NovelToon NovelToon
Kau Harus Rela Melepasnya

Kau Harus Rela Melepasnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anto Sabar

Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama

Pagi itu—

langit cerah.

Namun suasana di dalam diri Ryan—

tidak sesederhana itu.

Ia berdiri di depan bengkel.

Menatap jalanan yang mulai ramai.

Tangannya masuk ke saku.

Dan di dalamnya—

masih ada kartu itu.

Kartu dari Adrian.

Semalaman—

ia tidak benar-benar tidur.

Pikirannya terus berputar.

Tentang pilihan.

Tentang risiko.

Dan tentang satu hal yang terus mengganggu—

Arini.

Ryan menghela napas panjang.

Lalu—

mengeluarkan ponselnya.

Tanpa ragu lagi—

ia menekan satu nomor.

Beberapa detik—

sambungan tersambung.

“Sudah siap?”

Suara itu langsung terdengar.

Tenang.

Seolah sudah menunggu.

Ryan tidak basa-basi.

“Saya ambil.”

Di seberang—

terdengar tawa kecil.

“Bagus.”

Ryan menatap ke depan.

“Proyeknya apa?”

Adrian menjawab singkat,

“Kita ketemu.”

“Di mana?”

Adrian menyebut sebuah lokasi.

Ryan terdiam sejenak.

Karena ia tahu tempat itu.

Bukan tempat biasa.

“Jam sepuluh.”

Sambungan terputus.

Ryan menurunkan ponsel.

Tatapannya berubah.

Lebih serius.

“Bang?”

Salah satu pekerja memanggil.

Ryan menoleh.

“Hari ini saya keluar sebentar.”

“Siap, bang.”

Ryan masuk ke dalam bengkel sebentar.

Mengambil jaket.

Lalu—

pergi.

Satu jam kemudian—

Ryan berdiri di depan sebuah gedung besar.

Tinggi.

Mewah.

Dan jelas—

bukan dunia yang biasa ia masuki.

Ia menatap ke atas.

Beberapa detik.

“Jauh juga…” gumamnya.

Namun ia tidak ragu.

Ia melangkah masuk.

Di dalam—

suasana berbeda.

Bersih.

Tenang.

Berkelas.

Beberapa orang meliriknya.

Namun Ryan tidak peduli.

“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?” tanya resepsionis.

“Saya cari Adrian.”

Wanita itu langsung berubah sikap.

Lebih serius.

“Sudah ditunggu.”

Ryan mengangguk.

Ia diarahkan ke lantai atas.

Lift naik perlahan.

Dan setiap detik—

terasa lebih berat.

Bukan karena takut.

Tapi karena—

ia tahu.

Langkah ini—

akan mengubah segalanya.

Ting.

Pintu lift terbuka.

Seorang pria sudah menunggu.

“Silakan.”

Ryan mengikuti.

Sampai akhirnya—

ia masuk ke sebuah ruangan besar.

Dan di sana—

Adrian sudah duduk santai.

“Kamu tepat waktu.”

Ryan berdiri di depannya.

“Kesempatan tidak datang dua kali, kan?”

Adrian tersenyum tipis.

“Cepat belajar.”

Ia menunjuk kursi.

“Duduk.”

Ryan duduk.

Di atas meja—

sudah ada beberapa dokumen.

Dan satu tablet.

Adrian mendorongnya sedikit.

“Lihat.”

Ryan mengambil tablet itu.

Membukanya.

Beberapa detik—

matanya fokus.

Lalu—

sedikit menyempit.

“Mobil balap?”

Adrian mengangguk.

“Bukan sembarang.”

Ryan membaca lebih detail.

Dan semakin ia melihat—

semakin jelas.

Ini bukan proyek kecil.

Ini—

proyek level tinggi.

“Kenapa saya?” tanya Ryan.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata,

“Karena kamu tidak panik.”

Ryan terdiam.

Adrian melanjutkan,

“Dan kamu tidak takut gagal.”

Ryan menatapnya.

“Atau belum merasakannya.”

Adrian tersenyum.

“Itu yang akan kita lihat.”

Ryan menutup tablet itu.

Menaruhnya kembali di meja.

“Kalau saya gagal?”

Adrian menjawab santai,

“Maka kamu selesai.”

Sunyi.

Ryan tidak kaget.

Ia sudah menduga.

“Dan kalau berhasil?”

Adrian menyandarkan tubuhnya.

“Dunia kamu berubah.”

Jawaban singkat.

Namun—

cukup.

Ryan mengangguk pelan.

Ia tahu.

Ini bukan sekadar proyek.

Ini taruhan.

“Waktu?” tanyanya.

“Tiga hari.”

Ryan langsung menatap tajam.

“Tiga hari?”

Adrian tersenyum tipis.

“Terlalu cepat?”

Ryan tidak menjawab.

Namun dalam pikirannya—

ia sudah menghitung.

Sulit.

Sangat sulit.

Namun—

bukan tidak mungkin.

“Lokasinya?” tanya Ryan.

Adrian menyebutkan tempat.

Sebuah workshop khusus.

“Semua alat ada di sana.”

Ryan mengangguk.

Ia berdiri.

“Mulai kapan?”

Adrian tersenyum.

“Sekarang.”

Ryan tidak ragu lagi.

Ia berbalik.

Siap keluar.

Namun sebelum itu—

Adrian berkata,

“Ryan.”

Ia berhenti.

“Jangan bawa perasaan ke sini.”

Ryan tidak menoleh.

“Kalau kamu campur…”

Adrian tersenyum tipis.

“…kamu akan kalah.”

Ryan terdiam beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Kalau saya tidak bawa…”

Ia sedikit menoleh.

“…saya bukan saya.”

Adrian tertawa kecil.

“Menarik.”

Ryan keluar dari ruangan itu.

Langkahnya mantap.

Namun di dalam hatinya—

ia tahu.

Ini bukan lagi soal bengkel kecil.

Ini—

awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Dan tidak ada jalan kembali.

1
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
baru juga mau mulai belum apa² udah ada yang gak suka 🤦
Nur Wahyuni
seru
Nur Wahyuni
lanjut
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
O,oh .., tidak!!! jangan bikin aku nangis bawang kak .
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
ih ko sedih ya bayangin nya, jangan terlalu rumit lah kasian yang baca, next lanjut... semoga bagus ceritanya
Anto Sabar: insyaallah,makasih bnyk atas dukungannya senior.
total 1 replies
Nur Wahyuni
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!