Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pradipta menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati yang kokoh, matanya menyipit menatap Alana yang masih tampak kaku. Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya—senyum yang membuat Alana merasa seperti sedang diinterogasi dalam sebuah sidang yang sangat personal.
"Kamu punya ingatan yang pendek, atau kamu memang sengaja ingin membangun tembok lagi di antara kita?" suara Pradipta terdengar rendah, namun setiap katanya menekan dada Alana.
Alana mengerutkan kening, bingung. "Maksud bapak... maksud saya, Pak?"
Pradipta terkekeh sinis, suara tawanya terdengar getir. "Kemarin. Sebelum aku naik ke pesawat menuju Jakarta, di lobi kantor. Kamu memanggilku 'Pradipta' tanpa embel-embel jabatan. Suaramu terdengar tulus, seolah untuk sejenak, kamu melihatku sebagai seorang pria, bukan sebagai bos yang memberimu tumpukan berkas."
Ingatan itu menghantam Alana. Kemarin, saat ia merasa sangat terbantu oleh Pradipta, ia sempat kehilangan kendali atas formalitasnya. Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sebuah pengakuan bawah sadar bahwa pria di depannya telah menyentuh sisi humanisnya.
"Itu... itu hanya kesalahan bicara, Pak. Saya sedang lelah saat itu," dalih Alana, suaranya mengecil.
"Kesalahan bicara?" Pradipta memajukan tubuhnya, menatap Alana dengan intens. "Atau itu adalah satu-satunya momen kejujuranmu? Kenapa sekarang kamu kembali ke 'Pak Pradipta' yang kaku? Apa kamu takut jika kamu memanggil namaku, kamu akan merasa terlalu nyaman? Kamu takut pertahananmu runtuh dan aku bisa melihat betapa lelahnya kamu menjadi mesin uang untuk keluargamu?"
Alana memalingkan wajah, menatap kegelapan Samudera Hindia di luar jendela. Dadanya sesak. Benar, ia takut. Memanggil nama 'Pradipta' berarti mengakui ada kedekatan, dan kedekatan berarti kerentanan. Bagi Alana yang terbiasa hidup sebagai "mesin" yang kuat, kerentanan adalah musuh terbesarnya.
"Saya hanya mencoba profesional, Pradipta," akhirnya, nama itu keluar lagi, meski dengan nada yang bergetar hebat.
Pradipta terdiam sejenak, lalu perlahan ia mengembuskan napas lega. "Bagus. Pertahankan itu. Jangan biarkan jabatan ini menjadi penghalang saat kita hanya berdua seperti sekarang. Aku tidak ingin kamu melihatku sebagai sumber gaji, Alana. Aku ingin kamu melihatku sebagai seseorang yang ingin menjagamu."
Alana menggigit bibir bawahnya. Kata-kata itu terdengar sangat manis, namun di kepalanya, bayangan tagihan cicilan motor dan biaya kuliah Rian kembali berputar. Ia merasa tidak pantas mendapatkan penjagaan siapa pun saat hidupnya sendiri masih terjebak dalam lumpur tuntutan orang tuanya.
Alana menatap piringnya yang masih menyisakan separuh hidangan, seleranya benar-benar telah menguap. Kata-kata Pradipta—atau Dipta—terasa terlalu berat untuk ia pikul malam ini. Ia belum siap untuk merasa "dijaga" saat punggungnya masih dipaksa menjadi tulang punggung keluarga yang tidak tahu berterima kasih.
"Pradipta, terima kasih untuk makan malamnya," Alana memutus keheningan dengan nada suara yang berusaha ia buat seflat mungkin. "Tapi saya benar-benar lelah. Tubuh saya butuh istirahat, dan pikiran saya sudah mencapai batasnya."
Ia mulai mengemas ponsel dan tas kecilnya, gerakannya terkesan terburu-buru, seolah takut jika ia berlama-lama di sana, pertahanannya akan benar-benar jebol dan ia akan menceritakan segalanya—tentang ibunya, tentang Rian, dan tentang betapa ia benci dianggap sebagai mesin uang.
Pradipta tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan gerakan tangan Alana yang sedikit gemetar. Ia tahu wanita di depannya ini sedang melarikan diri lagi ke dalam cangkangnya.
"Kamu selalu ingin cepat-cepat pergi setiap kali pembicaraan kita mulai menyentuh hatimu, Alana," ujar Pradipta pelan, namun ia tidak mencoba menahan Alana secara fisik kali ini.
Alana berdiri, memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak sangat lelah. "Besok pengecoran pondasi dimulai pukul tujuh pagi. Sebagai asisten manajer, saya harus menjadi orang pertama yang ada di sana. Permisi."
Ia berbalik dan melangkah cepat menuju lift. Setiap langkahnya terasa seperti pelarian dari kenyataan yang ditawarkan Pradipta. Begitu pintu lift tertutup, Alana menyandarkan kepalanya ke dinding besi yang dingin. Ia memejamkan mata, dan seketika bayangan tagihan kuliah Rian yang jatuh tempo minggu depan melintas di benaknya, disusul suara ibunya yang tajam di telepon
"Alana, jangan egois. Rian itu satu-satunya adikmu. Kalau bukan kamu yang bantu, siapa lagi?"
Alana mengepalkan tangannya. Di luar sana, Pradipta ingin menjaganya. Namun di dalam sini, di dalam dunianya yang gelap, ia masih harus menjaga orang-orang yang hanya tahu cara meminta.
Sesampainya di depan kamar, Alana tidak langsung masuk. Ia terdiam menatap gagang pintu, merasa bahwa kamar hotel yang mewah ini pun terasa sesak seperti lemari kayu masa kecilnya. Ia merindukan kebebasan, tapi ia terlalu takut untuk melepaskan beban yang sudah menjadi identitasnya selama ini.