NovelToon NovelToon
Pergi Dengan 1 Milyar

Pergi Dengan 1 Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Single Mom / Lari Saat Hamil
Popularitas:133.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.

8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

"DORRR!"

"Astaghfirullah!" Zara terjingkat sambil memegangi dada yang terasa mau copot saat Arka yang baru pulang sekolah menepuk bahu dan teriak di telinganya. Dia yang sedang melamun, tak menyadari kepulangan Arka, tahu-tahu sudah ada di sampingnya. "Arka!" tegurnya sambil melotot.

Bukannya takut, Arka malah tertawa cekikikan. Bocah SD kelas 1 yang baru pulang sekolah bersama temannya itu meraih tangan ibunya lalu menciumnya. "Habisnya Ibu melamun. Arka salam gak dijawab."

"Ah, masa sih. Tadi kamu udah salam?"

"Udah Ibu," Arka menekankan kalimatnya.

"Maaf ya, Nak," Zara mengusap kepala Arka, lalu mengecup kening dan kedua pipinya. "Bawa apa itu?" menatap kantong keresek berwarna biru di tangan Arka.

"Ini," Arka mengangkat keresek yang ia bawa. "Tadi ada yang syukuran ulang tahun, bagi-bagi jajan," membuka keresek, menunjukkan isinya pada sang Ibu. Ada beberapa jenis snack, susu, dan juga cake kecil.

"Siapa yang ulang tahun?"

"Ditya, yang anak orang kaya itu, yang papanya punya mobil. Dia bilang dapat kado sepeda dari papanya," ekspresi Arka tiba-tiba berubah sendu, menunduk lesu.

Zara tahu apa yang ada di kepala Arka. Sudah lama anak itu menginginkan sepeda baru, setelah sepeda lamanya yang beli bekas, rusak. "Eh, hari ini Ibu dapat orderan banyak, lihat itu," menunjuk ke luar booth, dimana ada sebuah meja yang ia gunakan untuk menata es teh pesanan Naka.

"Wah! Banyak banget, Bu," mata Arka berbinar melihat begitu banyak es teh yang sudah dikemas rapi dengan cup sealer.

"100 cup."

Mulut Arka sampai menganga lebar. Sejauh ini, belum pernah ada yang memesan sebanyak itu.

"Hari minggu nanti, kita beli sepeda baru, gimana?" tawar Zara.

"Mau Bu, mau," Arka melonjak senang dengan senyum mengembang lebar. "Eh, tapi..." tiba-tiba senyumnya hilang. "Emang uang Ibu sudah cukup, sepeda kan mahal? Kata Ditya, harga sepedanya 1 juta. 1 juta, Bu," tekannya dengan mata melebar sempurna.

Zara tersenyum melihat ekspresi Arka. Ia tahu jika bagi anak sekecil Arka, kalau mendengar kata juta, sudah wow, merasa itu jumlah yang amat sangat besar. Padahal kalau untuk orang dewasa, uang 1 juta hanya kedengarannya besar, tapi nyatanya kayak debu ditiup angin, cepet banget habisnya.

"InsyaAllah, uangnya sudah cukup kok," mengusap pelan puncak kepala Arka sambil tersenyum.

"Andai Ayah masih ada, dia pasti sudah membelikan Arka sepeda baru," Arka menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

"Gak boleh ngomong gitu, kamu masih punya ibu, ibu yang akan belikan," menarik bahu Arka, memeluk sambil mengusap kepala hingga punggungnya. Diam-diam menyeka air mata, sedih kalau Arka sudah mulai membahas soal ayah. Arka tak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, andai bisa, ia yakin anak itu tidak akan memilih dilahirkan olehnya.

Bunyi dering ponsel, membuat Zara menguraikan pelukannya. Dengan jantung berdebar, takut Naka yang telepon, bilang sudah sampai. Untungnya setelah ia lihat, ternyata Mbak Yanti yang telepon, pelanggan setianya.

"Assalamu'alaikum, Mbak," ucap Zara setelah tersambung. Ia lalu menyimak dengan seksama ucapan pelanggannya tersebut. "Pesan 10 teh sereh lemon," ia mengulang pesanan Mbak Yanti. "Baik Mbak, saya antar sebentar lagi."

"Ibu ada pesenan lagi?" tanya Arka setelah Zara meletakkan ponselnya.

"Iya. Rezeki anak sholeh," mengacak pelan puncak rambut Arka sambil tersenyum. Akhir-akhir ini jualannya ramai, mungkin karena cuaca yang lumayan panas. "Rezeki mau beli sepeda."

Arka mengangguk girang.

Zara menyiapkan pesanan Mbak Yanti, lalu pergi mengantarnya menggunakan satu-satunya motor matic miliknya. Jarak rumahnya tak begitu jauh, jadi tak perlu menutup booth. Ia meminta Arka untuk menjaganya.

Arka mengganti pakaian di dalam booth, lalu duduk dikursi kesayangan ibunya, ngemil jajan dari Ditya sambil menyusun mini bricks.

"Es teh."

Arka menoleh mendengar suara pembeli. "Iya Om, mau beli es teh ya?" tanyanya pada laki-laki yang berdiri di depan booth es tehnya.

"Mau mengambil pesanan. Mana Zara?" tanya Naka sambil celingukan.

"Ibu sedang mengantar pesanan."

"Ibu?" kening Naka seketika mengkerut, tak mengira jika Zara ternyata sudah memiliki anak.

"Iya, ibu sedang mengantar pesanan. Apa Om yang pesan es teh banyak itu ya?"

Naka mengangguk.

"Om telepon Ibu saja." Arka tak berani langsung memberikan, takut ternyata bukan dia yang memesan. 100 cup teh itu banyak, kalau sampai salah orang, ibunya bisa rugi.

"Apa ibu kamu lama?" tanya Naka.

Arka mengedikkan bahu, "Tidak tahu."

Rizal mendekat ke arah Naka, berbisik di telinganya. "Bos, kok anak itu mirip anda ya." Sejak tadi rupanya dia salfok dengan wajah anak Zara.

"Gak usah ngada-ngada," Naka geleng-geleng. Ia kesini untuk diam-diam mengambil foto Zara, jika cuma konfirmasi melalui telepon, bagaimana bisa dia melakukan itu. Ia ingin menunjukkan foto Zara pada Bima.

"Om gak punya nomor telepon Ibu ya? Itu, disitu ada, Om telepon aja," Arka menunjuk bagian depan booth sebelah kiri, dimana tertera nomor telepon Zara jika ingin memesan es teh.

"Kami tunggu saja," sahut Naka.

"Bos, gimana kalau lama?" Rizal tampak keberatan. Ia ingin urusan es teh secepatnya selesai, pengen balik ke Jakarta, rindu kekasihnya yang sudah hampir 2 minggu tidak bertemu.

"Tetap saya tunggu." Naka memperhatikan tampilan booth jualan Zara. Jika memang Zara adalah Zea, bukannya harusnya wanita itu kaya setelah mendapatkan uang 1 Milyar? Tapi ini hanya jualan di booth container ukuran kecil, kurang lebih 3 x 2 meter, yang harga booth nya ia taksir tak sampai 10 juta. Seharusnya uang 1 milyar bisa untuk membuka cafe di kota kecil seperti ini.

"Bos, langsung ambil aja kenapa sih, kan udah bayar juga," Rizal tak sabar ingin segera membeli tiket pesawat untuk balik.

"Kalau kamu ingin segera balik Jakarta, beli tiket sekarang."

Wajah Rizal langsung sumringah.

"Tapi 1 saja, buat kamu. Besok gak usah kerja lagi."

Seketika, raut wajah Rizal berubah, ternyata ia hanya di prank, dikasih kebahagiaan sedetik saja. Menyebalkan. Menarik sebuah kursi plastik yang ada di depan booth, lalu duduk disana sambil chat dengan sang kekasih.

Naka kembali memperhatikan booth jualan Zara. Booth container warna kuning yang terlihat bersih dan rapi. Letaknya tepat di pinggir jalan, di sebelah bengkel, lumayan strategis. Ia lalu membaca daftar varian beserta harga yang diletakkan dibagian paling depan. Namun salah satu varian, membuatnya mengernyit. Ada varian es teh sereh lemon. Seketika, melakukan cocok logi. Dulu, Zea kerap membuatkan teh sereh lemon untuknya.

"Minuman apa ini?" tanya Naka setelah menyeruput sedikit teh hangat yang diberikan Zea.

"Enak gak?"

"Enak sih, tapi kok rada aneh gini," ia kembali menyeruput, lalu mencium aromanya.

"Aneh gimana sih, itu enak," Zea tak terima resep teh ibunya dibilang aneh.

"Apa mungkin karena belum terbiasa aja, belum familiar. Ini rasa apa sih?" Naka kembali mencium aroma yang menguar, wangi, namun ia tak tahu wangi apa itu.

"Itu, teh sereh campur lemon."

"Sereh?"

"Iya, sereh. Sereh yang biasanya buat masak. Dicampur lemon, jadi makin mantap rasanya. Manfaatnya juga banyak banget loh. Habisin gih!"

"Emang manfaatnya apa?"

"Meningkatkan imun, detoksifikasi, nurunin kolesterol, juga bisa bantu menurunkan berat badan."

"Emang aku gendut?"

Zea menutup mulut, tertawa cekikikan.

"Heiss! Kamu ngatain aku, Ze," Naka berdecak sebal.

"Gak gendut, cuma timbangannya agak geser ke kanan dikit," sahutnya masih dengan tawa yang belum reda.

"Ogah ah aku minum ini," sambil meraba, Naka meletakkan gelas ke atas meja yang ada di hadapan.

"Naka, kok gitu sih," Zea menarik-narik lengan baju Naka. "Gak menghargai banget. Aku itu buatin spesial loh buat kamu, biar tetap sehat, tetep vit."

"Ogah."

"Padahal aku bikinnya pakai cinta. Harapannya biar kamu makin cinta sama aku. Ah, kamu emang cuma PHP aja sama aku. Palingan kalau udah bisa melihat, aku ditinggal," mendengus sambil bersedekap.

"Iya, iya, aku minum. Aku habisin sekalian gelas-gelasnya," Naka menahan tawa. Ia memang hobi sekali membuat Zea sewot. "Siniin gelasnya, Yang," meraba ke samping kanan, menyentuh Zea.

Sejak saat itu, Zea sering sekali membuatkan teh sereh lemon untuknya.

1
🌷Vnyjkb🌷
ckckckckckkkkkkk,,, adaaaa modelan laki belang macan gini yaaaa,,,
🌷Vnyjkb🌷
lapang dada?? versimu tu naka, yg ada gremetttttt gatelllllll d hati anggi🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
ya lalu naka d boikot anggi lewat om nya🤣🤣gak mslah naka,, msh byk investor yg lain,,, main licik gak akan berkah
lyani
hidup adalah pilihan
Patrick Khan
untung zea belum di sentuh
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
dasarr laki2 mokondoo...bisa2nya minta kembali maharnya 😩 tapi nggak masalah sihh...zea kan belum di sentuhh. tapi kasihan zea juga, harus kena kdrt 😩
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
bukan khilaf, bukan bodohhh tapi yaaa itu? terlanjurr k3enakan 😩 smapai lupa smeuanya. baru ingat kalau sudah maslaah datang. mana lebih bodohnya lagi, zea enggak kepikiran kalau ada yang melihat dan sengaja menaruh cctv. terlalu poloss...jadi zea mikir nya semua baik2 saja.
Sri Hayati
ow jadi cerai to ku pikir meninggal heheheh
othor puinter bikin alur zea hanya untuk naka seorang 🤣
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
mana bisa ingat dosahh 😩 sudah terlanjur enak lhoo Nis 😭 pasti penyesalan datang setelah kenyang...akibat terlalu banyak makan angin, jadinya kembung. di situlah rasa sesal datang menyapa 😭
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
malah zea yang memperkaos 😩 si cowok kan buta. kagak lihat di mana letak lubangnya 😭 otomatis yang ngatur posisi kan zea 😭 yang lebih dominan dan jadi pemimpin pasti zea...hayooo ngaku ze 😭
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
zea yang polosss, masih belum punya banyak pengalaman. meski yang merayuu cowok butaa, yaa bisa luluh lantak. meski si cowok tantrumman, yang penting kan cakeppp 🤭 siapa sih yang enggak akan berkendutt jika Punya pasi3n cakepp 😂 aku saja jika punya pasien cakep, mesti lumpuhh langsung aku Rebahin...astagfirulloh bernadaaa 😭🤣
Dew666
🪻🪻
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Apa karena kehamilan zea ini, akhirnya zea menikah, untuk menutupi kehamilannya? namanya hidup di kampung, hamil tanpa suami pasti cepat virall. apalagi Mulut tetangga lebih canggih dari pada google, tanpa paket data pun semua berita akan tersebar sampai kampung sebelah 🤣
Rahmawati
naka km jgn seneng dulu, itu papamu pasti marah besar kl tau km batalin pertunangan dengan anggi
Hani Ekawati
Kayanya Zea engga nikah deh.
Hani Ekawati
Tapi dia tidak baik baik saja, makanya dia putuskan kontrak kerjasamanya.
Hani Ekawati
Kalau kamu insecure coba kamu berusaha untuk memantaskan diri dengan menjadi wanita sukses, uang pemberian yang udah ada direkeningmu, kamu jadikan modal usaha yang lebih besar. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil selama kamu mau berusaha, suatu saat pasti kamu jadi wanita sukses. Ketika tuan very menemukan jejak kamu, kamu sudah menjadi wanita sukses.
Ummah Intan
kek om very punya sekutu
lyani
arka butuh bapak....pengen jitak Naka deh....
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Naka psnasaran readers juga penasaran????
Apa itu paksaan dari Very juga ???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!