng Hao tidak buta situasi. Ia memanfaatkan kelengahan monster itu, melesat bagaikan anak panah menuju sisi bawah perut monster yang terbuka. Serangannya presisi, meski ia sendiri nyaris terkena kibasan ekor monster.

Pertarungan berbalik menjadi kerja sama yang canggung. Ye Chan memancing monster itu agar selalu menghadap ke arah yang salah, sementara Meng Hao mencari celah untuk melukai kulit tebal makhluk itu. Tanpa ada yang memberi perintah, mereka bergerak selaras.

'Di bawah perutnya!' Ye Chan menyadari pola itu saat monster itu berusaha bangkit setelah terkena serangan telak. 'Kulitnya tidak sekeras bagian punggung.'

Ye Chan berteriak, "Fokus ke bawah perut! Dia melindungi bagian itu!"

Meng Hao mengangguk sekilas, tidak lagi menunjukkan permusuhan yang kentara. Mereka berdua memutar posisi, menjebak monster itu di antara bebatuan. Ketika monster itu bangkit tegak untuk menerjang Ye Chan, Meng Hao meluncur rendah, menusukkan pedangnya sekuat tenaga ke area lunak di bawah perut.

Jeritan monster memekakkan telinga. Darah kental membasahi tanah, menciptakan bau anyir yang menusuk. Monster itu mengamuk, mencoba mencakar ke segala arah sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan dentuman keras.

Sunyi kembali menyelimuti hutan. Ye Chan terengah-engah, bahunya terasa nyeri akibat benturan saat menghindari serangan sebelumnya. Meng Hao duduk di atas batu besar, lengannya terluka akibat gesekan taring monster, namun ia tampak lebih tenang daripada Ye Chan.

Keduanya terdiam selama beberapa menit, memulihkan napas sambil memastikan monster itu benar-benar tidak lagi bernapas. Pandangan mereka tertuju pada objek yang sama: Akar Bintang Pucat yang masih utuh di sela batu, tak jauh dari bangkai monster itu.

Ye Chan berdiri lebih dulu, melangkah mendekat dengan langkah tertatih. Ia mengambil tumbuhan itu, lalu berbalik menatap Meng Hao yang masih duduk di sana.

"Kita hampir mati," ujar Ye Chan datar.

Meng Hao menghela napas panjang, menatap tumbuhan di tangan Ye Chan sebelum beralih menatap Ye Chan sendiri. "Kalau tidak karena serangan batu-mu, aku mungkin sudah terbelah dua. Dan kalau tidak karena seranganku, monster itu tidak akan mati secepat ini."

Ada jeda yang canggung. Keduanya tahu masalah lama mereka belum selesai. Kebutuhan akan akar itu masih ada.

"Aku butuh akar ini untuk memperbaiki meridianku," kata Ye Chan jujur. Ia tidak melihat gunanya berbohong setelah nyawa mereka dipertaruhkan bersama.

Meng Hao terdiam sejenak, menimbang. "Aku membutuhkannya untuk kenaikan tingkat kultivasiku. Tapi..." Ia memotong ucapannya sendiri, menatap Ye Chan dengan pandangan menilai. "Aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu saja sekarang. Kita bagi dua."

Ye Chan mengerutkan dahi, namun tidak membantah. Itu solusi paling logis. Dengan hati-hati, ia memotong akar itu menjadi dua bagian yang setara dan melemparkan separuhnya ke arah Meng Hao.

"Lain kali, jangan berharap aku akan bekerja sama denganmu," ucap Meng Hao sambil menangkap akar itu, lalu memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan.

Ye Chan menyimpan bagiannya, lalu menatap Meng Hao yang mulai bangkit. "Aku juga tidak berharap."

Meng Hao menyeringai tipis—sebuah seringai yang lebih mirip tantangan daripada persahabatan. "Saat kita sama-sama pulih, aku ingin mencoba kemampuan pedangmu yang sebenarnya. Bukan serangan batu itu."

"Aku akan menunggumu," jawab Ye Chan pendek.

Meng Hao pun melangkah pergi, punggungnya menghilang di balik kerimbunan hutan, meninggalkan Ye Chan sendirian di tengah sisa pertempuran. Ye Chan menatap punggung itu cukup lama.

'Menarik,' pikirnya. Ia menyarungkan pedangnya dan berbalik arah, kembali menuju tempat persembunyiannya di kedalaman gunung.

Malam itu, di kamar penginapan yang temaram, Ye Chan menata bahan-bahan yang telah ia kumpulkan di atas meja kayu. Akar Bintang Pucat yang baru saja ia peroleh kini melengkapi resep pemulihan meridiannya.

Cahaya lilin yang menari-nari memantul di permukaan botol-botol ramuan yang berbaris rapi. Ia menatap bahan-bahan itu dengan saksama. Ia telah berhasil mendapatkan segalanya, tapi rasa cemas masih tertinggal di sudut hatinya.

'Sebelum memperbaiki meridian, tubuhku harus dipersiapkan lebih dulu,' batinnya.

Ia mengepalkan tangan, merasakan sisa-sisa nyeri di bahunya.

Ye Chan menarik napas panjang, memejamkan mata, dan mulai mengatur aliran Qi-nya.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!