Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Gu Yanqing dari Lingfeng Shan
Kabut di Gunung Puncak Angin tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk—pagi menjadi awan putih yang menyerupai lautan susu, siang menjadi hujan tipis yang tidak basah tapi dingin, malam menjadi es yang menempel di bulu-bulu hewan dan rambut manusia. Fengyin belajar ini dalam tiga hari pertama. Belajar juga bahwa "dingin" adalah kata yang tidak cukup untuk menggambarkan sensasi ketika angin bertiup dari celah-celah batu dengan suara seperti seruling kematian.
"Ini bukan tempat untuk manusia," gumamnya pada malam ketiga, menggigil di dalam selimut wol kasar yang diberikan Gu Yanqing.
"Benar," kata Gu Yanqing dari sudut gua, tempat dia sedang menumbuk ramuan dengan lesung batu. "Ini tempat untuk monster. Untuk roh. Untuk mereka yang ingin melupakan mereka pernah menjadi manusia."
Dia mengangkat kepala, mata tajamnya menatap Fengyin di cahaya api unggun yang berkedip-kedip.
"Kamu ingin melupakan, Fengyin?"
Fengyin tidak menjawab. Dia menatap api, melihat wajah ayahnya di antara bara-bara merah. Melihat ibunya di asap yang mengepul. Melihat kakeknya—kakek yang sebenarnya, yang mati di depannya—di bayangan-bayangan yang berjoget di dinding gua.
"Aku ingin mengingat," kata akhirnya, suaranya serak. Tiga hari menangis telah mengeringkan semua air mata yang tersisa. "Aku ingin mengingat setiap detik. Setiap wajah. Setiap suara. Karena kalau aku lupa..."
"Maka mereka mati dua kali," selesaikan Gu Yanqing. Dia berdiri, membawa mangkuk kayu berisi ramuan hijau yang bau busuk. "Minum ini."
Fengyin menatap ramuan itu dengan curiga. "Apa ini?"
"Sesuatu untuk membantumu tidur. Tidur yang sebenarnya, bukan terjaga dengan mata terbuka seperti tiga malam terakhir."
"Aku tidak mau tidur. Kalau aku tidur, aku bermimpi. Dan kalau aku bermimpi..."
"Kamu melihat mereka lagi," kata Gu Yanqing lembut. Dia duduk di samping Fengyin, meletakkan mangkuk di tanah. "Aku tahu. Aku juga bermimpi. Setiap malam, selama tiga puluh tahun."
Fengyin menatapnya—pria tua ini yang mengaku bernama sama dengan kakeknya, tapi terlihat berbeda. Lebih tua? Tidak, garis-garis wajahnya sama. Tapi cara dia bergerak, cara dia berbicara, cara matanya menatap ke kejauhan seolah melihat sesuatu yang tidak ada di sini... itu berbeda.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Fengyin. "Kamu bilang kamu Gu Yanqing. Tapi kakekku sudah mati. Aku melihatnya. Aku melihat bayangan hitam itu—"
"Memakannya, ya," kata Gu Yanqing. Matanya menjadi gelap. "Yǐng, elemen Bayangan. Tidak mematikan dengan cara biasa. Tidak memotong, tidak menghancurkan. Itu menyerap . Menyerap jiwa, energi, keberadaan. Tubuh yang kamu lihat hancur? Itu hanya kulit kosong. Gu Yanqing yang sebenarnya—jiwanya—ada di dalam Xie Wuyou sekarang. Menjadi bagian dari kekuatannya. Menderikan selamanya."
Dia berhenti, mengambil napas dalam.
"Aku adalah... versi lain. Bayangan dari bayangan. Gu Yanqing yang seharusnya mati tiga puluh tahun lalu, ketika Xie Wuyou pertama kali mengkhianatiku. Tapi aku selamat, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan padamu sekarang. Aku hidup di antara celah-celah dunia. Menunggu. Menunggu seseorang seperti kamu."
"Seperti aku?"
"Tiānzé Zhě," kata Gu Yanqing. "Yang Dipilih Tuhan. Yang bisa menguasai enam elemen, termasuk Yǐng dan Guāng yang legendaris. Yang bisa, suatu hari nanti, mengalahkan Xie Wuyou dan membebaskan jiwa-jiwa yang telah dia serap. Termasuk jiwa Gu Yanqing yang sebenarnya. Kakekmu."
Fengyin menatap tangannya sendiri—tangan kecil, berkotor tanah dan abu, dengan kuku yang patah karena mencakar tanah saat menangis. Tangan yang, menurut pria ini, memiliki kekuatan untuk mengalahkan monster.
"Aku tidak bisa," bisiknya. "Aku tidak tahu bagaimana. Saat itu... saat itu hanya terjadi. Aku marah. Aku sedih. Dan sesuatu keluar. Tapi sekarang..." Dia meremas-remas tangan kosongnya. "Tidak ada apa-apa. Tidak ada kristal. Tidak ada kekuatan. Hanya... aku. Anak kecil yang tidak bisa melindungi siapa pun."
Gu Yanqing mengangguk, seolah-olah ini adalah jawaban yang diharapkan.
"Karena kamu belum belajar. Kekuatan yang kamu gunakan di Kampung Awan Kasih—itulah yang disebut 'Berseru dalam Keputusasaan'. Jīnglì alamiah yang meledak tanpa kendali. Itu membuatmu kuat untuk sesaat, tapi menghancurkanmu dalam jangka panjang. Kalau kamu menggunakan kekuatan seperti itu lagi sebelum tubuhmu siap, kamu akan mati. Bukan metafora. Bukan ancaman. Fakta."
Dia mengambil mangkuk ramuan, menahannya di depan bibir Fengyin.
"Minum ini. Tidurlah. Dan besok, kita mulai pelatihan. Bukan pelatihan untuk menjadi kuat—tapi pelatihan untuk bertahan hidup . Karena sebelum kamu bisa membalas dendam, kamu harus hidup cukup lama untuk melakukannya."
Fengyin menatap ramuan itu lama. Bau busuknya membuat perutnya mual. Tapi kata-kata Gu Yanqing—bertahan hidup , membalas dendam —itu adalah tali yang diturunkan ke dalam sumur gelap tempat dia berada.
Dia minum. Semua. Pahit, pedas, dan sesuatu yang manis aneh di akhir—seperti madu yang dicampur darah.
Dia tidur.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga malam, dia tidak bermimpi tentang api. Dia bermimpi tentang angin. Angin yang membawanya terbang, tinggi di atas awan, melihat dunia dari atas—kecil, begitu kecil, begitu tidak penting. Tapi bebas.
Pelatihan dimulai pada hari kelima.
Bukan dengan kristal. Bukan dengan elemen. Tapi dengan bernafas .
"Duduk," perintah Gu Yanqing, menunjuk ke batu rata di depan gua. "Punggung lurus. Bahu rileks. Tangan di pangkuan, telapak menghadap ke atas."
Fengyin menurut, meski batu itu dingin dan keras. Gunung Puncak Angin terbentang di depannya—lembah-lembah yang dalam, puncak-puncak yang lebih tinggi lagi di kejauhan, awan-awan yang bergerak seperti hewan-hewan raksasa.
"Tutup mata," kata Gu Yanqing. "Rasakan udara masuk melalui hidung. Dingin, ya? Dingin dan tajam. Rasakan dia turun, melewati tenggorokan, mengisi paru-paru. Tahan. Tiga detik. Keluarkan melalui mulut. Perlahan. Seolah-olah kamu meniup api unggun, tapi api yang sangat kecil, sangat rapuh, yang bisa padam kalau kamu terlalu keras."
Fengyin mencoba. Napas pertamanya tersedak—udara gunung terlalu tipis, terlalu dingin. Napas keduanya terlalu cepat. Ketiga, terlalu dangkal.
"Jangan paksa," kata Gu Yanqing. "Biarkan. Bernafas adalah hal paling alami yang dilakukan manusia. Kamu melakukannya sejak lahir, tanpa berpikir. Sekarang, kamu hanya perlu melakukannya dengan berpikir. Sadar. Sengaja."
Jam berlalu. Matahari naik dari balik puncak timur, mencapai zenit, mulai turun ke barat. Fengyin bernafas. Masuk. Tahan. Keluar. Masuk. Tahan. Keluar.
Dan sesuatu terjadi pada napas ke seratus dua puluh tiga.
Dia merasakannya—bukan udara biasa, tapi sesuatu yang lebih halus . Sesuatu yang berdenyut di dalam dada, mengalir ke tangan, ke kaki, ke ujung-ujung rambut. Sesuatu yang hangat, meski tubuhnya kedinginan.
"Jīnglì," kata Gu Yanqing, suaranya datar tapi puas. "Energi dalam. Yang pertama kali mengalir melalui Dàojiàn, jalur-jalur energi di tubuhmu. Kamu baru saja membuka pintu pertama."
Fengyin membuka mata. Dunia terlihat berbeda—lebih tajam, lebih terang, seolah-olah sebelumnya dia melihat melalui kain tipis yang sekarang terangkat.
"Ini... ini kekuatanku?"
"Ini adalah dasar dari segala kekuatan," kata Gu Yanqing. "Kristal, elemen, Wǔshù—semuanya bermula dari Jīnglì. Tanpa itu, kamu hanya manusia biasa. Dengan itu, kamu bisa menjadi lebih."
Dia berdiri, mengulurkan tangan.
"Bangun. Sekarang, kita belajar berjalan."
"Berjalan? Aku sudah bisa—"
"Berjalan dengan Jīnglì," potong Gu Yanqing. "Setiap langkah, mengalirkan energi ke kaki. Membuat tubuh lebih ringan, lebih cepat, lebih kuat. Ini adalah dasar dari semua Wǔshù. Dan ini..." dia tersenyum tipis, "...akan membuatmu tidak mati kedinginan saat kita turun ke lembah untuk mencari makanan."
Minggu pertama adalah penderitaan.
Fengyin belajar bahwa tubuhnya—yang selama ini hanya digunakan untuk bermain dan belajar kaligrafi—adalah mesin yang kompleks, penuh dengan otot yang bisa dilatih, tendon yang bisa diregangkan, tulang yang bisa diperkuat. Setiap pagi, peregangan selama satu jam sebelum matahari terbit. Setiap siang, latihan postur dan keseimbangan di atas batu-batu yang licin. Setiap malam, meditasi bernafas sampai Fengyin bisa merasakan Jīnglì mengalir tanpa usaha.
Minggu kedua, Gu Yanqing memperkenalkan beban .
"Kenapa aku harus memikul batu?" keluh Fengyin, batu sebesar kepalan tangan terikat di punggungnya dengan tali rami.
"Karena kekuatan sejati bukan datang dari kristal," kata Gu Yanqing, yang sedang duduk santai sambil minum teh. "Kristal adalah pembesar . Mereka mengambil apa yang sudah ada di dalam dirimu dan membuatnya lebih besar. Jika dasarmu lemah, hasilnya akan hancur. Seperti..." dia mengambil sebatang ranting, mencoba menopang beban batu di depannya, "...ini."
Ranting itu patah.
"Tapi kalau dasarmu kuat," dia mengambil sebatang ranting yang lebih tebal, "...hasilnya akan bertahan."
Ranting itu menahan beban, meski melengkung.
Fengyin mengerti. Dia tidak suka—punggungnya sakit, kakinya lemah, setiap langkah terasa seperti naik gunung—tapi dia mengerti.
Minggu ketiga, Gu Yanqing membawanya ke air terjun .
Bukan air terjun besar seperti dalam dongeng—hanya aliran sungai kecil yang jatuh dari ketinggian sepuluh zhang , menciptakan kolam yang berbusa putih. Tapi suaranya... suaranya adalah sesuatu yang Fengyin belum pernah dengar sebelumnya. Bukan gemuruh, tapi nyanyian . Seolah-olah air itu sedang bernyanyi dalam bahasa yang hampir bisa dimengerti.
"Duduk di bawahnya," perintah Gu Yanqing.
"Apa?"
"Di bawah air terjun. Di batu datar di tengah kolam. Duduk dalam posisi meditasi, dan bernafas."
Fengyin menatap air yang jatuh dengan kejam. "Aku akan tenggelam."
"Kamu akan belajar," kata Gu Yanqing. "Belajar bahwa dunia akan selalu mencoba menghancurkanmu. Air, api, tanah, angin—mereka tidak peduli pada keberadaanmu. Tapi kalau kamu bisa menemukan ketenangan di tengah kekacauan, kalau kamu bisa bernafas meski dunia menimpamu..." dia berhenti, matanya menatap kejauhan, "...maka tidak ada yang bisa mengalahkanmu."
Fengyin masuk ke kolam. Dingin. Lebih dingin dari apapun yang pernah dia rasakan. Dia berjuang menuju batu tengah, terhuyung-huyung oleh arus, hampir tenggelam tiga kali. Akhirnya, dia duduk. Menyilangkan kaki. Mengangkat tangan.
Air terjun menghantam kepalanya.
Pertama, hanya sakit. Kemudian, kebas. Kemudian, sesuatu yang aneh—ketenangan. Seolah-olah tubuhnya menyerah pada kenyataan bahwa dia tidak bisa melawan, dan justru menemukan kedamaian di dalamnya.
Dia bernafas.
Masuk. Tahan. Keluar.
Air masuk ke hidung, ke mulut, tapi dia terus bernafas. Jīnglì mengalir, membuat jantungnya berdetak lebih kuat, membuat darahnya mengalir lebih panas, membuatnya hidup meski seharusnya mati kedinginan.
Ketika Gu Yanqing menariknya keluar pada senja, Fengyin tidak bisa berjalan. Tapi dia tersenyum.
"Aku merasakannya," bisiknya, bergigil di selimut. "Aku merasakan... sesuatu. Di dalam air. Seolah-olah... seolah-olah ada yang menatapku balik."
Gu Yanqing mengangguk, seolah-olah ini yang diharapkan.
"Shuǐ, elemen Air. Kamu belum membuka kristalnya—itu akan datang nanti, ketika Dàojiàn-mu matang. Tapi kamu sudah mulai beresonansi dengan elemen itu. Air mengenali sesuatu dalam dirimu. Sesuatu yang... mirip."
Bulan pertama berlalu menjadi bulan kedua, ketiga, keempat.
Fengyin tumbuh. Bukan hanya tinggi—meski itu juga terjadi, tubuhnya meregang seperti bambu di musim hujan. Tapi dalam . Otot-otot yang dulu tidak ada kini terbentuk di lengan, di perut, di punggung. Tangan yang dulu gemetar saat memegang kuas kini stabil saat memegang pedang kayu—senjata pertama yang diberikan Gu Yanqing.
"Wǔshù bukan untuk menyerang," kata Gu Yanqing, mengoreksi postur Fengyin untuk keseratus kalinya. "Wǔshù adalah untuk mengalir . Seperti air. Seperti angin. Kamu tidak memukul musuh—kamu mengalihkan kekuatannya, menambahkan kekuatanmu sendiri, dan mengembalikannya."
Dia mendemonstrasikan, menggunakan Fengyin sebagai lawan. Anak laki-laki itu menyerang dengan pedang kayu—dan Gu Yanqing, yang bergerak seperti daun yang ditiup angin, mengalihkan serangan itu, memutar tubuhnya, dan menggunakan momentum Fengyin sendiri untuk melemparkannya ke tanah.
"Lihat?" kata Gu Yanqing, menolong Fengyin berdiri. "Aku tidak menggunakan kekuatan lebih besar darimu. Aku hanya menggunakan kekuatanmu dengan lebih baik."
Fengyin belajar. Perlahan, dengan memar dan luka lecet yang tak terhitung. Dia belajar Taiyi , gaya yang menekankan kelenturan dan pengalihan. Belajar Bagua , gerakan melingkar yang memusingkan lawan. Belajar Xingyi , serangan langsung yang singkat dan mematikan.
Tapi selalu, di setiap pelajaran, ada larangan.
"Jangan coba memanggil kristal," kata Gu Yanqing pada akhir bulan keenam, ketika Fengyin pertama kali merasakan sesuatu yang bergerak di dalam dadanya—seperti benih yang ingin tumbuh. "Jangan coba menggunakan elemen. Tubuhmu belum siap. Dàojiàn-mu belum terbuka sepenuhnya. Kalau kamu memaksanya, kamu akan menyakiti diri sendiri. Atau lebih buruk—kamu akan menarik perhatian."
"Perhatian siapa?"
Gu Yanqing tidak menjawab. Tapi matanya menatap ke langit, ke arah timur, ke tempat di mana matahari terbit dan di mana—Fengyin tahu—istana Kaisar berdiri megah.
Tahun pertama berlalu.
Fengyin berusia enam tahun sekarang, meski tubuhnya terlihat seperti delapan—tinggi, kurus berotot, dengan mata yang terlalu tua untuk wajah yang masih muda. Dia bisa berjalan di atas salju tanpa meninggalkan jejak, berdiri di bawah air terjun selama satu jam penuh, dan mengalahkan Gu Yanqing dalam latihan pedang kayu—setidaknya, sekali dari sepuluh kali.
Tapi dia juga belajar hal lain. Hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Wǔshù atau Jīnglì.
Dia belajar memasak—karena Gu Yanqing, meski hebat dalam banyak hal, membuat sup yang rasanya seperti lumpur. Dia belajar merawat luka—karena di gunung, tidak ada tabib, dan goresan bisa menjadi infeksi, dan infeksi bisa menjadi kematian. Dia belajar membaca bintang—karena Gu Yanqing mengajarkan bahwa navigasi adalah keterampilan yang harus dimiliki, "kalau suatu hari kamu harus lari sendirian."
Dan dia belajar mendengarkan .
Setiap malam, sebelum tidur, Gu Yanqing akan bercerita. Bukan dongeng—tapi sejarah. Kisah-kisah tentang Dinasti Wuji Chao, yang dulu adalah kerajaan kecil yang hanya menguasai satu lembah. Tentang Kaisar pertama, yang bijaksana dan adil. Tentang bagaimana, generasi demi generasi, kebijaksanaan itu memudar, digantikan oleh obsesi—obsesi akan kekuatan, kekekalan, kontrol .
"Kaisar Di Xuancheng adalah yang keenam belas," kata Gu Yanqing pada malam tertentu, api unggun berderak di antara mereka. "Dia memerintah selama seratus dua puluh tahun. Bukan karena dia bijaksana. Bukan karena dia dicintai. Tapi karena dia menemukan rahasia—rahasia yang membuatnya bisa memperpanjang hidup dengan mencuri dari orang lain."
"Mencuri apa?" tanya Fengyin, yang selalu bertanya meski sering tidak mengerti jawabannya.
"Jīnglì," kata Gu Yanqing. "Energi dalam. Tapi bukan energi mereka sendiri—energi dari orang lain. Dari rakyatnya. Setiap pajak yang dipungut, setiap anak yang diambil untuk prajurit, setiap tanah yang dirampas... itu bukan hanya sumber daya fisik. Itu adalah jiwa . Kaisar mengumpulkan jiwa-jiwa itu, memurnikannya, meminumnya seperti ramuan. Dan dia hidup. Terus hidup. Sementara rakyatnya mati muda, mati miskin, mati tanpa harapan."
Fengyin menatap api, memikirkan Kampung Awan Kasih. Memikirkan ayahnya yang membayar pajak dengan beras yang seharusnya menjadi makanan keluarganya. Memikirkan ibunya yang menangis di malam hari ketika desa tetangga kehilangan anak mereka ke dinas prajurit.
"Itulah sebabnya kakekku—kakek yang sebenarnya—memberikan persediaan itu pada pemberontak," kata Fengyin perlahan. Bukan pertanyaan. Kesimpulan.
Gu Yanqing mengangguk. "Itulah sebabnya. Dan itulah sebabnya Xie Wuyou mengkhianatkannya. Karena Xie Wuyou, dulu, adalah muridku. Murid kakekmu. Kami bertiga—Gu Yanqing, Xie Wuyou, dan satu lagi yang namanya tidak perlu kausebut sekarang—kami bertiga berjanji untuk mengubah dunia. Untuk mengakhiri tirani Dinasti. Tapi Xie Wuyou..." dia berhenti, suaranya pecah, "...dia lelah menunggu. Dia ingin kekuatan sekarang. Dan Kaisar menawarkannya. Enam elemen. Status. Kekekalan. Semuanya, dengan syarat satu: mengkhianati kami."
"Dan kakekku menolak."
"Dan kakekmu menolak," kata Gu Yanqing. "Dia memilih untuk melarikan diri. Untuk bersembunyi. Untuk melindungi—kamu, meski dia tidak tahu kamu akan datang. Dan aku..." dia tersenyum getir, "...aku memilih untuk menunggu. Menjadi bayangan. Menjadi legenda yang tidak yakin apakah dirinya nyata atau tidak."
Fengyin berdiri. Berjalan mengelilingi api, berdiri di hadapan Gu Yanqing, dan berlutut. Bukan karena lelah. Tapi karena hormat .
"Aku akan mengakhiri ini," katanya, suaranya tenang tapi penuh dengan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tumbuh selama setahun di gunung ini. "Bukan untuk balas dendam. Bukan karena kamu atau kakekku memintaku. Tapi karena... karena ini salah. Karena dunia tidak seharusnya seperti ini. Dan kalau aku punya kekuatan untuk mengubahnya—meski sedikit, meski perlahan—maka itu adalah tanggung jawabku untuk melakukannya."
Gu Yanqing menatapnya lama. Api memantulkan cahaya di matanya, menciptakan ilusi air mata.
"Kamu terdengar seperti dia," kata akhirnya. "Seperti Gu Yanqing yang sebenarnya. Yang mati di Kampung Awan Kasih." Dia mengulurkan tangan, menepuk kepala Fengyin. "Tapi kamu juga terdengar seperti dirimu sendiri. Dan itu... itu adalah hal terbaik yang bisa kuharapkan."
Tahun-tahun berikutnya berlalu dalam ritme yang sama—tapi juga berbeda.
Fengyin belajar lebih banyak teknik Wǔshù. Belajar menggunakan senjata nyata—pedang besi pertama yang diberikan Gu Yanqing pada usia delapan, tombak pada usia sepuluh, busur pada usia dua belas. Belajar bertarung dalam berbagai kondisi: di salju, di hujan, di kegelapan total, di dalam air.
Tapi dia juga belajar hal-hal yang lebih dalam.
Belajar tentang Dàojiàn —jalur-jalur energi di tubuh yang, ketika dibuka sepenuhnya, akan memungkinkan kristal untuk muncul. Belajar tentang Jingjie Interval dan Jingjie Universal —perbedaan antara menguasai empat elemen dasar versus enam elemen termasuk legenda. Belajar tentang Tiānzé Zhě —legenda tentang Yang Dipilih Tuhan yang muncul dalam krisis besar, yang ditakdirkan untuk mengubah arah sejarah.
"Tiānzé Zhě tidak selalu menang," peringatkan Gu Yanqing pada usia Fengyin yang keempat belas. "Mereka hanya ditakdirkan untuk mencoba . Banyak dari mereka mati muda. Banyak dari mereka gagal. Tapi tanpa mereka... tanpa percobaan... dunia akan tetap dalam kegelapan."
"Bagaimana aku bisa tahu aku akan berhasil?" tanya Fengyin.
"Kamu tidak bisa," kata Gu Yanqing. "Tapi kamu bisa tahu bahwa kamu akan mencoba. Itu adalah satu-satunya jaminan yang bisa kuberikan padamu."
Pada usia lima belas, Fengyin pertama kali melihat kristalnya sendiri.
Bukan memanggilnya—dia masih mengikuti larangan Gu Yanqing. Tapi melihatnya. Dalam mimpi, dalam meditasi dalam, dalam momen-momen ketika Jīnglì mengalir begitu kuat sehingga dunia sekitarnya tampak berubah.
Enam kristal. Mengambang di kehampaan. Berputar lambat dalam orbit yang sempurna.
Fēng, angin, putih seperti awan pagi.
Shuǐ, air, biru seperti laut dalam.
Huǒ, api, merah seperti darah segar.
Tǔ, tanah, kuning seperti bunga rapeseed.
Guāng, cahaya, emas seperti matahari tengah hari.
Dan Yǐng, bayangan, hitam seperti... seperti tidak ada . Seperti kekosongan yang memiliki bentuk.
Mereka berdenyut. Menunggu. Menyanyikan lagu yang tidak bisa didengar tapi bisa dirasakan—lagu tentang kekuatan, tentang tanggung jawab, tentang takdir .
Fengyin terbangun dari meditasi dengan air mata di pipinya. Bukan karena sedih. Tapi karena indah . Karena melihat sesuatu yang begitu sempurna, begitu benar , membuatnya sadar betapa jauh dia masih harus pergi.
"Aku melihat mereka," katanya pada Gu Yanqing malam itu.
Gu Yanqing
Gu Yanqing tidak terkejut. Hanya mengangguk, seolah-ilah ini yang ditunggu-tunggu.
"Maka kamu siap untuk tahu kebenaran," katanya. "Kebenaran tentang mengapa aku melarangmu memanggil kristal. Bukan hanya karena tubuhmu—tapi karena mereka . Kristal Universal. Mereka adalah magnet untuk bahaya. Setiap kali Tiānzé Zhě memanggil keenam elemen, dunia merasakannya. Xie Wuyou merasakannya. Kaisar Di Xuancheng merasakannya. Mereka akan datang. Mereka akan mencari. Dan kalau mereka menemukanmu sebelum kamu siap..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Fengyin mengerti. Dan untuk pertama kalinya, dia merasa takut . Bukan takut pada kematian—takut pada gagal. Pada menjadi Tiānzé Zhě yang mati muda, yang gagal, yang tidak bisa mengubah apa pun.
"Berapa lama?" tanyanya. "Berapa lama sampai aku siap?"
Gu Yanqing menatapnya—anak laki-laki yang kini setinggi bahunya, dengan wajah yang keras dan mata yang tua dan tangan yang terlatih untuk membunuh meski belum pernah membunuh.
"Tiga tahun," kata Gu Yanqing. "Pada usiamu yang ke delapan belas, Dàojiàn-mu akan matang sepenuhnya. Pada saat itulah kamu bisa memanggil kristal tanpa risiko menghancurkan tubuhmu sendiri. Pada saat itulah..." dia berhenti, menghela napas, "...pada saat itulah kamu harus pergi. Meninggalkan gunung ini. Dan menghadapi takdirmu."
Tiga tahun.
Fengyin menatap ke luar gua, ke puncak-puncak yang diselimuti salju abadi, ke langit yang begitu luas dan bebas. Tiga tahun terdengar lama. Tapi juga terdengar singkat.
"Aku akan siap," katanya.
"Aku tahu," kata Gu Yanqing. "Tapi siap untuk apa? Itu pertanyaan yang lebih penting. Siap untuk membalas dendak? Siap untuk berkuasa? Atau siap untuk... sesuatu yang lebih sulit?"
"Seperti apa?"
"Seperti memaafkan," kata Gu Yanqing pelan. "Seperti mengerti bahwa Xie Wuyou, meski monster, dulunya adalah manusia. Bahwa Kaisar Di Xuancheng, meski tiran, dulunya adalah anak kecil yang takut pada kegelapan. Bahwa keadilan sejati bukan tentang menghancurkan musuh—tapi tentang menghentikan lingkaran kehancuran."
Fengyin tidak menjawab. Dia belum bisa memaafkan. Belum bisa membayangkan dunia di mana Xie Wuyou atau Kaisar Di Xuancheng pantas mendapatkan belas kasihan.
Tapi dia akan belajar. Tiga tahun adalah waktu yang lama. Dan Gunung Puncak Angin masih punya banyak pelajaran untuk diberikan.
Pada usia tujuh belas, Fengyin mencapai puncak.
Bukan puncak gunung—itu sudah dicapai bertahun-tahun lalu. Tapi puncak kemampuan . Dia bisa mengalahkan Gu Yanqing dalam sembilan dari sepuluh pertarungan. Bisa berdiri di bawah air terjun selama tiga jam tanpa gemetar. Bisa berlari di atas salju dengan kecepatan kuda. Bisa, dalam momen-momen tertentu, merasakan enam kristal di dalam dirinya begitu jelas seolah-olah mereka sudah ada di punggungnya.
Tapi dia juga belajar kerendahan hati .
Belajar bahwa mengalahkan Gu Yanqing dalam latihan tidak sama dengan mengalahkan musuh yang benar-benar ingin membunuhmu. Belajar bahwa kekuatan fisik adalah hanya satu aspek—bahwa strategi, pengetahuan, pengorbanan , seringkali lebih penting.
Dan belajar bahwa Gu Yanqing, meski tua, masih punya rahasia yang belum diceritakan.
"Kenapa kamu tidak pernah menikah?" tanya Fengyin pada suatu malam, ketika mereka duduk di tepi tebing, menatangi matahari terbenam yang menciptakan lautan emas di antara puncak-puncak.
Gu Yanqing tertawa—tertawa yang langka dan berharga. "Siapa bilang aku tidak pernah menikah?"
Fengyin menoleh, terkejut. "Kamu... punya keluarga?"
"Punya," kata Gu Yanqing, suaranya menjadi pelan. "Dulu. Istriku... namanya Mei. Dia meninggal tiga puluh lima tahun lalu. Saat melahirkan anak kami. Anak itu... anak itu juga tidak selamat."
Fengyin menatapnya, mencari kata-kata yang tepat. Tidak menemukan.
"Itulah sebabnya aku bisa menjadi 'bayangan'," lanjut Gu Yanqing. "Karena aku sudah kehilangan segalanya yang bisa kuhitung sebagai 'hidup'. Aku tidak punya keluarga, tidak punya rumah, tidak punya nama yang bisa kupakai tanpa risiko. Aku hanya... ada. Menunggu. Berharap bahwa suatu hari, semua pengorbanan ini akan berarti sesuatu."
Dia menatap Fengyin, mata tua yang berkilauan dengan cahaya matahari terbenam.
"Dan sekarang, melihatmu... aku berpikir, mungkin sudah berarti. Mungkin ini adalah alasan mengapa aku masih hidup. Bukan untuk membalas dendak. Bukan untuk mengalahkan Xie Wuyou atau Kaisar. Tapi untuk melihatmu tumbuh . Untuk menjadi saksi bahwa dari kehancuran, sesuatu yang baik bisa tumbuh."
Fengyin meraih tangan Gu Yanqing—tangan yang keriput, yang penuh bekas luka, yang telah mengajarinya segalanya. Tangan yang, meski tua, masih kuat.
"Aku akan membuatmu bangga," katanya.
"Kamu sudah," kata Gu Yanqing. "Tapi jangan lupa—kebanggaan bukan tujuan. Kebenaran adalah tujuan. Keadilan adalah tujuan. Dan kadang-kadang..." dia berhenti, menatap ke timur, ke arah yang selalu ditatapnya ketika khawatir, "...kadang-kadang, kebenaran dan keadilan mengharuskan kita melakukan hal-hal yang tidak membuat siapa pun bangga. Termasuk diri kita sendiri."
Malam sebelum Fengyin berusia delapan belas, Gu Yanqing memberikan hadiah.
Sebuah kotak kayu kecil, diukir dengan pola-pola yang tidak bisa dibaca Fengyin—tulisan kuno, kata Gu Yanqing, dari zaman sebelum Dinasti Wuji Chao ada.
"Buka," kata Gu Yanqing.
Fengyin membuka. Di dalam, di atas kain beludru merah tua, terbaring sebuah liontin. Bukan emas, bukan perak—tapi sesuatu yang terlihat seperti kristal yang dipadatkan , berwarna putih-keperakan, berbentuk seperti setengah bulan dengan ukiran halus di permukaannya.
"Ini adalah Yuèyǐng Pèi," kata Gu Yanqing. "Liontin Bayangan Bulan. Dibuat oleh pembuat perhiasan legendaris seribu tahun lalu, untuk Tiānzé Zhě pertama yang pernah tercatat dalam sejarah."
Fengyin mengangkat liontin itu. Dingin di tangan, tapi ketika dia memakainya—menggantungkannya di leher dengan tali sutra hitam—ia menjadi hangat. Hangat dan... hidup . Seolah-olah ada sesuatu di dalamnya yang berdenyut selaras dengan jantungnya.
"Apa fungsinya?" tanya Fengyin.
"Itu akan menyembunyikanmu," kata Gu Yanqing. "Ketika kamu memanggil kristal untuk pertama kalinya, energi Tiānzé Zhě akan melonjak seperti tsunami. Yuèyǐng Pèi akan menyerap sebagian besar gelombang itu, membuatmu tidak terdeteksi oleh Xie Wuyou atau Kaisar—setidaknya untuk sementara. Memberimu waktu untuk beradaptasi dengan kekuatanmu sebelum mereka menemukanmu."
"Dan setelah itu?"
"Setelah itu..." Gu Yanqing tersenyum, senyum yang sedih tapi bangga, "...setelah itu, kamu akan sendirian. Aku sudah mengajarkan semua yang bisa kujarkan. Sisanya... kamu yang harus temukan sendiri."
Fengyin menatapnya, dan untuk pertama kalinya, melihat kebenaran yang selama ini dihindari: Gu Yanqing tua. Lebih tua dari yang terlihat. Lebih tua dari yang diakui. Tubuhnya adalah mesin yang sudah berjalan terlalu lama, dengan bagian-bagian yang aus, yang akan berhenti sewaktu-waktu.
"Kamu akan..." Fengyin tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Aku akan mati?" Gu Yanqing tertawa, tapi lembut. "Semua orang akan mati, Fengyin. Itulah satu-satunya kebenaran yang pasti. Tapi aku... aku sudah hidup lebih lama dari yang seharusnya. Tiga puluh tahun sebagai bayangan, menunggu. Itu adalah tiga puluh tahun pinjaman dari takdir. Dan sekarang..." dia menatap Fengyin, "...sekarang saatnya aku membayar utang itu."
Dia berdiri, sedikit terhuyung—tanda-tanda yang jarang terlihat, tapi kini tidak bisa disembunyikan.
"Besok," kata Gu Yanqing, "pada hari ulang tahunmu yang delapan belas, kamu akan memanggil kristal untuk pertama kalinya. Kamu akan menjadi Tiānzé Zhě sepenuhnya. Dan aku..." dia berhenti, mengambil napas dalam, "...aku akan melihatnya. Itu adalah hadiah terakhir yang bisa kuterima. Melihatmu mencapai puncak. Melihatmu terbang."
Fengyin berdiir, memeluk Gu Yanqing—bukan murid memeluk guru, tapi anak memeluk ayah. Ayah yang tidak pernah dimiliki, yang tidak pernah diminta, tapi yang hadir ketika paling dibutuhkan.
"Terima kasih," bisiknya. "Untuk segalanya. Untuk menyelamatkanku. Untuk melatihku. Untuk... untuk menjadi keluargaku."
Gu Yanqing membalas pelukan itu, tangan keriputnya menepuk punggung Fengyin dengan ritme yang sama seperti ketika anak itu masih kecil dan terbangun dari mimpi buruk.
"Kamu adalah keluargaku juga, Fengyin," kata Gu Yanqing. "Anak yang tidak pernah kumiliki. Harapan yang tidak pernah kuduga. Dan sekarang... sekarang pergilah. Istirahat. Besok adalah hari yang akan mengubah segalanya."
Fengyin pergi ke tempat tidurnya di sudut gua. Tapi dia tidak tidur. Dia menatap langit-langit batu, merasakan Yuèyǐng Pèi di dadanya, mendengarkan suara Gu Yanqing yang bernafas tidak teratur di seberang api yang meredup.
Dan dia berjanji—pada dirinya sendiri, pada roh kakek yang sebenarnya, pada semua orang yang mati di Kampung Awan Kasih.
Besok, dia akan terbang.
Dan tidak akan pernah jatuh.
( Bersambung... )