NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Connecting...

Bab 33: Connecting...

Waktu berdetak ke angka 23:51:58. Jakarta sedang menahan napas, dan aku sedang menahan seluruh eksistensiku pada satu baris teks di bagian atas layar WhatsApp.

Setelah ritual nekat menyalakan dan mematikan mode pesawat (Bab 32), duniaku kini mengerucut pada satu kata yang muncul di bawah baris sinyal yang baru saja pulih: Connecting...

Secara mikroskopis, aku membedah kata itu.

Sepuluh huruf yang tersusun dari piksel-piksel cahaya putih di atas latar belakang bar aplikasi berwarna abu-abu gelap. Sepuluh huruf yang berdenyut lambat, seolah-olah sistem operasi ponselku sedang berjuang menarik nafas di tengah kepadatan gelombang elektromagnetik Bundaran HI.

Connecting. Menghubungkan.

Secara analitis, status ini berarti soket TCP/IP ponselku telah berhasil mengirimkan permintaan jabat tangan (handshake) ke server WhatsApp, namun respon balik dari server tersebut belum juga datang. Paket data kecilku sedang tersesat di antara jutaan paket data "Selamat Tahun Baru" lainnya. Ia sedang mengantre di gerbang digital, berdesak-desakan dengan pesan-pesan tidak penting dari grup keluarga (Bab 16), sementara waktu di dunia nyata terus melaju tanpa ampun.

Namun bagiku, kata itu bukan sekadar status teknis. Ia adalah metafora paling kejam untuk seluruh sejarah hubunganku dengan Lala.

Sepuluh tahun (Bab 30). Selama itu pula, hubunganku dengan wanita yang berdiri hanya dua puluh sentimeter di sampingku ini selalu berada dalam status Connecting. Aku selalu berada dalam tahap "menghubungkan" tanpa pernah benar-benar "terhubung". Aku berada di ambang pintu, tapi tidak pernah melangkah masuk. Aku mengirimkan sinyal-sinyal samar, tapi tidak pernah menerima konfirmasi centang dua yang valid.

Aku menganalisis setiap hurufnya dengan rigor skeptis:

* C-onnecting. Seperti keberanianku yang selalu melingkar, kembali ke titik awal.

* O-n-n-e-c-t-i-n-g. Seperti kekosongan di dalam dadaku setiap kali aku melihatnya tertawa dengan orang lain.

* N-ecting. Seperti penolakan yang kutakuti, yang membuatku lebih memilih status menggantung ini daripada sebuah jawaban "Tidak".

"Arka? Kamu dengar nggak?" suara Lala menembus lapisan obsesi digital di kepalaku.

Aku tersentak. Aku menoleh padanya. Di bawah pendar lampu neon panggung, Lala tampak seperti objek yang memiliki resolusi tak terhingga.

Kulitnya, matanya, helai rambutnya yang tertiup angin—semuanya nyata. Kontras dengan status buram di ponselku.

"Dengar apa, La?" tanyaku, suaraku terdengar asing bagi telingaku sendiri.

"Itu! Orang-orang sudah mulai berteriak. Sebentar lagi hitung mundur resminya mulai!" Lala menunjuk ke arah layar raksasa di atas Gedung POSCO.

Aku kembali menatap ponsel. Tulisan Connecting... itu masih di sana. Ia tidak berubah menjadi "Online". Ia tidak berubah menjadi "No Service". Ia hanya diam, berdenyut, menangguhkan takdirku dalam ketidakpastian yang absolut.

Secara fisiologis, ketegangan ini mulai memicu tremor halus pada jari telunjukku. Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana kuku jariku memucat karena aku menggenggam ponsel terlalu erat. Panas baterai yang merambat (Bab 35) kini terasa seperti lava yang siap meledakkan perangkat ini.

Aku merasa dikhianati oleh teknologi yang kusembah. Perangkat seharga belasan juta ini, yang diklaim mampu memproses triliunan operasi per detik, ternyata tidak berdaya menghadapi sepuluh huruf statis. Ia terjebak dalam loop komunikasi yang tak berujung. Ia menjanjikan koneksi, tapi hanya memberiku penundaan.

"Ayolah... Connect... Please," gumamku pelan.

Pikiranku mulai melayang pada kemungkinan-kemungkinan teknis yang pesimistis. Bagaimana jika server WhatsApp sedang down total? Bagaimana jika provider selulerku melakukan throttling pada layananku karena penggunaan data yang abnormal malam ini? Bagaimana jika dunia berakhir saat ponselku masih dalam status Connecting?

Analisis skeptisku (2026-03-13) menyimpulkan bahwa probabilitas status ini berubah menjadi "Online" dalam lima detik ke depan adalah kurang dari 10%. Terlalu banyak variabel penghambat. Terlalu banyak noise.

Namun, tepat saat aku hampir menyerah dan hendak mengantongi ponsel untuk menyerah pada nasib, sebuah perubahan mikro terjadi.

Animasi putaran jam pasir pada pesan satu titikku (Bab 28) berhenti sejenak. Tulisan Connecting... di bagian atas layar tiba-tiba menghilang selama 0,1 detik. Layar itu berkedip putih bersih.

Jantungku berhenti berdetak. Ini adalah momen transisi. Antara kegagalan total atau keberhasilan yang tak terduga.

"Sepuluh!" suara massa di Bundaran HI meledak.

Aku tidak melihat ke langit. Aku tidak melihat ke arah Lala. Seluruh semestaku saat ini terbatas pada layar berukuran 6,7 inci di tanganku.

"Sembilan!"

Huruf-huruf itu muncul kembali. Tapi kali ini bukan lagi sepuluh huruf. Kali ini hanya enam huruf yang memancarkan harapan palsu atau kelegaan sementara.

Online

Status itu muncul. Lala "Online". Server telah mengenaliku. Pintu telah terbuka. Jalur komunikasi telah disetujui. Secara teknis, ini adalah kemenangan. Namun, apakah waktu yang tersisa cukup untuk mengubah status "Online" itu menjadi sebuah pesan cinta yang sampai ke tujuannya?

Aku menatap huruf "L" yang masih berdiri sendirian di kolom input teks. Draf yang sempat kuhapus (Bab 38) kini harus segera disusun ulang di bawah tekanan waktu yang mengerikan.

"Delapan!"

Aku harus bergerak. Tapi sebelum aku sempat mengetik, layar ponselku tiba-tiba meredup.

Cahaya yang tadi terang benderang kini memudar menjadi kegelapan yang suram.

Timeout.

Layar mati di detik paling krusial.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!