melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aku mati sebagai melda, hidup kembali sebagai alya
Pagi datang perlahan di apartemen lantai tinggi itu.
Cahaya matahari menembus jendela besar dan menyentuh lantai ruang tamu yang mengkilap. Kota di bawah sudah hidup sejak subuh. Kendaraan memenuhi jalan, orang-orang bergegas menuju pekerjaan mereka.
Namun di dalam apartemen itu, suasana terasa jauh lebih sunyi.
Alya berdiri di depan cermin kamar tidur.
Ia sudah bangun sejak lama.
Tangannya menyentuh pipinya perlahan.
Wajah yang menatap balik dari cermin masih terasa asing.
Namun bukan lagi asing dengan rasa takut.
Sekarang justru terasa seperti topeng yang sempurna.
Topeng untuk memasuki dunia baru.
Topeng untuk menghancurkan mereka.
Ia mengikat rambutnya rapi.
Kemudian menatap dirinya sekali lagi.
“Mulai hari ini,” bisiknya.
“Aku bukan korban lagi.”
Di ruang tamu, Raka sudah duduk di sofa sambil membaca laporan di tablet.
Ketika Alya keluar dari kamar, ia langsung mengangkat kepala.
Beberapa detik ia menatap wajah Alya.
Bukan karena kagum.
Melainkan menilai.
Seolah memastikan sesuatu.
“Kamu terlihat berbeda,” katanya.
Alya duduk di seberangnya.
“Bukankah itu tujuan operasi kemarin?”
Raka tersenyum tipis.
“Benar.”
Ia meletakkan tablet di meja.
“Ada tiga hal yang harus kamu pelajari jika ingin masuk ke dunia keluarga Kusuma.”
Alya menyandarkan tubuhnya.
“Aku mendengarkan.”
Raka mengangkat satu jari.
“Pertama: uang.”
Ia menunjuk layar tablet yang menampilkan grafik bisnis.
“Keluarga Kusuma menguasai banyak perusahaan.”
“Ada properti, logistik, perdagangan, bahkan media.”
Alya melihat layar itu.
Begitu banyak nama perusahaan.
Ia bahkan tidak pernah mendengar sebagian besar di antaranya.
“Kalau ingin menyentuh mereka,” lanjut Raka, “kamu harus masuk ke dunia yang sama.”
Ia mengangkat jari kedua.
“Kedua: jaringan.”
Raka memperbesar foto beberapa orang di layar.
“Pengusaha. Politisi. Investor.”
Alya mengamati wajah-wajah itu.
Orang-orang yang hidupnya sangat jauh dari dunia lamanya.
“Keluarga Kusuma kuat bukan hanya karena uang,” kata Raka.
“Tapi karena mereka punya banyak orang yang berdiri di belakang mereka.”
Alya bertanya pelan.
“Dan yang ketiga?”
Raka menatapnya lurus.
“Kamu harus menghilang.”
Alya mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Raka menjawab tenang.
“Melda harus benar-benar mati.”
Ruangan itu terasa lebih dingin.
Alya menatap Raka lama.
“Dan Alya?”
Raka bersandar.
“Alya adalah orang baru.”
Ia menunjuk wajahnya.
“Wajah baru.”
Ia menunjuk kartu identitas di meja.
“Nama baru.”
Lalu ia menunjuk layar tablet.
“Dan segera… kehidupan baru.”
Alya menarik napas panjang.
Semua terasa seperti permainan besar yang terlalu jauh dari dunia lamanya.
Namun ketika bayangan Wulan muncul di pikirannya…
Semua keraguan itu hilang.
“Apa langkah pertama?” tanya Alya.
Raka mengambil tablet lagi.
Ia membuka profil sebuah perusahaan.
“Kamu akan bekerja.”
Alya mengangkat alis.
“Bekerja?”
Raka mengangguk.
“Perusahaan ini milik salah satu partner bisnis keluarga Kusuma.”
Nama perusahaan itu muncul di layar.
Aurora Capital.
“Aku sudah mengatur semuanya,” kata Raka.
“Kamu akan masuk sebagai analis bisnis.”
Alya menatap layar itu.
“Kenapa perusahaan ini?”
Raka menjawab singkat.
“Karena Agung sering datang ke sana.”
Nama itu langsung membuat jantung Alya berdetak lebih cepat.
Agung.
Pria yang membuat Wulan kehilangan segalanya.
Pria yang memilih diam ketika kakaknya memohon pertanggungjawaban.
Alya menatap Raka dengan mata tajam.
“Jadi ini cara kita mendekatinya.”
Raka tersenyum tipis.
“Bukan mendekati.”
Ia menatap layar dengan dingin.
“Ini cara kita masuk ke dunianya.”
Sementara itu di gedung utama Kusuma Group, suasana pagi terlihat sibuk.
Karyawan keluar masuk dengan rapi.
Lift bergerak naik turun membawa para eksekutif.
Di lantai paling atas, Agung berdiri di depan jendela kantornya.
Tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin.
Matanya kosong.
Ia tidak benar-benar melihat kota di luar sana.
Yang ia lihat hanyalah bayangan masa lalu.
Wulan.
Wajah gadis itu muncul terus di pikirannya.
Tangisan malam terakhir mereka bertemu.
Permohonan Wulan.
“Agung… aku tidak bisa menghadapi ini sendirian.”
Namun saat itu ia hanya diam.
Karena ancaman ayahnya.
Karena ketakutannya.
Agung menutup matanya.
Rasa bersalah itu semakin berat setiap hari.
Ketukan pintu membuatnya membuka mata.
“Asisten Anda sudah datang, Pak,” kata sekretarisnya.
Agung mengangguk.
Beberapa detik kemudian seorang pria masuk.
Raka.
Agung terlihat sedikit terkejut.
“Kamu jarang datang ke kantor.”
Raka duduk santai di kursi.
“Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar.”
Agung menatapnya curiga.
“Kamu bicara seperti eksekutif sekarang.”
Raka tersenyum tipis.
“Mungkin aku mulai tertarik dengan bisnis keluarga.”
Agung tertawa kecil.
“Kalau Ayah mendengar itu, dia pasti senang.”
Namun Raka tidak tertawa.
Tatapannya justru tajam.
“Bagaimana kalau aku bilang aku juga ingin masuk lebih dalam ke bisnis Kusuma Group?”
Agung mengangkat alis.
“Serius?”
Raka mengangguk.
“Sudah waktunya aku ikut bermain.”
Agung tidak tahu bahwa kata-kata itu memiliki arti yang jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Hari berikutnya.
Alya berdiri di depan gedung Aurora Capital.
Gedung itu tinggi dan modern.
Kaca-kacanya memantulkan cahaya terang.
Orang-orang dengan pakaian formal berjalan masuk dengan percaya diri.
Alya menatap pintu masuk itu beberapa detik.
Ini bukan dunia yang pernah ia kenal.
Namun sekarang ia harus masuk ke dalamnya.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian melangkah masuk.
Resepsionis menyambutnya dengan ramah.
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”
Alya menunjukkan kartu identitas barunya.
“Saya Alya Pramesti. Hari ini mulai bekerja.”
Beberapa menit kemudian ia sudah berada di lantai kantor analis.
Meja kerja, komputer, dan dokumen bisnis memenuhi ruangan itu.
Orang-orang di sana tampak sibuk.
Tidak ada yang mengenalnya.
Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Dan itulah yang ia butuhkan.
Seorang wanita di meja sebelah tersenyum padanya.
“Kamu karyawan baru?”
Alya mengangguk.
Wanita itu memperkenalkan diri.
“Namaku Dina.”
Alya membalas dengan senyum tipis.
Hari pertama itu berlalu dengan cepat.
Alya mempelajari laporan keuangan, grafik investasi, dan strategi bisnis.
Semuanya terasa asing.
Namun ia belajar dengan cepat.
Karena ia tahu…
Semua ini adalah senjata.
Sore hari menjelang pulang kerja.
Alya sedang merapikan dokumen ketika tiba-tiba suasana kantor berubah sedikit lebih tegang.
Beberapa karyawan berbisik.
“Dia datang.”
Alya mengangkat kepala.
“Siapa?”
Dina berbisik pelan.
“Salah satu pemilik saham terbesar perusahaan ini.”
Langkah kaki terdengar dari koridor.
Alya menoleh ke arah pintu.
Seorang pria masuk ke ruangan dengan beberapa orang di belakangnya.
Pria itu tinggi.
Berpakaian rapi.
Wajahnya tampak serius.
Jantung Alya langsung berdetak lebih keras.
Ia mengenali pria itu.
Agung Kusuma.
Namun Agung tidak mengenalinya.
Bagaimana mungkin?
Wajah Melda sudah tidak ada lagi.
Alya menundukkan kepala pura-pura fokus pada dokumen.
Agung berjalan melewati meja-meja karyawan.
Ia berbicara dengan beberapa manajer.
Tanpa sadar langkahnya berhenti beberapa meter dari meja Alya.
Ia melihat laporan yang sedang Alya kerjakan.
“Ini analisis siapa?”
Dina langsung menunjuk Alya.
“Dia karyawan baru, Pak.”
Agung menatap Alya.
Hanya beberapa detik.
Namun entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Tatapan mata wanita itu terasa… familiar.
Namun ia tidak tahu dari mana.
Alya mengangkat wajahnya dengan tenang.
“Laporan saya, Pak.”
Agung membaca sekilas dokumen itu.
Kemudian ia berkata singkat.
“Analisisnya bagus.”
Ia menyerahkan kembali dokumen itu.
“Lanjutkan.”
Kemudian ia berjalan pergi.
Namun beberapa langkah kemudian Agung berhenti sejenak.
Ia menoleh sedikit ke arah Alya.
Perasaan aneh itu muncul lagi.
Seolah ia pernah melihat mata itu sebelumnya.
Namun ia menggelengkan kepala.
Itu mustahil.
Ia lalu melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
Alya baru menyadari napasnya tertahan sejak tadi.
Tangannya sedikit gemetar.
Namun bukan karena takut.
Melainkan karena sesuatu yang lain.
Ia baru saja berdiri beberapa meter dari pria yang menghancurkan hidup kakaknya.
Dan pria itu tidak mengenalinya sama sekali.
Perasaan aneh muncul di dadanya.
Bukan hanya marah.
Namun juga kepuasan yang dingin.
Permainan ini baru dimulai.
Malamnya di apartemen, Alya menceritakan semuanya kepada Raka.
Raka mendengarkan dengan tenang.
Ketika Alya selesai bercerita, ia tersenyum tipis.
“Bagus.”
Alya menatapnya.
“Dia sama sekali tidak mengenaliku.”
Raka berdiri dan berjalan ke jendela.
“Itulah keuntungan wajah baru.”
Ia menatap kota yang terang.
“Ayahku selalu percaya dia mengendalikan semua orang.”
“Dia tidak pernah membayangkan seseorang bisa menyusup begitu dekat.”
Alya bertanya pelan.
“Langkah berikutnya?”
Raka menoleh.
Tatapannya dingin.
“Sekarang kita mulai menghancurkan mereka… sedikit demi sedikit.”
Di sisi lain kota, Surya Kusuma sedang menerima laporan dari anak buahnya.
“Perempuan itu selamat dari kecelakaan.”
Surya hanya tersenyum tipis.
“Tidak masalah.”
Ia menyesap minumannya.
“Seorang gadis kecil tidak akan mampu melakukan apa pun.”
Namun jauh dari pengetahuan Surya…
Gadis yang ia anggap lemah itu sekarang sudah berdiri di tengah dunia bisnisnya sendiri.
Dengan wajah baru.
Nama baru.
Dan rencana balas dendam yang semakin matang.
Perang yang sebenarnya…
Baru saja dimulai.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.