Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Botanic Villa
Setelah pemeriksaan verifikasi kepemilikan vila, Yuda perlahan masuk ke kawasan Vila NavaPark dibawah tatapan tidak percaya satpam itu.
Satpam itu masih merasa sulit mempercayainya dengan apa yang baru saja terjadi.
Tatapannya mengikuti punggung pria yang disangka kurir, ternyata dia adalah pemilik baru Vila paling mahal di Botanic Villa NavaPark.
Saat memasuki kawasan NavaPark, suasananya perlahan berubah.
Pepohonan yang tertata rapi dan lingkungan yang tenang membuat Yuda tanpa sadar memperlambat laju motornya.
Matanya mengamati deretan rumah besar yang berdiri di balik pagar masing-masing.
Beberapa mobil mewah terlihat terparkir di halaman, mulai dari Mercedes-Benz, BMW, hingga Porsche.
Tak lama kemudian, Yuda sampai di gate private area Botanic Villa.
Begitu Yuda mendekati gerbang eksklusif Botanic Villa, dua orang satpam yang berjaga di sana sudah berdiri tegak di luar pos.
Seolah menunggu seseorang.
Rupanya, informasi dari satpam gerbang utama NavaPark sudah sampai ke satpam gerbang Botanic Villa lebih dulu via radio.
Meskipun di mata mereka cukup membingungkan melihat pemilik vila bernilai hampir 90 miliar datang mengendarai motor Beat dengan sandal jepit, profesionalitas mereka sebagai tim keamanan kawasan termahal BSD City tetap diutamakan.
"Selamat siang, Pak Yuda! Selamat datang di Botanic Villa," sapa salah satu satpam dengan senyum ramah dan gestur membungkuk hormat.
Tanpa perlu Yuda berhenti untuk menempelkan kartu tap, palang pintu otomatis di gerbang Botanic Villa sudah terangkat naik dibukakan oleh satpam.
"Terima kasih, Pak," balas Yuda santai sambil tersenyum dari balik helmnya.
"Sama-sama, Pak Yuda. Untuk kartu akses fisik dan kunci master unit Bapak, pihak Estate Management sudah menitipkannya di pos kami demi kemudahan Bapak," tambah satpam tersebut sambil dengan sopan menyerahkan sebuah kotak beludru hitam berisi kartu akses dan kunci pintar.
Yuda menerima kotak tersebut, "Begitukah? Kalau gitu, Terima kasih banyak ya."
"Dengan senang hati, Pak."
Kemudian Yuda mengangguk kepada mereka berdua sebelum akhirnya pergi menuju vilanya.
Suasana di kawasan Botanic Villa nampak sangat tenang, hening dan pemandangan jalanan yang indah.
Dikiri kanan, terlihat pepohonan menambah suasananya.
"Ternyata saperti ini kawasan elit, sungguh hebat." gumamnya sambil mengendarai motornya perlahan sembari mellihat sekeliling.
Tak lama kemudian akhirnya dia sampai didepan bangunan bertingkat vila no.1.
Yuda mendongak.
Di hadapannya berdiri sebuah vila tiga lantai dengan ukuran yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Perpaduan kaca dan elemen kayu membuat tampilannya terlihat modern, tetapi tetap terasa hangat.
“Ini... benar-benar vila.”
Yuda tersenyum kecil.
Ia kemudian memarkirkan motornya dan berjalan melewati area depan menuju pintu utama.
Setelah membuka pintu menggunakan sistem keamanan pintar, Yuda masuk ke dalam.
Di balik foyer, sebuah living room luas menyambutnya.
Dari ruangan tersebut, pandangannya langsung tertuju pada inner courtyard yang berada di tengah bangunan.
Taman terbuka itu menjadi pusat dari bagian dalam vila.
Kaca-kaca di sekitarnya membuat area depan dan belakang terasa saling terhubung.
Yuda berjalan lebih jauh.
Ia melewati koridor dengan dinding kaca, kamar pertama, powder room, serta area lift.
Semakin masuk ke dalam, ruangannya terasa semakin luas.
Beberapa anak tangga menghubungkan perbedaan level bangunan yang mengikuti kontur.
Sampai akhirnya Yuda tiba di bagian belakang.
Ia terdiam sejenak.
Living room belakang menyatu dengan ruang makan keluarga dalam satu area yang sangat luas.
Dinding belakangnya dipenuhi panel kaca dengan bingkai kayu, sementara dua pintu kaca geser terbuka menuju area luar.
Di baliknya terbentang kolam renang pribadi, taman, dan area bersantai.
Lebih jauh lagi, terlihat hamparan hijau Botanic Park.
Yuda hanya bisa tersenyum.
“Bagus...”
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat sendiri tempat yang sebelumnya hanya ia kenal dari vidio pendek di sosmed.
Dan harus diakui, vila ini jauh lebih mengesankan ketika dilihat secara langsung.
Setelah cukup lama menikmati pemandangan dari area belakang, Yuda kembali masuk ke dalam vila.
Rasa penasarannya belum selesai.
Ia kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.
Ia sengaja tidak naik lift, pengen keliling setiap sudut ruangan.
Berbeda dengan lantai bawah, koridor di lantai ini terasa lebih privat.
Panel-panel kaca di sepanjang sisi koridor kembali memperlihatkan inner courtyard di tengah bangunan, sementara dari beberapa sudut ia masih bisa melihat area living room besar di lantai bawah.
Yuda berjalan menyusuri koridor tersebut.
Dua kamar tidur berada berdampingan di salah satu sisi, masing-masing memiliki akses menuju balkon yang saling terhubung.
Yuda hanya melihatnya sekilas sebelum melanjutkan perjalanan.
“Bahkan kamarnya saja sudah seperti apartemen mewah.”
Ia tersenyum kecil.
Setelah itu, Yuda naik ke lantai tiga.
Di lantai paling atas, kembali terdapat koridor dengan banyak kaca yang menghadap ke inner courtyard.
Di bagian tengah terdapat sebuah living room, sementara beberapa pintu di kedua sisinya mengarah ke kamar tidur.
Salah satu kamar memiliki ukuran yang cukup luas dengan fasilitas lengkap dan balkon pribadi.
Namun, perhatian Yuda akhirnya tertuju pada kamar di sisi lainnya.
Kamar Utama.
Ruangan itu jauh lebih besar daripada kamar-kamar sebelumnya.
Area tidurnya luas, dilengkapi ruang ganti yang lebih besar, kamar mandi pribadi dengan fasilitas yang lebih lengkap, serta balkon yang juga jauh lebih luas.
Yuda melangkah keluar ke balkon.
Dari sana, pandangannya terbuka ke arah kolam renang, taman belakang, hingga Botanic Park di kejauhan.
Yuda terdiam beberapa saat.
“Pemandangannya bagus.”
Ia tidak menyangka vila yang selama ini hanya dilihat dari vidio pendek ternyata senyaman ini ketika dilihat langsung.
Setelah selesai berkeliling, Yuda akhirnya memiliki gambaran utuh mengenai tempat tersebut.
Vila itu memiliki 5 kamar tidur + 1 kamar tidur pembantu.
Kamar tidur yang tersebar ada ditiga lantai, dan setiap kamar dilengkapi ruang ganti serta kamar mandi pribadi.
Masing-masing juga memiliki akses balkon, dengan balkon kamar utama sebagai yang paling bagus pemandangannya.
Selain kamar tidur, tersedia beberapa living room, ruang makan keluarga, area servis, lift, inner courtyard, taman, serta kolam renang pribadi.
Yuda kembali memandang sekeliling.
“Kalau tinggal di sini sendirian... sepertinya malah terlihat kebesaran."
Ia tertawa pelan.
Kemudian Yuda melangkah masuk kembali ke kamar utama.
Dia berbaring diatas tempat tidur empuk dengan perasaan sangat puas.
Ia menatap langit-langit kamar, "Saldo bank 98 Miliar lebih, punya Vila Botanic NavaPark termahal..."
Yuda masih memiliki rasa tidak nyata atas apa yang ia alami saat ini.
Semuanya seperti mimpi, dan dia bahkan tidak akan pernah bermimpi bakal punya rumah harga puluhan Miliar, saldo juga hampir seratus miliar.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam menikmati kenyamanan tempat tersebut.
Kasur yang empuk, udara kamar yang sejuk, serta suasana yang begitu tenang membuat tubuhnya perlahan terasa semakin rileks.
Namun, setelah beberapa menit, Yuda akhirnya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.
Tatapannya kembali berkeliling.
Sekarang, setelah rasa kagum terhadap vila itu sedikit mereda, ia baru menyadari sesuatu.
Barang-barang miliknya masih belum dibereskan.
Tas belanja yang tadi dibawanya masuk bahkan masih tergeletak begitu saja.
Ia menoleh menatap ke tas belanja Armani dan Huawei disebelahnya.
Lalu tatapannya terfokus ke tas belanja Huawei, ia segera mengambilnya dan membukanya.
Yuda mengeluarkan sebuah kotak besar berwarna hitam bertuliskan World's First Tri-Fold Smartphone.
Begitu kotak itu dibuka, ia langsung disambut oleh HP tiga lipat andalan Huawei dalam posisi layar sudah terbuka penuh.
Yaitu Huawei Mate XT versi varian hitam tepi emas.
Yuda mengangkat HP Huawei Mate XT nya merasa sangat gembira, karena ini adalah hp impiannya.
Kemudian ia menyalakan HP nya.
Logo Huawei dan Harmony Os muncul dilayar, disusul proses pengaturan awal.
Ia mengsetting pembukaan awal hp baru sebentar.
Tak butuh waktu lama, antar muka dilayar utama akhirnya muncul.
Ia mulai menjelajahi fitur hp barunya, dari membuka browser, mencoba kamera hingga membuka beberapa aplikasi untuk menguji seberapa mulusnya hp seharga puluhan juta.
Perpindahan aplikasinya benar-benar mulus tanpa cela.
Setelah memastikan semuanya berjalan normal, Yuda akhirnya meletakkan Hpnya di meja.
Perasaan puas, gembira, bahagia bercampur.
[Ding! Terdeteksi Tuan Rumah dalam suasana hati bahagia.]
[Hadiah Diberikan: 10 juta rupiah, akan di kirim ke rekening Tuan Rumah dalam waktu 1x24 jam.]
Ia menghiraukan notifikasi sistem, dalam artian sudah terbiasa dan tidak terkejut.
Dan baginya, 10 juta itu termasuk kecil jika disandingkan dengan saldonya yang puluhan miliar.
Ia kembali berbaring nyaman di atas kasur empuknya.
“Satu per satu impianku terwujud.”
Yuda menatap langit-langit kamar dengan senyum tipis.
Namun, tak lama kemudian, pikirannya beralih pada salah satu produk sistem yang belum digunakannya.
Kartu izin pembelian mobil edisi terbatas.
Ia sebenarnya sudah memikirkan dengan matang mobil apa yang ingin dibelinya.
Yang pasti itu mobil sport.
Lalu Rolls-Royce Cullinan dari toko event sistem masih terpajang.
Dan tentu saja, sebuah motor sport impiannya yang juga ingin ia beli melalui toko sistem.
Hanya saja, masih ada satu hal yang membuatnya penasaran.
Bagaimana sistem akan mengurus pembelian kendaraan tersebut?
Apakah mobil dan motor itu akan langsung muncul di garasi?
Atau sistem akan mengatur pembelian melalui jalur tertentu, kemudian ia hanya perlu datang ke dealer untuk mengambilnya?
Yuda menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah. Nanti juga tahu sendiri.”
Ia tidak ingin terlalu memusingkan sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Namun, sebelum benar-benar beristirahat, Yuda tiba-tiba teringat pada satu hal lainnya.
Saham Wirasakti Grup yang baru saja dibelinya.
“Kata sistem, besok bakal ada yang meneleponku dari pihak Wirasakti Grup...”
Yuda terdiam sejenak.
Sepertinya, kehidupan santainya akan mulai terganggu.
“Sepertinya besok aku bakal sangat sibuk.”
Dengan pikiran tersebut, Yuda berbaring memejamkan matanya.
Hari ini mungkin menjadi hari yang santai.
Tapi mulai besok, sesuatu yang baru akan dimulai.
Bab Berakhir.