NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARANG DI TENGAH SALJU

Kyai Abdullah menepuk bahu Hafiz sekali lagi sebelum beranjak. Namun, getaran di tangan Kyai tidak mampu mengusir rasa dingin yang mulai merayap di tengkuk Hafiz.

Matahari baru saja terbenam sepenuhnya, tapi kegelapan yang dirasakan Hafiz bukan berasal dari malam. Kegelapan itu datang dari tatapan-tatapan tajam jamaah yang masih tertinggal di serambi masjid.

Esok paginya, bau subuh yang dingin biasanya terasa menenangkan. Tapi bagi Hafiz, udara pagi itu terasa mencekik.

Baru saja ia memegang gagang sapu lidi di pelataran, telinganya sudah menangkap desas-desus yang lebih tajam dari sembilu. Di warung kopi seberang masjid, beberapa pria paruh baya menunjuk-nunjuk ke arahnya.

"Itu dia orangnya. Katanya koruptor" bisik seorang pria berkumis tebal yang sedang menyeruput kopi hitamnya.

"Pantas saja Kyai Abdullah mendadak punya asisten baru. Ternyata asistennya kotor begitu. Apa nggak takut masjid kita kena sial?" timpal yang lain dengan nada meremehkan.

Hafiz mencengkeram gagang sapu lidinya hingga urat-urat di tangannya yang masih lecet menonjol keluar. Ia mencoba fokus pada daun-daun kering yang berserakan, tapi setiap langkahnya terasa seperti sedang menginjak bara api.

"Mas Hafiz, sapunya yang bersih ya. Jangan sampai debu kotanya ketinggalan di sini," teriak salah satu pemuda kampung yang sedang lewat sambil tertawa mengejek.

Hafiz hanya diam, rahangnya mengeras. Jika ini adalah setahun lalu, pemuda itu mungkin sudah ia seret ke meja hijau atau minimal ia buat kehilangan pekerjaannya.

Tapi sekarang? Ia bahkan tidak punya kekuatan untuk sekadar membalas tatapan mereka.

"Mas Hafiz..."

Suara lembut itu membuat Hafiz tersentak. Zahra berdiri di sana, memegang sebuah nampan berisi segelas teh hangat dan piring berisi pisang goreng.

Hafiz segera memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang mungkin terlihat merah karena kurang tidur dan tekanan batin.

"Nggak usah repot-repot, Zahra. Nanti kalau warga lihat kamu bicara sama saya, mereka bakal makin benci sama kamu juga," ucap Hafiz dengan nada pahit.

Zahra meletakkan nampan itu di atas pembatas tembok pelataran. Ia tidak langsung pergi, melainkan menatap ke arah warung kopi di seberang sana yang masih sibuk bergunjing.

"Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, Mas. Mereka hanya bicara apa yang mereka lihat di permukaan, bukan apa yang Mas perjuangkan di dalam," jawab Zahra pelan.

Hafiz tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Masalahnya, Zahra... permukaan saya memang sudah kotor. Mereka nggak salah."

"Tapi air wudhu semalam sudah membasuhnya, bukan?" Zahra menatap Hafiz dengan keyakinan yang membuat Hafiz merasa semakin tak pantas.

Hafiz terdiam, ia kembali mengayunkan sapunya dengan gerakan kasar, seolah ingin menyapu semua hinaan itu keluar dari kepalanya.

Zahra hanya mendesah pelan, ia tahu pria di depannya ini sedang berada di ambang kehancuran ego yang luar biasa besar.

Siang harinya, keadaan justru semakin memburuk. Gosip itu menyebar seperti virus ke seantero desa, bahkan sampai ke telinga ibu-ibu pengajian.

Saat Hafiz sedang membersihkan tempat wudhu wanita—tentu saja saat sedang kosong—ia mendengar suara rombongan ibu-ibu yang datang untuk sholat Dzuhur.

"Bu, beneran itu si Hafiz-Hafiz itu koruptor? Saya lihat di TV kabel kemarin, mukanya mirip banget!" ucap seorang ibu dengan suara melengking.

"Iya, Jeng! ngeri ya, Kyai Abdullah kok berani-beraninya masukin serigala ke dalam kandang domba," sahut ibu yang lain sambil menutup hidung saat melewati Hafiz.

Hafiz yang sedang berjongkok menggosok lantai tempat wudhu membeku. Tangan yang memegang sikat plastik itu gemetar hebat.

"Awas lho, nanti kotak amal kita hilang digondol dia. Orang kota kan licik-licik kalau sudah kepepet," bisikan itu terdengar sangat jelas di telinga Hafiz.

Prak!

Sikat plastik di tangan Hafiz patah. Ia sudah tidak tahan lagi. Dada pria itu naik turun menahan amarah yang meledak-ledak.

Ia berdiri, ingin sekali rasanya berteriak bahwa ia tidak pernah menyentuh kotak amal serupiah pun. Bahwa ia memang jatuh, tapi ia bukan pencuri murahan.

Tapi ia teringat wajah Kyai Abdullah yang tenang. Ia teringat janji barunya semalam saat bersujud di hadapan Sang Khalik.

Hafiz melempar sikat yang patah itu ke dalam ember. Ia keluar dari tempat wudhu dengan langkah cepat, mengabaikan tatapan jijik dari ibu-ibu pengajian yang langsung menepi seolah ia membawa wabah pes.

Hafiz berjalan menuju arah taman belakang masjid, tempat yang lebih sepi dari hiruk pikuk manusia. Ia terduduk di bawah pohon kamboja, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Cukup... gue nggak kuat kalau begini terus," gumamnya dengan suara parau.

Baginya, lebih baik dipukuli oleh preman suruhan Robi daripada dihujat dengan kata-kata suci oleh orang-orang yang merasa diri mereka paling benar.

Ia merasa seperti sepotong arang yang dilempar ke tengah hamparan salju putih. Keberadaannya hanya akan membuat noda hitam yang merusak pemandangan.

Ia merogoh saku baju kokonya, berharap masih ada sisa-sisa harga dirinya yang tertinggal. Tapi yang ia temukan hanyalah telapak tangan yang makin lecet dan perih.

"Mau menyerah sekarang?"

Hafiz mendongak. Kyai Abdullah berdiri di sana, memegang tongkat kayunya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mereka nggak mau saya di sini, Kyai. Saya cuma bikin masjid ini jadi bahan omongan orang," ucap Hafiz dengan suara yang bergetar karena emosi.

Kyai Abdullah duduk di samping Hafiz, ia tidak tampak terganggu sedikit pun dengan keributan di luar sana.

"Masjid ini bukan milik warga, bukan milik saya, apalagi milik mereka yang hobinya mencari kesalahan orang lain," ucap Kyai dengan tenang.

"Tapi mereka menghina Kyai juga! Mereka bilang Kyai nampung serigala! Saya nggak mau Kyai kena getahnya gara-gara saya!" Hafiz mulai meninggikan suaranya.

Kyai Abdullah tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat ringan seolah hinaan orang sedesa hanyalah debu yang lewat.

"Hafiz, kalau saya takut pada omongan orang, saya tidak akan pernah membangun masjid ini di atas tanah sengketa dulu," cerita Kyai.

"Dunia ini memang tempatnya ujian. Kamu dihina sekarang adalah cicilan dari kesombonganmu di masa lalu. Terima saja."

"Tapi sampai kapan, Kyai? Sampai saya benar-benar gila?" tanya Hafiz putus asa.

Kyai Abdullah berdiri, ia menatap langit siang yang terik. "Sampai hatimu lebih besar daripada ego yang sedang terluka itu."

Kyai kemudian memberikan sebuah sapu baru kepada Hafiz. "Lanjutkan tugasmu.

Sore harinya, sebuah mobil mewah berlogo merk terkenal berhenti di depan gerbang masjid. Mobil itu sangat kontras dengan lingkungan sekitar, hampir sama mewahnya dengan mobil Cindy kemarin.

Hafiz yang sedang menyiram tanaman di samping gerbang segera menundukkan kepala, mencoba bersembunyi di balik rimbunnya pohon pucuk merah.

Tiga orang pria berjas rapi keluar dari mobil tersebut. Mereka tampak berwibawa dan berkelas, sangat identik dengan dunia lama Hafiz.

"Permisi, apa benar ini kediaman Kyai Abdullah?" tanya salah satu pria yang membawa koper hitam.

Hafiz tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah rumah Kyai dengan tangan yang gemetar.

Pria-pria itu melangkah masuk dengan angkuh. Saat melewati Hafiz, salah satu dari mereka sempat berhenti dan menatap Hafiz dengan dahi berkerut.

"Tunggu sebentar... wajah kamu familiar sekali," ucap pria itu sembari mendekati Hafiz.

Hafiz semakin menunduk, jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga sendiri.

"Kamu... kamu Hafiz Alamsyah, kan? CEO yang tersandung kasus korupsi?" tanya pria itu dengan nada yang sangat keras.

Warga yang sedang bersiap untuk sholat Ashar langsung berhenti melangkah. Semua mata kini tertuju pada Hafiz.

"Wah, beneran dia! Ternyata beneran penjahat!" teriak salah satu warga dari kejauhan.

Hafiz merasa dunianya runtuh saat itu juga. Tamu-tamu kota itu mulai mengeluarkan ponsel mereka, memotret Hafiz seolah-olah ia adalah binatang langka di kebun binatang.

"Hebat ya, dari kantor sekarang jadi tukang siram bunga di kampung," ejek pria berjas itu sambil tertawa sinis.

"Kyai Abdullah! Kyai! Lihat siapa yang Kyai pekerjakan di sini!" teriak warga yang mulai berkerumun di gerbang.

Situasi menjadi kacau. Hafiz merasa seperti sedang diseret kembali ke masa lalunya yang paling kelam di depan mata orang-orang yang belum mengenalnya.

Di tengah kerumunan yang semakin panas, Hafiz melihat Zahra keluar dari rumah dengan wajah pucat. Matanya bertemu dengan mata Hafiz, dan di sana ada ketakutan yang mendalam.

Hafiz mengepalkan tangannya. Ia merasa benar-benar ingin lari sekarang juga. Lari sejauh mungkin dan tidak pernah kembali.

"Hafiz! Jangan pergi!" suara Kyai Abdullah terdengar dari teras rumah, namun suaranya tenggelam oleh sorakan warga yang menuntut penjelasan.

Hafiz menjatuhkan selang airnya. Ia berbalik dan berlari menuju ke arah pintu belakang masjid, mengabaikan teriakan-teriakan kasar di belakangnya.

Ia masuk ke dalam ruang penyimpanan mukena yang sepi dan gelap, tempat ia biasa menaruh peralatan kebersihannya.

Hafiz mendekap lututnya di pojok ruang penyimpanan mukena yang lembap. Isak tangisnya tertahan oleh kain-kain putih yang tergantung, seolah ribuan saksi bisu sedang menghakimi kehancurannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!