Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEDAKAN DI PULAU MORTIS DAN KEMURKAAN SANG IBLIS
Udara dingin nan lembap di dalam saluran ventilasi beton Pulau Mortis terasa begitu menekan. Bau bahan bakar penerbangan dan oli mesin menyengat hidung, memadukan aroma kematian yang siap meletus kapan saja. Di bawah komando Felix, empat prajurit elit Shadow-Black bergerak bagaikan bayangan tanpa suara. Setiap ayunan langkah dan tarikan napas mereka terukur dengan presisi militer tingkat tinggi.
Felix memberikan sinyal tangan bertanda tiga-dua-satu. Dengan gerakan yang amat kilat, kisi-kisi besi ventilasi dilepas tanpa menimbulkan decitan sedikit pun. Felix melompat turun terlebih dahulu, mendarat mulus dalam posisi berlutut di atas lantai pualam kelabu ruang server utama pangkalan.
Ssst! Ssst!
Dua pengawal berpakaian taktis hitam milik kelompok Vance yang berdiri di dekat konsol komputer utama roboh seketika tanpa sempat melepaskan tembakan. Senjata berperedam milik Felix dan timnya bekerja secara mematikan dan senyap.
"Pasang pemicu C-4 di peladen utama dan generator daya darurat!" bisik Felix melalui transmisi mikro internal. "Kita punya waktu tujuh menit sebelum siklus patroli berikutnya melintas!"
Dua prajurit langsung bergerak cepat menempelkan muatan peledak C-4 berbentuk cangkram magnetis pada inti peladen data siber dan panel listrik bertegangan tinggi. Di saat yang sama, prajurit ahli retas Baret Hitam mencolokkan peretas data mikro ke konsol induk pangkalan.
Di layar monitor raksasa, ratusan baris kode siber Baret Hitam meluncur deras, mengambil alih kendali sistem radar, melumpuhkan navigasi rudal jarak pendek, serta mengunci seluruh pintu baja otomatis di sekujur pangkalan.
Sementara itu, ratusan kilometer dari Pulau Mortis...
Di ruang komando utama Fortress Prime, Raja Zean berdiri tegap menatap layar proyeksi tiga dimensi yang menampilkan titik-titik sinyal vital tim Shadow-Black. Di sampingnya, Arumi menggenggam erat jemari suaminya, menyalurkan doa dan kehangatan di tengah atmosfer tegang yang menyelimuti ruangan.
"Proses retas sistem pangkalan Pulau Mortis mencapai delapan puluh persen, Yang Mulia," lapor petugas siber Baret Hitam dengan suara tegas. "Pintu barikade pertahanan udara mereka berhasil dikunci dari dalam."
Mata abu-abu gelap Zean menyempit tajam. "Instruksikan Felix untuk segera bergerak ke sektor gudang amunisi utama. Jangan beri kesempatan pada pasukan Kazan untuk mengudara."
"Siap, Tuan!"
Di dalam koridor bawah tanah Pulau Mortis...
BEEP! BEEP! BEEP!
Mendadak, sirene darurat bersuara nyaring bergaung di seluruh penjuru pangkalan! Lampu penerangan putih seketika berganti menjadi pendaran merah berkedip-kedip.
Sistem keamanan sekunder buatan Kazan Vance yang terpisah dari jaringan utama berhasil mendeteksi adanya intrusi fisik di ruang server!
"Sial! Sistem darurat mereka aktif!" desis Felix seraya mencabut peretas data dari konsol. "Pindah ke Rencana B! Bergerak ke gudang amunisi sekarang!"
Pintu baja ganda di ujung koridor mendadak terbuka secara paksa. Puluhan anggota pasukan bayangan Vance bersenjata lengkap menyembur keluar, langsung melepaskan tembakan membabi buta ke arah tim Shadow-Black!
DOR! DOR! DOR! TRRRRRR!
Baku tembak mematikan tak terelakkan meletus di koridor sempit tersebut. Percikan api menyambar dinding beton saat timah panas beradu dengan dinding baja. Dengan perlindungan tameng taktis lipat berlapis titanium, tim Felix membalas tembakan dengan presisi luar biasa, merobohkan barisan depan musuh satu per satu sembari merangsek maju menuju sektor gudang amunisi.
"Tutup jalur belakang! Tanam pemicu peledak di tangki bahan bakar utama!" teriak Felix melintasi suara bising letupan senjata api.
Seorang prajurit Shadow-Black melemparkan granat asap termit ke arah tumpukan drum bahan bakar roket di sudut gudang amunisi. Detik berikutnya, pemicu timer digital pada peledak C-4 di ruang server mulai menghitung mundur:
00:59... 00:58... 00:57...
"Semua unit, mundur ke titik evakuasi pipa bawah air sekarang!" perintah Felix lantang seraya menembakkan tiga peluru terakhir ke arah panel pintu baja gudang amunisi, menguncinya dari luar agar pasukan musuh terjebak di dalam.
Tim Shadow-Black berlari kencang menembus asap tebal, melompat kembali ke dalam saluran pipa ventilasi bawah air tepat saat gelombang pasukan musuh tambahan tiba di koridor utama.
Di lantai teratas benteng Pulau Mortis, di dalam ruang kerja pribadinya yang megah, Kazan Vance tengah menyesap minuman kerasnya saat lampu merah berkedip-kedip liar dan suara sirine darurat melengking memecahkan kesunyian.
Kazan melempar gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai batu. Wajah tampannya yang pucat seketika berubah mengerikan oleh amarah gila.
"Apa yang terjadi?!" raung Kazan pada mikrofon komandonya. "Siapa yang berani menembus pangkalan ini?!"
Dari mikrofon, suara pimpinan pengawal terdengar panik dan terputus-putus di balik suara ledakan kecil: "Tuan Kazan! Baret Hitam... tim Baret Hitam telah meretas server utama dan menanam bahan peledak di gudang amunisi! Seluruh pintu keluar terkunci otomatis! Anda harus evakuasi via helipad sekarang juga!"
"Baret Hitam?!" Kazan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih dan memutus komunikasi. Matanya menyala merah oleh dendam dan rasa tidak percaya. "Zean... pria sialan itu!"
Tanpa membuang waktu, Kazan berlari keluar menuju helipad pribadi di puncak benteng. Tepat saat helikopter tempurnya mulai menyalakan mesin dan terangkat beberapa meter dari daratan...
00:00!
BOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM!
Sebuah ledakan beruntun yang teramat dahsyat membumbung tinggi dari perut bumi Pulau Mortis!
Gelombang tekanan udara dan lidah api raksasa berwarna oranye pekat menembus lantai beton pangkalan, menggelegar dahsyat hingga menggoncangkan lautan di sekitarnya. Gudang amunisi utama yang berisi puluhan ton peledak cair C-4 dan hulu ledak rudal meletus bersamaan, menciptakan efek domino yang menghancurkan seluruh struktur benteng dalam hitungan detik.
Menara-menara artileri otomatis runtuh terhempas ke dalam lautan, dermaga tersembunyi rata dengan tanah, dan seluruh armada kapal kargo milik Empire Vance hancur berkeping-keping dilalap lautan api.
Helikopter yang ditumpangi Kazan Vance terlempar hebat oleh gelombang hempasan udara ledakan, nyaris menghantam dinding tebing karang sebelum akhirnya sang pilot berhasil menguasai kendali dan meluncur melarikan diri menembus gumpalan asap hitam yang membumbung ke langit malam.
Dari dalam jendela helikopter yang berguncang, Kazan menatap ke bawah. Pangkalan rahasia yang ia bangun bertahun-tahun dengan dana triliunan rupiah kini telah berubah menjadi lautan api dan puing-puing abu yang tenggelam ke dalam dasar laut.
"ZEANNNNN!" raung Kazan dengan suara serak yang dipenuhi oleh kegilaan dan dendam membara. "Aku akan membunuhmu! Aku akan menghancurkan seluruh hidupmu dan membawa Arumi ke dalam nerakaku!"
Di dalam kapal selam mini yang bergerak menjauh di kedalaman laut, Felix dan tim Shadow-Black menatap monitor radar yang merekam runtuhnya benteng Pulau Mortis.
Felix menyunggingkan senyum tipis, lalu menekan tombol transmisi khusus ke markas komando istana.
"Laporan untuk Raja Zean," ujar Felix dengan nada mantap dan bangga. "Misi penyusupan Pulau Mortis sukses total. Pangkalan rahasia, gudang amunisi, dan seluruh sistem siber Kazan Vance telah musnah seratus persen. Tim Shadow-Black kembali tanpa korban jiwa."
Di ruang komando Fortress Prime, sorak-sorai lega dan tepuk tangan bergemuruh dari seluruh jenderal dan teknisi siber Baret Hitam.
Raja Zean menghela napas panjang. Ketegangan di bahunya perlahan melonggar. Pria paling berkuasa itu berbalik menatap istrinya.
Arumi tersenyum manis dengan mata berbinar haru. Tanpa ragu sedikit pun, Arumi melangkah maju dan memeluk tubuh tegap suaminya dengan penuh rasa syukur. Zean merengkuh tubuh Arumi dengan erat, mencium puncak kepala sang istri dengan kelembutan yang teramat dalam.
"Satu ancaman besar telah kita hancurkan, Ratuku," bisik Zean rendah di earphone Arumi. "Kini jalan untuk memburu Kazan Vance hingga ke ujung dunia telah terbuka lebar."
Arumi mendongak, menatap mata abu-abu gelap suaminya yang memancarkan kejayaan dan perlindungan abadi. "Dan aku akan selalu ada di sampingmu, Mas... hingga kedamaian sejati menjadi milik kita."
Di balik kehancuran Pulau Mortis, perang besar mungkin belum sepenuhnya usai. Namun malam ini, kejeniusan taktis Raja Zean dan keteguhan cinta Arumi telah membuktikan bahwa tidak ada kegelapan yang sanggup meruntuhkan benteng cahaya yang mereka bangun bersama.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/